Seorang pemuda bernama Devan dia adalah seorang kurir paket yang hidup sederhana, tidak pernah menyangka hidupnya akan berubah setelah menemukan sebuah gelang giok misterius.
Sejak saat itu, keberuntungan mulai menghampirinya dan satu per satu wanita cantik memasuki kehidupannya.
Namun, siapa sebenarnya mereka dan mengapa semuanya terhubung dengan Devan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Not men, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13 : Saat Takdir Memilihku
Rasa lelah penat dan amarah kini hilang dari benak Devan untuk sementara, Devan teringat yang dia tau hanya Lima wanita nya, masih ada sisa banyak, lalu dia menanyakan itu sambil berbaring di sisi Malea dan syafir..
"Bukan kah ada banyak dari kalian, lalu kemana wanita lainnya lagi?" Tanya Devan
Malea menoleh ke arah Devan lantas menjawab "Kekuatan mu belum mencukupi tuan, untuk memanggil kita semua kau perlu kekuatan dan energy yang besar untuk melakukan nya" jawab Malea
Devan tertegun mendengar itu, ternyata perjalanan nya akan sangat begitu panjang bukan hanya wanita dan kekayaan saja yang dia miliki akan tetapi, dia akan memiliki kekuatan dan tanggung jawab lebih besar lagi dari ini.
"Baiklah aku paham, tapi bagaimana cara aku menaikan kekuatan ku?" tanya Devan
"Salah satu nya dengan menyetubuhi kami tuan, setiap kau menyetubuhi satu dari kami setiap hari nya maka kekuatan mu akan meningkat, tetapi kau juga perlu menemukan beberapa sumber daya yang membuat pondasi, untuk menopang kekuatan mu itu" jelas Syafir
Devan tertawa mendengar itu, dengan hanya menyetubuhi mereka dia akan semakin kuat bagaimana mungkin? Pagi harinya Devan menyapa beberapa muda mudi desa yang bekerja di toko milik nya itu, disana sudah ada ibu dari Devan yaitu Mariana, yang sedang melayani beberapa pembeli, Kehadiran Devan disana tentu membuat para pembeli menoleh, mereka senang Devan membuka toko yang sangat murah dan begitu membantu perekonomian mereka.
"Wahh nak Devan hebat yaa, udah ganteng baik hati juga, rejeki nya berlimpah pula" ucap seorang ibu
Devan tersenyum lantas menjawab "Udah rejeki nya bu, dan udah kewajiban kita menolong sesama bukan?" jawab Devan
Tentu warga tau bagaimana perangai Devan di desa itu, dia baik hati dan suka menolong, bahkan dia sudah kaya pun dia tidak sombong seperti keluarga nya itu.
Hal itu tentu tak di sukai oleh bukde Arni dan pakde Leman, yang melihat dan memperhatikan mereka dari kejauhan. "Darimana dia mendapat kan kekayaan itu begitu cepat!, Kurang ajar!" gumam Pakde Leman di samping istri nya Bukde Arni, Tentu Bukde Arni mendengar itu menyeringai memiliki sebuah ide untuk mencari tau dari mana, kekayaan Devan berasal..
"Aku punya ide Pak!" ucap Bukde Arni lalu membisikan sesuatu di telinga Pakde Leman, Pakde Leman tentu tersenyum sinis dan senang dengan ide dari istri nya itu, senyum penuh kelicikan terukir di wajah mereka berdua.
Devan sedang asik merokok di depan tokok bersama teman nya yang mampir kesana yaitu Yusa "Gila sihh bener ya temen ku ini ngedadak sukses gini, bagi lah cara nya bro hahaha", Ucap Yusa pada Devan
Devan tersenyum, mana mungkin dia menceritakan perihal itu kepada semua orang, "Nabung lah Yus sisa nya aku nabung", jawab Devan, Yusa percaya saja pada teman nya itu, karena dia adalah teman sedari kecil Devan hingga kini.
"Ehh iyaa van gimana kabar nya si Hilma tuh?", tanya Yusa
Deug!
Wajah Devan berubah seketika menjadi masam, tentu hal itu di sadari Yusa, dan ada apa dengan Devan dan Hilma? Tanya benak nya.
"Lohh lohh lohh, kenapa nih kaya nya ada masalah bro, cerita aja kita kan kawan udah dari kecil, masa iya kau gak cerita, siapa tau kan aku punya saran", timpal Yusa
Devan menghela napas lantas menjawab "Udah lah yus, gausah bahas dia, aku sempet ke kota buat tengok dia, ehhh sial nya dia malah di bawa pergi sama pria asing yang gak ku kenal, masuk hotel lagi!" jawab Devan sedikit kesal, seraya menyesapnya kopi nya
Yusa sedikit terkejut mendengar penjelasan Devan, tentu saja dia ikut meradang, teman nya itu di khianati begitu saja padahal, selama Hilma membutuhkan uang Devan selalu mengirimkan nya.
"Kurang ajar tuh anak! Gatau diri bener udah di tolongin!" timpal Yusa sedikit kesal
"Udahlah yus biarin aja.." jawab Devan
Mereka pun kembali mengobrolkan hal kecil mengenang sedikit masalalu mereka Namun di tengah asik nya mereka berbincang sebuah taxi berhenti di depan mereka, Membuat Yusa dan Devan saling bertukar pandang, siapa itu pikir mereka, Namun seorang yang turun itu mengejutkan mereka berdua bagaimana tidak, baru saja mereka membicarakan nya tak lama sosok yang di bicarakan muncul begitu saja
"Cihhh! Mau ngapain dia, udah tau kamu kaya, dan juga kayanya dia minta balik tuh aahh elahh!" bisik Yusa dengan tatapan sinis ke arah Hilma
Ya Hilma yang datang kesana, dia terkejut melihat sebuah bangunan besar di hadapan nya, dua mobil terparkir di halaman toko itu satu mobil Milik Devan dan satu mobil untuk belanja dan mengantar pesanan dari toko.
"Van kamu sukses yaa selama kita berjauhan" ucap Hilma saat berada di dekat Devan dengan wajah tanpa dosa sama sekali
Devan menyesap rokok nya perlahan dan menghembuskan nya sebelum menjawab ucapan Hilma, namun Yusa hanya sibuk dengan ponsel nya tanpa mau menoleh ke arah Hilma sedikitpun.
"Ngapain kamu kesini!" ucap Devan dengan nada yang begitu dingin dan menohok
Mendengar itu Hilma tentu di penuhi rasa penyesalan, seandainya dia bersabar dan tidak tergoda oleh kekayaan dia akan terus bersama dengan Devan, tapi mungkin kah Devan akan sekaya sekarang jika masih bersama dengan Hilma? "A-aku mau minta maaf van" jawab Hilma seraya menunduk..
Namun sebelum Devan menjawab, Mariana melihat kedatangan Hilma dan segera menghampiri nya.
"Lohh ko ada tamu di biarin berdiri di luar si van?" tanya Mariana ibu Devan saat di dekat mereka
Devan enggan menjawab dia hanya menoleh malas seakan mengisyaratkan bahwa mereka memang ada masalah, antara Hilma dan Devan.
"Loh ko diem aja si van, kalian ada masalah, ehh yuu ikut ibu ke dalam aja nak Hilma", timpal Mariana seraya mengajak Hilma Ke dalam rumah nya.
Yusa kesal karena Devan hanya diam saja melihat itu bukan nya megusir si wanita gatal, malah membiarkan nya masuk ke dalam rumah Devan
"Ahh elahh van kenapa diem aja, bukan nya kamu usir dia huh!" ucap Yusa kesal
Namun Devan hanya menggedikan bahu lantas menjawab "Biarlah dia menjadi tamu ibu, dia hanya orang lain bagiku sekarang, aku tak mau ibu tau tentang hal ini, kau tau sendiri bagaimana ibuku bukan" jawab Devan
Yusa membenarkan hal itu, dia hanya ikut saja dengan Devan, dia sangat mengenal bagaimana keluarga Devan itu, bahkan saat ayah dari Devan yaitu Julian masih ada Yusa sering sekali menginap bahkan dia sudah di anggap seperti anak sendiri oleh ayah dan ibu dari Devan karena kedekatan Devan dan Yusa sedari kecil, dan bahkan mereka jarang sekali bertengkar.