Niat mau bercerai setelah selesai Kkn, eh pas Kkn mereka malah buat dede bayi. Apakah mereka akan jadi bercerai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon isd, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Digendong dosen galak
Setelah sarapan selesai, seluruh mahasiswa kembali berkumpul di depan rumah posko. Matahari mulai meninggi, tetapi udara desa masih terasa sejuk dan segar. Beberapa di antara mereka sudah membawa tas kecil berisi buku catatan serta botol air minum.
Arsen berdiri di hadapan mereka dengan kedua tangan terlipat di dada. Wajahnya tampak serius seperti biasanya.
“Baik, semuanya!” serunya tegas. “Hari ini jangan ada yang manja dan jangan pilih-pilih tempat!”
Tatapan Arsen kemudian tertuju pada Keira.
Gadis itu berdiri di tengah barisan dan hanya mendengus pelan. “Apaan sih…” gumamnya lirih hingga hampir tidak terdengar.
“Kita akan melewati hutan untuk menuju rumah warga yang berada di bagian dalam hutan,” jelas Arsen. “Semuanya siap?”
“Siap, Pak Arsen!” jawab para mahasiswa serempak.
Arsen sedikit mengangkat alisnya.
“Apa kalian siap?” ulangnya dengan suara lebih keras.
“SIAP!” teriak mereka bersamaan.
Arsen mengamati barisan mahasiswa satu per satu. Namun, lagi-lagi tatapannya berhenti pada Keira.
“Keira, bibirmu bahkan tidak bergerak.”
Beberapa mahasiswa langsung menahan tawa.
Keira menatap Arsen dengan wajah sebal. Mau tak mau ia akhirnya bersuara lebih keras.
“Siap, Pak!” teriaknya terpaksa.
Arsen menahan senyum tipis. Entah kenapa, ada kepuasan tersendiri setiap kali berhasil membuat Keira kesal.
Tidak lama kemudian, rombongan mulai bergerak. Beberapa warga setempat turut berjalan bersama mereka untuk menjadi penunjuk jalan. Mereka melewati jalan tanah yang perlahan berubah menjadi jalan setapak sempit menuju kawasan hutan.
Pada awalnya, perjalanan masih terasa menyenangkan. Sinar matahari menembus celah-celah dedaunan, sementara suara kicauan burung terdengar dari berbagai penjuru.
Namun, semakin jauh mereka masuk ke dalam hutan, pepohonan menjadi semakin lebat. Rimbunnya dedaunan membuat cahaya matahari sulit menembus hingga ke tanah. Suasana yang semula terang perlahan berubah menjadi teduh, bahkan sedikit gelap.
Keira yang berjalan di tengah rombongan tiba-tiba merasakan bulu kuduknya berdiri.
“Kenapa tiba-tiba gelap begini?” tanyanya pelan sambil menoleh ke kanan dan kiri.
Rina yang berada di sampingnya langsung menyenggol lengannya.
“Keira, ingat pesan Pak Arsen. Jangan manja.”
Keira menelan ludah dengan susah payah.
“Tapi… aku benar-benar takut,” bisiknya.
Keira memang memiliki ketakutan terhadap tempat yang terlalu gelap dan sepi. Hutan yang semakin sunyi seperti ini membuat jantungnya berdebar. Suara ranting yang patah dan bunyi serangga dari balik pepohonan justru terdengar semakin jelas di telinganya.
Keringat dingin mulai membasahi pelipisnya.
Selain suasananya yang membuatnya takut, jalan yang mereka lewati juga cukup sulit. Permukaannya tidak rata, dipenuhi akar-akar pohon yang mencuat serta bebatuan kecil yang membuat setiap langkah harus diperhatikan.
Para mahasiswa lain masih berjalan cukup cepat mengikuti warga yang berada di bagian depan.
Berbeda dengan mereka, langkah Keira mulai melambat.
Beberapa kali ia hampir tersandung. Tangannya bahkan sesekali meraih batang pohon di pinggir jalan untuk membantu menjaga keseimbangan.
Tanpa disadari, jarak antara dirinya dan rombongan mulai semakin jauh.
“Keira, cepat,” panggil Rina yang masih berusaha menunggunya.
“Aku… susah jalan,” jawab Keira pelan sambil mengatur napas.
Sementara itu, beberapa meter di depan, Arsen masih berjalan bersama dua orang warga desa. Ia mendengarkan dengan saksama penjelasan mereka mengenai kondisi masyarakat yang tinggal di bagian tengah hutan tersebut.
Namun, tiba-tiba Arsen menyadari sesuatu.
Suara langkah kaki para mahasiswa yang berada di belakangnya terdengar semakin samar. Ia pun menoleh sekilas.
Benar saja.
Keira tertinggal cukup jauh dari rombongan. Gadis itu berjalan dengan sangat hati-hati, bahkan hampir saja terpeleset ketika kakinya tersangkut akar pohon yang melintang di jalan.
Arsen mengembuskan napas pelan.
Keira… batinnya. Ia menghentikan langkah.
Dua warga yang berjalan bersamanya ikut berhenti dan menatapnya heran.
“Ada apa, Pak?”
Arsen kembali menoleh ke belakang. Pandangannya tertuju pada Keira yang tampak kesulitan mengejar mereka.
Wajah gadis itu terlihat tegang. Dari raut mukanya, jelas sekali ia sedang berusaha menahan rasa takut.
Arsen terdiam selama beberapa saat. Sebenarnya ia ingin membiarkan Keira belajar menyesuaikan diri dengan keadaan. Bagaimanapun, sejak awal ia sudah memperingatkan agar tidak ada yang bersikap manja.
Namun, melihat Keira tertinggal sendirian seperti itu membuat hatinya justru tidak tenang. Akhirnya Arsen memutuskan untuk kembali. Ia berbalik dan berjalan menuju Keira dengan langkah cepat, tetapi tetap tenang.
Sementara itu, Keira sama sekali tidak menyadari Arsen sudah mendekat. Perhatiannya sepenuhnya tertuju pada jalan di bawah kakinya agar tidak kembali tersandung.
Tiba-tiba sebuah suara terdengar dari dekatnya.
“Kamu sebenarnya sedang jalan atau piknik di tengah hutan?”
Keira langsung menoleh dengan kaget. Arsen sudah berdiri tepat di hadapannya dengan wajah datar.
Keira mengerutkan kening. Ia sedikit kesal, tetapi di saat yang sama merasa lega karena Arsen akhirnya kembali mencarinya.
“Kakimu kenapa?” tanya Arsen sambil melirik kaki Keira yang masih berdiri sambil berpegangan pada batang pohon.
Keira menggigit bibirnya sebentar. Kemudian ia melangkah sedikit mendekat.
“Gendong aku, dong,” pintanya lirih.
Tatapan Arsen langsung berubah tajam.
“Enak saja,” jawabnya. “Jangan lupa, di sini aku dosenmu. Bukan suami yang bisa kamu suruh-suruh sesuka hati seperti di rumah.”
Keira mendengus.
“Kakiku sakit, serius. Aku benar-benar nggak kuat jalan.”
“Jangan manja, Keira.”
Keira memutar bola matanya dengan kesal. Ia kemudian melipat kedua tangan di depan dada.
“Ya sudah. Kalau begitu aku minta digendong orang lain saja!”
Baru saja Keira hendak berbalik, suara Arsen langsung menghentikannya.
“Jangan macam-macam.”
Keira menoleh kembali. Arsen menatapnya serius.
“Kamu mau bersentuhan dengan pria lain? Ingat, kamu masih istriku.”
Keira terdiam beberapa detik. Raut wajahnya yang semula kesal perlahan melunak.
“Kalau begitu… gendong aku,” pintanya lagi dengan suara lebih lembut. “Please.”
Arsen menghela napas panjang. Wajahnya jelas menunjukkan bahwa ia sedang menahan kesal. Namun, sekeras apa pun ia mencoba menolak, ia tetap tidak tega meninggalkan Keira dalam keadaan seperti itu.
Arsen kemudian menoleh ke arah rombongan yang sudah semakin jauh.
“Kalian duluan! Saya masih ada urusan di belakang!” teriaknya.
Salah seorang warga desa menoleh dan mengangguk.
“Baik, Pak! Kami tunggu di rumah Pak Darto!”
Setelah itu, rombongan kembali melanjutkan perjalanan dan perlahan menghilang di balik pepohonan.
Kini suasana hutan terasa jauh lebih sunyi. Arsen kembali menatap Keira. Tanpa mengatakan apa-apa lagi, ia akhirnya berbalik dan berjongkok di hadapan gadis itu.
“Cepat.”Wajah Keira seketika tampak cerah. Senyum kecil muncul di bibirnya sebelum ia perlahan naik ke punggung Arsen dan melingkarkan kedua tangannya di bahu pria itu.
“Maaf… kalau aku agak berat,” ucapnya pelan.
Arsen berdiri dengan mudah. Sama sekali tidak terlihat kesulitan membawa Keira di punggungnya.
Ia kembali melangkahkan kaki menyusuri jalan setapak yang dikelilingi pepohonan lebat.
Selama beberapa saat, keduanya memilih diam. Hanya suara langkah kaki Arsen yang terdengar bersamaan dengan hembusan angin yang menggoyangkan dedaunan.
“Kamu nggak keberatan?” tanya Keira akhirnya.
Arsen mendengus pelan.
“Tubuhmu sekecil itu. Bagiku bahkan tidak lebih berat dari semut.”
Keira langsung mengangkat kepalanya dari bahu Arsen.
“Apa?” Nada suaranya berubah kesal.
“Semut?” ulangnya, seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.
Arsen tetap berjalan santai tanpa merasa bersalah.
“Kalau beratmu bertambah sedikit lagi, mungkin aku sudah menurunkanmu dari tadi.”
Keira langsung mencubit bahunya. “Hei!”
Arsen sedikit meringis, tetapi tetap melanjutkan langkahnya.
“Dasar menyebalkan,” gerutu Keira.
Namun, beberapa saat kemudian, Keira kembali diam.
Kedua tangannya masih erat melingkar di bahu Arsen. Dari jarak sedekat itu, ia bisa merasakan napas pria tersebut yang tetap stabil meskipun sedang berjalan membawa dirinya.
Entah kenapa, posisi seperti ini terasa begitu familiar.
Ingatan Keira tiba-tiba kembali pada masa lalu. Dulu, ketika kakinya pernah terkilir, Arsen juga pernah diam-diam menggendongnya sampai ke kamar.
Ternyata perasaan yang sama juga dirasakan Arsen.
Kehangatan tubuh Keira yang menempel di punggungnya terasa begitu akrab. Sudah cukup lama mereka tidak sedekat ini.
“Kamu sebenarnya masih bisa jalan kalau pelan-pelan,” ujar Arsen tiba-tiba.
Keira justru menyandarkan tubuhnya lebih nyaman di punggung pria itu.
“Tapi digendong lebih enak.”
Arsen menghela napas panjang. “Manja.”
Keira tersenyum kecil tanpa sepengetahuan Arsen.
“Lumayan juga… kapan lagi aku bisa digendong dosen arogan dan sombong?” gumamnya pelan.
Langkah Arsen langsung melambat. Matanya menyipit. “Apa katamu?”
Keira segera memasang wajah polos. “Nggak ada.”
“Aku dengar.”
Keira buru-buru menepuk bahu Arsen.
“Sudah, cepat jalan. Kita hampir ketinggalan rombongan.”
Arsen mendengus kesal, tetapi kembali berjalan menyusuri jalan setapak.
“Jaga ucapanmu. Ingat, kita sedang di luar. Bukan di rumah.”
Keira langsung menjawab dengan nada penuh sindiran.
“Iya, iya, Pak Dosen.”
Arsen hanya menggelengkan kepala.
“Mahasiswi paling keras kepala yang pernah aku bimbing.”
“Dosen paling galak yang pernah aku kenal,” balas Keira tanpa ragu.
Arsen langsung berhenti.
“Kalau begitu, mau aku turunkan sekarang?”
Keira seketika mengeratkan pelukannya di bahu Arsen.
“Jangan!”
Arsen menahan senyum tipis.
Sementara Keira kembali menyandarkan kepalanya di bahunya, diam-diam merasa jauh lebih nyaman daripada yang ingin ia akui.