Alina Elviana dan Rafael Mahendra menikah karena perjodohan. Namun hati Rafael tak pernah benar‑benar di sini, ia masih menyimpan perasaan pada seseorang di masa lalunya.
Revan Adinata, asisten yang bergabung enam bulan lalu, justru lebih memahami Alina, hadir mengisi kekosongan yang ditinggalkan suaminya. Namun di balik sikap tenang dan setianya, Revan menyimpan rahasia besar yang tak boleh terungkap.
Saat perasaan terlarang mulai tumbuh, Alina harus memilih: bertahan dalam pernikahan yang hampa, atau mengikuti suara hati yang terancam hancur saat kebenaran terungkap.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Red_Purple, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 30
Jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Revan memasukkan kata sandi, bunyi ketikan terdengar pelan di lorong yang hening. Pintu terbuka, ia melangkah masuk, lalu menutupnya rapat di belakang punggungnya.
Apartemen itu sunyi. Hanya suara langkah kakinya yang bergema pelan di lantai marmer. Revan duduk di sofa empuk di ruang tengah, kotak bekal yang kini sudah kosong itu ia letakkan di atas meja kaca tepat di hadapannya.
Ia menatap kotak itu lama sekali, seakan ada sesuatu yang tersimpan di sana selain sisa makanan yang ia habiskan tadi sendirian. Pandangannya perlahan mengabur, dan pikirannya perlahan melayang mundur, tepat satu tahun yang lalu.
Saat itu baru saja ia mendarat kembali di negara ini. Ayahnya sedang sakit parah, dan ia terburu-buru ingin segera sampai ke rumah sakit. Di ruang kedatangan bandara yang ramai, ponselnya berdering, suara ibunya yang memberitahu bahwa asisten ayahnya sudah menunggu di depan pintu keluar untuk langsung mengantarnya ke rumah sakit.
Ia berdiri sejenak di tengah kerumunan, masih berbicara di telepon, tiba-tiba seseorang menabrak punggungnya cukup keras.
Revan berbalik cepat. Seorang wanita terjatuh tepat di belakangnya, koper kecilnya tergelincir ke samping. Revan menatapnya dari balik kacamata hitamnya, wajahnya datar, tidak ada sedikit pun rasa bersalah yang terlihat.
"Lain kali kalau jalan, pakai mata," ucapnya dingin, lalu ia menarik kopernya dan berjalan terus tanpa menoleh lagi.
Wanita itu menatap punggungnya yang menjauh, matanya membelalak kesal. Ia bangkit berdiri, dengan cepat melepas satu sepatunya, lalu melemparnya dengan tepat hingga mengenai punggung pria itu.
"Dasar brengsek!" serunya keras. "Bukan aku yang tidak pakai mata, tapi kamu yang berdiri di tengah jalan dan menghalangi orang lewat!"
Revan berhenti melangkah. Ia menunduk menatap sepatu itu yang kini tergeletak di lantai mengkilap bandara. Belum sempat ia berbalik, asisten ayahnya sudah berjalan menghampirinya dengan tergesa-gesa.
"Tuan muda, selamat datang kembali. Tuan Besar sudah menunggu di rumah sakit," sapanya hormat.
Revan menoleh sekilas ke arah wanita yang masih berdiri dengan satu kaki tanpa sepatu, menatapnya dengan napas yang memburu karena marah.
"Berikan uang ganti rugi pada wanita itu," ucap Revan singkat, lalu ia membungkuk mengambil sepatu itu dari lantai.
Asisten itu mengangguk cepat, "Baik, Tuan muda."
Revan menenteng sepatu krem itu dengan dua jarinya dan tidak menoleh lagi. Langkahnya panjang-panjang menuju pintu keluar bandara, koper hitamnya berderak di lantai yang mengkilap.
Di belakangnya, Alina masih berdiri dengan satu kaki, menahan malu karena orang-orang mulai menatap.
"Hei! Sepatuku!" serunya lagi, setengah melompat kecil mencoba mendekat. "Pencuri! Balikin sepatuku!"
Asisten itu buru-buru menghadang dengan sopan, sedikit membungkuk.
"Maaf, Nona. Tuan muda kami sedang terburu-buru. Ini untuk ganti rugi sepatu Nona."
Ia menyodorkan beberapa lembar uang. Jumlahnya jauh lebih banyak dari harga sepatu flat krem itu.
Alina membelalak, bukan karena uangnya, tapi karena kesal.
"Siapa yang butuh uangnya! Aku butuh sepatuku! Suruh dia balikin!"
Tapi sosok tinggi berkacamata hitam itu sudah menghilang di balik kerumunan pintu keluar. Hanya punggungnya yang sempat terlihat sekilas sebelum ditelan keramaian.
Revan mengerjap, ingatan itu terputus. Di hadapannya kini hanya ada kotak bekal kosong milik wanita yang sama.
"Nona Sepatu..." gumamnya pelan, suaranya tenggelam dalam sunyi apartemennya.
-
-
-
Bunyi ritsleting koper yang ditarik hingga akhir baru saja berhenti, saat langkah kaki terdengar masuk dari luar. Alina tidak menoleh segera, tangannya masih menggenggam ujung ritsleting itu erat.
Rafael berdiri di ambang pintu, matanya membelalak tak percaya melihat koper besar yang terbuka lebar di atas tempat tidur mereka.
"Alina... kamu mau pergi ke mana?" suaranya terdengar cemas, langkahnya terburu mendekat.
Alina menegakkan punggungnya, menghela napas panjang, begitu panjang, seakan ingin mengembuskan seluruh kelelahan yang ia pendam selama ini. Perlahan ia berbalik, menatap lurus ke arah Rafael. Matanya tidak lagi berapi-api, tidak juga menangis. Hanya tenang, tapi ketegasan di sana tak bisa digoyahkan.
"Aku sudah memutuskan," ucapnya pelan namun jelas. "Kita akan bercerai, Rafael. Aku akan kembali ke rumah orang tuaku."
Wajah Rafael seketika pucat. Ia menggeleng tak percaya, tangannya terulur seakan ingin menyentuh bahu istrinya namun terhenti di udara.
"Bercerai?" bisiknya parau. "Tadi siang kita masih baik-baik saja, kenapa kamu tiba-tiba seperti ini lagi? Alina tolong, jangan—"
"Kekanak-kanakan?" potong Alina cepat, suaranya mulai bergetar. "Selama ini kamu selalu menganggap aku seperti itu kan?"
Rafael terdiam. Tangannya masih menggantung di udara.
"Setiap kali aku marah, setiap kali aku menangis, kamu selalu bilang aku kekanak-kanakan. Kamu selalu bilang aku ratu drama."
Alina melangkah mundur selangkah, jaraknya dengan Rafael semakin jauh.
"Banyak hal tentangku yang kamu lewatkan, Rafael." Alina tertawa pendek, tawanya hambar. "Di hari ulang tahunku tahun lalu kamu lebih memilih sibuk dengan pekerjaan, bahkan kamu menyuruh Citra untuk menemaniku liburan ke Paris. Dan dimalam ulang tahun pernikahan kita... kamu lebih memilih tidur dengan Amara ketimbang merayakannya denganku."
Rafael terkejut, kata-kata itu terasa seperti pukulan telak yang menghantam dadanya begitu keras hingga napasnya tertahan.
"Siapa? Siapa yang mengatakan itu padamu? Apakah itu Amara? Atau... Revan yang mengatakannya?
Alina tersenyum getir, air mata akhirnya jatuh perlahan di pipinya yang pucat.
"Tidak penting siapa yang memberitahuku," jawabnya pelan namun tegas. "Yang penting itu benar, kan? Dan yang lebih menyakitkan... kamu tidak menyangkalnya."
Ia menarik napas panjang, berusaha menahan suaranya agar tidak pecah.
"Selama ini aku yang selalu berusaha memahamimu, Rafael. Aku yang selalu mencari alasan untuk memaafkanmu. Tapi hari ini aku sadar... aku tidak bisa terus-menerus menjadi orang kedua di rumahku sendiri."
Alina meraih gagang kopernya kembali, tangannya tidak lagi gemetar seperti tadi.
"Biarkan aku pergi. Ini satu-satunya hal yang bisa menyelamatkan sisa harga diriku."
Rafael melangkah mendekat, suaranya kini bergetar penuh kepanikan yang nyata.
"Bukan berarti aku tidak menyangkalnya... aku hanya... aku tidak tahu harus berkata apa," akunya lemah, matanya memohon. "Alina, itu bukan seperti yang kamu kira. Malam itu aku... aku tidak bermaksud menyakitimu. Aku khilaf."
Alina menggeleng pelan, senyumnya terasa begitu getir.
"Masalahnya bukan malam itu saja, Rafael. Masalahnya adalah kamu tidak pernah menyadari betapa seringnya kamu membuatku merasa sendirian."
Ia menarik kopernya sedikit, menegaskan niatnya. "Ini bukan keputusan yang diambil mendadak, Rafael. Ini sudah lama aku pikirkan. Terlalu lama."
Ia berbalik kembali, meraih tas kecilnya di samping meja rias. "Tolong urus dokumennya. Aku tidak minta banyak hal, aku hanya ingin kita berpisah dengan tenang."
Alina berjalan keluar kamar, roda koper berderik pelan di lantai. Langkahnya stabil, meski dadanya terasa sesak. Saat ia baru sampai di tengah anak tangga, suara langkah kaki cepat terdengar dari atas.
Tangan Rafael meraih pergelangan lengan Alina, menahannya agar tidak melangkah turun lebih jauh. Cengkeramannya tidak kasar, tapi cukup kuat agar ia berhenti.
"Alina, tunggu..." napasnya sedikit terengah, matanya menatap wajah istrinya yang membelakanginya. "Kamu tidak bisa pergi begitu saja. Tolong... jangan lakukan ini."
Alina berusaha melepaskan cengkeraman tangannya. "Lepaskan, Rafael. Sakit."
"Tidak sebelum kamu berubah pikiran!" Rafael justru menahan lebih erat, menariknya sedikit agar berbalik menghadapnya. "Kita selesaikan ini sekarang juga, jangan kabur!"
"Aku tidak kabur! Aku hanya berhenti menderita!" Alina berusaha melepaskan diri dengan kedua tangannya, kopernya tersangkut di anak tangga, membuat keseimbangannya terguncang.
"Jangan pergi, Alina... kumohon..." Rafael menariknya mendekat, napasnya memburu, panik dan putus asa.
"Tolong mengertilah!" Alina mendorong dadanya dengan lembut namun tegas. Tapi di tangga yang sempit dan curam itu, dorongannya yang disambut tarikan Rafael membuat keseimbangannya benar-benar hilang.
Kakinya tersandung tepian anak tangga. Tangannya melepaskan pegangan sama sekali. Matanya membelalak, seketika penuh ketakutan.
"Rafael—!"
Ia terhuyung ke belakang. Tubuhnya meluncur jatuh, berguling tanpa daya. Suara benturan pelan dengan marmer terdengar begitu jelas di rumah yang mendadak sunyi.
"ALINA!!"
-
-
-
Bersambung...
Maybe gt🤭
Konfliknya berlapis, bukan cuma soal Alina - Rafael - Revan. Tapi ada 2 bom waktu di sini:
Cinta terlarang Alina & Revan dan rahasia besar Revan.
Rafael sebagai suami yang dingin karena masa lalu, Revan sebagai penyelamat yang tenang dan setia. Kontrasnya dapet. Alina berada di posisi dilema dengan pilihan berat "bertahan dalam pernikahan hampa atau mengikuti suara hati". Itu bukan pilihan mudah. Apalagi ada embel-embel "Di Bawah Kendali Asisten Suami" - yang mengisyaratkan dominasi, posesif. Ini bukan cerita nikah biasa, ini cerita tentang kekosongan yang akhirnya diisi oleh orang yang seharusnya tidak boleh.
cerita kakak luar biasa. semangat berkarya🥰