NovelToon NovelToon
Sang Mafia dan Janji yang Teringkari

Sang Mafia dan Janji yang Teringkari

Status: tamat
Genre:Action / Romantis / Mafia / Berbaikan / Single Mom / Tamat
Popularitas:19
Nilai: 5
Nama Author: marilu@123

Rebecca membesarkan si kembar seorang diri sejak kakaknya tiada—dengan satu janji yang ia ucapkan di ranjang kematian sang kakak: jangan pernah mencari ayah mereka.

Selama bertahun-tahun ia menepatinya. Sampai seorang penguntit muncul dari kegelapan, mengirim bunga yang berubah jadi ancaman, lalu foto anak-anaknya di depan gerbang sekolah. Polisi angkat tangan. Waktu Rebecca habis.

Kini hanya ada satu nama yang mungkin sanggup melindungi mereka—nama yang telah ia sumpahi untuk tak pernah diucapkan. Dante. Pengusaha berpengaruh, dingin, tak tersentuh… dan bos sebuah kerajaan mafia yang bahkan tak tahu bahwa ia punya anak.

Untuk menyelamatkan kedua bocah yang ia cintai melebihi nyawanya sendiri, Rebecca harus melanggar janji terpenting dalam hidupnya dan melangkah masuk ke dunia paling berbahaya yang pernah ada—dunia milik pria yang seharusnya tak pernah ia temui.

Tapi Dante bukan sekadar bahaya. Ia posesif. Ia sabar. Dan begitu ia memutuskan sesuatu—atau seseorang—adalah miliknya, ia tak akan pernah melepaskannya.

Di antara ancaman yang mengintai, rahasia masa lalu, dan gairah yang mustahil ditolak, satu janji yang teringkari bisa jadi awal dari segalanya… atau akhir dari semuanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon marilu@123, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Di Antara Rasa Takut dan Kepercayaan

Sudut Pandang Rebecca

Aku terbangun sebelum alarm berbunyi. Sebenarnya… aku bahkan tak yakin sempat benar-benar tidur.

Tubuhku lelah, tapi pikiranku tak mau berhenti. Semua yang terjadi kemarin terus berputar di kepalaku. Panggilan telepon itu. Suaranya. Tatapan Dante. Cara segalanya berubah hanya dalam hitungan menit.

Aku menarik napas dalam. Kuusap wajahku. Lalu bangkit.

Keheningan rumah ini terasa asing. Terlalu besar. Terlalu kosong. Terlalu dingin.

Aku melangkah pelan menyusuri lorong dan berhenti di depan kamar anak-anak. Tanganku ragu di gagang pintu. Tapi kubuka juga. Perlahan.

Mereka ada di sana. Tertidur. Lelap. Seolah tak terjadi apa-apa. Seolah mereka tak sedang berada di tengah semua kekacauan itu.

Dadaku terasa sesak.

Heitor tidur miring, tenang. Henrique terguling di kasur, selimutnya cuma menutupi separuh badan, seperti biasa. Seulas senyum tipis muncul di wajahku.

Mereka masih… remaja. Meski berusaha terlihat dewasa. Meski berusaha tampak kuat.

Aku mendekat. Kurapikan selimut Henrique. Kuusap lembut rambut Heitor.

"Aku tak akan membiarkan apa pun terjadi pada kalian…"

Kubisikkan itu pelan. Nyaris tanpa suara. Lalu aku keluar dari kamar, menutup pintu dengan hati-hati.

Aku langsung menuju dapur. Dan aku tak terkejut saat melihat Jason di sana. Bersandar di meja dapur, secangkir kopi di tangan. Sikapnya santai, tapi waspada. Selalu waspada.

Ia menatapku saat aku masuk. "Tidur nyenyak?"

Pertanyaan itu keluar begitu saja. Tanpa menghakimi. Tanpa menekan.

Aku tertawa kecil. "Lumayan."

Ia mengangguk. Seolah sudah menduga jawaban itu.

"Kopi?"

Aku melirik cangkir itu. Dan sesaat… aku ingin menolak. Tapi kuangguk juga. "Boleh."

Ia menuang tanpa berkata apa-apa. Menyerahkannya padaku. Kudekatkan cangkir itu ke bibir, tapi tak kuminum. Tanganku masih gelisah. Perutku mual.

Ia menyadarinya. Tentu saja ia menyadarinya. "Cemas?"

Aku menatapnya. "Sangat."

Tak ada gunanya berbohong.

Ia menyandarkan tubuh ke meja. "Itu wajar."

Aku mengembuskan napas. "Tidak terasa wajar."

"Di duniamu, memang tidak." Jawabannya lugas. Langsung. "Di duniaku… ini rutinitas."

Kalimat itu membuatku menatapnya lebih lekat. Sungguh-sungguh. Jason bukan sekadar pria elegan dalam setelan mahal. Ada sesuatu di sana. Di tatapannya. Di caranya membawa diri. Sesuatu yang… berbahaya. Terkendali. Berpengalaman.

"Kau tidak takut?" tanyaku, sebelum sempat berpikir.

Ia mengangkat sebelah alis sedikit. "Takut apa?"

"Semua ini." Aku membuat gerakan samar dengan tangan. "Hidup semacam ini."

Ia terdiam sesaat. Seolah memilih kata-katanya. "Rasa takut itu berguna," katanya akhirnya. "Ia membuatmu tetap hidup. Tapi jangan sampai ia mengendalikanmu."

Aku menunduk menatap cangkirku. Masih utuh, tak tersentuh. "Kurasa dia mengendalikanku," akuku. Pelan.

Jason tak langsung menjawab. "Dan anak-anak itu?" tanyanya kemudian.

Kualihkan pandanganku padanya. "Masih tidur."

"Bagus kalau begitu."

Aku mengangguk. "Mereka tidak pantas mengalami ini." Suaraku keluar lebih berat. "Keduanya."

Jason melipat tangan. "Tak ada yang pantas."

Hening. Tapi kali ini tidak menyesakkan. Melainkan… berbeda. Lebih ringan.

"Kau percaya padanya?" tanyanya tiba-tiba.

Aku mengangkat pandangan. "Pada siapa?"

"Dante."

Jantungku sedikit mencelos. Aku berpikir. Sungguh-sungguh. "Aku tidak tahu," jawabku jujur. "Aku bahkan tak mengenalnya."

"Tapi kau datang padanya."

"Karena aku tak punya pilihan." Jawabanku meluncur cepat. "Itu bukan kepercayaan. Itu keputusasaan."

Jason mengangguk pelan. "Kadang… hasilnya sama saja."

Aku sedikit mengernyit. "Maksudnya?"

"Kadang kau baru tahu apakah kau bisa mempercayai seseorang… justru saat kau tak punya pilihan lain."

Kalimat itu tertinggal di kepalaku. Berputar. Terasa berat.

"Kalau kau sendiri?" tanyaku. "Percaya padanya?"

Jason menghela napas tipis lewat hidung. Nyaris seperti senyum. "Aku bekerja untuknya."

"Bukan itu yang kutanyakan."

Ia menatapku. Sungguh-sungguh. Lalu menjawab. "Aku percaya."

Sederhana. Tanpa ragu. Tanpa keraguan sedikit pun. Kalimat itu mengenaiku. Karena datang dari orang seperti dia… itu berarti banyak. Jauh lebih banyak dari kelihatannya.

Aku menunduk menatap cangkir kopiku. Menarik napas dalam. Dan akhirnya menyeruputnya. Pahit. Panas. Nyata.

"Apa dia akan percaya?" tanyaku, nyaris berbisik.

Jason tak langsung menjawab. Tapi juga tak mengalihkan pandangan. "Kalau itu benar…" katanya akhirnya, "dia tak hanya akan percaya." Ia berhenti sejenak. Lalu menuntaskan. "Dia akan menyelesaikannya."

Jantungku berdetak lebih keras. Dan untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai… aku merasakan sesuatu yang berbeda dari rasa takut.

Belum kepercayaan. Tapi… itu sebuah awal.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!