Sambil membawa surat hasil pemeriksaan kehamilannya, Kinan berlari menuju ruangan suaminya. Dia tidak sabar menyampaikan pada suaminya kalau dia hamil. Tapi saat akan membuka pintu,
"Bima, istriku mengantarkan istrimu ke rumah sakit. Katanya ke dokter kandungan, mungkin Kinan hamil. Lantas bagaimana dengan Agnes?"
"Bagaimana apanya? tiga tahun ini baik-baik saja kan? tinggal 2 tahun lagi, Agnes tidak perlu lagi sembunyi di luar negeri!"
Deg
Mata Kinan memerah, wanita yang telah menabrak ibunya hingga tewas. Dan mendapatkan hukuman selama lima tahun di penjara, bagaimana bisa berada di luar negeri?
"Kamu keterlaluan, kalau sampai Kinan mengetahuinya. Dia akan sangat marah padamu! jangan bawa-bawa aku ya, Bella itu sahabat baik Kinan. Kalau dia tahu, habislah aku!"
Hati Kinan hancur mendengar suaminya malah tertawa.
"Dia tidak akan tahu, kalaupun tahu dia bisa apa? Kinan sudah tidak punya siapa-siapa selain aku. Satu kata dariku, dia akan patuh!"
'Tega kamu mas' batin Kinan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon noerazzura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10
"Dimana bosmu?" tanya Bella pada Namira, sekertaris Zayn yang tampak merapikan meja kerjanya, karena memang sudah waktunya dia pulang.
"Tuan, ada di ruangannya nyonya" jawab Namira yang langsung berdiri begitu melihat Bella, menjawab pertanyaan istri bosnya itu dengan cepat.
Bella tak bicara lagi, dia segera menuju ke ruangan Zayn dan membuka pintu ruangan suaminya dengan cepat.
Zayn yang melihat Bella, matanya langsung berbinar.
"Sayang, aku tahu kamu tidak tega padaku. Mau jemput aku pulang ya?" tanya Zayn penuh harap.
Bella mendesah kasar.
"Temanmu yang brengsekk itu membawa Kinan pergi. Dan aku tidak menemukan Kinan di rumah mereka. Katakan! dimana lagi rumah teman mu selain yang aku tahu itu?" tanya Bella dengan nada suara masih standar lah ya.
Tersirat rasa kecewa di wajah Zayn. Dia pikir istrinya mau menjemputnya. Malah bertanya sesuatu yang meskipun dia tahu, dia juga tidak mungkin mengatakannya pada Bella. Zayn merasa istrinya terlalu ikut campur masalah rumah tangga Kinan. Zayn tahu mereka sahabat, tapi kalau Kinan terus di bawa oleh Bella, di jaga oleh istrinya. Bagaimana masalah rumah tangga Bima dan Kinan akan selesai?
"Sayang..." Zayn mendekati Bella dan mencoba bicara dengan sangat lembut pada istrinya, "tidakkah kamu merasa, kalau kamu terlalu ikut campur masalah mereka? mereka itu kan suami istri, sama seperti kita. Coba kamu pikir, apa kamu senang kalau masalah rumah tangga kita, dicampuri oleh orang lain..."
"Orang lain?" tanya Bella menyela Zayn.
Zayn mundur dua langkah, dia bicara dengan nada do, tapi istrinya langsung menyela dengan nada sol tinggi.
Untung badan besarnya bisa membuat gravitasi tubuhnya menjadi berat. Kalau sampai terhuyung jatuh karena kaget kan malunya sampai lebaran.
"Kamu bilang orang lain? pada siapa? pada Kinan?" tanya Bella.
Tatapan Bella sudah seperti mau makan Zayn. Menelan suaminya itu bulat-bulat. Membuat Zayn menelan salivanya dengan susah payah.
Zayn memberanikan dirinya mendekati Bella lagi, masalahnya dia tidak tahu juga Kinan di bawa kemana. Rumah Bima itu banyak, villa juga ada banyak. Belum lagi hotel. Dan Zayn juga tidak bisa menghubungi Bima. Lantas bagaimana Zayn bisa tahu Bima membawa Kinan kemana?
"Sayang... bukan begitu, aku sama sekali tidak bermaksud begitu. Aku tahu kalian sahabat, aku tahu itu. Kinan sudah jadi sahabat kamu bahkan sebelum kita kenal. Tapi sayang, aku juga tidak tahu dimana Bima membawa Kinan, kemana mereka pergi aku tidak tahu. Aku tidak bisa menghubungi Bima" jelas Zayn.
Sebenarnya Zayn itu tipikal suami yang jujur. Sayangnya kalau tidak ditanya, dia juga tidak mau menjelaskan pada istrinya. Makanya peristiwa tiga tahun lalu, bisa luput dari pengetahuan Bella.
Bella sama sekali tidak puas dengan jawaban Zayn. Sebenarnya bisa saja dia minta anak buah ayahnya mencari Kinan. Tapi, tetap saja pasti akan ada sedikit perkelahian antara anak buah ayahnya dan anak buah Bima.
'Suara ponsel berdering
Bella cepat mengambil ponsel dari dalam tasnya.
"Halo, bi"
[Nyonya, nona Shasha tidak mau makan. Katanya mau minta disuapi nyonya]
"Baiklah, aku pulang sekarang!"
Bella menghela nafas panjang. Dia memang sudah janji pada Sasha sebelum berangkat kerja tadi pagi. Kalau sore ini mau menyuapi anaknya itu makan malam.
"Sayang, itu Sasha kan? Sasha pasti merindukan ayahnya kan? sayang, akan pulang bersamamu ya, tidur di kantor yang sepi sendirian aku takut sayang..."
"Kalau begitu tidur di pasar, disana ramai!"
Bella menyimpan kembali ponselnya lalu berbalik pergi meninggalkan ruangan Zayn.
"Sayang... sayang..."
Panggilan Zayn sama sekali tidak di gubris oleh Bella. Bella berjalan cepat ke arah pintu lift. Bahkan dia tidak bisa menghubungi Kinan. Entah apa yang terjadi pada Kinan. Dia terlanjur mematenkan pria brengsekk pada diri Bima. Hingga tidak ada satu pun pikirannya yang tidak negatif kalau menyangkut pria satu itu.
"Kinan, aku harap kamu baik-baik saja. Aku akan cari cara supaya kamu lepas dari pria brengsekk itu!"
**
Dan di villa milik Bima. Saat ini pria itu sedang mengeluarkan ponsel dari dalam tas Kinan. Ponsel itu dalam keadaan mati, Bima menghidupkannya.
Tatapannya terpaku, pada wallpaper layar utama ponsel Kinan. Disana masih terpampang nyata foto ketika Bima dan Kinan menikah. Senyum mereka terlihat begitu bahagia. Meski Bima tahu saat itu senyum Kinan begitu tulus, sementara dirinya berusaha untuk tampak bahagia.
Tidak dipungkiri sama sekali oleh Bima. Niatnya sejak awal memang hanya untuk membebaskan Agnes dari penjara. Namun tiga tahun juga bukan waktu yang singkat.
Sejak bangun tidur yang dia lihat adalah Kinan, mau tidur yang dia pandang dan tersenyum padanya adalah Kinan. Bima sudah terbiasa dengan semua hal itu. Ketika waktunya makan siang ada yang selalu mengiriminya pesan dengan emot yang begitu menggemaskan. Dan ketika dia lembur, ada yang mengantarkan makanan hangat dan minuman hangat untuknya ke perusahaan.
Saat dia sakit, Kinan juga menunggunya tanpa tidur sama sekali. Ketika dia mabukk, separah apapun itu, Kinan akan berusaha menjaga dan menenangkan Bima dengan sangat telaten. Setiap pagi ada yang mengatakan 'aku mencintaimu' sebelum Bima berangkat kerja.
Rutinitas itu membuat Bima, merasa terkejut sekali ketika Kinan mengatakan dia ingin bercerai dari Bima. Seperti ada sesuatu yang tiba-tiba hilang dan membuatnya merasa kosong.
Begitu data di ponsel Kinan dibuka, banyak sekali pesan dan panggilan tak terjawab. Darinya sejak kemarin dan dari Bella hari ini. Bima yang tidak mau ambil resiko, serta mematikan ponsel Kinan itu lagi. Lalu menyimpannya di laci meja kerjanya.
Bima kembali melihat isi tas Kinan. Ada secarik kertas, laporan kehamilan Kinan dari rumah sakit.
Tangan kekar itu meraba tulisan positif dan usia kehamilan Kinan yang tertera di kertas itu.
"Sudah 8 minggu, anakku..."
'Suara ponsel berdering
Bima menghela nafas berat, dia meraih ponsel dari saku jasnya.
"Halo, ada apa Agnes?"
Ya, telepon itu dari Agnes. Karena hari ini Bima memang disibukkan dengan mencari Kinan. Hari ini juga dia tidak ingat sama sekali dengan wanita yang bahkan kerap dia kirimi pesan 3 kali sehari itu.
[Bima, apa kamu baik-baik saja? kesehatanmu baik? semua berjalan lancar?]
Bima mengusap wajahnya perlahan. Dia tahu kenapa Agnes menghubunginya. Hari ini, dia juga sama sekali tidak mengirim pesan pada wanita itu.
"Urusan di sini sedang sangat banyak, aku sibuk sekali seharian. Kamu baik-baik saja kan?"
[Aku baik, tapi aku mengkhawatirkan mu. Aku ingin menceritakan sesuatu padamu, hari ini aku pergi ke museum seni...]
"Agnes, aku harus meeting lima menit lagi. Bagaimana kalau kamu ceritakan semuanya besok?" sela Bima.
Itu adalah pertama kalinya, Bima tidak mau mendengarkan apa yang ingin Agnes ceritakan padanya.
***
Bersambung...