Dibuang oleh keluarga sendiri. Dikhianati oleh orang yang paling ia percaya. Dan kehilangan segalanya karena ulah mereka.
Reyna pernah menjalani hidup seperti itu sampai kematian menjadi satu-satunya akhir yang tersisa.
Namun ketika membuka mata, ia justru kembali ke masa lalu. Kali ini, Reyna tahu siapa yang akan mengkhianatinya.
Mereka mengira Reyna masih gadis naif yang mudah dimanfaatkan, namun mereka salah.
Dengan ingatan dari kehidupan sebelumnya, Reyna akan merebut kembali apa yang menjadi haknya, melindungi orang-orang yang dulu gagal ia selamatkan, dan membongkar satu per satu kebusukan yang pernah menghancurkan hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
Gavin menatapnya lurus. "Elena tidak menyebutkan nama. Tapi dia bilang satu kalimat yang tidak pernah ku lupakan..
Orang itu sudah ada di rumahku selama bertahun-tahun, makan di mejaku, dan memeluk putriku.
Reyna merasa dunianya berputar. Sudah ada di rumahku selama bertahun-tahun. Makan di mejaku. Memeluk putriku.
Itu bisa Richard. Itu bisa Julian. Itu bahkan bisa Clarissa.
"Amplop ini berisi apa?" tanya Reyna, mencengkeram amplop cokelat itu dengan tangan gemetar.
"Bukti yang Elena kumpulkan. Rekaman, dokumen, dan satu hal yang paling penting yaitu sebuah nama yang ditulisnya sendiri pada malam terakhir sebelum dia meninggal. Dia mengirimkannya padaku lewat kurir tengah malam, hanya beberapa jam sebelum 'kecelakaan' itu terjadi."
Reyna membuka amplop itu dengan tangan yang gemetar. Di dalamnya, terdapat tumpukan dokumen dan foto. Namun, yang pertama kali menarik perhatiannya adalah selembar kertas kecil dengan tulisan tangan ibunya yang terburu-buru, seolah ditulis dalam kepanikan.
Hanya satu nama yang tertulis di sana.
Mata Reyna membelalak. Napasnya terhenti. Darahnya seolah membeku di dalam pembuluh darahnya.
Nama itu bukan Richard. Bukan Julian. Bukan Clarissa.
Nama itu adalah seseorang yang Reyna percayai sepenuhnya. Seseorang yang selalu ada di sisinya. Seseorang yang baru saja ia tunjuk sebagai kepalanya keamanan, orang yang ia percaya untuk melindungi hidupnya.
Maya.
"Tidak mungkin..." bisik Reyna, kertas itu terlepas dari tangannya dan melayang ke lantai. "Tidak... tidak mungkin..."
Gavin menatapnya dengan tatapan penuh belas kasihan. "Elena menulis bahwa Maya adalah mantan operatif dari sebuah organisasi bayangan yang disewa oleh pihak ketiga untuk menyusup ke dalam keluarga Arland. Tugas aslinya bukan untuk membunuh Elena, tugasnya adalah memantau. Tapi ketika Elena menemukan identitas aslinya, Maya menerima perintah baru."
"Perintah dari siapa?" tanya Reyna, suaranya nyaris tak terdengar.
Gavin menggeleng. "Itu yang tidak pernah berhasil diungkap oleh ibumu. Dalang di balik Maya masih dalam bayangan. Tapi satu hal yang pasti, Reyna. Orang yang memerintahkan kematian ibumu masih di luar sana. Dan jika Maya masih berada di dekatmu..."
Ponsel Reyna bergetar. Nama Maya muncul di layar.
Reyna menatap layar ponsel itu, lalu menatap Gavin. Rasa dingin yang jauh lebih menusuk daripada lantai beton di gudang tempatnya mati merambat dari ujung kakinya hingga ke jantungnya.
Ia baru saja terbang ke Singapura, meninggalkan seluruh keamanannya di tangan seorang pembunuh.
Dan Vincent... Vincent ada di lobi gedung ini. Sendirian. Bersama Maya yang ia tugaskan untuk "menjaga perimeter."
"Vincent," bisik Reyna, wajahnya memucat. Ia segera mengangkat ponselnya.
Satu dering. Dua dering. Tiga dering.
Tidak ada jawaban.
Reyna berdiri, kursinya terjatuh ke belakang. "Gavin, di mana pintu keluar darurat gedung ini? Sekarang!"
Namun, sebelum Gavin sempat menjawab, lampu di ruangan itu berkedip sekali, lalu mati total. Dalam kegelapan, terdengar bunyi klik yang familiar, bunyi kunci brankas yang dikunci dari luar.
Dan dari balik pintu baja yang kini tertutup rapat, terdengar suara Maya yang tenang dan dingin melalui interkom.
"Maaf, Nona Reyna. Tapi Anda sudah melihat terlalu banyak. Tuan mengirim salam."
***
Gelap.
Kegelapan itu tidak hanya membutakan mata, tetapi seolah menekan paru-paru, membuat udara di dalam bunker kedap suara itu terasa tipis dan menyesakkan. Hanya ada suara napas Reyna yang memburu dan detak jantungnya yang menghantam rongga dada seperti palu.
Di kehidupan sebelumnya, kegelapan seperti ini adalah tempat ia mati. Di gudang yang lembap, sendirian, dan dikhianati. Namun, kali ini, rasa panik yang dulu melumpuhkannya tidak datang. Sebagai gantinya, adrenalin membanjiri sistem sarafnya, menjernihkan pikirannya dengan kecepatan yang mengerikan.
Jangan bergerak. Jangan panik. Ayo analisis situasi ini
"Elena selalu bilang kau memiliki insting bertahan hidup yang luar biasa, Nona Reyna," suara Gavin terdengar dari kegelapan. Suaranya tidak menunjukkan sedikit pun kepanikan. Itu adalah suara seorang pria yang sudah terbiasa dengan kematian. "Tetap di bawah meja. Jangan bersuara."
"Vincent..." bisik Reyna, suaranya parau. "Maya menangkap Vincent."
"Vincent adalah profesional. Dia tahu cara melindungi dirinya sendiri setidaknya selama tiga menit," jawab Gavin tenang. Terdengar suara gesekan logam, lalu sebuah lampu darurat berwarna merah redup menyala di sudut ruangan, memberikan sedikit penerangan.
Gavin sedang membongkar panel dinding di dekat brankas. "Maya pikir dia bisa mengunci kita di sini dengan mematikan jaringan digital utama. Dia lupa bahwa ketika Elena membangun bunker ini sepuluh tahun lalu, dia memintaku memasang sistem analog murni. Tidak ada kabel, tidak ada server, tidak ada yang bisa diretas oleh anak buahnya."
Gavin menarik sebuah tuas besi berat ke bawah.
KLAK. Suara mekanisme fisik yang berat terdengar dari arah pintu baja.
"Pintu ini tidak terkunci secara digital, Nona. Ini terkunci secara mekanis. Dan aku baru saja membukanya," ucap Gavin, menarik sebuah pistol Glock 19 dari dalam laci tersembunyi di balik panel. Ia melempar sebuah pistol kecil kedua ke arah Reyna. "Bisa kau gunakan?"
Reyna menangkap pistol itu. Logamnya dingin dan berat di telapak tangannya. Di kehidupan pertamanya, ia bahkan takut pada suara petasan. Tapi wanita yang mati di gudang terbengkalai itu sudah tidak ada. "Aku bisa," jawabnya datar.