Di hari kematian putrinya, Arini justru dituduh lalai oleh Bagas dan keluarga mertuanya yang toxic. Sebagai "penebus dosa", ia dipaksa bekerja keras dan dijadikan mesin pencari uang oleh mereka.
Takdir berubah saat Arini bertemu Dikta, seorang mafia kejam yang rela membayar mahal demi mendapatkan ASI eksklusif untuk putra semata wayangnya. Arini pun masuk ke dalam kehidupan Dikta sebagai ibu susuan.
Akankah Arini mampu bertahan di bawah tekanan keluarga Bagas yang terus memanfaatkannya? Dan bagaimana reaksi Dikta—sang mafia berdarah dingin—saat mengetahui wanita yang merawat putranya ternyata sedang dihancurkan oleh suaminya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Suhada Bintan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3
Malam ini menjadi malam pertama aku merebahkan tubuh di atas ranjang king size yang empuk. Kasur yang begitu nyaman, seolah ingin menenggelamkan rasa lelah yang menyiksa fisikku seharian. Di sampingku, Arkan tertidur dengan posisi menyamping, berbantalkan lengan tanganku sendiri. Embusan napas kecilnya terasa begitu hangat di kulit ini.
Aku memandangi langit-langit kamar yang tinggi, dihiasi lampu kristal yang berpendar temaram. Tempat ini adalah surga bagi siapa saja yang mendambakan kemewahan, tetapi bagiku, ini tidak lebih dari sebuah penjara. Air mataku kembali menetes dalam keheningan malam, membasahi bantal yang ku kenakan.
"Neng Arin..." Suara bisikan lembut Bi Ina memecah keheningan saat wanita paruh baya itu masuk membawa segelas air hangat. "Kok menangis lagi? Ada yang sakit?"
Aku bergegas menyeka pipiku dengan punggung tangan, lalu duduk bersandar pada kepala ranjang. "Tidak ada yang sakit, Bi. Saya hanya... rindu pada putri kecil saya yang sudah tiada. Dan saya mencemaskan Mas Bagas."
Bi Ina menghela napas panjang. Ia meletakkan gelas di atas nakas, lalu duduk di tepi ranjang dengan raut wajah kasihan. "Neng, fokus saja dulu pada kesehatan sendiri. Pak Dikta itu orangnya keras, tapi kalau Neng nurut, beliau tidak akan menyakiti Neng."
"Tapi ucapan Pak Dikta sore tadi terus terngiang di telinga saya, Bi," lirihku, meremas ujung selimut dengan erat. "Dia bilang... Mas Bagas tidak berguna dan sengaja membiarkan ibunya menjual saya demi uang. Apa benar Mas Bagas sejahat itu? Ataukah Pak Dikta hanya ingin menghancurkan mental saya, agar saya tidak melarikan diri dari sini?"
Bi Ina terlihat serba salah. Ia menoleh ke arah pintu kamar yang tertutup rapat sebelum berbisik padaku, "Bibi tidak tahu urusan luar, Neng. Tapi satu hal yang Bibi tahu, Pak Dikta bukan tipe orang yang suka berbohong, apalagi hanya untuk menakut-nakuti orang."
Kata-kata Bi Ina tadi membuat dadaku semakin sesak. Aku menggelengkan kepala, mencoba membuang pikiran buruk itu. Seharusnya aku percaya pada Bagas. Aku harus yakin, Bagas pasti menderita di balik jeruji besi, bukan bersenang-senang seperti yang dituduhkan Dikta.
Keesokan paginya, rutinitas kembali dimulai. Setelah menyusui Arkan yang terbangun di subuh hari, Bi Ina kembali mengetuk pintu kamarku dengan nampan berisi makanan sehat berkadar gizi tinggi. Menu kali ini adalah sup ikan gabus, semangkuk besar sayur katuk, dan segelas susu khusus ibu menyusui.
"Neng, harus dihabiskan, ya," ucap Bi Ina dengan wajah memohon. "Pak Dikta memantau lewat tab pribadinya di kantor. Kalau nampannya tidak kosong saat Bibi bawa keluar, Bibi bisa kena tegur."
Aku menatap makanan yang porsinya dua kali lipat dari kapasitas lambungku yang kecil. "Bi, apa tidak bisa dikurangi sedikit saja? Perutku benar-benar tidak sanggup lagi."
"Aduh, jangan, Neng! Kemarin instruktur kebugaran juga sudah membuat laporan kalau massa otot Neng masih kurang. Pak Dikta mau kualitas ASI Neng berada di tingkat terbaik," potong Bi Ina panik.
Aku menghela napas pasrah, lalu perlahan mengunyah makanan itu. Rasanya begitu hambar di lidahku yang sudah tak kuat menelannya. Namun, ku paksa demi Arkan, dan demi keselamatan Bi Ina dari amukan majikannya yang otoriter itu.
***
Di tempat lain, sebuah distrik bisnis yang sibuk, Dikta duduk di balik meja kerjanya yang terbuat dari kayu mahoni mahal. Di hadapannya, berdiri Marco, tangan kanan sekaligus orang kepercayaannya. Marco meletakkan sebuah map berwarna hitam di atas meja.
"Lapor, Pak. Ini adalah laporan awal mengenai latar belakang keluarga Arini, khususnya mengenai utang judi suaminya, Bagas," ucap Marco dengan tegas.
Dikta tidak langsung membuka map tersebut. Ia menyandarkan punggungnya pada kursi kebesaran sembari mengetuk-ngetuk jemarinya di atas sandaran tangan. "Katakan langsung intinya, Marco. Di lapas mana pria bernama Bagas itu ditahan?"
Marco berdeham kecil, wajahnya tampak ragu sejenak sebelum menjawab. "Itu dia masalahnya, Pak. Menurut data resmi kepolisian dan seluruh sel tahanan di kota ini, tidak ada tahanan yang bernama Bagas. Bahkan, tidak ada laporan penangkapan atas nama tersebut dalam satu bulan terakhir."
Mendengar hal itu, gerakan tangan Dikta seketika terhenti. Matanya menyipit, memancarkan kilatan tajam yang mematikan. "Kau yakin dengan datamu?"
"Sangat yakin, Pak. Anggota kita sudah menyisir sistem. Tidak ada nama itu di jeruji besi mana pun," tegas Marco.
"Lalu bagaimana dengan utang judinya yang membuat ibunya tega menjual menantunya demi uang?" tanya Dikta, nadanya merendah, seolah sedang memikirkan sesuatu.
"Utang judi Bagas memang ada, Pak. Nilainya dua puluh lima juta rupiah pada jaringan rentenir lokal," jawab Marco. Ia terdiam sejenak sebelum melanjutkan, "Namun, fakta menariknya adalah... utang itu sudah dilunasi seluruhnya secara tunai oleh Ibunya, tiga hari yang lalu."
Dikta menarik napas dalam. Sebuah senyuman sinis menghias sudut bibirnya. Bayangan wajah Arini yang menangis histeris sembari memohon untuk menghubungi suaminya kembali terlintas di benaknya.
"Jadi wanita bodoh itu sedang dikorbankan oleh keluarganya sendiri?" gumam Dikta, suaranya terdengar dingin sekaligus tajam. "Dia hidup dalam bayangan jika suaminya sedang menderita di penjara karena menyelamatkannya. Padahal kenyataannya, dia hanya dijadikan tameng dan mesin uang."
"Benar, Pak. Lalu apa perintah Anda selanjutnya? Apakah kita perlu menjemput pria bernama Bagas itu untuk diinterogasi?" tanya Marco menunggu instruksi.
Dikta menegakkan posisi duduknya, lalu membuka map hitam di atas meja dengan satu sentakan kasar. "Belum saatnya, Marco. Biarkan tikus-tikus itu menikmati uang haram tersebut. Selidiki terus ke mana perginya Bagas dan ibunya setelah melunasi utang itu. Aku ingin tahu setiap detail aktivitas mereka."
"Baik, Pak. Segera saya laksanakan." Marco membungkuk hormat, bersiap mundur.
"Satu hal lagi, Marco," tahan Dikta sebelum tangan kanannya mencapai gagang pintu. "Pastikan Arini tidak tahu apa-apa tentang hal ini. Jangan sampai ada pelayan atau siapa pun yang membocorkannya. Belum saatnya dia melihat kebusukan manusia-manusia yang dia sebut keluarga itu."
"Dimengerti, Pak Dikta. Rahasia aman," sahut Marco sebelum akhirnya menghilang di balik pintu kayu yang tebal.
Dikta kembali menatap foto Arini yang terlampir di dalam dokumen. Namun di sisi lain, perasaan protektif mulai tumbuh di dalam hatinya yang beku untuk wanita yang kini merawat putranya tersebut.
Dikta meraih tabletnya, lalu memantau layar CCTV yang mengarah ke kamar tidur di rumahnya. Di layar digital itu, tampak Arini sedang bermain dengan Arkan. Bayi itu rupanya sudah bisa merespons lawan bicaranya dengan baik.
"Makin pinter ya, kamu," puji Arini lembut sambil mengecup pipi gembul putranya.
"Sebaiknya Neng Arin istirahat saja. Biar Bibi yang gendong Den Arkan," pinta Bi Ina yang tiba-tiba masuk membawakan segelas air putih dan meletakkannya di atas meja.
"Gak ah, lagi seru, Bi." Arini tersenyum lebar.
Melihat interaksi manis di layar itu, sebuah senyuman tipis tanpa sadar terukir di sudut bibir Dikta.
"Arini, Arini... orang sebaik kamu malah disia-siakan. Bodoh kau, Bagas. Aku pastikan, kau bakal bertekuk lutut padanya," gumam Dikta seraya mengepalkan tangannya hingga terlihat buku-buku jarinya yang memutih.