Naura memilih menikah muda, tetapi pernikahannya tidak bertahan lebih dari 2 tahun, ketika suaminya mengalami koma dirumah sakit, keluarga suaminya memaksa Naura untuk menanda tangani surat perceraian mereka. Setelah bercerai Naura baru mengetahui jika di sedang hamil.
Bagaimana Naura membesarkan anaknya?
Apakah mantan suaminya akan mencari anak dan istrinya?
Atau Naura akan menerima pria baru dalam hidupnya dan menjadikan pria itu papa baru dari anaknya!
Mari baca cerita ku ya teman-teman.
Terima Kasih
🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lie_lili, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
30. Nyinyiran Teman Kantor
Hari libur Naura telah usai, dia pun harus masuk kerja, seperti saat ini dia sudah berada didalam ruangan kerjanya. Hari ini Naura hampir terlambat kerja. Terkadang ada rasa malas yang menyerangnya untuk masuk kerja karena sudah merasakan 1 hari bersama keluarga atau bebas dari beban pikiran soal kerjaan, tetapi sekali dia mengingat kembali tujuan kerjanya adalah buat mama Ayu dan Evano, semangatnya pun kembali berkobar dan bagi dia, dia masih sangat membutuhkan gaji, kalau dia sampai tidak bekerja siapa lagi yang membiayai hidup dia.
Bagi Naura, dia hanya manusia biasa yang juga kadang merasa lelah, ingin pergi dari ini semua, terkadang dia rasanya ingin memberontak untuk hidupnya, berteriak 'cukup, dia lelah' dengan keadaan dia sekarang, tetapi dia tetap harus kuat untuk menjadi yang terkuat.
Saat ini juga Naura membawa setumpuk kertas untuk dia foto copi, dia berjalan menuruni anak tangan satu persatu hingga dua tangga terakhir dia hampir terjatuh dan benar terjatuh, tersungkur dibawah kaki tangga.
"Aduh" jerit Nauru ketika dia jatuh terlebih dahulu mengenai lututnya.
Tidak ada satu pun teman kerja yang melihatnya datang menolong, padahal Naura tidak pernah bermasalah dengan dia. Naura merasakan pedih dihatinya karena diperlakukan tak acuh oleh teman-temannya, tetapi tidak di perlihatkan didepan orang-orang tersebut, Naura bangkit sendiri memungguti kertas-kertas yang bertaburan dilantai.
Entah mengapa teman-teman yang biasa menyapa Naura di ruangan kerja terbuka ini, ruangan kerja para adminitrasi lainnya, kini tidak lagi, pandangan mereka seolah berubah ketika Naura menjadi sekertaris direkturnya. Memandang Naura dengan keadaan tidak suka atau mereka akan pura-pura tidak melihat Naura, walau Naura sudah tersenyum kearah mereka.
Hingga saat ini hanya Serli yang masih menjadi teman baik Naura, sayangnya hari ini Serli tidak masuk kerja karena dia sedang demam.
"Hei, lihat itu si janda terjatuh" senyum jahat dari seorang teman kerjanya.
Dikantor ini memang hanya Naura sendiri yang masih seorang janda. Yang lainnya berstatus single, ataupun suami atau istri orang, juga ada yang belum menikah.
"Iya, karma dia itu, sok sih!" jawab salah seorangnya lagi.
Naura mendengar percakapan mereka yang memang sedikit dikeraskan oleh si para pembicara walau dengan gaya berbisik. Di dalam batin Naura berkata "aku masih sama seperti dulu, apa yang mau aku sok kan, apa yang mau aku pamerkan."
Naura hanya dapat terdiam, dia tidak ingin mencari masalah dengan langsung menjawab apa yang dikatakan oleh teman-temannya, karena orang itu tidak berkata langsung kepadanya, jika orang-orang itu berkata langsung padanya, dia tentu tidak akan diam saja.
Padahal Naura masih Naura yang sama walau dia menjadi sekertaris, dia tetap seperti Naura yang pertama kali menginjakan kakinya ke kantor tersebut.
"Lihat saja sepatu usangnya sudah sobek begitu belum digantinya, enggak cocok bah jadi sekertaris, harusnya kau yang sudah lama bekerja disini" ucap teman lainnya.
Teman yang dikatakan cocok untuk menjadi sekertaris pun melihat kearah kaki Naura dengan senyum jahatnya.
"Hei Naura, apa sih yang kau berikan pada bos kita hingga dengan mudahnya kamu menjadi sekertaris begitu cepat?" tanya seorang temannya yang sudah tidak mampu menahan mulutnya untuk berbicara dengan Naura.
"Lihat penampilan mu saja tidak mencerminkan cocok menjadi sekertaris, apa lagi dengan sepatu sobek mu itu, kau akan membuat malu pak Kenzie" timpal seorang teman lainnya.
Naura yang mendengar soal sepatunya, sembari mengcopy kertas, dia mencuri pandang kearah sepatu dia, terlihat sepatunya sebelah kanan benar sudah terbuka lebar.
"Pantesan seperti ada angin keluar masuk, ternyata sudah begini" batin Naura melihat sepatunya, menjadi tidak bersemangat.
"Aku tidak melakukan apa-apa dan aku juga tidak tau mengapa aku di jadikan sekertaris, jadi kalian cukup diam dan lihat saja!" jawab Naura dengan nada santai, dia tidak ingin berdebat lebih panjang lagi.
"Tu kan lihat, gaya mu sudah mulai sombong!" ceplos seorang temannya.
"Aduh mama, aku enggak kuat lihat mereka" batin Naura memanggil mamanya, seperti ingin meminta pertolongan mamanya.
"Aku bukan sombong, tapi kalau aku tidak mengbungkam mulut kalian yang terus berkata yang tidak benar soal aku, telingga ku pun akan sakit mendengarnya!" jawab Naura yang sudah kesal terhadap teman-temannya ini.
Kemudian dia mengemasi kertas-kertas yang dicopynya lalu balik keruangannya, dia berjalan perlahan agar sepatunya tidak terbuka semakin lebar.
"Harusnya tadi aku turun tangga pakai sendal jepit" batin Naura karena didalam ruangannya memang tersedia sendal jepit, jika dia sudah merasa gerah memakai sepatunya itu, dia akan memilih sendal jepit tersebut.
"Apa aku keterlaluan ya menjawab mereka" batin Naura sambil berjalan menuju ruangannya.
"Agh sudah mereka menyerangku tidak memikirkan perasaan ku"
Naura pun memilih cuek, dari pada harus menambah masalah.
🤔🤔
👍❤
sambil marathon