[Proses Revisi]
On IG: @ry_riuu
Ini kisah tentang seorang gadis yang mengorbankan perasaan demi sahabatnya, tanpa memikirkan kebahagiaan dirinya sendiri.
Karena pengorbanan yang dilakukannya, dia dipertemukan dengan seorang pria tampan yang selalu mengisi hari-harinya.
Hingga pada akhirnya dia pun harus mengorbankan lagi perasaannya, mengikhlaskan pria yang selalu mengisi hari-harinya itu untuk sahabatnya lagi,
Akankah pria tersebut bisa menerima sahabatnya itu? atau malah sebaliknya? atau bahkan tetap menetap pada gadis yang terus saja mengorbankan perasaannya?
-Lakukan selama itu membuatmu bahagia, tanpa pernah bertanya tentang hatiku kenapa, pertanyaan itu malah membuat hatiku semakin sesak.- Iris Anastashia.
-Jangan pernah hidup dalam kepura-puraan, jika dia menghilang kau jangan menyesali kepergiannya.- Zhein Anggara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Riumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
RETAK [28]
Happy Reading🥀
Rate
Like
Comment
Vote
...Mencari teman itu mudah, tapi yang paling sulit adalah mencari yang bisa satu frekuensi dengan kita. ...
...-Celine Celina...
Sore sudah berganti menjadi malam, sejak kejadian beberapa jam yang lalu, Iris masih tidak tenang, entah kenapa seolah hatinya berkata bahwa Revan akan melakukan segala cara untuk mendapatkannya, Iris menyimpulkan semua ini bukan hanya sebatas dari kata hatinya saja tapi dengan beberapa hal yang Iris kenal tentang Revan.
Gak mungkin, jangan sampai apa yang gue pikirin itu kejadian. ucap Iris dalam hati.
Setelah mengantarkan Ibu dan Ayahnya, Iris langsung pergi ke kamar karena jujur saja Iris adalah tipe orang penakut, di tinggal sendiri di rumah bukanlah hal yang dia inginkan.
Duh, Celine mana sih, gue takut, gimana kalau tiba-tiba aja Revan dateng ke rumah? tanya Iris dalam hati.
Gak, jangan berpikiran sempit Ris, Revan kan gak tau alamat rumah lo. ucap Iris dalam hati.
Iris masih terus saja khawatir tentang kedatangan Revan di kehidupannya, Revan bukan lah tipikal orang yang mudah menyerah begitu saja selama dia belum mendapatkan apa yang dia inginkan maka Revan tidak akan pernah mundur walaupun hanya satu langkah.
Kring.. Kring..
Dering ponsel milik Iris berbunyi membuyarkan lamunan dan pergulatan dengan hatinya itu.
...Di telpon...
Halo. ucap Iris sambil mengangkat telpon tersebut.
Ris, turun kebawah, gue ada dibawah ujar Celine
Lo udah sampai lin? tanya Iris sambil memakai sweater over size nya
Udah, buruan turun, gue takut sendiri di luar. ucap Celine
Oke gue kebawah. ujar Iris sambil memutuskan sambungannya dan segera menuruni anak tangga untuk membuka kan pintu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Saat Iris membuka pintu, tiba-tiba saja Celine menerobos masuk kedalam dan langsung menutup pintu, sedangkan Iris hanya bengong melihat Celine yang sedang ketakutan.
"Lin, lo kenapa?" tanya Iris bingung saat melihat Celine mengintip di balik jendela.
Tanpa menjawab pertanyaan Iris, Celine langsung menarik tangan Iris menaiki tangga untuk pergi ke kamarnya, Iris hanya bisa pasrah.
"Lo kenapa sih lin?" tanya Iris yang kini sudah sampai di dalam kamarnya.
"Lo tau gak?" tanya Celine.
"Apaan?" tanya Iris.
"Cowok tadi yang di bus ngikutin gue," jawab Celine yang masih terlihat ketakutan.
"Cowok di bus?" tanya Iris.
"Iya, yang ngaku-ngaku jadi pacar lo Ris," jawab Celine.
Dalam seketika jawaban dari Celine dapat membuat hati Iris merasakan ketakutan Celine, ternyata dugaannya benar, Revan akan mengikuti siapapun yang dekat dengan dirinya.
"Ris, lo kenal cowok itu?" tanya Celine saat melihat Iris malah melamun.
"Dia Revan, mantan gue..," jawab Iris sambil menatap kosong ke arah balkon.
"Mantan lo yang waktu smp?" tanya Celine.
Iris pernah menceritakan tentang Revan kepada Celine.
"Iya, gue udah pernah cerita kan?" tanya Iris.
"Udah, oh jadi itu mantan lo ris, cakep juga ya," jawab Celine.
"Cakep sih cakep tapi sayang dia penguntit,* ucap Iris.
" Penguntit? Serem juga ya, nanti kalau gue temenan sama dia terus tiba-tiba gue ilang pas dia butuh kayaknya bakalan di teror deh," ujar Celine bergidik ngeri.
"Gue juga serem kalau ketemu sama dia," ucap Iris.
"Terus kenapa dulu lo mau sama dia?" tanya Celine.
"Ya kan dulu gue belum tau sifat asli dia, yang gue tau dia itu manis, baik, ganteng, pokoknya gak ada kekurangan, ya namanya juga cinta monyet kan," ucap Iris.
"Iya juga sih, awalnya aja manis belakangnya jadi pait," ujar Celine.
"Terus kenapa gue yang malah di ikutin?" tanya Celine.
"Kayaknya Revan mau tau rumah gue deh," jawab Iris.
"Berarti datangnya gue kesini malah buat lo bahaya?" tanya Celine panik.
"Gak kok lin, gue malah seneng lo bisa nemenin gue, soal Revan kita lupain aja," jawab Iris.
"Tapi serius loh kalau si Revan itu malah neror lo gimana?" tanya Celine khawatir.
"Gak apa-apa, itu masalah belakangan aja, sekarang kita bahas masalah Sherin aja," jawab Iris.
"Iya ya gue sampe lupa mau bahas masalah Sherin gegara mantan lo yang bikin gue parno," ucap Celine.
Setelah perkataan Celine tadi, tanpa basa basi dan berpikir panjang lagi, Iris menceritakan semua nya dari awal hingga akhir, bahkan tentang hubungannya dengan Zhein, Iris ceritakan semuanya kepada Celine tanpa ada yang terlewat sedikit pun.
"Lo serius udah jadian sama Zhein?" tanya Celine tidak percaya saat Iris selesai menceritakan masalahnya.
"Iya gue serius lin," jawab Iris.
"Oh pantes aja waktu di bus Zhein nelpon lo, kok gue gak ngeh ya pas Zhein nelpon lo?" tanya Celine.
"Gak tau, mungkin pikiran lo lagi terbang," jawab Iris.
"Lo tega banget Ris gak ngasih tau kalau lo udah jadian sama Zhein," ucap Celine.
"Gue cuman nunggu waktu yang tepat aja, lagian belum ada yang tau kalau gue pacarnya Zhein, cuman lo aja yang tau gue pacar Zhein," ujar Iris.
"Hah? Serius?!" tanya Celine antusias.
"Serius Lin," jawab Iris.
"Berarti gue orang yang paling lo percaya dong?" tanya Celine.
"Iya lin, gue percaya sama lo, jadi gue ceritain semuanya," jawab Iris.
"Gue turut berbahagia atas hubungan lo sama Zhein, dan lo tau gak?" tanya Celine.
"Apa?" tanya Iris.
"Lo cewek pertama yang bisa buat Zhein jatuh hati setelah di tinggal sama pujaan hatinya," jawab Celine.
"Caramel ya?" tanya Iris.
"Lo juga tau tentang masa lalunya?" tanya Celine.
"Iya, Zhein sendiri yang cerita kalau emang hubungannya itu kayak gue sama Revan," jawab Iris.
"Selamat, anda juga orang pertama yang tanpa jalur memaksa untuk mendapat cerita Zhein," ucap Celine antusias.
"Tertutup itu kah Zhein?" tanya Iris.
"Lo pasti ngira kan kalau Zhein itu orang yang welcome sama semua orang? padahal Zhein gak kayak gitu, dia bakalan milih circle yang emang satu frekuensi sama dia, kayak ya emang dia bakal nanggapin semua orang yang mau kenalan sama dia, tapi gak semudah itu untuk menjadi teman klop nya," jawab Celine.
"Lo tau banyak tentang Zhein?" tanya Iris.
"Iya, dari gue awal kenal sama Zhein gara-gara ken sahabatnya Zhein, jadi gue ambil kesimpulan itu selama gue akrab sama Zhein," jawab Celine.
"Terus gimana lagi tentang Zhein?" tanya Iris penasaran.
"Lo mau tau?" tanya Celine, Iris hanya menganggukkan kepalanya sambil menunggu penjelasan dari Celine tentang bagaimana Zhein.
"Nanti ajalah, kita bahas tentang Sherin dulu gimana?" tanya Celine.
"Iya ya, gue sampai lupa sama masalah Sheri," jawab Iris.
"Terus lo mau ngapain biar Sherin sama lo lagi?" tanya Celine.
"Gak semudah itu buat ketemu Sherin kalau emang kesalahan gue besar banget menurut dia," jawab Iris.
"Terus gimana?" tanya Celine bingung.
"Gimana kalau lo yang dateng ke rumah Sherin, siapa tau dia keluar dari rumah dan sekolah lagi," jawab Iris.
"Ide yang bagus, gue coba besok," ucap Celine.
semangat terus bikin karya2 nya kak💪🏻🤗