Bagi Celeste Delacroix, sinar matahari adalah vonis mati. Mengidap penyakit langka, hidupnya terkurung dalam kegelapan dan selalu dibanding-bandingkan dengan kembarannya, Caelia, yang dipuja bagai dewi.
Ketika Caelia menolak dijodohkan dengan Lucian St. Claire, milyarder dingin yang bisu akibat trauma, keluarga Delacroix secara licik menumbalkan Celeste untuk menggantikan posisinya di altar pernikahan.
Di balik gaun pengantin dan rahasia besar penyakitnya, Celeste masuk ke kediaman St. Claire. Namun, Lucian yang tak bersuara justru menjadi satu-satunya orang yang mampu memahami bahasa luka Celeste. Di tengah kebohongan yang rapi, akankah cinta mereka bertahan saat kebenaran akhirnya terungkap?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ladies_kocak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Neraka di balik pintu raksasa
Dugaan Celeste bahwa Kakek Vane akan menginterogasinya secara tajam ternyata keliru. Pria tua yang memancarkan aura intimidasi mencekam itu hanya menatapnya sejenak dengan mata dingin, mengangguk singkat, lalu melangkah pergi meninggalkan area pesta. Celeste menghela napas lega yang amat dalam. Ia bersyukur Caelia sudah lebih dulu pulang sebelum sang kakek tiba, sehingga risiko penyamarannya terbongkar lenyap begitu saja.
Pesta pernikahan mewah itu terus berlanjut hingga larut malam. Bagi para tamu undangan, pesta malam ini tidak terlihat seperti pernikahan perjodohan bisnis, melainkan perayaan penuh gairah dari sepasang kekasih yang saling mencintai.
Namun, di balik semua keindahan itu, kepalanya terus dipenuhi tanda tanya. Sikap Lucian berubah semakin dingin dan berjarak. Tak ada lagi senyum tipis, bisikan hangat, atau tatapan usil yang sempat diperlihatkan pria itu di dalam mobil. Setiap kali iris mata mereka bertubrukan di tengah kerumunan, mata hitam Lucian memancarkan kegelapan yang begitu tajam dan pekat.
Lucian kenapa? Apa dia berbuat salah? Tatapannya sangat berbeda dengan malam seminggu yang lalu saat mereka fitting baju pengantin.
Siapa pria di sampingnya ini?
Kini, mereka berdua berada di dalam mobil hitam yang melaju membelah malam menuju kediaman baru mereka. Suasana kabin teramat hening. Lucian tidak mengucapkan sepatah kata pun, jemarinya sibuk menari di atas layar tablet di tangannya, acuh tak acuh pada keberadaan Celeste di sisinya. Celeste menatap keluar jendela dengan canggung dan bingung. Perubahan drastis suaminya terasa begitu nyata dan mendadak. Dia pun tak berani mengajak bicara Lucian seperti setiap mereka ketemu.
Mobil akhirnya berhenti di depan sebuah mansion megah yang berdiri terasing di balik benteng beton tinggi. Mansion itu dikelilingi taman luas bergaya arsitektur gothic modern yang dingin. Di depan gerbang utama dan sepanjang koridor luar, belasan pria berbadan tegap dengan setelan hitam tampak berjaga ketat, membawa senjata laras panjang yang tergantung bebas di dada mereka.
Celeste berusaha bersikap tenang, menelan keterkejutannya seraya melangkah keluar mengikuti langkah lebar Lucian. Dengan gaun pesta malam bertali tipis dan sepatu hak tingginya, Celeste harus setengah berlari agar tidak tertinggal.
Tiba-tiba, Lucian menghentikan langkahnya secara mendadak di depan pintu jati ganda.
Bruk!
Celeste yang tidak siap langsung menubruk punggung kokoh Lucian. Punggung pria itu terasa amat keras bagaikan dinding batu. Celeste meringis pelan, memegangi hidungnya yang agak ngilu, sementara Lucian membalikkan badan dengan raut wajah yang tetap datar tanpa emosi sedikit pun.
Pintu utama terbuka. Seorang pria tua dengan rambut beruban rapi menyambut mereka di serambi. Ia adalah Butler Jiro, pria keturunan Jepang yang telah setia mengabdi pada keluarga St. Claire selama puluhan tahun. Di belakangnya, berdiri berbaris beberapa pelayan pria serta seorang gadis muda berpakaian pelayan.
"Selamat kembali, Tuan Muda dan Nyonya Muda," sapa Butler Jiro penuh hormat sambil membungkukkan badannya secara sempurna.
"Saya telah merekrut seorang pelayan wanita sesuai arahan Anda, Tuan Muda. Dari ribuan kandidat yang mendaftar, hanya dia yang dinilai sempurna," lanjut Jiro tenang. "Dia yang akan menjadi pelayan pribadi Nyonya Muda mulai malam ini."
Celeste menatap pelayan wanita barunya itu dengan dahi berkerut. Gadis itu menunduk dalam-dalam, sama sekali tidak berani mengangkat pandangan atau menatap mata Celeste maupun Lucian. Apakah Lucian begitu menakutkan bagi orang-orang di mansion ini? batin Celeste penuh tanya.
"Bubar."
Satu kata dingin meluncur dari bibir Lucian, membuat Butler Jiro dan seluruh pelayan segera membubarkan diri tanpa suara sedikit pun.
Lagi-lagi Pria ini bisa bicara, batin Celeste.
Sebelum Celeste sempat mencerna situasi, tangan besar Lucian mendadak menyambar pergelangan tangan Celeste dan menariknya kasar.
"Pelan-pelan, Ian!" ringis Celeste terseok-seok mengikuti derap langkah lebar suaminya yang membawanya menyusuri lorong temaram menuju sudut mansion yang terasing.
Mereka berhenti di depan sebuah pintu besi berat tanpa gagang. Lucian mendekatkan wajahnya ke layar pemindai iris mata di samping dinding.
Bip. Pintu terbuka.
Lucian mendorong Celeste masuk ke dalam ruangan itu, lalu melepaskan genggamannya begitu saja hingga Celeste terdorong beberapa langkah ke depan.
Klek
Pintu besi di belakang mereka tertutup rapat dan terkunci otomatis.
Celeste mematung di tempatnya. Napasnya tertahan saat matanya mengedar meneliti isi ruangan tersebut. Ruangan itu bernuansa temaram, dikelilingi lemari-lemari kaca besar berisi ratusan jenis senjata api mematikan, berbagai tipe pisau taktis, pedang raksasa, hingga samurai tajam yang berkilau di bawah lampu remang-remang.
Celeste meneguk ludahnya kasar. Tangannya meremas kuat kain gaun hitamnya. Maksud apa Lucian membawanya ke tempat mengerikan seperti ini saat malam pernikahan mereka? Apakah pria ini punya kelainan sadistic atau kebiasaan menyiksa orang?
Tanpa suara langkah kaki, sosok tinggi Lucian sudah berdiri rapat di belakang tubuh Celeste.
Aroma parfum kayu yang maskulin bercampur aura dingin mencekam seketika mengurung Celeste. Celeste mematung, menahan napasnya rapat-rapat saat merasakan dada bidang Lucian menempel di punggung telanjangnya yang terbuka.
Tangan kanan Lucian terulur, jemari panjangnya mencengkeram lembut namun menuntut dagu Celeste, memaksa kepala gadis itu mendongak dan menatap wajahnya. Wajah mereka begitu dekat hingga hembusan napas hangat Lucian terasa memburu di permukaan kulit wajah Celeste.
Lucian menatap mata hazel Celeste yang dipenuhi ketakutan dan kebingungan. Dengan gerakan pelan yang lambat dan intim, Lucian menyapukan lidahnya, menjilati bibir bawah Celeste satu kali, sebuah sensasi basah dan panas yang membuat bulu kuduk Celeste meremang hebat.
Di saat yang sama, tangan kiri Lucian merayap masuk ke belahan gaun bawah Celeste, menyibakkan kain sutra hitam itu dan mengusap paha mulusnya dengan dominasi mutlak.
Lucian mendekatkan bibirnya ke telinga Celeste, lalu berbisik dengan suara bariton yang teramat berat, serak, dan penuh ancaman manis sebelum menggigit kecil daun telinga istrinya.
"Selamat datang di neraka, Este-ku..."