Setiap hari aku difitnah mertuaku.
_"Kamu pembawa sial! Perempuan boros!"_
Aku berharap suamiku, Arman, membelaku. Tapi ia hanya diam.
_"Maafkan Ibu, Alya. Aku gak mau jadi anak durhaka."_
Sampai akhirnya aku diusir dan diceraikan di depan anak-anakku.
_"Talak satu aku jatuhkan padamu."_
Kini aku janda dua anak, hidup dari jualan kue sambil menahan gunjingan.
Saat aku mulai bahagia dengan Farhan, mantan suamiku datang ingin rujuk.
Bukan aku yang jahat, Mas. Kenapa semua menyalahkanku?
Note :
Dilarang boom like ❌
Dilarang lompat bab ❌
Jika kalian suka dengan cerita ini,jangan lupa tinggalkan jejak dengan like ,komen dan jangan pelit-pelit untuk kasih vote & kotak hadiahnya 🥰🥰🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Atha Diyuta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23
Sudah hampir dua minggu anak-anak Ustadzah Munah pulang dan tinggal di rumah besar. Suasana kebun mangga yang dulu sepi kini setiap hari dipenuhi dengan tawa, canda, dan kehangatan keluarga.
Tapi di antara semua keceriaan itu, ada satu hal yang tidak luput dari mata tajam dan hati lembut seorang ibu seperti Ustadzah Munah.
Ustadzah Munah melihat ada rasa yang berbeda yang tumbuh di hati Ilham, anak bungsunya yang masih bujang itu.
Sebagai seorang ibu, Ustadzah Munah sangat mengenal anak-anaknya. Dia paham bagaimana tatapan Ilham saat sedang suka dengan sesuatu, ia tau bagaimana Ilham menjadi lebih pendiam tapi lebih rajin. Dan selama seminggu terakhir ini, Ilham terlihat berubah.
Ilham yang dulu jika pulang dari kota selalu menghabiskan waktunya di kamar sambil membaca buku atau bermain laptop, kini hampir setiap waktu luangnya ia habiskan di kebun belakang. Alasannya bermacam-macam, kadang membantu menyiram kangkung, kadang membantu memperbaiki pagar bambu,kadang mengajari Nisa dan Raffi mengaji dan membaca buku cerita.Itu hal yang bagus namun ustadzah Munah tau itu hanya bagian dari arahan hatinya.
Tapi yang paling sering, Ilham duduk di teras rumah kecil Alya sambil minum teh hangat yang dibuatkan oleh Alya, sambil menatap Alya yang sedang menyuapi anak-anaknya dengan penuh kesabaran. Tatapannya tidak pernah berani menatap langsung, ia selalu menunduk, tapi matanya sesekali mencuri pandang dengan penuh kekaguman.
Malam itu, setelah semua orang tertidur, Ustadzah Munah memanggil Ilham ke ruang tengah rumah besar. Hanya ada mereka berdua, lampu ruang tengah temaram dan suara jangkrik dari kebun terdengar pelan.
"Ilham,kemari nak.Duduk dekat ibu,ibu ingin bicara sebentar sama kamu." ucap Ustadzah Munah dengan lembut.
Ilham yang baru saja selesai sholat Isya langsung duduk di samping ibunya dengan sopan.
"Iya Bu,ada apa? Ibu ingin bicara apa Bu? tanya Ilham dengan sedikit gugup, seolah ia tahu apa yang akan dibicarakan ibunya.
Ustadzah Munah menatap wajah anak bungsunya yang tampan, bersih dan sholeh itu dengan penuh kasih sayang. Ia mengelus puncak kepala Ilham seperti saat Ilham masih kecil dulu.
"Ilham, anakku yang sholeh, Ibu lihat akhir-akhir ini kamu betah sekali di kebun belakang ya, Nak? Betah main sama Nisa dan Raffi ya?"
Ilham tersipu dan wajahnya langsung memerah.
"Iya, Bu, Nisa dan Raffi lucu-lucu, Bu. Kasihan mereka tidak punya ayah yang menemani mereka bermain. Jadi Ilham temani mereka bermain.
Ustadzah Munah tersenyum bijaksana. Senyum seorang ibu yang mengerti isi hati anaknya tanpa harus dikatakan.
"Ilham, ibu tau nak kamu anak yang baik dan kamu selalu bisa menjaga pandangan kamu menjaga batasan kamu. Kamu penyayang anak-anak .Tapi Ibu juga melihat ada rasa yang berbeda yang tumbuh di hati kamu. Bukan hanya karna rasa sayang kamu sama Nisa dan Raffi, tapi juga ada kekaguman pada ibunya.Betul begitu nak? Kamu menyukai Alya?"
Mendengar itu, Ilham langsung menunduk dalam-dalam, wajahnya semakin merah seperti buah tomat. Ia tidak berani menatap ibunya.
"Bu... Ilham... Ilham tidak bermaksud apa-apa, Bu. Ilham hanya kagum sama Mbak Alya. Kagum sama kepribadiannya.Dia wanita yang kuat,sabar dan santun. Tidak seperti perempuan lain yang Ilham temui di luar negeri dulu." jawab Ilham dengan jujur dan suara yang pelan.
Ustadzah Munah mengangguk dan menggenggam tangan Ilham dengan erat.
"Ibu tahu nak Ibu sangat paham. Alya memang perempuan yang luar biasa Nak. Ibu sendiri yang menemukan dia dan merawat dia, Ibu tau betul bagaimana akhlak dan kepribadiannya,kesabarannya. Tidak salah jika kamu mengagumi dia, Nak. Ibu pun kagum sama dia.
Ilham mengangkat wajahnya dengan sedikit harapan.
"Tapi nak," lanjut Ustadzah Munah dengan nada yang berubah menjadi lebih serius tapi tetap lembut dan penuh nasehat.
"Ibu harus mengingatkan kamu, karena Ibu sayang sama kamu dan Ibu juga sayang sama Alya. Alya itu masih dalam masa iddah, ibu yakin kamu tahu aturan wanita dalam masa Iddah.Kamu paham kan apa arti masa Iddah?
Ilham mengangguk pelan.
"Ilham tau Bu,masa Iddah itu masa tunggu setelah perceraian selama tiga kali masa suci.Sekitar tiga bulan kan Bu?"
"Betul sekali nak,Pintar anak Ibu. Masa iddah itu adalah masa yang sangat penting dalam Islam.Di masa itu, seorang perempuan yang baru bercerai tidak boleh dilamar, tidak boleh dinikahi dan laki-laki lain harus bisa menjaga pandangannya kepadanya. Itu adalah aturan Allah untuk menjaga kehormatan perempuan itu sendiri dan untuk memastikan tidak ada fitnah.
Ustadzah Munah menatap Ilham dengan tatapan yang dalam dan penuh makna.
"Ilham, Ibu tahu kamu anak yang sholeh. Kamu lulusan pesantren dan kuliah di luar negeri, kamu pasti tahu ilmunya.Jika memang di hati kamu ada rasa kagum bahkan rasa suka kepada Alya, maka kamu harus bisa menjaga pandangan kamu.Jaga hati kamu nak, jangan sampai kamu menatap Alya dengan tatapan yang berlebihan. Tundukkan pandanganmu nak, seperti yang sudah diajarkan oleh Rasulullah."
Ilham terdiam dan merenungi setiap kata ibunya. Air matanya hampir jatuh karena merasa bersalah.
"Maafkan Ilham Bu,Ilham khilaf, Ilham tidak menjaga pandangan Ilham dengan baik bum Ilham sering mencuri pandang ke Mbak Alya Bu."
Ustadzah Munah tersenyum dan mengelus punggung Ilham.
"Tidak apa-apa nak,Ibu tau itu.Dia wanita yang cantik, diibaratkan dia adalah bunga yang mekar kembali setelah layu, kumbang menghirup aroma wanginya dari kejauhan.Dia wanita yang teduh,santun dan lembut.Ibu tidak marah,Ibu hanya menasehati kamu, mengingatkan kamu karena Ibu sayang sama kamu. Rasa kagum itu wajar,apalagi kepada perempuan sebaik Alya. Tapi waktunya belum tepat. Alya masih dalam masa iddah. Hatinya masih perlu ditenangkan. Ia baru saja selesai dari luka yang sangat dalam selama lima tahun. Jangan sampai kehadiran kamu dengan rasa yang belum waktunya justru membuat dia tidak nyaman.Kamu paham kan maksud ibu?"
"Lalu Ilham harus bagaimana Bu?" tanya Ilham dengan suara yang penuh dengan kebingungan dan kesedihan.
Ustadzah Munah menjawab dengan sangat bijaksana dan indah.
"Jika kamu memang benar-benar kagum dan ingin menjadikan Alya sebagai pendamping hidup kamu kelak,maka lakukanlah dengan cara yang diridhoi Allah. Pertama jaga pandangan kamu mulai sekarang. Jika bertemu Alya, tundukkan pandanganmu ,bicara seperlunya dan jangan berlama-lama berduaan.Kedua, sibukkan diri kamu dengan doa. Doakan Alya dari jauh nak,doakan agar masa iddahnya lancar dan hatinya kembali tenang. Ketiga, jika masa iddah Alya sudah selesai nanti, yaitu sekitar dua bulan lagi, barulah kamu datang dengan cara yang baik.Datang dengan niat yang baik, bawa keluarga, lamar dia dengan cara yang terhormat.Jangan seperti anak muda zaman sekarang yang pacaran dulu. Langsung lamar dengan niat ibadah apa lagi dia janda yang punya anak,jika kamu tulus maka pahala kebaikan akan kamu dapatkan.Asal kamu benar-benar ridho,tulus dan ikhlas."
Mendengar nasehat ibunya yang begitu indah dan santun itu, hati Ilham terasa sangat tenang dan sejuk. Ia merasa bersyukur memiliki ibu sebijaksana Ustadzah Munah.
"Baik Bu,Ilham paham sekarang.Ilham akan menjaga pandangan Ilham mulai sekarang Bu. Ilham akan doakan Mbak Alya dari jauh. Ilham akan menunggu sampai masa iddah Mbak Alya selesai.Terima kasih banyak atas nasehatnya bu."ucap Ilham sambil mencium tangan ibunya dengan penuh hormat.
Ustadzah Munah mencium kening Ilham.
"Pintar anak Ibu. Ibu doakan semoga Allah memberikan yang terbaik buat kamu dan buat Alya juga. Jika memang kalian berjodoh, Allah pasti akan satukan dengan cara yang indah Nak. Sekarang tidurlah,hari sudah malam?"
Malam itu, Ilham tidur dengan hati yang lebih tenang. Ia berjanji pada dirinya sendiri untuk menjaga pandangannya dan menjaga hatinya.
Keesokan paginya, perubahan itu terlihat jelas. Saat Alya datang ke rumah besar untuk membantu memasak, Ilham yang biasanya menyapa dengan tatapan kagum kini hanya menyapa seperlunya sambil menundukkan pandangannya.
"Assalamualaikum, Mbak Alya." ucap Ilham pelan sambil menunduk.
"Waalaikumsalam, Mas Ilham." jawab Alya dengan sedikit bingung karena Ilham terlihat berbeda.
Alya tidak tahu bahwa di balik sikap Ilham yang menjaga pandangan itu, ada doa tulus yang setiap malam Ilham panjatkan untuknya, agar masa iddahnya segera selesai dan hatinya segera sembuh total.
Dan di atas kebun mangga yang cerah itu, Ustadzah Munah tersenyum melihat anak bungsunya yang sudah mulai belajar menjaga hati dan pandangannya demi menghormati seorang perempuan yang masih dalam masa iddah.
Bersambung...