Cerita terinspirasi kisah nyata!
Karena tak tahan dengan kerasnya didikan sang ayah, Galih nekat pergi dari rumah. Dia meninggalkan kampung halamannya hanya dengan selembar uang seratus ribu.
Galih memilih pergi ke ibukota. Di sanalah dia menemukan tempat tinggal baru yaitu sebuah kost campuran. Di sana Galih bertemu wanita cantik yang ternyata istri orang, lalu gadis pendiam misterius, serta lelaki mencurigakan yang terus menatapnya. Saat satu per satu misteri terkuak, Galih sadar, tempat yang ditinggalinya punya sisi gelap tak terduga.
Di antara sisi gelap itu, Galih berusaha keras mengejar mimpi dan memperbaiki kehidupannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 17 - Pengakuan Indri
Galih tersenyum lega mendengar keputusan Indri untuk melanjutkan hidupnya dan mempertahankan bayi dalam kandungannya. Ia kembali mengambil satu potong pisang goreng hangat yang renyah. Namun, di tengah-tengah kunyahan keduanya, Indri mendadak menghentikan gerakannya. Wajahnya meringis pelan, matanya berkedip-kedip cepat seraya mengusap sudut mata kirinya dengan ujung jari.
"Aduh... Mata kiri aku kelilipan, Galih," tutur Indri dengan nada agak rintih. Suara usapan lembut tangannya makin membuat matanya memerah. "Perih banget... Kayaknya ada debu kayu dari plafon yang jatuh."
"Eh, Mbak! Jangan dikucek gitu, nanti malah iritasi atau lecet matanya," potong Galih sigap. Ia memajukan posisinya mendekati Indri. "Sini, coba aku bantu lihat. Mbak diam sebentar ya, tatap ke atas."
Indri menurut. Ia memajukan wajahnya ke arah Galih dan menengadah pelan. Galih bertekuk lutut makin rapat, memiringkan kepalanya sedikit, lalu dengan lembut memegang dagu dan pelipis Indri menggunakan ibu jari dan jari telunjuknya. Dengan cermat dan perlahan, Galih mendekatkan wajahnya hingga jarak di antara hidung mereka hanya tersisa beberapa sentimeter saja.
Galih memicingkan mata, lalu memberikan beberapa kali tiupan halus dan perlahan tepat ke arah mata kiri Indri yang berair.
"Gimana, Mbak? Masih perih?" bisik Galih seraya meniupkan napasnya sekali lagi.
Indri tak langsung menjawab. Jarak mereka yang teramat dekat membuat napas hangat Galih menerpa lembut kulit pipinya. Posisi mereka yang berhadapan sangat rapat, dengan Galih memegang lembut wajah Indri dan wajah mereka saling condong mendekat, menciptakan ilusi visual yang teramat intim dari luar pintu yang terbuka.
Akan tetapi, sebelum Indri sempat merespons tiupan Galih, sebuah bayangan tubuh pria mendadak berdiri di ambang pintu kamar yang terbuka lebar.
"WADUH! Wah... wah... Berani banget kalian ya pagi-pagi begini!"
Sebuah teriakan lantang yang sarat akan nada cemooh dan rasa terkejut mendadak memecah keheningan koridor kosan.
Sontak saja, Galih dan Indri terperanjat kaget. Galih dengan refleks menarik kembali tangannya dan melompat mundur hingga punggungnya menabrak dinding kayu kamar. Indri pun buru-buru membetulkan letak daster biru mudanya seraya mengusap matanya yang masih agak basah.
Di depan pintu kamar, berdiri seorang pria berusia akhir dua puluh tahunan berkaos oblong hijau kusam dan celana jins pendek. Tatapan matanya berbinar licik, dipenuhi rasa puas seolah baru saja memergoki sebuah kejahatan besar. Pria itu adalah Ifan, salah satu penghuni lama di kosan tersebut yang memang terkenal bermulut lancang dan suka ikut campur urusan orang lain.
"Mas... Ini nggak seperti yang Mas bayangkan! Tadi Mbak Indri cuma kelilipan—" ujar Galih mencoba menjelaskan dengan napas yang mulai memburu karena panik.
"Alah! Nggak usah ngeles kamu, anak baru!" potong Ifan dengan suara sengaja diproyeksikan keras-keras agar terdengar ke seluruh penjuru koridor. "Mata matamu kelilipan! Jelas-jelas aku lihat dengan mata kepalaku sendiri dari lorong! Muka kalian nempel rapat begitu, lagi ciuman kan?! Ciuman mesra pagi-pagi di dalam kamar!"
"Mas! Sumpah, demi Allah, aku cuma niupin matanya Mbak Indri!" tegas Galih berusaha membela diri. Jantungnya berdegup kencang bagai derap genderang perang. Sebagai penghuni baru yang baru saja sehari menginjakkan kaki di perantauan, tuduhan liar seperti ini bisa menghancurkan masa depannya.
Galih lalu menoleh cepat ke arah Indri yang masih bersimpuh lemas di lantai. Ia berharap wanita itu segera membuka suara untuk meluruskan kesalahpahaman konyol ini. "Mbak Indri... Tolong jelasin ke Mas ini kalau tadi Mbak cuma kelilipan! Jelasin, Mbak!"
Namun, yang terjadi selanjutnya sungguh di luar nalar Galih.
Indri sama sekali tidak membuka mulutnya untuk membela Galih. Anehnya, wanita cantik itu hanya diam membisu. Ia menundukkan kepalanya dalam-dalam, lalu perlahan mengangkat pandangannya menatap wajah Galih. Sorot mata Indri tidak memancarkan rasa panik atau bersalah, sebaliknya, ada kilatan tatapan yang amat dingin, misterius, dan penuh arti terpancar dari bola matanya yang basah.
Melihat Indri yang hanya diam dan enggan bersuara, cengiran di wajah Ifan makin melebar puas. "Tuh, kan! Lihat! Ceweknya aja diam! Kalau nggak merasa berbuat mesum, kenapa dia nggak ngebantah?!" gertak Ifan jahat.
Tanpa mendengarkan pembelaan Galih lagi, Ifan membalikkan badan dan berteriak kencang menembus lorong kosan. "PAK YONO! PAK YONO! KESINI PAK! ADA PENGHUNI BARU LAGI MESUM SAMA INDRI DI KAMAR!"
"Mas Ifan! Jaga mulutmu, Mas!" bentak Galih panik luar biasa. Ia berdiri dan hendak mengejar Ifan, namun derap langkah kaki berat dari arah depan koridor sudah terdengar mendekat dengan sangat cepat.
Tak sampai satu menit, Pak Yono, pemilik kosan tua itu melangkah tergesa-gesa menyusuri lorong dengan wajah memerah padam oleh amarah. Di belakangnya, beberapa penghuni kosan lain mulai bermunculan keluar kamar karena penasaran, termasuk Adit yang berdiri bersandar di pintu kamarnya dengan tatapan dingin nan sinis, serta Fika yang mengintip dengan raut wajah cemas.
"Ada apa ini riuh-riuh pagi-pagi?!" gertak Pak Yono dengan suara bass-nya yang berat. Matanya yang tajam menyapu seisi kamar Galih, menatap pisang goreng, dua gelas teh, serta keberadaan Indri dan Galih yang tampak panik.
"Ini, Pak Yono!" tunjuk Ifan dengan nada memprovokasi. "Saya pergoki sendiri anak baru ini sama Indri lagi ciuman mesra di dalam kamar!"
Dada Pak Yono berombak menahan kekesalan. Ia menatap Galih dengan sorot mata menuntut penjelasan. "Benar apa yang diomongin si Ifan ini, Galih?!"
"Nggak benar sama sekali, Pak Yono!" jawab Galih dengan suara lantang dan jujur. "Saya berani bersumpah! Tadi Mbak Indri ngantar pisang goreng buat sarapan, terus matanya kelilipan debu kayu dari atas. Saya cuma bantu niupin matanya biar nggak perih! Kami sama sekali nggak melakukan hal aneh-aneh, Pak!"
Galih memegang dadanya yang bergemuruh kencang. Ia lalu berpaling sepenuhnya pada Indri yang masih terduduk di atas kain sarung. "Mbak Indri, tolong bicara, Mbak! Kasih tahu Pak Yono dan yang lain kalau aku cuma bantu niupin matamu! Tolong, Mbak!"
Seluruh pasang mata di lorong itu kini tertuju lurus pada sosok Indri.
Indri perlahan menarik napas panjang. Wajahnya yang semula tenang mendadak berubah drastis. Bahunya mulai berguncang pelan, dan secara dramatis, bulir-bulir air mata kembali menetes deras mengalir di pipinya. Wanita itu menangis terisak-isak di hadapan semua orang.
"Mbak... Kenapa menangis? Jelasin ke mereka, Mbak!" panggil Galih makin panik, firasat buruk mendadak merayapi seluruh dinding dadanya.
Indri mendongak, memandangi Pak Yono dengan raut wajah yang amat memilukan, seolah-olah dirinyalah korban yang terintimidasi.
"Pak Yono... Maafkan saya..." tutur Indri dengan suara parau yang gemetar hebat, memotong kepanikan Galih. "Semua ini salah saya... Tapi jujur... saya... saya saat ini sedang hamil, Pak..."
DEGGG!
Pengakuan Indri yang terlontar di depan seluruh penghuni kosan itu bagaikan dentuman petir yang menggelegar di tengah hari bolong. Keheningan mencekam seketika melingkupi koridor kosan. Pak Yono membelalak kaget, Ifan melongo, sementara penghuni kosan lainnya saling berbisik gempar.
Galih berdiri mematung di tempatnya. Darahnya serasa berhenti mengalir. Wajahnya memucat pasrah saat otaknya yang cerdas dengan cepat menyambungkan benang merah dari seluruh peristiwa konyol ini.
Indri sengaja tidak membantah tuduhan Ifan. Wanita yang semalam hampir bunuh diri karena frustrasi meratapi kehamilannya yang tanpa ayah itu, kini secara licik memanfaatkan situasi ini! Indri sengaja memanfaatkan kesalahpahaman konyol di antara mereka untuk menjebak Galih, seorang pemuda polos, baik hati, dan tidak punya daya di kota, agar bersedia menjadi tameng dan "suami" demi menutupi aib bayi dalam kandungannya.
"Mbak Indri... Kamu... kenapa kamu ngomong begitu...?" timpal Galih dengan suara gemetar, menatap Indri dengan pandangan tak percaya atas pengkhianatan dari wanita yang baru saja ia selamatkan nyawanya semalam.