Sebuah kasus mengerikan menyerang seorang teman Gevio di sekolah. Demi menyelamatkan teman sang anak, Elden, Erie dan seluruh anggota organisasi harus menghadapi pertarungan penuh intrik dengan para pemimpin negara guna menangkap pelaku sebenarnya. Bisakah mereka melawan para penguasa dan menyelamatkan korban?
Novel ini merupakan kelanjutan dari novel ‘Danke, Häschen !!!’. Dengan mengangkat genre action romance, novel ini ingin menantangmu untuk berpikir, bersimpati dan tentu saja berimajinasi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mei Shin Manalu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Daniel and Lena (part 3)
Elden membuka pintu kamar hotel Daniel untuk menjemput adiknya. “Apa kau sudah siap?” ujar Elden sembari mendekati Daniel yang tengah berdiri di depan cermin. “Tidak ada yang salah. Pakaianmu sudah bagus,” sambung pria itu memperhatikan Daniel yang terlihat sibuk menyentuh-nyentuh dasinya, bermaksud untuk membenarkan letaknya meskipun sebenarnya sudah benar sejak awal.
“Bruder, huh!” desah Daniel. Ia mengembuskan napasnya agar sesuatu yang mengganjal di tubuhnya ikut keluar bersama dengan udara itu.
Dari gurat kerutan yang ada di kening Daniel, ditambah dengan napasnya yang tidak teratur, Elden yakin bahwa adiknya itu sedang gugup. Dulu, sewaktu Elden hendak menikahi Erie, ia juga dilanda rasa gugup yang teramat sangat. Ia takut dirinya akan menghancurkan acara pernikahannya sendiri. Walaupun pada akhirnya ketakukan Elden itu sama sekali tidak terbukti.
Elden menyentuh bahu kiri Daniel. “Kau hanya merasa gugup, Daniel. Tidak apa-apa. Yakinlah semua akan berjalan lancar. Kau harus percaya pada kakak iparmu yang nyaris tidak tidur beberapa hari ini hanya untuk menyiapkan acara pernikahanmu.”
“Schwaegerin memang hebat, Bruder! Aku harus berterima kasih padanya,” puji Daniel. Ia mengutarakan niatan itu dengan tulus.
Elden menggelengkan kepalanya. “Tidak perlu berterima kasih. Cukup lakukan tugasmu hari ini dengan benar, maka aku yakin istriku itu akan merasa sangat senang.”
Daniel tersenyum. Ia membalas, “Aku tidak akan mengecewakan Schwaegerin.”
“Bagus!” timpal Elden seraya mengangguk.
Elden menekan bahu Daniel, menariknya dan membuat Daniel sontak mengalihkan pandangannya dari cermin ke arahnya Lalu Elden berucap, “Daniel, Bruder ingin mengatakan sesuatu yang sangat penting padamu." Mimik wajah Elden berubah serius. Ia memandangi adiknya dengan lekat.
"Walaupun keluarga kita dipandang buruk oleh orang lain, tapi keluarga kita tidak pernah melakukan perceraian dalam pernikahan mereka. Sekali pun tidak pernah. Kau mengerti maksudku, bukan?” terang Elden.
Wajah serius Elden menular ke wajah Daniel. Daniel yang tadinya gugup, sekarang bertambah gugup usai mendengar perkataan yang terdengar seperti ultimatum di telinganya. “Aku mengerti, Bruder. Aku tidak akan melanggar tradisi di keluarga kita,” janji laki-laki itu kepada kakaknya.
“Aku tahu kau pasti menepati janjimu,” kata Elden yakin. “Tetapi Daniel, pernikahan ini bukan hanya sekedar menepati janji. Kau juga harus merasa bahagia dengan pilihanmu karena itulah yang terpenting.”
Elden memindahkan tangannya dari pundak Daniel menuju ke dada adiknya. “Sekarang, tanyakan pada dirimu sendiri. Tanyakan pada hati kecilmu ini. Apakah kau yakin dengan jalan yang kau pilih sekarang? Jangan pedulikan pendapatku ataupun pendapat Vallerie. Pendapat kami memang penting, namun sekali lagi Daniel, yang akan menjalani kehidupan pernikahan ini hingga akhir adalah dirimu, bukan kami,” sambung Elden sambil menepuk-nepuk dada sang adik dengan pelan.
Hati Daniel terenyuh. Bagaimana bisa pria yang ada di hadapannya itu disebut sebagai iblis oleh orang-orang di luaran sana? Itu sama sekali tidak masuk akal. Memang benar Elden mempunyai perangai yang kasar dan kejam. Memang benar Elden sering bersikap dingin kepada orang lain. Tetapi itu tidak membuktikan bahwa Elden adalah iblis.
Sebab menurut Daniel, kakak laki-lakinya itu hanya tidak tahu bagaimana caranya mengatur emosinya dengan baik. Ia butuh seseorang untuk membimbing, bukan mencaci maki.
Daniel yang paling tahu tentang Elden. Semua penderitaan kakaknya itu telah disaksikan oleh Daniel dengan mata kepalanya sendiri. Jika kakaknya merupakan iblis seperti yang disebutkan oleh orang-orang, maka Daniel pun akan berubah menjadi iblis sekarang. Tetapi nyatanya tidak, kan? Daniel bisa tumbuh menjadi pribadinya yang sekarang semua berkat bantuan kakaknya.
Dulu, saat ibu mereka meninggal, harapan untuk hidup menjadi anak-anak yang normal begitu jauh dari pandangan Elden dan Daniel. Mereka dilingkupi ketakutan yang diciptakan oleh ayah kandung mereka sendiri. Semua angan-angan dan mimpi sang ibu untuk menjadikan mereka anak yang berbeda dari sang ayah, hancur berkeping-keping.
Namun apa yang terjadi kemudian? Elden yang masih berusia sangat remaja memasang badan untuk melindungi harapan ibu mereka. Pria itu mengubur keinginan pribadinya hanya untuk menjaga cahaya harapan sang ibu menyinari Daniel. Ia sendirian menanggung semua itu. Menanggung kebrutalan ayah mereka yang dengan sangat kejamnya menjadikan pria itu sebagai tempat untuk meluapkan kekesalan.
Entah sudah berapa banyak darah dan keringat keluar dari tubuh Elden. Entah sudah berapa sering tenggorokan pria itu kering karena meneriakkan rintihan. Tidak ada yang tahu. Tuan Besar sebagai pelaku juga tidak tahu. Bahkan Daniel yang mengaku paling dekat dengan Elden pun tidak mengetahuinya. Sebab, setiap kali mereka bertemu, Elden selalu berseru seperti ini padanya.
“Daniel, dengarkan Bruder. Larilah sejauh kau bisa lari. Pergilah ke mana pun kau bisa pergi. Di mana pun kau berada, Bruder akan melindungimu. Jangan kembali ke rumah itu dan jangan sampai tertangkap oleh pria tua itu. Biar Bruder saja yang menanggungnya. Biar Bruder saja yang berubah menjadi jahat, tapi kau tidak boleh. Lakukan apa yang kau inginkan dan capailah semua yang kau impikan. Bruder ada di sini dan akan selalu ada belakang untuk mendukungmu. Kau mengerti?”
TES!
Bulir air mata jatuh membasahi pipi Daniel. Ingatan tentang masa lalu membuat Daniel sedih. Jika ada yang bisa Daniel lakukan untuk membalas jasa sang kakak, maka Daniel akan melakukannya. Akan tetapi, walau Daniel memberikan nyawanya sekali pun, ia masih menganggap itu masih kurang. Jadi, pernikahan ini adalah perkara yang mudah bagi Daniel.
Letak kebahagian sang kakak ada pada kakak iparnya, dan perempuan itu tampak bahagia hanya dengan melihat ia menikah dengan Lena. Menurut Daniel, itu lebih dari cukup untuk menjadi alasan mengapa ia harus melangsungkan pernikahan ini. Ia hanya bisa bahagia saat melihat orang-orang yang dikasihinya juga merasa bahagia.
Mendapati sang adik yang berderai air mata membuat Elden tersentak. Dengan cepat ia berbicara, “Hey! Kenapa kau malah menangis? Apa kau sekarang merasa menyesal? Kalau kau ingin membatalkan pernikahan ini tidak apa-apa. Bruder akan membereskannya untukmu. Tu—”
Belum selesai Elden berucap, Daniel langsung menyergah Elden. “Bruder, aku akan tetap menikah dengan Lena hari ini,” kata Daniel dengan yakin.
Elden menyerngit. “Lalu, kenapa kau menangis?”
“Karena kau sangat baik, Bruder,” jawab Daniel. “Kenapa kau begitu baik padaku?”
Elden menjadi semakin bingung. Ia tidak mengerti apa yang baru terjadi pada adiknya itu. “Kau ini kenapa? Ucapanmu aneh sekali, sama persis dengan Vallerie. Dia sering berbicara aneh seperti itu padaku.”
“Karena kami menyayangimu, Bruder,” jelas Daniel.
“Kalau kau menyayangiku, sekarang cepat hapus air matamu itu. Kita harus berangkat sekarang, karena kalau kita terlambat sedikit saja, istriku itu akan memarahiku seharian,” gerutu Elden.
Daniel terkekeh. “Baiklah, ayo kita berangkat,” katanya seraya mengelap air matanya.
XXXXXX
Elden dan Daniel tiba di gedung gereja terlebih dahulu untuk mengantarkan adiknya ke depan altar. Meski Tuan Besar ikut hadir di sana, tapi Daniel lebih memilih kakaknya untuk menjadi pengiringnya.
Sedangkan Erie masih berada di depan gedung gereja bersama dengan Lena, dan tentu saja juga bersama dengan Gevio. Anak itu berperan penting pada hari ini karena ia bertugas membawa cincin pernikahan untuk mempelai.
Pintu gereja terbuka dan musik mulai menyala. Semua mata beralih kepada sosok yang sedang berjalan masuk ke dalam. Lena yang dengan balutan gaun pengantin mewah hasil rancangan Erie itu melangkah mendekati altar. Saat melihat kedua mempelai sudah berada di depan pendeta, Elden, Erie dan Gevio berpindah ke bangku jemaat dan duduk di sana. Tugas mereka sebagai pengiring pengantin sudah selesai.
“Jangan merasa iri, sayang. Pernikahan kita dulu juga semeriah ini,” bisik Elden ketika mendapati istrinya terang-terangan menatap Daniel dan Lena dengan lekat.
Sebenarnya bukan apa-apa, hanya saja kedua mata Erie saat menatap pasangan itu tampak begitu berbinar-binar. Binar itu bukanlah binar rasa bangga terhadap mahakaryanya yang melekat di tubuh sang pengantin, melainkan binar yang sama ketika perempuan itu memohon pada Elden agar mengabulkan permintaannya. Itulah sebabnya, Elden berkata seperti itu agar istrinya tidak merasa iri lagi. Bisa repot jika Erie tiba-tiba ingin mengadakan resepsi pernikahan lagi.
“Tentu saja aku iri, Elden. Pernikahan ini begitu mewah. Dan lihatlah sekelilingmu, ada banyak tamu yang datang,” ujar Erie.
“Di pernikahan kita juga banyak tamu yang datang, sayang,” balas Elden tidak mau kalah, mencoba untuk mengunggulkan acara pernikahan yang ia rancang tujuh tahun lalu.
“Oho, yang mana? Bukankah semua tamu yang datang adalah anggota organisasi?” sindir Erie.
“Cih!” decih Elden kesal. “Jangan menggodaku, sayang. Atau aku akan menciummu di sini,” ancam Elden.
“Coba saja!” tantang Erie. Namun, belum sempat melancarkan aksinya, sebuah suara menghentikan Elden.
“Mommy, Daddy, sstt!” hardik Gevio secara tiba-tiba. “Tolong diam Mommy, Daddy! Gevio tidak bisa mendengar perkataan pendeta!” lanjut anak itu sambil memasang tampang kesal.
Seketika itu juga, Elden dan Erie terkekeh pelan. Lalu secara bersama-sama, mereka mengecup kedua pipi Gevio dengan gemas.
XXXXX
Elden, Daniel dan Mario udah sold out… Kenapa? Kenapa orang-orang tampan dan kaya itu cepat sekali larisnya? Aku sama siapa donk? Hikkss T.T…
Jangan lupa tinggalkan jejak ya. Danke ^^
By: Mei Shin Manalu (ig: meishinmanalu)
namun mnrtku. cerita terlalu panjang.
lbh baik berseri, sehingga mdh dibuat film bersepisode. dan mdh dipelajar pr anggota parlemen unt buat atau merevisi sebh uu.
di nkri, dg anggota parlemen yg terlalu banyak dg kw (kualitias) spt sekarang kok sbh mimpi bisa membuat uu apapun yg bagus dan berkualitas. kt gus dus, angg parlemen kita kan spt "taman kawak kawak😜maaaaaf
Udah lama aku gak baca novel, terus keinget Ceritanya Erie eh udah ada anaknya aja🦋🌼