Novia Maharani itu paket lengkap masalah: ratu bolos, langganan BK, dan hobi bikin rusuh di sekolah. Tapi hidupnya berbalik 180 derajat saat dijodohkan paksa dengan Reyhan Aldebaran, Ketua OSIS paling dingin, perfeksionis, dan kaku se-antara jagat.
Tinggal seatap dengan musuh bebuyutan itu neraka. Reyhan benci kekacauan, sedangkan Novia adalah kekacauan itu sendiri. Namun, di balik sikap pemberontak Novia, ada luka masa lalu yang ia sembunyikan dengan tawa. Dan di balik wajah datar Reyhan, ada rahasia yang membuatnya enggan menyentuh cinta.
Saat tembok pertahanan mereka mulai runtuh oleh perhatian kecil yang bikin baper, rahasia keluarga dan ego remaja mengancam segalanya. Bisakah si pembuat onar dan si Ketua OSIS belajar dewasa bersama, atau pernikahan ini justru menghancurkan mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rofiwan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dipanggil Kepsek 19.
Detik itu juga, pasokan oksigen di dalam mobil SUV hitam milik Reyhan seolah tersedot habis.
Novia membeku, tangannya yang semula berada di atas paha kini mencengkeram rok seragamnya begitu kuat hingga kainnya kusut.
Dari balik kaca film mobil yang tidak terlalu pekat, siluet wajah Dimas yang penuh selidik terlihat jelas. Sialnya, lampu lalu lintas di depan mereka masih menyala merah pekat—bertindak sebagai algojo yang menahan mereka untuk tidak bisa kabur ke mana pun.
"Rey... Dimas, Rey," bisik Novia panik. Suaranya bergetar hebat, hampir menyerupai cicitan tikus yang terpojok. "Dia lihat gue. Dia pasti lihat gue."
Dimas di luar sana semakin memajukan wajahnya. Tangannya kembali mengetuk kaca mobil, kali ini dengan ketukan yang lebih menuntut.
Tok! Tok! Tok!
"Novia? Lo di dalem, kan? Terus itu... Reyhan?" Suara Dimas samar-samar menembus celah karet pintu mobil. Matanya menyipit, berusaha keras menembus kegelapan kaca film untuk memastikan bahwa penglihatannya tidak salah.
Di sekolah, Dimas adalah pusat dari segala penyebaran informasi. Jika cowok itu tahu mereka berada di dalam satu mobil yang sama setelah insiden kantin tadi siang, maka besok pagi riwayat Novia di SMA Pelita Bangsa akan terusik.
"Tenang, Novia. Jangan bergerak," perintah Reyhan. Nada suaranya mendadak berubah setajam silet, melepaskan seluruh kelembutan yang beberapa detik lalu sempat singgah di jemarinya.
Reyhan tidak menoleh ke arah Dimas. Pandangannya lurus menatap lampu merah yang menyisakan angka sepuluh detik lagi.
Tangan kirinya yang bebas bergerak cepat meraih tombol central lock, memastikan semua pintu terkunci rapat. Sementara tangan kanannya yang terbalut perban putih mencengkeram setir dengan urat-urat yang menegang.
Novia bisa melihat bagaimana rahang tegas cowok itu mengeras, menahan gejolak situasi yang mendadak berada di luar kendalinya.
"Tapi dia terus ngeliatin, Rey! Kalau dia foto plat mobil lo gimana?" Suara Novia meninggi, air mata yang tadi sempat tertahan di sudut matanya kini benar-benar luruh karena rasa takut yang teramat sangat. Skandal pernikahan rahasia ini tidak boleh meledak sekarang. Belum saatnya.
Tepat saat angka di lampu lalu lintas berubah menjadi hijau, Dimas di luar sana tampak mengangkat ponselnya.
Brummm!
Tanpa aba-aba, Reyhan menginjak pedal gas dalam-dalam.
SUV hitam itu melesat maju dengan sentakan kasar, meninggalkan Dimas yang terhuyung ke belakang akibat embusan angin mendadak.
Di kaca spion, Novia bisa melihat tubuh Dimas yang mengecil, berdiri di pembatas jalan sambil menatap ponselnya dengan ekspresi yang sulit diartikan.
Suasana di dalam mobil mendadak senyap, hanya menyisakan deru mesin dan napas Novia yang memburu pendek-pendek.
Novia menyembunyikan wajahnya di balik kedua telapak tangan.
Bahunya berguncang. Ketakutan, rasa lelah, dan tekanan emosional setelah konfrontasi dengan Laura di toilet, ditambah dengan fakta bahwa Caca pergi meninggalkannya demi cowok lain, kini melebur menjadi satu ledakan histeria yang sunyi. Dia merasa seperti selembar kertas yang siap robek kapan saja jika ditarik sedikit lagi.
"Jangan menangis," kata Reyhan datar, namun kali ini ada getaran aneh di ujung kalimatnya. Mobil itu kini melaju membelah jalanan protokol dengan kecepatan di atas rata-rata.
"Lo gak tahu rasanya jadi gue, Reyhan!" tangis Novia pecah, dia menoleh ke arah Reyhan dengan mata yang memerah dan basah. "Lo enak! Lo pintar, lo Ketua OSIS, semua orang hormat sama lo. Mau lo sedingin apa pun, orang-orang bakal maklum. Tapi gue? Sekali aja gue bikin salah, seisi sekolah langsung ngecap gue cewek gak bener! Sekarang Dimas lihat kita. Besok... besok gue harus muka taruh di mana?!"
Reyhan terdiam. Cengkeramannya pada kemudi semakin mengencang hingga perban di tangan kanannya sedikit bergeser, menampilkan guratan luka gores yang masih memerah di balik balutan. Cowok itu tidak membalas ucapan Novia. Dia membiarkan gadis di sebelahnya meluapkan seluruh rasa sesak yang bertumpuk.
Bagi Reyhan, diam adalah satu-satunya cara agar dia tidak ikut meledak dan memperkeruh keadaan.
Hingga mobil akhirnya berbelok memasuki area basemen apartemen mereka, tidak ada satu kata pun yang keluar dari mulut keduanya.
Sesampainya di unit apartemen, Novia langsung melangkah cepat menuju kamar tidurnya, membanting pintu dengan keras hingga menimbulkan suara dentuman yang menggema di ruang tengah yang sepi.
Dia melemparkan tasnya ke sembarang arah, lalu merebahkan tubuhnya di atas kasur dengan posisi telungkup, membenamkan wajahnya di bantal untuk meredam suara tangisnya.
**
Malam itu berlalu bagaikan siksaan yang berjalan lambat. Novia tidak keluar kamar bahkan untuk sekadar minum.
Sementara di ruang tengah, Reyhan duduk di sofa dengan laptop yang menyala, namun matanya sama sekali tidak fokus pada rentetan dokumen program kerja OSIS di layarnya.
Pandangannya kosong, menatap pintu kamar Novia yang tertutup rapat. Ada rasa bersalah yang menggerogoti dadanya, sebuah perasaan asing yang belum pernah dia rasakan sebelumnya untuk perempuan mana pun.
**
Esok paginya, SMA Pelita Bangsa terasa berbeda. Setidaknya itu yang dirasakan oleh radar kepekaan Novia saat dia melangkah melewati koridor menuju kelasnya.
Suasana koridor yang biasanya bising oleh candaan pagi hari mendadak berubah menjadi bisik-bisik yang tertahan begitu sosok Novia melintas.
Beberapa siswi yang sedang berkumpul di depan loker langsung menghentikan pembicaraan mereka, menatap Novia dari atas sampai bawah dengan pandangan penuh penilaian, lalu saling menyenggol lengan satu sama lain sambil berbisik di balik telapak tangan.
“Eh, beneran cewek itu? Yang kemarin semobil sama Kak Reyhan?”
“Masa sih? Bukannya kemarin di kantin Kak Reyhan ketus banget sama dia?”
“Iya, makanya aneh. Katanya Dimas yang lihat sendiri pas lampu merah depan gerbang. Jangan-jangan cewek itu yang gatel deketin duluan...”
Novia memejamkan matanya erat-erat sambil terus berjalan cepat. Telinganya terasa panas.
Setiap kata yang lolos dari mulut-mulut itu rasanya seperti duri yang sengaja ditancapkan ke dadanya. Prediksinya terbukti.
Dimas benar-benar mengobarkan rumor itu hanya dalam waktu satu malam.
Begitu sampai di kelas, atmosfernya tidak jauh berbeda. Caca yang baru saja datang langsung berlari menghampiri meja Novia dengan wajah penuh kecemasan.
"Nov! Lo gak apa-apa? Demi apa semalem grup angkatan heboh banget gara-gara omongan Dimas!" Caca mencengkeram bahu Novia, matanya menatap sahabatnya dengan rasa bersalah yang teramat besar. "Sori banget kemarin gue tinggalin lo. Kalau gue tahu bakal ada kejadian kayak gini, gue gak bakal pergi sama cowok gue, Nov..."
Novia hanya menggeleng lemah. Dia tersenyum tipis, sebuah senyuman paksaan yang terlihat sangat rapuh. "Bukan salah lo, Ca. Emang takdir gue lagi apes aja."
Tiba-tiba, pintu kelas XII A diketuk dengan keras.
Sesosok cowok dengan ban lengan bertuliskan 'PENGURUS OSIS' berdiri di ambang pintu. Pandangan matanya menyapu seisi kelas sebelum akhirnya mengunci sosok Novia yang duduk di bangku baris ketiga.
"Novia," panggil pengurus OSIS itu dengan suara lantang yang seketika membuat seluruh kelas hening dan menatap ke arah mereka. "Lo dipanggil sekarang juga. Ke ruang Kepala Sekolah."
Jantung Novia rasanya melompat turun ke perut. Seluruh darah di tubuhnya mendadak berdesir dingin. Dia melirik Caca yang juga membelalakkan mata cemas. Dengan tangan yang gemetar, Novia bangkit dari kursinya.
Langkah kakinya terasa begitu berat, seolah setiap jengkal lantai koridor yang dia injak berubah menjadi rawa yang siap menenggelamkannya hidup-hidup.
Saat Novia sampai di depan pintu kayu jati bertuliskan 'RUANG KEPALA SEKOLAH', dia mendapati pintu itu sudah sedikit terbuka.
Dari celah yang sempit, dia bisa melihat siluet seorang cowok yang sudah berdiri tegap di dalam sana, membelakanginya.
Reyhan. Cowok itu sudah ada di dalam, berdiri dengan postur tubuh yang kaku dan formal di depan meja besar sang Kepala Sekolah.
Novia menarik napas dalam-dalam, mencoba mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya yang sudah remah, lalu mengetuk pintu dan melangkah masuk ke dalam ruangan yang terasa sedingin es itu.
Keberadaannya langsung disambut oleh tatapan tajam dan penuh selidik dari sepasang mata di balik kacamata tebal milik Pak Baskoro, sang Kepala Sekolah.
......................
...****************...
Tbc,