Kirana, mantan putri sultan yang kini harus bekerja demi bertahan hidup, selalu bentrok dengan Rangga, CEO dingin dan galak yang tak pernah menemukan karyawan seberani dirinya.
Tanpa Kirana sadari, Rangga justru jatuh cinta lebih dulu. Di balik sikap kerasnya, ia diam-diam selalu melindungi dan memperhatikan Kirana. Sementara Kirana perlahan melihat sisi lembut pria yang selama ini dianggapnya sebagai bos toxic.
Namun cinta mereka diuji oleh kesalahpahaman, mantan kekasih, konflik keluarga, serta perjuangan Kirana membangun kembali hidupnya tanpa kemewahan. Dari pertengkaran dan cinta yang awalnya bertepuk sebelah tangan, keduanya akhirnya menyadari bahwa mereka adalah tempat pulang satu sama lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratna Jivana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PROLOG
Ada satu hal yang selalu diyakini Aurelia Kirana Wibowo sejak ia bisa mengingat: dunia ini diciptakan untuk memudahkannya.
Bukan karena ia sombong—setidaknya begitu ia selalu membela diri setiap kali Dewi, sahabatnya sejak SMA, menjitak kepalanya sambil berkata, "Kir, kamu tuh hidup di dunia yang beda sama kita-kita." Bukan pula karena ia tidak tahu diri. Hanya saja, sejak lahir, segala sesuatu memang selalu datang dengan mudah kepadanya.
Ia lahir di rumah sakit termahal di Jakarta, dengan suite khusus yang biayanya bisa membeli motor bekas untuk sepuluh orang. Ia tumbuh di rumah bergaya modern minimalis seluas satu setengah hektare di kawasan elite, dengan kolam renang yang airnya diganti setiap tiga hari sekali, dan lemari pakaian yang lebih luas dari kamar kos rata-rata mahasiswa. Setiap ulang tahunnya dirayakan dengan tema berbeda—usia lima tahun bertema istana Disney lengkap dengan pemeran badut profesional dari Singapura, usia tujuh belas tahun dirayakan dengan pesta di atas kapal pesiar pribadi keluarga di perairan Bali.
Papanya, Hartono Wibowo, adalah pendiri dan pemilik Wibowo Group, konglomerasi yang bergerak di bidang properti, tekstil, dan investasi, dengan aset yang—menurut majalah bisnis yang pernah memuat wajah papanya di sampul—ditaksir triliunan rupiah. Mamanya, Anastasia Wibowo, adalah mantan model internasional yang menghabiskan separuh hidupnya berbelanja di Paris dan separuh lainnya mendampingi papanya menghadiri gala amal, meski Kirana curiga jumlah uang yang benar-benar sampai ke tangan yang membutuhkan jauh lebih sedikit dari jumlah gaun yang mamanya beli untuk acara-acara itu.
Kirana adalah anak tunggal. Segala kasih sayang, segala kekayaan, segala privilese keluarga itu, tercurah penuh padanya—tanpa ada yang perlu dibagi.
"Kirana itu bukan anak manja," papanya pernah berkata pada salah satu kolega bisnis yang menyinggung soal itu, sambil tertawa ringan seperti itu adalah lelucon paling lucu di dunia. "Kirana itu anak yang beruntung. Bedanya jauh."
Kirana selalu setuju dengan definisi papanya. Sampai suatu titik dalam hidupnya, keberuntungan itu ternyata punya kedaluwarsa—dan tak seorang pun pernah memberitahunya tanggal persisnya.
Ia ingat betul hari itu. Rabu, cuaca cerah, tak ada firasat buruk sedikit pun. Ia baru saja pulang dari salon langganan setelah menghabiskan tiga jam untuk perawatan rambut yang harganya setara gaji bulanan seorang office boy, ketika ponselnya berdering tanpa henti. Bukan dari mama atau papa—dari nomor kantor papanya, dari sekretaris pribadinya, dengan suara yang bergetar aneh di ujung telepon.
"Kirana... ini soal Pak Hartono dan Bu Anastasia..."
Dunia yang selama dua puluh empat tahun ia yakini akan selalu ramah padanya, runtuh dalam hitungan menit.
Pesawat jet pribadi yang membawa kedua orang tuanya dari pertemuan bisnis di Singapura mengalami kegagalan mesin di atas Selat Malaka. Tidak ada yang selamat.
Kirana ingat bagaimana ia berdiri mematung di tengah salon, dengan rambut yang masih setengah dikeriting, air mata yang tumpah tanpa suara, dan dunia yang tiba-tiba terasa seperti panggung yang layarnya baru saja diturunkan paksa di tengah pertunjukan.
Namun ternyata, kehilangan orang tua hanyalah babak pertama dari mimpi buruk yang jauh lebih panjang.
Dalam waktu tiga bulan setelah pemakaman, satu per satu kebenaran mengerikan mulai terungkap. Wibowo Group, perusahaan yang selama ini terlihat begitu megah dan tak tergoyahkan, ternyata menyimpan utang yang jumlahnya nyaris tiga kali lipat dari total asetnya. Papanya—pria yang selalu tersenyum tenang di setiap foto keluarga—diam-diam telah berjudi dengan investasi berisiko tinggi selama bertahun-tahun, berusaha menutup lubang dengan lubang yang lain, hingga akhirnya seluruh bangunan keuangan itu ambruk begitu pemiliknya tak lagi ada untuk menahannya.
Dan di tengah reruntuhan itu, muncul sosok yang paling tak disangka-sangka: Om Broto, adik kandung papanya sendiri, yang selama bertahun-tahun tampak sebagai paman baik hati yang selalu membawakan Kirana oleh-oleh dari luar negeri. Dengan dokumen-dokumen yang entah bagaimana caranya sudah disiapkan rapi jauh-jauh hari, Om Broto mengklaim sebagian besar saham dan properti keluarga atas nama "penyelamatan aset dari kebangkrutan total."
Rumah bergaya minimalis seluas satu setengah hektare itu, disita bank.
Mobil-mobil sport di garasi, dilelang satu per satu.
Rekening pribadi Kirana yang biasanya penuh limpahan uang bulanan dari papanya, dibekukan sementara oleh proses hukum warisan yang berlarut-larut.
Dalam waktu enam bulan, Aurelia Kirana Wibowo—gadis yang dulu tidak pernah tahu berapa harga semangkuk bakso karena selalu ada orang lain yang membayarkannya—kini harus belajar menghitung sisa uang di dompetnya sebelum memutuskan naik angkot atau berjalan kaki.
Ia menangis, tentu saja. Berhari-hari, bahkan berminggu-minggu. Ia marah pada Om Broto, marah pada nasib, marah pada papanya yang diam-diam menyembunyikan kebangkrutan itu sampai akhir hayatnya. Ia bahkan sempat marah pada mamanya yang terlalu sibuk berbelanja gaun sampai tak sempat menyadari kapal yang mereka tumpangi ternyata sudah bocor sejak lama.
Tapi di tengah semua amarah dan air mata itu, ada satu hal yang perlahan tumbuh dalam diri Kirana—sesuatu yang selama dua puluh empat tahun tidak pernah ia butuhkan: tekad untuk bertahan dengan kekuatannya sendiri.
"Kalau dunia nggak lagi mau memudahkan aku," gumamnya suatu malam di kamar kos sempit berukuran tiga kali empat meter—jauh lebih kecil dari kamar mandi di rumah lamanya—sambil menatap langit-langit yang catnya mulai mengelupas, "ya aku yang harus belajar cara bertahan di dunia yang keras ini."
Ia tidak tahu, malam itu, bahwa dunia keras yang ia maksud akan membawanya ke gedung pencakar langit tertinggi di kawasan bisnis Jakarta, ke sebuah lantai eksekutif dengan pintu kaca berlogo ARKA CORPORATION, dan ke hadapan seorang pria dengan tatapan setajam pisau serta senyum yang nyaris tak pernah ia lihat—seorang pria yang, tanpa Kirana sadari, akan jatuh cinta padanya jauh lebih dulu, dan jauh lebih dalam, daripada yang pernah ia bayangkan.
ini novel saya pertama🥰🥰