NovelToon NovelToon
Maira, Maduku

Maira, Maduku

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Poligami / Cinta Seiring Waktu / Romansa / Nikah Kontrak / Konflik etika
Popularitas:584
Nilai: 5
Nama Author: Tika Despita

Maira yang terbiasa hidup di dunia malam dan bekerja sebagai perempuan malam, harus menerima tawaran menjadi madu oleh seorang pemuda bernama Hazel Dinata, pengusaha ternama di kota tersebut.

Awalnya Maira menolak, karena baginya menjadi perempuan yang kedua dalam sebuah hubungan akan hanya saling menyakiti sesama hati perempuan. Tetapi karena alasan mendesak, Maira akhirnya menerima tawaran tersebut.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tika Despita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Makan Malam Bersama

Seperti kata Nadia kemarin, hari ini Maira akan diajak makan malam bersama kedua orang tua Hazel dan Nadia. Sore ini Hazel sudah menjemputnya dan kini duduk santai di sofa ruang tamu, sementara Maira masih berada di dalam kamar untuk berganti pakaian.

Tak lama kemudian, pintu kamar terbuka. Hazel yang semula duduk tenang, seketika mengerutkan keningnya saat melihat Maira keluar dari kamar.

“Kamu mau pakai baju begituan?” tanya Hazel menahan heran.

“Iya,” jawab Maira santai.

“Kata istri Anda, saya harus dandan yang cantik dan pakai baju yang bagus.”

Hazel menatap Maira dengan sorot mata tak percaya.

“Emang kamu enggak punya baju lain? Dan meski pakai baju kayak gini?”

Ia benar-benar tidak menyangka Maira akan mengenakan pakaian yang dulu sering dipakai saat dirinya masih menjadi wanita malam.

“Enggak punya,” jawab Maira tanpa beban sedikit pun.

“Dan saya sudah terbiasa pakai pakaian kayak gini. Saya enggak punya gamis kayak yang dipakai istri Anda.”

Hazel menghela napas pendek.

“Ganti!!”

“Mau diganti pakai apa coba?” Maira mendengus kesal.

“Emangnya Anda mau lihat saya pakai piyama doang?”

“Kamu pakai saja pakaian yang waktu kita ketemu di supermarket kemarin,” ujar Hazel.

 “Nanti kita singgah ke toko baju buat beli pakaian dulu.”

Maira terdiam sejenak, lalu mengangguk kecil.

 “Baiklah.”

Ia kembali masuk ke kamar dan mengganti pakaiannya dengan pakaian yang lebih santai. Setelah itu, Hazel dan Maira pun berangkat bersama.

Hazel singgah ke butik langganannya. Ia langsung menyuruh pegawai butik mencarikan dress untuk Maira yang sopan dan tidak seksi. Setelah beberapa pilihan, akhirnya sebuah dress berwarna burgundy dipilihkan untuk Maira. Dress selutut itu tidak memperlihatkan kesan seksi, namun terlihat mewah dan elegan. Gaun tersebut pas di tubuh Maira.

Hazel sempat terpukau sejenak saat Maira keluar dari ruang ganti. Apalagi rambutnya dibiarkan tergerai, membuat Maira terlihat sangat cantik. Untungnya, di butik itu juga tersedia salon, sehingga wajah Maira bisa dirias dengan make up yang lebih rapi.

“Saya tahu kalau saya itu cantik,” ucap Maira sambil tersenyum meledek.

“Anda enggak perlu sampai terpukau gitu lihat saya.”

“Jangan aneh kamu,” balas Hazel singkat. Wajahnya kembali dingin, lalu ia melangkah lebih dulu ke luar butik setelah membayar semuanya.

Sementara itu, Maira berlari kecil menyusul Hazel dari belakang.

**

Suasana di dalam mobil terasa hening. Hazel hampir tidak banyak bicara sejak tadi, fokusnya hanya tertuju pada jalanan di depan. Tangannya tetap di kemudi, wajahnya datar tanpa ekspresi berarti.

Sementara itu, Maira yang memang tidak terbiasa diam terlalu lama mulai merasa jenuh. Keheningan seperti ini justru membuat pikirannya berisik sendiri.

Ia melirik Hazel sekilas, lalu kembali menatap ke luar jendela. Lampu-lampu jalan mulai menyala, menandakan senja hampir habis. Akhirnya, Maira menghela napas pelan, tak sanggup lagi menahan diri.

“Mengapa keluarga kalian mesti ngajak saya makan malam bersama?” tanyanya, memecah keheningan yang sejak tadi menggantung di antara mereka.

Hazel tetap menatap lurus ke depan. “Sebelum kami memutuskan ini semua, kami sudah membicarakannya dengan keluarga besar dan meminta izin mereka,” jawabnya singkat namun tegas.

“Makanya mereka ingin bertemu kamu, yang akan menjadi madu saya.”

Ucapan itu membuat dada Maira terasa sedikit sesak. Ia menelan ludah, lalu kembali membuka suara.

“Sebenarnya Anda tidak setuju dengan ide istri Anda, kan? Lalu mengapa Anda tetap melakukannya?”

Hazel tidak langsung menjawab. Ada jeda beberapa detik, seolah ia sedang mencari kata yang tepat. Tangannya mengencang di setir. Benar sekali, jauh di lubuk hatinya, ia memang tidak pernah benar-benar setuju dengan ide Nadia menjadikan wanita lain sebagai madu dalam rumah tangga mereka, hanya demi mendapatkan keturunan.

“Karena Anda begitu mencintai istri Anda?” potong Maira, suaranya terdengar getir.

 “Karena itu Anda menyetujui ide konyol seperti ini. Ide yang justru akan menyakiti diri kalian berdua.”

Hazel menghembuskan napas panjang. “Anggap saja seperti itu,” ucapnya pasrah, tanpa menoleh sedikit pun.

Kisruh rumah tangganya dengan Nadia memang tidak sesederhana yang terlihat oleh orang-orang. Hubungan pernikahan mereka bisa dibilang dingin dan renggang. Semua itu bermula dari sebuah kejadian sehari sebelum pernikahan mereka, kejadian yang sampai sekarang masih menjadi luka yang belum benar-benar sembuh.

Tak lama kemudian, mobil yang dikendarai Hazel memasuki halaman sebuah rumah bergaya klasik dan tampak mewah. Pagar besi tinggi terbuka perlahan, memperlihatkan taman yang tertata rapi. Maira sempat terpukau, bahkan hanya dengan melihat dari luar saja rumah itu sudah terlihat begitu megah.

Hazel memarkir mobil dengan rapi.

“Ayo turun,” ucapnya sambil membuka pintu lebih dulu.

Maira mengangguk pelan dan ikut turun, matanya masih menyapu sekeliling rumah dengan rasa kagum yang tak bisa disembunyikan.

Baru saja mereka berdiri di depan pintu utama, dari arah dalam Nadia sudah menyambut dengan wajah senang. Senyum di bibirnya terlihat tulus dan tak sedikit pun memudar.

“Ayo, Maira, masuk! Semuanya sudah menunggu!” ajaknya ramah.

Namun, sebelum melangkah masuk, Nadia lebih dulu merangkul lengan Hazel, seolah ingin menunjukkan sesuatu. Mereka berjalan lebih dulu ke dalam, sementara Maira mengikuti langkah mereka dari belakang, dengan perasaan yang entah kenapa merasa kalau hubungan Hazel dan Nadia itu tak seharmonis itu.

-

-

Sesampainya di ruang makan, sebuah meja panjang sudah tersaji rapi dengan beragam hidangan di atasnya. Aroma masakan rumahan langsung menyambut begitu mereka masuk. Di sana telah duduk kedua orang tua Hazel dan kedua orang tua Nadia, suasananya tampak formal namun hangat di permukaan.

Salah satu perempuan yang duduk di sana langsung tersenyum manis. Ia berdiri dan melangkah menghampiri Maira tanpa ragu. Dari raut wajahnya yang lembut dan sedikit kemiripan dengan Hazel, Maira bisa menebak dengan mudah siapa perempuan itu.

“Kamu pasti Maira, ya. Nadia sudah banyak cerita tentang kamu,” ucap Naina sambil memeluk Maira dengan lembut.

Pelukan itu membuat Maira sedikit terkejut, namun juga terharu. Ia membalas pelukan itu dengan canggung, tak menyangka akan disambut sehangat ini.

Setelah itu, Maira menyalami ayah Hazel, lalu beralih pada kedua orang tua Nadia. Namun berbeda dengan yang lain, ekspresi ibunya Nadia terlihat jelas tidak menyukai kehadiran Maira. Bahkan saat bersalaman, sentuhan itu terasa singkat dan kaku, seolah ada rasa enggan bersentuhan lebih lama.

Maira menangkap semua itu, tapi ia memilih mengabaikannya. Tatapan seperti itu bukan hal baru baginya. Ia sudah terlalu sering menerima penilaian serupa.

“Ayo, Maira. Dicicipi dulu makanannya. Tadi Tante yang masak semuanya,” ujar Naina dengan wajah berbinar, berusaha mencairkan suasana.

“Terima kasih, Tante,” jawab Maira sopan sambil tersenyum kecil.

Belum sempat suasana benar-benar mencair, suara Tamara terdengar, datar namun tajam.

“Nadia, kamu yakin dengan keputusan kamu menjadikan dia sebagai madunya Hazel?” tanyanya tanpa basa-basi.

“Ma, Nadia kan sudah bilang dari kemarin. Jadi Nadia mohon, jangan dibahas lagi,” ucap Nadia dengan nada memohon, jelas terlihat tidak nyaman.

“Menurut Mama, itu tidak level. Apalagi kita harus makan semeja dengan wanita seperti ini,” lanjut Tamara tanpa menurunkan nada suaranya.

“Tamara,” tegur Nugraha, ayah Nadia, cukup keras.

“Kita ini sedang makan malam. Kamu bisa jaga cara bicaramu,” lanjutnya tegas.

“Pa…” Tamara terlihat kesal. Tatapannya kembali mengarah sinis ke Maira.

Nadia menoleh ke arah Maira dengan wajah serba salah.

“Maira, jangan dimasukin hati ucapan Mama aku, ya.”

Maira tersenyum tipis.

“Tenang saja, Mbak. Aku sudah biasa kok dengar ucapan seperti itu,” ujarnya ringan, lalu menambahkan dengan nada lebih tenang.“Cuma mungkin aku saja yang salah tempat datang ke sini.”

Kalimat itu membuat suasana ruang makan mendadak hening. Semua orang terdiam, sendok dan garpu seakan berhenti bergerak.

“Bukankah semuanya juga sudah tahu apa profesi aku selama ini,” lanjut Maira, tetap dengan senyum yang sama.

“Jadi seharusnya juga paham sebelum ngajak aku ke sini.”

Tamara terdiam, sementara Naina tampak gelisah. Nadia menunduk, dan Hazel hanya memandangi Maira dengan sorot mata sulit ditebak.

Beberapa detik kemudian, Maira berdiri.

“Kalau begitu, saya izin ke toilet dulu. Dari tadi jujur saja, saya sudah sangat kebelet. Ditambah dengan ucapan barusan, rasanya makin tidak tertahankan,” ucapnya apa adanya.

“Toiletnya di dekat sana. Kamu bisa ke sana,” ujar Naina tetap berusaha tersenyum ramah.

Maira mengangguk singkat, lalu segera melangkah menuju toilet, meninggalkan ruang makan dengan suasana yang masih terasa tegang.

1
Qhaqha
Jangan lupa bintang dan ulasannya ya... 😊😊🙏🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!