PACAR KONTRAK SANG KETUA GENG
Fake Dating • Bad Boy • School Romance • Possessive Love
Nadine Kirana tidak pernah berniat terlibat dengan Axel Pratama—ketua kelompok Orbit yang terkenal dingin, sulit diatur, dan selalu mendapatkan apa yang diinginkannya.
Bagi Nadine, hidup sudah cukup rumit. Di tengah kesibukan sekolah dan pekerjaan paruh waktu, dia harus mencari uang untuk biaya perawatan ibunya. Sementara itu, impiannya melanjutkan kuliah di luar kota perlahan terancam oleh keadaan yang tidak bisa dia kendalikan.
Lalu Axel datang membawa tawaran yang tidak masuk akal.
Jadilah pacarku selama sembilan puluh hari, dan aku akan menanggung biaya yang kita sepakati.
Axel membutuhkan pacar pura-pura untuk menggagalkan rencana perjodohan keluarganya. Nadine membutuhkan uang. Kesepakatan itu seharusnya sederhana: berpura-pura saling mencintai di depan orang lain, menaati aturan, lalu berpisah ketika waktunya habis.
Tidak ada perasaan. Tidak ada tuntutan. Tidak ada masa depan bersama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhea Vey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ketua Geng di Tempat Fotokopi
Axel Pratama tidak langsung pulang setelah meninggalkan tempat fotokopi itu.
Mobil hitamnya berhenti di tepi jalan, beberapa meter dari sebuah kedai kopi yang mulai ramai menjelang sore. Mesin masih menyala, tetapi pandangannya justru tertuju pada bangunan kecil di belakangnya.
Tempat fotokopi milik Pak Udin.
Di balik kaca depan, ia masih bisa melihat sosok Nadine Kirana yang kembali sibuk melayani pelanggan. Gadis itu bahkan tidak berusaha mengejarnya untuk meminta penjelasan lebih lanjut.
Axel mengetukkan satu jari ke setir.
Sekali.
Lalu berhenti.
"Benar-benar beda," gumamnya.
Selama ini, orang-orang yang berhadapan dengannya hampir selalu menunjukkan reaksi yang sama. Ada yang berusaha mengambil hati, ada yang takut, dan ada pula yang sengaja mencari perhatian karena mengetahui siapa dirinya.
Nadine tidak menunjukkan satu pun dari ketiganya.
Gadis itu justru menatapnya seolah-olah Axel adalah masalah tambahan dalam hidupnya yang sudah cukup merepotkan.
Anehnya, hal itu membuat Axel semakin yakin pada pilihannya.
Ponselnya bergetar di konsol tengah.
Nama yang muncul di layar membuat rahangnya mengeras.
Papa.
Axel membiarkan panggilan itu berakhir. Namun, belum sampai lima detik, sebuah pesan masuk.
Papa: Malam ini pulang tepat waktu. Kita makan malam dengan keluarga Mahendra. Jangan membuat Papa mengulang perintah yang sama.
Axel mengembuskan napas melalui hidung.
Keluarga Mahendra.
Dan tentu saja, Keisha.
Putri rekan bisnis ayahnya itu bukan gadis yang buruk. Mereka bahkan bisa berbincang dengan cukup baik ketika terpaksa berada dalam satu ruangan. Masalahnya bukan Keisha.
Masalahnya adalah semua orang seolah sudah sepakat menentukan masa depan mereka tanpa merasa perlu menanyakan pendapat keduanya.
Bagi ayahnya, hubungan itu bukan tentang perasaan. Itu tentang dua keluarga, kerja sama bisnis, dan nama besar yang harus dipertahankan.
Axel membalik ponselnya hingga layar menghadap ke bawah.
Ia sudah berkali-kali mengatakan tidak tertarik. Berkali-kali pula ayahnya menganggap penolakan itu hanya bentuk pembangkangan seorang anak yang belum memahami kepentingan keluarga.
Kali ini, Axel ingin memberikan jawaban yang tidak bisa dengan mudah disingkirkan.
Seorang pacar.
Bukan sembarang pacar, melainkan seseorang yang tidak akan terpesona oleh nama Pratama atau menganggap hubungan dengannya sebagai tiket menuju kehidupan mewah.
Seseorang seperti Nadine Kirana.
Axel mengambil kembali ponselnya, membuka kontak yang baru saja ia simpan, lalu menatap nama itu selama beberapa detik.
Ia belum memiliki kepastian bahwa Nadine akan menerima tawarannya.
Namun, setidaknya gadis itu telah membaca dokumen yang diberikannya.
Untuk saat ini, itu cukup.
---
Nadine baru menyadari betapa lama ia memandangi amplop tersebut ketika Pak Udin memanggilnya dari belakang meja.
"Nadine, pesanan fotokopi yang tadi sudah selesai?"
Nadine segera mengangkat kepala.
"Sudah, Pak. Ini tinggal saya rapikan."
Pak Udin mengangguk, kemudian kembali memeriksa tumpukan kertas di meja sebelah.
Nadine memasukkan dokumen pesanan pelanggan ke dalam map. Tangannya kembali bekerja, tetapi pikirannya masih tertinggal pada beberapa kalimat yang tercetak di dalam amplop itu.
Sembilan puluh hari.
Pacar pura-pura.
Kompensasi.
Tiga kata yang seharusnya tidak memiliki hubungan satu sama lain, tetapi sekarang berada di hadapannya sebagai satu tawaran yang sulit diabaikan.
Ponselnya bergetar.
Pesan dari rumah sakit muncul di layar. Nadine membacanya cepat-cepat, lalu merasakan dadanya mengencang.
Bukan pesan yang kasar. Isinya hanya pengingat mengenai jadwal pembayaran dan kelanjutan perawatan ibunya.
Namun, angka yang disebutkan di sana terasa seperti hitungan mundur.
Tujuh hari.
Ia memiliki tabungan Rp1.350.000, sementara tagihan perawatan ibunya mencapai Rp4.800.000. Masih ada kekurangan yang tidak mungkin ditutup hanya dengan mengandalkan uang dari pekerjaan paruh waktunya.
Nadine mematikan layar ponsel.
Ia tidak ingin mengambil keputusan hanya karena sedang takut.
Tetapi ia juga tahu, menolak semua kemungkinan tanpa mempertimbangkannya bukanlah bentuk keberanian.
"Lo kelihatan lagi mikirin sesuatu."
Nadine menoleh. Raka berdiri di dekat mesin fotokopi sambil membawa beberapa lembar kertas.
"Memang."
"Masalah beasiswa?"
"Bukan."
Raka mengangkat alis, tetapi tidak mendesaknya.
"Kalau butuh bantuan buat berkas pendaftaran, bilang aja. Gue bisa bantu periksa."
Nadine mengangguk kecil. "Makasih. Nanti gue kabari."
Setelah Raka kembali ke meja pelanggan, Nadine melirik amplop yang ia simpan di bawah buku catatan.
Ia tidak tahu banyak tentang Axel Pratama selain reputasinya di sekolah. Ketua kelompok Orbit itu terkenal sulit didekati, sering terlibat masalah dengan guru, dan memiliki tatapan yang membuat orang lain berpikir dua kali sebelum mengajaknya berdebat.
Lalu, entah bagaimana, orang seperti itu datang ke tempat kerjanya dan menawarkan hubungan palsu.
Yang lebih mengganggu, Axel mengatakan mereka pernah bertemu sebelumnya.
Nadine mencoba mengingatnya.
Wajah itu memang terasa tidak asing, tetapi ia belum bisa menemukan ingatan yang tepat. Setahun terakhir, ia terlalu sibuk membagi waktu antara sekolah, pekerjaan, dan ibunya untuk mengingat setiap kejadian di lingkungan sekolah.
Ia memutuskan satu hal.
Jika Axel sungguh-sungguh dengan tawarannya, laki-laki itu harus menjelaskan semuanya.
Bukan hanya soal uang.
Terutama soal alasan memilih dirinya.
---
Malamnya, di rumah besar keluarga Pratama, Axel duduk di meja makan dengan ekspresi yang sulit dibaca.
Di hadapannya, Arman Pratama sedang membicarakan agenda pertemuan bisnis bersama ayah Keisha. Ibunya, Maya, sesekali menimpali dengan suara tenang. Percakapan itu terdengar seperti makan malam keluarga biasa.
Hanya saja, bagi Axel, setiap kalimat terasa seperti pengingat bahwa orang lain sudah menyiapkan jalur hidupnya.
"Keisha akan melanjutkan kuliah di luar negeri tahun depan," kata Arman. "Kalian sebaiknya mulai lebih sering menghabiskan waktu bersama. Tidak ada salahnya mengenal satu sama lain dengan lebih serius."
Axel meletakkan sendoknya.
"Kalau Papa ingin membicarakan bisnis, bicarakan bisnis. Jangan campur aduk dengan kehidupan pribadi gue."
Suasana meja makan langsung berubah.
Arman menatap putranya. "Kamu masih belum mengerti bahwa keputusan keluarga punya dampak lebih besar daripada keinginan pribadi?"
"Kalau keputusan itu menyangkut hidup gue, seharusnya gue juga punya suara."
"Axel," tegur Maya pelan.
Namun, Axel tidak mengalihkan pandangan.
Arman menyandarkan punggungnya ke kursi. "Kamu selalu merasa semua aturan dibuat untuk mengekangmu. Suatu hari nanti, kamu akan memahami bahwa tidak semua hal bisa diputuskan hanya berdasarkan keinginan sendiri."
"Dan Papa akan terus menganggap semua yang Papa inginkan pasti benar?"
"Jaga bicaramu."
Axel terdiam.
Bukan karena ia kehabisan jawaban, melainkan karena ia tahu percakapan itu tidak akan membawa mereka ke mana-mana.
Ayahnya tidak sedang mencari pendapat. Ia sedang menunggu kepatuhan.
Axel mengambil gelasnya, meminum air, lalu berdiri.
"Saya sudah selesai."
"Axel, kita belum selesai bicara."
"Tapi gue sudah."
Ia meninggalkan ruang makan sebelum ayahnya sempat memberikan perintah lain.
Di kamarnya, Axel melemparkan ponsel ke atas tempat tidur. Ia membuka kancing manset kemejanya, lalu berdiri di dekat jendela.
Ada satu hal yang tidak ingin ia akui.
Ia sangat membenci ketika seseorang mengatur hidupnya seolah-olah ia tidak memiliki hak untuk memilih.
Namun, sejak memikirkan rencana ini, ia juga mulai menyusun semuanya dengan caranya sendiri. Ia menentukan siapa yang akan diajak bicara, bagaimana hubungan itu akan terlihat, dan berapa lama semuanya berlangsung.
Ia ingin lepas dari kendali ayahnya.
Tetapi apakah ia benar-benar siap memberikan kebebasan yang sama kepada orang yang akan dilibatkan dalam rencananya?
Pertanyaan itu muncul sebentar, lalu ia singkirkan.
Belum waktunya memikirkan hal sejauh itu.
Axel membuka ponselnya dan mengetik sebuah pesan kepada Dimas.
Axel: Kalau gue minta seseorang pura-pura jadi pacar gue, menurut lo siapa yang paling mungkin nolak mentah-mentah?
Balasan datang kurang dari satu menit.
Dimas: Pertanyaan macam apa itu?
Axel: Jawab aja.
Dimas: Orang yang nggak takut sama lo. Kenapa? Lo mau cari masalah baru?
Axel mendengus pelan.
Axel: Nggak semua hal yang gue lakuin itu masalah.
Dimas: Biasanya kalimat itu keluar sebelum lo bikin masalah.
Axel tidak membalas.
Ia kembali membuka kontak Nadine Kirana. Jarinya sempat berhenti di atas kolom pesan, tetapi ia tidak jadi mengetik apa pun.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia tidak bisa memastikan hasil dari sebuah rencana.
Dan entah mengapa, ketidakpastian itu justru membuatnya ingin tahu lebih banyak tentang gadis yang tadi menatapnya tanpa rasa takut.
---
Keesokan harinya, setelah jam pelajaran terakhir selesai, Nadine masih berada di kelas untuk merapikan berkas beasiswanya.
Sebagian besar murid sudah meninggalkan ruangan. Raka yang duduk di meja depan baru saja selesai memeriksa satu halaman formulir ketika Nadine memasukkan dokumen itu ke dalam map.
"Lo jadi kirim berkasnya minggu ini?" tanya Raka.
"Iya. Kalau semuanya lengkap."
"Bagus. Jangan sampai kesempatan itu lewat cuma gara-gara lo sibuk ngurus hal lain."
Nadine tersenyum tipis. "Gue tahu."
Ia tahu betul apa yang sedang diperjuangkannya. Beasiswa itu bukan sekadar jalan untuk melanjutkan pendidikan. Itu juga kesempatan untuk membangun masa depan yang tidak terus-menerus dibatasi keadaan mereka sekarang.
Karena itulah, tawaran Axel terasa begitu berbahaya.
Bukan hanya karena laki-laki itu memiliki reputasi yang sulit ditebak, tetapi karena uang yang ditawarkannya bisa menjadi jalan keluar sekaligus sumber masalah baru.
Nadine mengeluarkan ponsel.
Ia masih memiliki nomor Axel dari kartu kontak yang disertakan bersama dokumen dalam amplop. Setelah menimbang beberapa saat, ia akhirnya mengetik pesan.
Nadine: Gue mau dengar penjelasan lengkap soal tawaran lo.
Ia berhenti, membaca ulang pesannya, lalu menambahkan kalimat berikutnya.
Nadine: Hari ini, setelah jam sekolah. Di tempat fotokopi tempat lo menemui gue kemarin. Kalau lo memang serius, datang dan jelaskan semuanya.
Pesan terkirim.
Nadine meletakkan ponselnya di atas meja.
Beberapa menit berlalu sebelum layar menyala kembali.
Axel: Jam empat. Gue datang.
Disusul pesan kedua.
Axel: Tapi gue nggak akan memaksa lo menerima tawaran itu.
Nadine membaca kalimat tersebut dua kali.
Ia tidak tahu apakah Axel benar-benar memahami arti kata memaksa, atau hanya sedang berusaha terdengar meyakinkan.
Apa pun itu, ia akan mendengarkan penjelasannya terlebih dahulu.
Bukan berarti ia akan menerima tawarannya.
Pukul empat sore nanti, Nadine hanya ingin memastikan bahwa jika ia mempertimbangkan jalan keluar ini, ia tidak sedang menukar satu masalah dengan masalah lain yang jauh lebih besar.