"Apakah kamu kira tempurung pantas merangkai permata? Mana mungkin anakku pantas bersanding dengan gadis miskin tak berpunya seperti dirimu!"
Runi ternhenyak menahan segala rasa akit di hatinya atas hinaan yang di lontarkan oleh nenek dari bayi yang di kandungnya.
"Mas, kamu akan bertanggung jawab 'kan?" tanya runi pada lelaki yang telah menodai dirinya. meskipun ia sangat mencintai lelaki itu, tetapi tak pernah ada niat sedikitpun untuk melakukan perbuatan dosa. semua yang terjadi karena paksaan oleh lelaki itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Risnawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dr Vano dilema
Siang ini Runi menepati janjinya pada Yandra. Saat hendak keluar dari rumah, ia berpapasan dengan nyonya Emeli dan Gracia. Ternyata wanita paruh baya itu masih berusaha untuk mendekatkan Yandra dan Gracia.
"Ya ampun, Nyonya muda udah cantik aja, mau kemana nih?" Ujar Gracia tersenyum sinis.
Runi tersenyum tipis mendengar ucapan Gracia. "Masih tidak punya muka ya. Udah di tolak masih saja datang ke rumah ini. Oh iya aku lupa. Kan sedang di sponsori oleh mama mertua aku. Ya wajar sih jika pelakor masih punya nyali. Suai memang, karena ada suhu yang mendukung penuh," balas Runi membuat Nyonya Emeli menatap tajam.
"Berani sekali kamu bicara seperti itu! Kamu pikir kamu siapa hah? Aku tidak sudi memiliki menantu seperti kamu!" Bentak wanita itu.
"Dasar tidak tahu malu. Padahal di benci oleh mas Yandra dan Tante Emeli, tetapi masih berlagak keras. Kamu itu sama sekali tidak pernah di anggap sama keluarga ini!" Sambung Gracia merasa di bela oleh nyonya Emeli.
Runi masih tersenyum menanggapi makian dari mereka. Ia tidak akan menangis hanya karena kedua wanita jahat itu.
"Apakah kalian kira aku peduli? Hng! Mau di anggap atau tidak, itu urusan kalian. Aku akan tetap menikmati hidupku menjadi Nyonya Yandra Sagara. Jadi, terserah kamu mau bicara apapun ya pelakor, aku tidak akan goyah sedikitpun. Dan aku tekankan padamu sekali lagi. Aku akan berusaha mendapatkan cinta Mas Yandra seutuhnya!" Ujar Runi tak gentar sedikitpun.
Runi segera berlalu dari hadapan kedua wanita itu. Di depan Nyonya Emeli Runi memerintah Pak Iwan untuk mengantarkan dirinya ke RS.
"Ihhh! Kesel banget sama Runi, Tante," ucap Gracia dengan hentakan kakinya.
"Kamu sabar ya, Sayang. Kamu tidak boleh kalah begitu saja. Kita lihat saja hasil tes DNA itu. Mama yakin anak yang di kandung wanita itu bukanlah anaknya Yandra," ujar nyonya Emeli memberi semangat pada wanita yang berprofesi sebagai dokter kecantikan itu.
Sementara itu Runi baru saja sampai di RS. Ia segera mendatangi pihak pendaftaran untuk menanyakan jadwal jam praktek dokter Vano.
"Apakah ibu sudah buat janji dengan dokter Vano?" Tanya petugas tersebut.
"Belum. Tapi katakan saja saya adiknya ingin bertemu sebentar," ujar Runi. Ia harus bicara dengan Abang iparnya itu. Sebenarnya ini kali pertama ia menemui anak pertama dari tuan Saga. Pernah sekali bertemu waktu malam pernikahannya dan Yandra.
"Baiklah, bisa bantu sebutkan nama ibu?"
"Seruni, istrinya Dokter Yandra."
Seketika petugas itu terpaku saat Runi menyebutkan nama Yandra. Tentu saja mereka terkejut mendengar pernyataan Runi yang mengatakan bahwa dirinya adalah istri dari dokter Yandra.
"Baiklah, saya akan hubungi Dokter Vano. Silahkan duduk sebentar."
Runi mengangguk dan segera duduk di kursi yang berhadapan dengan pihak petugas tersebut.
"Silahkan, Bu. Dokter Vano ada di ruang prakteknya," ujar wanita itu mempersilahkan setelah mendapatkan persetujuan oleh yang bersangkutan.
"Baik, terimakasih." Runi segera menuju poli kandungan.
Setelah mendapatkan izin dari suster yang ada di poli, Runi segera masuk kedalam ruangan tersebut.
"Hai, baru nongol. Semalam ampe pegel nungguin dari siang," sapa lelaki itu dengan senyum khasnya.
"Ah, maaf Dok. Semalam lagi mager soalnya," jawab Runi tersenyum simpul.
"Nggak usah terlalu formal. Kalau nggak ada orang begini panggil Abang saja," ujarnya.
"Hehe, baiklah." Runi tertawa kecil.
"Ayo duduklah. Apa yang kamu keluhkan sekarang?" Tanya Vano.
Runi mengangguk dan segera duduk di kursi yang berseberangan dengan Abang iparnya itu. Ternyata dokter Vano cukup ramah dan hangat. Semoga saja dia bisa membantu untuk menangani masalahnya.
Runi terdiam. Ia bingung mau memulainya dari mana. Tetapi ia harus mengatakan yang sejujurnya tentang penyakit yang sedang ia derita saat ini.
"Hei, kenapa malah bengong? Ayo katakan apa keluhan kamu."
"Bang, aku hanya ingin Abang melihat hasil pemeriksaan aku di RS xxx," ujar Runi menyerahkan hasil pemeriksaannya saat di RS yang ia kunjungi beberapa hari yang lalu.
Dokter Vano membuka kertas tersebut, lalu membacanya dengan teliti. Seketika ia terkejut dan menatap tidak percaya.
"Ayo berbaring di sana!" Titahnya pada Runi. Ia ingin memastikan sendiri.
Runi mengangguk patuh. Ia segera berbaring di bed pemeriksaan. Berharap sekali pemeriksaan dokter itu keliru. Namun, pertanyaan Dokter Vano hampir sama dengan pernyataan dokter sebelumnya.
"Runi, kenapa kamu baru mengetahui sakitmu saat sudah hamil begini? Apakah selama ini kamu tidak pernah periksa?" Tanya dokter Vano menatap serius.
Runi menggelengkan kepala. "Tidak, Bang. Aku hanya merasa sakit biasa saja. Karena sakitnya ketika aku sedang haid. Dan aku kira itu penyakit wajar di alami setiap wanita," jawabnya jujur.
Dokter Vano menggelengkan kepala. "Runi, Abang harus mengatakannya. Kanker ini sudah cukup parah, dan disini terlihat sel kankernya sudah menyebar ke organ lainnya, seperti paru-paru. Bisa di katakan kamu memasuki stadium akhir. Dan kamu harus menggugurkan bayimu agar kamu bisa mendapatkan penanganan yang intensif."
Runi menggeleng cepat. "Nggak! Aku nggak mau, Bang. Bagaimanapun caranya bayi ini harus tetap hidup. Aku tidak akan mau melenyapkannya. Aku mohon sama Abang," ucap wanita itu dengan deraian air mata.
"Tapi ini bisa membahayakan nyawa kamu dan juga nyawa anak ini sendiri. Bayi akan sulit bertahan bila kanker sudah menyebar ganas."
"Hiks, aku mohon Bang. Tolong selamatkan bayiku. Karena aku yakin Abang tahu bahwa aku juga tidak akan bisa bertahan lama 'kan?" Cicit Runi semakin terisak.
Vano benar-benar di lema. Apa yang harus ia lakukan sekarang. Ia tidak tega melihat Runi menangis seperti ini.
"Baiklah, Abang akan berusaha untuk mempertahankan bayi ini. Tetapi Abang harus membicarakannya pada Yandra dan juga keluarga."
"Ah jangan! Aku mohon jangan beritahu siapapun, Bang. Cukup Abang saja yang tahu mengenai penyakitku. Karena jika mereka tahu kondisi aku saat ini, maka mas Yandra dan Mama Emeli akan meminta untuk di gugurkan saja. Sungguh aku tidak mau, Bang," ungkap Runi masih terisak menjelaskan.
Bersambung...