Dia dipaksa menggantikan sepupunya yang kabur — menikah dengan pria yang ditakuti seluruh kekaisaran.
Lin Meiying hanyalah putri yang dikucilkan. Demi menyelamatkan keluarganya, ia memakai pakaian merah pengantin dan berdiri di tempat yang bukan haknya — di hadapan Wei Chen, Jenderal perkasa yang dijuluki "Dewa Perang Berdarah Dingin".
Dia tahu: suaminya tidak menginginkannya. Pernikahan ini hanya perintah kaisar. Di kediaman yang megah namun beku, Meiying diperlakukan seperti tamu asing, bukan istri.
Namun kesabaran dan kelembutan pelan-pelan meruntuhkan dinding es di hati sang jenderal. Rahasia kelam terungkap, musuh mengintai dari mana saja, dan saat cinta akhirnya tumbuh... takdir justru menguji mereka paling berat.
Akankah Meiying tetap menjadi pengantin bayangan yang terlupakan? Atau dia yang akan menaklukkan hati terkeras di seluruh kekaisaran?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dede Queen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2: Aturan di Balik Gerbang
Langkah Meiying melintasi lorong-lorong panjang menuju ruang makan utama. Lantai batu hitam mengkilap memantulkan bayangannya yang berjalan sendirian. Udara pagi yang sejuk tak mampu mendinginkan jantungnya yang berpacu cepat. Di kejauhan, sosok Wei Chen masih terlihat berdiri di ambang pintu sayap barat, menatap ke arahnya. Hingga ia berbelok dan menghilang di balik dinding kayu yang tinggi.
Ruangan makan itu luas dan hening. Di ujung meja panjang dari kayu jati tua, Wei Chen sudah duduk tegak. Ia mengenakan pakaian santai berwarna biru gelap, namun tetap memancarkan kekuasaan yang tak terlihat di mana pun. Tangan kirinya bertumpu pada lengan kursi, tangan kanannya memegang sumpit tanpa menyentuh makanan. Saat Meiying masuk, ia tidak menoleh seketika — membiarkan langkah kakinya terdengar jelas sebelum akhirnya mengangkat wajah.
"Duduk," ucapnya singkat, suaranya datar tanpa nada sapaan.
Meiying berjalan perlahan ke kursi yang ditarik pelayan — tepat di seberangnya, jarak beberapa jengkal namun terasa sedunia. Ia duduk, melipat tangan di pangkuan, menunduk sedikit. "Terima kasih, Jenderal."
Ia tidak menjawab. Sumpitnya bergerak pelan, mengambil sedikit sayur, lalu memakannya tanpa suara, tanpa menatapnya lagi. Keheningan menyelimuti ruangan itu, berat dan menyesakkan. Meiying menelan ludah, perutnya kosong namun tak nafsu makan. Ia mengambil sedikit nasi, memakannya perlahan, berusaha tidak menarik perhatian.
Namun usahanya sia-sia.
"Siapa yang mengajarimu makan seperti itu?" tanya Wei Chen tiba-tiba, tanpa berhenti mengunyah.
Meiying terkejut, sumpit di tangannya hampir tergelincir. "Maaf... Jenderal?"
Ia meletakkan sumpitnya perlahan di tepi piring. Bunyi itu nyaring di ruangan hening. "Di kediaman ini ada aturan. Mulai dari cara duduk, cara berjalan, hingga cara menunduk. Jika kau ingin tinggal tanpa masalah, kau harus mengikuti semuanya."
"Saya akan berusaha..."
"Berusaha tidak cukup," potongnya tegas. "Kau harus melakukannya dengan benar. Tanpa kesalahan. Setiap kelalaian akan menjadi bahan pembicaraan di istana. Dan aku tidak suka dibicarakan."
Ia memberi isyarat singkat kepada A-Mei yang berdiri di pintu. Wanita itu masuk membawa selembar kain panjang bertuliskan tinta hitam rapi.
"A-Mei akan membacakannya padamu. Hafalkan. Jangan tanya. Cukup ikuti."
Wei Chen berdiri, menyeka bibirnya dengan kain kecil, lalu berbalik pergi. Di ambang pintu, ia berhenti sejenak tanpa menoleh.
"Jangan berpikir kau boleh berbuat sesuka hati hanya karena kau istriku," ucapnya pelan namun tegas. "Di sini, kau tetap tamu. Dan tamu harus tahu batasnya."
Lalu ia pergi, meninggalkan Meiying sendirian bersama A-Mei dan daftar aturan yang kini terasa seperti vonis.
"Ini aturan kediaman, Nyonya," kata A-Mei sambil membentangkan kain itu di meja samping jendela. Wajahnya tetap kaku, namun ada sedikit belas kasihan yang tersembunyi di matanya. "Silakan dibaca."
Meiying mendekat, membaca pelan, dan dadanya makin sesak setiap kali mata meluncur ke baris berikutnya:
1. Dilarang masuk ke sayap barat tanpa izin tertulis dari Jenderal.
2. Dilarang bertanya tentang masa lalu Jenderal, keluarganya, atau wanita-wanita sebelumnya.
3. Dilarang menyambut atau mengantar Jenderal, kecuali diperintahkan.
4. Dilarang bersuara lantang atau tertawa keras di dalam kediaman.
5. Dilarang berbicara berduaan dengan siapa pun tanpa sepengetahuan pengurus.
6. Pintu kamar harus terbuka setiap siang hari. Pelayan boleh masuk kapan saja.
7. Jangan berharap diundang makan bersama lagi kecuali dipanggil.
8. Saat ada tamu, berdiri di samping Jenderal, diam, menunduk, tidak bicara kecuali diajak.
9. Setiap sore melapor kegiatan seharian kepada A-Mei.
10. Keberadaan Nyonya di sini hanyalah urusan politik. Tidak lebih.
Baris terakhir itu terasa seperti tusukan tajam. Ia sudah tahu kenyataannya, namun membacanya dengan jelas... terasa seperti luka yang disentuh.
"Apakah semua ini... dipatuhi semua orang?" tanyanya pelan.
A-Mei mengangguk pelan, menatap lantai batu. "Semua Nyonya sebelumnya menerima aturan ini. Yang tidak sanggup... pulang lebih dulu."
"Dan yang sanggup?"
Wanita itu terdiam sejenak, lalu menghela napas. "Tak ada yang bertahan lebih dari tiga bulan, Nyonya."
Tiga bulan. Kata itu menggantung di udara, berat dan menakutkan. Meiying menatap daftar itu lagi — sepuluh baris, sepuluh larangan, sepuluh dinding yang mengurungnya. Apakah ia bisa bertahan lebih lama dari itu?
"Saya akan mencoba," ucapnya lirih, melipat kain itu perlahan. "Terima kasih, A-Mei."
Siang itu Meiying tidak duduk diam. Kesedihan tak akan mengubah apa pun, pikirnya. Jika harus tinggal di sini, ia akan membuat tempat ini terasa sedikit lebih hidup — bukan dengan pemberontakan, melainkan dengan kebaikan sederhana.
Ia berjalan ke dapur belakang. Ruangan itu hangat, berasap, berbau rempah dan sayuran segar. Para pelayan berhenti berbicara saat melihatnya, menunduk, tak berani menatap.
"Maaf mengganggu," sapanya lembut. "Bolehkah saya membantu?"
Keheningan menyelimuti ruangan. Seorang wanita paruh baya yang memimpin dapur maju dengan wajah cemas. "Tidak perlu, Nyonya. Ini tugas kami."
"Saya tahu," jawab Meiying. "Tapi saya ingin berguna. Di rumah saya dulu, saya sering membantu di dapur."
Mereka saling pandang, ragu-ragu, lalu akhirnya mengizinkannya mencuci sayuran dan menata bumbu. Meiying melakukannya dengan teliti, tenang, tanpa bicara berlebihan. Pelayan-pelayan muda mulai berani meliriknya, lalu tersenyum tipis saat ia berterima kasih.
Suasana mulai mencair — hingga suara langkah kaki berat terdengar di pintu belakang. Semua orang menunduk seketika, berhenti bergerak.
Wei Chen berdiri di ambang pintu, menatap ke dalam. Matanya jatuh pada Meiying — lengan bajunya basah, rambut sedikit berantakan, memegang seikat sayur segar.
"Siapa yang mengizinkannya?" tanyanya rendah namun menegangkan.
Pemimpin dapur maju gemetar. "Maaf, Jenderal... Nyonya yang meminta..."
"Aku tidak bertanya padamu," potongnya tajam, menatap langsung ke mata Meiying. "Kau."
Meiying meletakkan sayuran itu perlahan. "Saya yang memohon, Jenderal. Saya hanya ingin berguna..."
"Kau di sini sebagai istriku, bukan pelayan," potongnya keras, melangkah masuk. "Apakah keluargamu begitu rendah sehingga kau harus mencuci sayur di dapur?"
Kata-katanya menohok tajam. Wajah Meiying memerah, matanya terasa panas, namun ia menegakkan punggung.
"Bekerja bukan hal yang memalukan, Jenderal. Di rumah saya dulu, kami tidak malu bekerja."
"Di sini bukan rumahmu dulu!" bentaknya. Ia menatap para pelayan yang gemetar. "Siapa pun yang mengizinkannya akan dihukum."
"Jangan!" seru Meiying tanpa sadar, melangkah maju. "Mereka tidak memaksa saya. Jika ada yang dihukum, biarkan saya saja."
Wei Chen terdiam, menatapnya lekat-lekat — seakan tak menyangka gadis yang tadi pagi begitu penurut berani menentangnya. Matanya menyelidik, tajam.
"Kau membela mereka?" tanyanya pelan, nada bicaranya berubah, lebih rendah, lebih mengancam.
"Mereka tidak bersalah," jawab Meiying, lututnya gemetar namun suaranya mantap. "Setiap orang berhak diperlakukan adil."
Keheningan panjang menyusul. Wei Chen terus menatapnya, tanpa berkedip. Para pelayan menahan napas.
Akhirnya ia berbalik perlahan. "Kembali ke kamarmu," ucapnya dingin tanpa menoleh. "Dan jangan lakukan ini lagi."
Ia pergi, meninggalkan ruangan yang hening itu. Meiying menghela napas panjang, menyadari tangannya masih gemetar. Para pelayan menatapnya dengan pandangan baru — rasa hormat bercampur takut.
"Terima kasih, Nyonya," bisik seorang gadis muda pelan.
Meiying tersenyum tipis. "Sama-sama. Lanjutkan pekerjaan kalian. Jangan takut."
Namun di dalam hatinya, ia tahu — ini baru permulaan. Ia telah berani melawan kehendaknya sedikit, dan pria itu tidak akan melupakannya begitu saja.
Sore harinya, Meiying duduk di tepi jendela kamarnya, menatap kebun krisan yang mulai tertutup bayangan. Pikirannya melayang — tentang keluarganya, tentang Rouran yang mungkin bebas di luar sana, tentang masa depan yang tak pasti.
Tiba-tiba ketukan pintu terdengar — tegas, berat. Bukan ketukan pelayan.
Jantungnya berdegup kencang. "Masuk."
Pintu terbuka. Wei Chen berdiri di sana, sendirian. Wajahnya tidak lebih ramah, namun tatapannya berbeda — lebih tenang, lebih dalam.
"Kau berani hari ini," ucapnya, masuk perlahan, berdiri tak jauh dari jendela. "Tak banyak orang yang berani membantahku."
Meiying berdiri, meremas ujung bajunya. "Saya tidak bermaksud membantah, Jenderal. Saya hanya tidak ingin orang lain menderita karena saya."
"Kau membela mereka," potongnya, menatap lurus ke matanya. "Mengapa? Mereka bukan keluargamu."
Ia terdiam sejenak, lalu menjawab pelan namun tegas. "Kebaikan tidak harus ditujukan hanya kepada keluarga sendiri, Jenderal. Setiap orang berharga."
Wei Chen menatapnya lama, seakan kata-kata itu asing baginya. Ia berbalik menatap ke luar jendela, ke arah pepohonan yang bergoyang ditiup angin.
"Kau pikir kelembutan bisa mengubah tempat ini?" suaranya terdengar lebih sendirian daripada menantang. "Dunia di luar sana tidak selembut yang kau bayangkan."
"Saya tidak berharap dunia menjadi lembut," jawabnya pelan. "Saya hanya berusaha tidak ikut menyakitinya."
Ia menoleh, matanya menatapnya lekat-lekat. "Kau berbeda dari yang kubayangkan."
Meiying menunduk, menyembunyikan kegelisahannya. "Saya hanya... biasa saja."
Wei Chen melangkah mundur menuju pintu. Sebelum keluar, ia berhenti, punggungnya menghadap Meiying.
"Besok ada pesta di istana," ucapnya pelan. "Kau akan ikut. Berpakaian pantas. Jangan bicara tanpa dipanggil. Jangan tinggalkan sisiku. Dan jangan buat kesalahan."
Ia pergi, pintu tertutup pelan di belakangnya.
Meiying duduk kembali di tepi tempat tidur, napasnya terasa berat. Pesta di istana... tempat di mana semua mata akan menatapnya, tempat di mana kebohongannya bisa terbongkar kapan saja.
Ia menatap pantulannya di cermin — wajah pucat, mata agak bengkak, namun tatapannya berbeda dari kemarin. Tidak lagi penuh keraguan. Ada keteguhan di sana.
Ia mencuci wajah, menyisir rambutnya rapi, lalu duduk diam merenungkan pesta esok hari. Bagaimana jika ada yang mengenali wajah aslinya? Bagaimana jika seseorang bertanya hal yang tak diketahui Rouran? Bagaimana jika ia menjawab salah?
Namun ia tak bisa lari. Tak seperti sepupunya. Ia harus berdiri di samping pria itu, tersenyum, berperan, dan berharap tak ada yang menyadari perbedaannya.
Malam makin larut. Angin bertiup kencang di luar, menggoyangkan dahan-dahan pohon. Meiying menarik selimut hingga ke dagu, memejamkan mata, berdoa dalam hati — untuk keselamatan keluarganya, untuk kekuatan yang tak dimilikinya, untuk hari esok yang entah membawa apa.
Di kejauhan, di sayap barat yang sunyi, Wei Chen duduk sendirian di ruang kerjanya, menatap nyala lilin yang bergoyang pelan. Di atas meja terbuka selembar surat — surat dari klan Lin, yang berisi keterangan tentang Rouran. Ia membacanya sekali lagi, lalu menatap bayangan di jendela, bayangan gadis yang tadi membela pelayan di dapur.
Ada sesuatu yang tidak beres, pikirnya. Sesuatu yang berbeda. Tatapan itu, cara bicaranya, keberaniannya... tidak seperti gadis yang digambarkan di surat itu.
Namun apa? Ia belum tahu.
Ia melipat surat itu, menyimpannya, lalu menatap kegelapan di luar. Esok hari di istana akan mengungkap banyak hal. Dan ia akan memperhatikan setiap gerak-geriknya dengan saksama.