NovelToon NovelToon
My Idol Is My Desktop Shortcut

My Idol Is My Desktop Shortcut

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Idola sekolah / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:345
Nilai: 5
Nama Author: TCN_Luna

Di sekolah, Rendra Adijaya adalah pangeran sempurna yang dingin dan tak tersentuh. Namun di balik pintu kamar, dia hanyalah cowok anxious kronis yang menyembah seorang admin Discord anonim sebagai "pawang mental"-nya. Siapa sangka, admin gaming tempatnya mengemis semangat setiap malam itu ternyata Naya, cewek cuek bermulut tajam yang duduk di pojok kelasnya dan paling anti dengan cowok nyata.

Begitu rahasia terbongkar, saklar obsesi Rendra langsung menyala. Topeng pangeran dinginnya pecah total saat dia nekat menyudutkan Naya di kelas kosong sambil memelas gila, "Tolong jangan block gue... gue rela beliin angkot jalur sekolah ini asal lu tetep mau jadi pawang gue!" Mampukah Naya bertahan menghadapi tingkah bucin akut sang idola sekolah yang aslinya serapuh kerupuk kesiram kuah soto?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon TCN_Luna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 22: Fitnah Satu Sekolah

Pukul 06.17 WIB.

Di depan minimarket dekat sekolah, Rendra Adijaya sedang berdiri sambil memandangi dua benda di tangannya.

Satu kotak Ultra Milk stroberi.

Satu bungkus roti cokelat.

Barang seharga belasan ribu rupiah.

Barang yang secara ekonomi tidak akan membuat rekening keluarga Adijaya berkedip sedikit pun.

Namun, bagi Rendra, dua benda itu punya nilai sentimental yang cukup untuk membuatnya berdiri selama tiga menit sambil senyum-senyum sendiri seperti orang yang baru menang undian rumah.

"Den, kita berangkat sekarang?" tanya sopirnya dari dalam mobil.

Rendra menoleh.

"Tunggu."

"Kenapa, Den?"

"Gue sedang mempersiapkan mental."

Sopirnya terdiam.

Mungkin setelah bertahun-tahun bekerja untuk keluarga Adijaya, ia sudah memahami bahwa pertanyaan lanjutan hanya akan memperpanjang penderitaan semua pihak.

Rendra menatap ponselnya.

06.18.

Masih terlalu pagi untuk mengirim pesan kepada Naya.

Kemarin, cewek itu sudah mengingatkannya agar tidak membuat kejutan aneh, tidak mengirim orang untuk mengawasi dirinya, dan tidak mengintimidasi cowok yang kebetulan berbicara dengannya.

Tiga aturan.

Tiga aturan yang seharusnya sederhana.

Sayangnya, otak Rendra Adijaya punya kebiasaan mengubah instruksi sederhana menjadi proyek pembangunan nasional.

Dia membuka Discord.

Menatap nama Kanaya Putri.

Menutup Discord.

Membuka WhatsApp.

Menatap foto profil Naya.

Menutup WhatsApp.

Membuka Discord lagi.

"ANJIR, GUE MAU NGASIH SARAPAN DOANG!"

Sopirnya menurunkan kaca mobil.

"Den?"

"NGGAK APA-APA, PAK!"

"Baik, Den."

Sopir itu menaikkan kaca kembali.

Keputusan yang bijaksana.

Pukul 06.42 WIB.

Naya baru saja keluar dari gerbang kos ketika sebuah mobil hitam berhenti beberapa meter darinya.

Dia langsung menyipitkan mata.

Jangan-jangan.

Jangan-jangan cowok sinting itu kembali membeli sesuatu.

Sebuah sekolah?

Satu kecamatan?

Atau, demi Tuhan, jangan sampai dia membeli minimarket tempat Naya biasa membeli mi instan.

Pintu mobil terbuka.

Rendra turun dengan seragam rapi, rambut tertata, dan ekspresi datar yang biasa membuat para siswi kelas sebelah mendadak lupa cara berjalan normal.

Di tangannya ada kantong plastik minimarket.

Naya memandang kantong itu.

Lalu memandang Rendra.

Lalu kembali memandang kantong itu.

"Kalau di dalam kantong itu ada surat kepemilikan terminal, gue sumpahin lo jadi maskot pom bensin."

Rendra mengangkat kantong plastiknya.

"Ultra stroberi sama roti cokelat."

Naya diam selama dua detik.

"Oh."

"Katanya mau."

"Iya."

"Jadi, lo terima?"

"Rendra."

"Iya?"

"Kalau gue nolak susu yang gue sendiri minta, berarti otak gue perlu diperiksa."

Rendra mengangguk serius.

"Benar. Gue sudah mempertimbangkan kemungkinan itu."

Naya langsung merebut kantong plastik dari tangannya.

"Mulut lo bisa nggak, sih, istirahat?"

"Bisa."

"Bagus."

"Tapi nanti gue kesepian."

Naya menatapnya datar.

"Ya Allah, cobaan apa lagi ini."

Rendra tersenyum tipis.

Senyum yang hanya bertahan sekitar satu detik sebelum dia buru-buru memasang kembali wajah dinginnya.

Naya memperhatikan perubahan itu.

"Lo kenapa?"

"Nggak kenapa-kenapa."

"Lo senyum."

"Kesalahan teknis."

"Kesalahan teknis pala lo."

Rendra memalingkan wajah.

Dalam hati, dia sedang merayakan keberhasilan kecil.

Dia tidak membeli halte.

Tidak membeli terminal.

Tidak menyuruh sopir mengikuti Naya sampai ke kelas.

Dia hanya membeli sarapan sesuai permintaan.

Sebuah pencapaian yang mungkin akan dicatat dalam sejarah keluarga Adijaya sebagai transaksi paling normal yang pernah dilakukan putra mereka.

"Rendra."

"Hm?"

"Besok nggak usah dibeliin lagi."

Rendra langsung menoleh.

Wajahnya tetap datar.

Namun, jiwanya baru saja terpeleset dari lantai tiga.

"Kenapa?"

"Karena gue nggak mau lo merasa harus terus-terusan beliin gue sesuatu."

"Gue nggak merasa harus."

"Terus?"

"Gue mau."

Naya terdiam sesaat.

Rendra melanjutkan dengan suara lebih pelan.

"Tapi kalau lo nggak mau, gue nggak bakal maksa."

Naya memandangnya beberapa detik.

Lalu dia mengangguk.

"Nah. Gitu, dong."

Rendra menghela napas lega.

Satu aturan berhasil dipahami.

Tinggal dua.

Dan entah kenapa, dia punya firasat dua aturan sisanya bakal membuat rambutnya rontok sebelum lulus SMA.

Pukul 07.05 WIB.

Koridor SMA Internasional Garudatama sudah ramai.

Naya berjalan menuju kelas sambil memegang susu stroberi, sedangkan Rendra berjalan beberapa langkah di belakangnya.

Bukan karena dia sedang menjalankan strategi penguntitan.

Dia hanya mencoba menghormati ruang pribadi Naya.

Setidaknya, itulah penjelasan yang dia berikan kepada dirinya sendiri.

"Ren!"

Aldi muncul dari arah tangga dengan sebungkus keripik di tangan.

Matanya langsung tertuju pada kantong plastik yang dibawa Naya.

Kemudian dia menatap Rendra.

Kemudian Naya.

Kemudian Rendra lagi.

Senyum Aldi perlahan melebar.

"ANJIR."

Rendra berhenti.

"Kenapa?"

"LO SEKARANG JADI KURIR SARAPAN?"

"Suara lo bisa dikecilin nggak?"

"NGGAK BISA, GUE LAHIR DENGAN VOLUME BIOSKOP!"

Beberapa siswa menoleh.

Naya memejamkan mata.

Baru pukul tujuh pagi, dan dia sudah ingin mengajukan cuti dari kehidupan sosial.

Aldi mendekat dengan ekspresi penuh kecurigaan.

"Nay, itu dari Rendra?"

"Iya."

Aldi langsung memegang dadanya.

"Romansa di depan mata gue. Gue merasa seperti figuran yang tidak dibayar."

"Lo memang nggak dibayar," jawab Naya.

"Lebih kejam daripada kenyataan."

Rendra mengulurkan tangan dan menepuk bahu Aldi.

"Turut berduka."

"ANJIR, MALAH DIDUKUNG!"

Naya berjalan lebih dulu menuju kelas.

"Berisik banget. Gue masuk."

Rendra mengikuti dari belakang.

Aldi ikut menyusul, tetapi mendadak berhenti ketika melihat dua siswi di dekat jendela sedang berbisik sambil memandangi Naya.

"...serius, mereka datang bareng lagi?"

"Katanya Rendra kemarin menang basket gara-gara Naya."

"Terus sekarang dibawain sarapan. Mereka pacaran, ya?"

Aldi perlahan menoleh kepada Rendra.

Rendra menoleh kepada Aldi.

Aldi mengangkat alis.

Rendra menggeleng pelan.

Aldi menyeringai.

"Oh, ini bakal seru."

"Jangan."

"Gue belum ngapa-ngapain."

"Muka lo sudah menunjukkan niat kriminal."

"Fitnah."

"Lima tahun berteman sama lo membuat gue paham bahwa muka lo adalah alat bukti."

Aldi tertawa keras.

Sayangnya, tawa itu justru menarik perhatian salah satu siswi tadi.

"Eh, Aldi! Kalian bertiga pacaran, ya?"

Koridor mendadak terasa sunyi.

Naya berhenti berjalan.

Rendra membeku.

Aldi membuka mulut.

Lalu menutupnya lagi.

Kemudian, dengan ekspresi seorang pengkhianat yang baru menemukan peluang bisnis, dia menunjuk Rendra dan Naya secara bergantian.

"Gue? Nggak, dong. Mereka berdua."

"ALDI!"

Teriakan Rendra menggema di sepanjang koridor.

Aldi langsung kabur sambil tertawa.

Naya menatap Rendra dengan wajah tanpa ekspresi.

"Teman lo memang sampah."

"Gue setuju."

"Terus, sekarang gimana?"

Rendra menatap beberapa siswa yang mulai berbisik lagi.

Di kepalanya, ratusan skenario buruk berlarian seperti tab browser yang tidak pernah ditutup.

Dia bisa saja mengumumkan bahwa Naya hanyalah rekan kelompoknya.

Bisa juga mengatakan bahwa mereka kebetulan datang bersamaan.

Atau dia bisa berteriak bahwa siapa pun yang menyebarkan rumor akan berhadapan dengan keluarga Adijaya.

Pilihan ketiga langsung dia coret.

Dia masih ingat aturan Naya.

Jangan mengintimidasi orang hanya karena mereka berinteraksi dengannya.

Rendra menarik napas.

"Nggak usah ditanggapi," katanya akhirnya.

Naya menoleh.

"Hm?"

"Kalau mereka mau bergosip, biarin aja. Gue nggak bakal bikin masalah."

Naya menatapnya agak lama.

Lalu mengangguk kecil.

"Bagus."

Satu kata.

Cuma satu kata.

Namun, bagi Rendra, rasanya seperti mendapat nilai seratus untuk ujian yang bahkan belum dia kerjakan.

Sampai Naya melanjutkan.

"Tapi kalau rumor ini bikin nilai tugas kelompok kita turun gara-gara lo melamun, gue penggal nilai rapor lo."

Rendra langsung kembali ke dunia nyata.

"Nilai rapor gue tidak bersalah."

"Begitu juga gue. Tapi lihatlah nasib kita."

Pukul 07.18 WIB.

Di dalam kelas XI-A, Keysha sudah duduk bersama dua temannya.

Begitu Naya masuk, ketiganya langsung menoleh dengan kecepatan yang mencurigakan.

Naya berhenti di ambang pintu.

"Kenapa?"

Keysha tersenyum.

Senyum yang terlalu manis untuk dipercaya.

"Nay."

"Nggak."

"Gue belum ngomong."

"Muka lo sudah ngomong."

Keysha menepuk kursi kosong di sebelahnya.

"Duduk dulu. Kita cuma mau tanya satu hal."

"Nggak."

"Satu pertanyaan!"

"Nggak."

"Dua pertanyaan?"

"Nambah terus, anjir."

Keysha akhirnya menarik Naya duduk.

"Naya Putri, apakah benar lo dan Rendra Adijaya sedang menjalani hubungan rahasia?"

Naya menatapnya kosong.

Kemudian dia mengeluarkan susu stroberi dari kantong plastik.

Mengangkatnya setinggi wajah Keysha.

"Ini bukti hubungan gue."

Keysha berkedip.

"Susu?"

"Iya. Hubungan gue sama susu stroberi sudah berlangsung bertahun-tahun. Setia, konsisten, dan nggak pernah bikin gue stres karena beli jalur angkot."

Salah satu teman Keysha langsung tertawa.

Keysha tidak menyerah.

"Tapi Rendra yang beliin, kan?"

Naya terdiam sepersekian detik.

Kesalahan kecil.

Sangat kecil.

Sayangnya, Keysha adalah jenis manusia yang bisa mendeteksi perubahan ekspresi sekecil satu piksel.

"NAH!"

"Apaan?"

"LO DIAM!"

"Gue lagi mikir."

"Berarti benar!"

"Berarti otak lo perlu belajar logika."

Keysha memegangi bahu Naya.

"Nay, gue nggak akan menghakimi. Kalau lo suka Rendra, bilang aja."

"Gue suka susu ini."

"Kalau Rendra?"

"Dia mengganggu ketenangan hidup gue."

"Berarti ada perasaan!"

"PERASAAN PENGIN NABOK."

Tawa meledak di sekitar mereka.

Naya membuka sedotan susu dengan gerakan penuh dendam.

Di sisi lain kelas, Rendra duduk dengan punggung tegak dan wajah tanpa ekspresi.

Dia mendengar semuanya.

Setiap kata.

Setiap tuduhan.

Setiap penyebutan namanya.

Dan ketika Keysha bertanya apakah mereka sedang menjalani hubungan rahasia, otaknya berhenti bekerja selama tiga detik penuh.

Hubungan rahasia.

Dengan Kanaya Putri.

Kalimat itu berputar-putar dalam pikirannya.

Lalu muncul suara kecil yang sangat tidak membantu.

Kalau rahasia, berarti hubungan.

Kalau hubungan, berarti ada kemungkinan.

Kalau ada kemungkinan...

"REN."

Rendra tersentak.

Aldi sudah berdiri di depan mejanya sambil membawa buku matematika.

"Lo senyum sendiri."

"Nggak."

"Lo barusan menatap dinding selama dua puluh detik."

"Gue sedang berpikir."

"Berpikir tentang Naya?"

"Berpikir tentang integral."

Aldi melihat buku matematika yang masih tertutup.

"Integralnya bahkan belum dibuka, profesor."

Rendra merebut buku itu.

"Buka mulut lo sekali lagi, gue pindahin tempat duduk lo ke gudang."

"Ancaman fasilitas sekolah. Menarik."

Aldi hendak tertawa lagi ketika ponsel Rendra bergetar.

Satu notifikasi masuk.

Dari Naya.

KanayaPutri: Jangan senyum-senyum sendiri. Gue bisa lihat dari sini.

Rendra mengangkat kepala.

Di seberang kelas, Naya sedang memandangnya dengan tatapan mengancam sambil memegang kotak susu stroberi.

Rendra buru-buru menunduk.

Lalu mengetik balasan.

Rendra: Gue nggak senyum.

Kanaya Putri: Gue punya mata, Rendra.

Rendra: Mungkin pencahayaan kelas kurang baik.

KanayaPutri: Gue sumpahin lo jadi lampu kelas.

Rendra menatap layar ponselnya.

Kemudian tersenyum lagi.

Kali ini lebih lebar.

Aldi memandangnya dengan ekspresi ngeri.

"Bro, gue serius. Lo butuh pertolongan profesional."

Rendra memasukkan ponsel ke saku.

"Mungkin."

"Lo bahkan nggak menyangkal?"

"Nggak."

Aldi terdiam.

Untuk pertama kalinya pagi itu, dia tidak punya bahan lelucon.

Sementara itu, di bangkunya, Naya menghabiskan susu stroberi sambil berusaha mengabaikan senyum bodoh Rendra.

Dia tidak tahu apakah cowok itu benar-benar akan berubah.

Dia juga tidak tahu apakah kedekatan mereka akan menjadi sesuatu yang lebih rumit daripada kontrak satu semester.

Namun, setidaknya pagi ini, Rendra mencoba mendengarkannya.

Dan untuk sekarang, itu cukup.

Sampai ponsel Naya kembali bergetar.

Sebuah pesan masuk dari grup kelas.

XI-A INFO SEKOLAH

Seseorang baru saja mengirim foto Rendra dan Naya di depan gerbang sekolah pagi tadi.

Foto itu diambil dari sudut yang membuat mereka terlihat seperti pasangan yang sedang berjalan bersama.

Di bawahnya, ada satu kalimat:

"FIX. PANGERAN SEKOLAH SUDAH PUNYA PACAR."

Naya menatap layar.

Kemudian perlahan menoleh ke arah Rendra.

Rendra juga sedang menatap ponselnya.

Wajah mereka sama-sama pucat.

Aldi, yang berdiri di antara keduanya, membaca pesan itu.

Lalu mengangkat kedua tangan.

"Gue tidak terlibat."

Naya berdiri.

Rendra ikut berdiri.

Mereka saling menatap.

"Nggak usah panik," kata Rendra cepat. "Gue bisa jelasin."

Naya tersenyum.

Senyum yang membuat Rendra merasa hidupnya baru saja memasuki babak baru yang jauh lebih mengerikan daripada pertandingan basket kemarin.

"Bagus," kata Naya.

Dia mengangkat ponselnya.

"Karena setelah ini, lo bakal menjelaskan semuanya di depan satu kelas."

Rendra menelan ludah.

Di luar kelas, bel masuk berbunyi.

Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Rendra Adijaya berharap jam pelajaran pertama adalah pendidikan jasmani.

Setidaknya, kalau dia pingsan di lapangan, orang-orang akan mengira dia cuma kelelahan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!