Season pertama mengisahkan kejatuhan tragis klan mafia termasyhur, Valenti, akibat pengkhianatan terencana pada malam penyerahan takhta kepemimpinan. Leo Valenti, pewaris tunggal yang dituduh membunuh ayahnya sendiri, diburu oleh gabungan faksi rival dan terlempar ke titik terendah setelah terluka parah. Di tengah keputusasaan, Leo bersimpangan jalan dengan Elena, seorang peretas dan pemilik jaringan informasi independen yang memiliki masa lalu kelam dengan pelaku kudeta tersebut. Mereka sepakat membentuk aliansi rahasia yang dingin dan saling memanfaatkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cukstaw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
OPERASI TANPA ANESTESI
Suara derit engsel besi berkarat terdengar melengking saat Elena mendorong pintu baja tebal dengan bahunya. Ia menyeret tubuh Leo yang tak sadarkan diri menuruni anak tangga beton yang curam menuju ruang bawah tanah. Hujan badai di luar sana masih mengamuk, namun begitu pintu baja itu tertutup rapat, suara guntur langsung teredam, digantikan oleh dengungan rendah dari belasan server komputer yang memenuhi ruangan.
Tempat persembunyian rahasia Elena dulunya adalah bungker penyimpanan anggur ilegal di era pelarangan, tersembunyi jauh di bawah fondasi sebuah pabrik pengalengan ikan yang sudah lama bangkrut. Kini, ruangan lembap itu disulap menjadi pusat kendali "Phantom", dipenuhi kabel-kabel hitam tebal yang menjalar di lantai seperti urat nadi, rak-rak server yang berkedip, dan tiga lapis layar monitor besar yang menampilkan ribuan baris kode.
"Ugh, naiklah ke atas meja, Pangeran," gerutu Elena sambil mengerahkan seluruh sisa tenaganya untuk mengangkat tubuh bagian atas Leo.
Di tengah ruangan, terdapat sebuah meja kerja panjang berbahan baja *stainless* yang biasanya ia gunakan untuk membongkar perangkat keras komputer. Elena menyapu kasar tumpukan *motherboard* rongsokan, kabel *jumper*, dan kaleng soda kosong ke lantai hingga menimbulkan suara berisik. Ia kemudian menghempaskan tubuh Leo ke atas meja logam yang dingin tersebut.
Darah segar bercampur air sungai dan lumpur langsung menggenang di atas permukaan meja, menetes deras ke lantai beton.
Elena segera melepas jas hujan kuningnya yang basah kuyup dan melemparnya sembarangan ke kursi roda. Di balik jas hujan itu, ia mengenakan kaus hitam ketat dan celana kargo yang praktis. Ia berlari kecil ke sudut ruangan, menarik sebuah koper medis militer berwarna hijau tua dari bawah rak, dan membawanya ke samping meja operasi dadakan tersebut.
Ia menarik sebuah lampu meja arsitek berleher panjang yang memiliki bohlam LED berdaya tinggi, lalu menyorotkannya tepat ke tubuh Leo. Cahaya putih terang benderang itu mengekspos betapa parahnya luka-luka sang pewaris Valenti.
"Mari kita lihat seberapa besar kerusakan yang kau bawa," gumam Elena pelan sambil mengambil gunting trauma dari dalam koper.
Dengan gerakan cepat dan tanpa ragu, Elena menggunting sisa-sisa kemeja putih Leo yang sudah hancur mulai dari perut hingga ke kerah, lalu merobek kainnya agar terbuka lebar. Otot dada dan perut Leo yang tercetak jelas kini dipenuhi memar biru kehitaman dan lumpur. Namun, fokus Elena langsung tertuju pada pundak kanan pria itu.
Luka tembaknya tampak mengerikan. Terdapat dua lubang masuk peluru yang saling berdekatan. Peluru pertama menembus bagian atas bahu, kemungkinan tidak mengenai tulang secara langsung. Tapi peluru kedua, yang ukurannya jelas lebih besar dari kaliber pistol biasa, meremukkan sebagian tulang selangkanya dan bersarang dalam di dalam jaringan otot. Darah kental terus berdenyut keluar seiring dengan detak jantung Leo yang melemah.
Elena juga memeriksa kaki Leo. Betis kirinya robek terserempet peluru, tapi untungnya peluru itu tembus dan tidak mengenai tulang kering. Luka di kaki bisa ditunda. Luka di bahu inilah yang akan membunuhnya dalam hitungan menit jika tidak segera ditangani.
"Sialan, kau butuh rumah sakit dengan dokter bedah sungguhan," desis Elena sambil mengusap wajahnya yang basah oleh keringat. "Tapi kalau aku membawamu ke sana, Marco akan memastikan kita berdua berakhir di dalam mesin pencacah daging."
Elena menggeledah isi koper medisnya. Ia mengeluarkan botol alkohol medis berukuran besar, kapas, perban, jarum bedah melengkung, benang nilon, dan sebuah pinset panjang berbahan baja tahan karat. Jari-jarinya merogoh kompartemen paling bawah koper, mencari botol kecil berisi cairan morfin cair atau obat bius lokal yang biasanya ia simpan untuk keadaan darurat.
Kosong.
"Sial," rutuk Elena memukul pinggiran meja.
Ia baru ingat telah menggunakan sisa morfin terakhirnya bulan lalu untuk mengobati seorang informan yang tertembak. Ia menoleh ke rak di dekat meja komputernya, meraih sebotol wiski murah yang isinya tinggal setengah. Ia tidak punya pilihan lain. Ini akan menjadi malam yang sangat panjang dan menyiksa.
Elena kembali ke meja, menatap wajah Leo yang pucat pasi. Ia membuka tutup botol alkohol medis, lalu menumpahkan cairan bening itu tepat ke atas luka tembak di pundak Leo untuk membersihkan kotoran sungai dan darah beku.
Sensasi terbakar dari alkohol murni yang menyentuh daging dan saraf terbuka itu seketika memicu reaksi tubuh yang luar biasa.
"AARRGH!" Leo menjerit sangat keras, matanya yang sedari tadi terpejam langsung terbuka lebar.
Tubuhnya melengkung ke atas dengan kaku, seperti disengat aliran listrik ribuan volt. Tangan kirinya secara refleks mencengkeram tepi meja baja hingga buku-buku jarinya memutih. Matanya melotot liar, berusaha menyesuaikan diri dengan cahaya lampu LED yang menyilaukan dan rasa sakit yang terasa seperti membakar jiwanya.
"Diam dan jangan banyak bergerak!" Elena menekan dada Leo dengan kedua tangannya, memaksa tubuh besar itu kembali terbaring rata di atas meja.
Napas Leo memburu cepat, dadanya naik turun dengan kasar. Ia menatap ke arah Elena dengan pandangan nanar dan bingung. Bau alkohol, besi, dan darah memenuhi penciumannya.
"D-di mana... di mana aku..." suara Leo serak dan bergetar hebat. Ia mencoba mengangkat tangan kanannya, namun rasa sakit yang tajam membuatnya kembali mengerang tertahan.
"Di satu-satunya tempat yang tidak akan menjualmu ke Marco malam ini," Elena menjawab cepat sambil mengambil gulungan sabuk kulit tebal dari laci di bawah meja. "Dengarkan aku, Pangeran. Kau punya dua peluru bersarang di bahumu. Peluru itu menekan pembuluh darah dan jaringan sarafmu. Jika tidak dikeluarkan sekarang, kau akan mati kehabisan darah atau lengan kananmu harus diamputasi besok pagi."
Leo menatap gadis itu lekat-lekat. Dalam pandangannya yang masih buram, ia mengenali wajah peretas yang sering ia dengar namanya di dunia bawah tanah.
"Kau... Phantom," Leo berdesis menahan sakit.
"Panggil aku Elena," Elena menarik napas panjang. "Aku tidak punya obat bius. Tidak ada morfin, tidak ada anestesi. Aku harus menggali dagingmu secara manual. Ini akan terasa seperti aku sedang menguliti tubuhmu hidup-hidup."
Mata Leo menyipit, keringat dingin membanjiri dahi dan pelipisnya. Di tengah rasa sakit yang mulai melumpuhkan kesadarannya, harga diri seorang Valenti menolak untuk terlihat lemah.
"Lakukan," Leo memalingkan wajahnya, menatap ke arah langit-langit beton.
"Pilihan yang bagus, karena aku tidak meminta persetujuanmu," Elena menyodorkan botol wiski ke depan mulut Leo. "Minum ini. Minum yang banyak."
Leo membuka mulutnya. Elena menuangkan cairan keras itu dengan kasar hingga sebagian tumpah membasahi leher dan dada Leo. Sensasi panas wiski yang mengalir di tenggorokannya setidaknya memberikan sedikit pengalih perhatian.
Setelah setengah isi botol tandas, Elena meletakkan botol itu. Ia kemudian melingkarkan sabuk kulit tebal ke pergelangan tangan kiri Leo dan mengikatkannya kuat-kuat ke kaki meja baja. Ia melakukan hal yang sama pada kedua pergelangan kaki Leo menggunakan kabel pengikat tebal dari sabuk pengaman mobil yang sudah ia modifikasi.
"Apa yang kau lakukan..." Leo mengernyitkan dahi merasakan ikatan yang ketat itu.
"Memastikan kau tidak menendang wajahku atau mencekikku saat kesakitan nanti," Elena melipat sepotong kain lap tebal yang bersih dan menyodorkannya ke mulut Leo. "Buka mulutmu dan gigit ini kuat-kuat. Kecuali kau mau lidahmu putus saat berteriak."
Leo menerima kain itu, menggigitnya di antara gigi gerahamnya. Ia mengangguk pelan, memberikan isyarat bahwa ia siap.
Elena memakai sepasang sarung tangan lateks berwarna hitam. Ia mengambil pinset bedah panjang dan menatap luka di bahu Leo dengan tatapan fokus layaknya seorang pembunuh bayaran yang membidik mangsa. Semua keraguan, ketakutan, dan kebenciannya pada keluarga Valenti ia singkirkan untuk sementara waktu. Pria di depannya sekarang hanyalah sebongkah daging rusak yang harus ia perbaiki.
"Kita mulai dari peluru pertama. Bertahanlah," Elena mencengkeram bahu Leo dengan tangan kirinya untuk menahan pergerakan, sementara tangan kanannya memasukkan ujung pinset ke dalam luka menganga tersebut.
Tubuh Leo langsung tersentak keras. Geraman tertahan meledak dari balik kain di mulutnya. Matanya terpejam sangat rapat hingga menimbulkan kerutan dalam di sudut matanya. Otot-otot di leher dan perutnya menonjol keluar, berkontraksi sangat hebat melawan rasa sakit yang tak terbayangkan.
Ujung logam pinset bergesekan dengan daging dan otot yang robek. Elena harus menggali lebih dalam karena peluru itu melesak cukup jauh akibat tembakan dari jarak dekat. Darah kental terus merembes keluar setiap kali pinset Elena bergerak, mengotori sarung tangannya dan meja di bawah tubuh Leo.
"Sedikit lagi... aku bisa merasakannya," Elena menggigit bibir bawahnya, matanya tak berkedip menatap ke dalam genangan merah di luka itu.
Leo meronta. Ikatan sabuk kulit dan kabel di tangan serta kakinya meregang tegang hingga berderit. Suara napasnya dari hidung terdengar mendengus kasar seperti banteng yang terluka parah. Keringat bercampur sisa air sungai mengalir deras dari seluruh pori-pori kulitnya.
Trak!
Suara logam beradu pelan terdengar ketika pinset Elena akhirnya menjepit benda padat di dalam sana.
"Dapat!" Elena menjepit peluru itu sekuat tenaga dan menariknya keluar dari jaringan daging Leo.
Sebuah peluru berkaliber sembilan milimeter berlumuran darah berhasil dikeluarkan. Elena langsung menjatuhkannya ke dalam baki logam dengan suara gemerincing yang nyaring.
Tubuh Leo melemah sesaat, napasnya memburu cepat, matanya menatap kosong karena rasa sakit baru saja mencapai puncaknya. Namun siksaan itu belum selesai.
"Tahan napasmu, kita lanjut yang kedua," Elena menatap Leo dengan sorot mata dingin yang tak terpengaruh oleh penderitaan pria itu. "Peluru kedua ini meremukkan ujung tulang selangkamu. Ini akan seratus kali lebih menyakitkan dari yang tadi."
Leo hanya bisa mengerang, matanya menatap Elena dengan sisa-sisa kesadaran. Ia kembali menggigit kain di mulutnya, menguatkan dirinya.
Elena mengambil kapas, mencelupkannya ke dalam alkohol, lalu mengusapkannya lagi ke luka itu untuk membersihkan pandangannya. Leo kembali tersentak, seluruh tubuhnya menegang kaku.
Pinset kembali masuk. Kali ini, Elena harus menembus sela-sela pecahan tulang. Suara mengerikan dari logam pinset yang bergesekan langsung dengan serpihan tulang selangka terdengar jelas di ruangan yang sunyi itu.
"Nghhh... Mmmmhhh!" Leo berteriak dari balik kainnya. Kepalanya menggeleng kasar ke kiri dan ke kanan. Air mata rasa sakit keluar dari sudut matanya, bercampur dengan keringat. Otot dada dan bahunya berkontraksi liar, mencoba menolak intrusi benda asing yang menyiksa tubuhnya.
"Tahan! Jangan bergerak, bajingan!" Elena membentak kasar, menahan bahu Leo dengan seluruh berat tubuhnya agar pria itu tidak bergeser, yang bisa berakibat pinsetnya merobek pembuluh darah arteri.
Butuh waktu hampir lima menit bagi Elena untuk mencari sisa selongsong peluru yang terdeformasi di dalam luka yang hancur itu. Tangan Elena mulai gemetar menahan tenaga, sementara Leo sudah berada di ambang batas kewarasannya. Napas pria itu mulai putus-putus, menandakan sistem sarafnya mulai menyerah terhadap guncangan rasa sakit.
"Ayo... lepaskan..." bisik Elena seraya memutar sedikit pinsetnya untuk membebaskan peluru dari jepitan tulang.
Trak!
Dengan satu tarikan kasar, sepotong logam timah yang sudah bengkok berhasil ditarik keluar bersamaan dengan semburan kecil darah kental. Elena membuang peluru itu ke baki logam.
Tubuh Leo langsung terhempas lemas. Matanya berputar ke atas, dan napasnya seketika melambat drastis. Ia kehilangan kesadaran untuk kedua kalinya malam itu. Kain lap terlepas dari mulutnya dan jatuh ke lantai.
"Hei, hei! Jangan mati di mejaku!" Elena menepuk pipi Leo dengan kasar.
Ia dengan cepat menekan kassa tebal ke atas luka untuk menghentikan pendarahan. Jantungnya berdebar kencang. Ia segera mengambil jarum bedah dan benang nilon hitam. Tanpa membuang waktu, dengan gerakan cekatan yang lahir dari kepanikan dan pengalaman bertahan hidup, ia mulai menjahit luka tembak di bahu pria itu.
Setiap tusukan jarum menembus kulit Leo yang tebal. Ia menjahit lapisan dalam terlebih dahulu, memastikan ototnya menyatu kembali, sebelum menjahit kulit luar dengan rapat. Ia melakukan hal yang sama untuk luka luar di betis Leo dengan lebih cepat.
Dua puluh menit berlalu dalam keheningan yang tegang, hanya diisi oleh detak jam dinding dan embusan napas Elena.
Setelah jahitan terakhir selesai dan diikat mati, Elena mengusap sisa darah dari tubuh Leo menggunakan handuk bersih. Ia membalut pundak pria itu dengan perban medis tebal, melilitkannya melingkar ke dada agar posisinya tidak bergeser.
Elena melangkah mundur, membuang sarung tangannya yang sudah berwarna merah pekat ke dalam tong sampah. Ia menyambar botol wiski yang tadi diminum Leo, lalu menenggak sisa isinya secara langsung untuk menenangkan sarafnya yang tegang.
Ia berdiri bersandar pada meja kerjanya, menatap tubuh Leo yang kini terbaring tak berdaya dengan dada naik turun secara teratur. Pangeran mafia yang arogan dan ditakuti oleh seluruh kota itu kini tak lebih dari seorang pria lemah yang nyawanya sepenuhnya berada di tangan seorang gadis peretas.
"Kau berutang nyawa padaku, Valenti," Elena berbisik pada dirinya sendiri, menyunggingkan senyum tipis yang dingin. "Tidur yang nyenyak. Karena besok pagi, neraka yang sesungguhnya baru saja dimulai."
Elena mematikan lampu sorot medis, membiarkan ruangan itu kembali remang-remang disinari layar monitor, sebelum ia melangkah menuju sofa lusuh di sudut ruangan untuk menjaga tawanannya hingga fajar menyingsing.