Gu Chen hanyalah pemuda biasa yang keluarganya dihancurkan oleh kekuatan misterius. Namun, sebelum kematian menjemputnya, ia menemukan sebuah rahasia mengerikan: dunia tempatnya tinggal hanyalah papan permainan bagi makhluk-makhluk di luar pemahamannya.
Perang, kehancuran sekte, bahkan nasib para jenius ternyata telah diatur oleh tangan tersembunyi. Manusia hanyalah bidak, sementara para kultivator terkuat pun tidak lebih dari pion yang bisa dikorbankan kapan saja.
Gu Chen tidak memiliki bakat luar biasa ataupun kekuatan yang mampu mengguncang langit. Ia hanya memiliki kecerdasan, kesabaran, dan keberanian untuk menentang aturan permainan.
Namun, semakin jauh ia melangkah, semakin mengerikan kebenaran yang ditemukannya.
Jika dunia ini adalah papan permainan, maka Gu Chen akan menemukan para pemainnya—dan membunuh mereka satu per satu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bagas Hirmawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13 — Dosa dari Kehidupan Sebelumnya
“Sudah waktunya kau mengingat siapa yang kau bunuh sebelum kehidupanmu yang sekarang dimulai.”
Suara itu menggema dari lingkaran hitam di langit. Tidak keras, tetapi setiap katanya menekan pikiran Gu Chen seperti tangan tak terlihat yang berusaha meremukkan tengkoraknya.
Gu Chen mengangkat wajah. Lonceng hitam di tangannya bergetar hebat. Retakan di permukaannya semakin lebar, memancarkan cahaya merah yang berdenyut seperti jantung.
“Aku tidak mengenalmu,” katanya.
Suara dari langit tertawa pelan.
“Dahulu, kau juga mengatakan hal yang sama kepadaku.”
“Kalau kau mengenalku, turunlah dan tunjukkan wajahmu!”
“Belum waktunya.”
Gu Chen menyeringai dingin. “Kalian semua punya kebiasaan buruk. Suka berbicara dari tempat tinggi, memberikan teka-teki, lalu kabur ketika diminta menjelaskan sesuatu.”
“Dan kau masih memiliki kebiasaan buruk yang sama.”
“Apa?”
“Berpura-pura tidak takut.”
Gu Chen terdiam sesaat.
Kemudian ia mengangkat lonceng hitam lebih tinggi.
“Kalau begitu, turunlah dan lihat apakah aku masih takut setelah memotong kepalamu.”
Lingkaran hitam di langit bergetar. Untuk sesaat, Gu Chen melihat bayangan sebuah tangan raksasa muncul dari baliknya. Jari-jarinya panjang, pucat, dan dipenuhi garis-garis seperti ukiran pada papan catur.
Namun, sebelum tangan itu turun, tulisan merah muncul di udara.
\[PERINGATAN: INTERVENSI LANGSUNG DILARANG.\]
\[PEMAIN PERTAMA TIDAK MEMILIKI OTORITAS PENUH ATAS TARGET.\]
Keheningan menyusul.
Lelaki berjubah abu-abu yang sejak tadi berlutut perlahan mengangkat kepalanya. Wajahnya tampak seperti seseorang yang baru saja melihat pintu penjara terbuka setelah ribuan tahun.
“Dia tidak bisa menyentuhmu,” bisiknya kepada Gu Chen. “Setidaknya, tidak secara langsung.”
Gu Chen meliriknya.
“Kalau kau ingin membantuku, berhentilah berbisik seperti orang yang sedang merencanakan pembunuhan.”
Lelaki itu mengabaikan sindirannya. “Dengarkan baik-baik. Lonceng itu telah mengembalikan sebagian arsip yang dihapus. Selama prosesnya belum selesai, Pemain Pertama tidak dapat mengubah identitasmu sesuka hati.”
“Berapa lama?”
“Aku tidak tahu.”
“Jawabanmu selalu menyenangkan.”
“Gu Chen, kau harus memahami satu hal. Orang yang berbicara kepadamu bukan sekadar pengamat. Ia adalah orang yang menetapkan aturan permainan pertama.”
Gu Chen menatap lingkaran hitam.
“Dan dia juga orang yang menghapus identitasku?”
“Ya.”
“Lalu mengapa dia takut kepadaku?”
Lelaki berjubah abu-abu tidak langsung menjawab. Ia menatap nama Gu Chen yang melayang di udara, lalu berkata dengan suara berat, “Karena kau pernah melakukan sesuatu yang tidak pernah berhasil dilakukan siapa pun.”
“Apa itu?”
“Kau membunuh seorang pemain.”
Gu Chen merasakan jantungnya berdetak lebih keras.
Nama yang muncul pada arsip tadi kembali terlintas dalam pikirannya.
PEMAIN YANG MEMILIKI HAK ATAS IDENTITASNYA.
Jadi, seseorang pernah memiliki hak atas identitas Gu Chen. Dan dalam kehidupan yang tidak diingatnya, ia telah membunuh orang tersebut.
Namun, mengapa ia sendiri yang kemudian dihapus?
Apakah ia dibunuh sebagai hukuman? Atau justru ia berhasil melarikan diri?
“Siapa pemain yang kubunuh?” tanyanya.
Lelaki berjubah abu-abu menggeleng.
“Namanya telah dihapus bahkan dari arsip kesepuluh.”
“Kalau begitu, bagaimana kau tahu aku membunuhnya?”
“Karena aku melihat akibatnya.”
“Dan apa akibatnya?”
Lelaki itu memandang desa yang mulai dipenuhi cahaya aneh.
“Seluruh dunia kehilangan satu hari dalam sejarahnya.”
Gu Chen terdiam.
Satu hari mungkin terdengar sepele. Namun, lelaki itu melanjutkan dengan suara yang membuat bulu kuduknya berdiri.
“Bukan berarti matahari tidak terbit. Bukan berarti manusia berhenti bergerak. Dunia tetap berjalan, tetapi tidak seorang pun dapat mengingat apa yang terjadi selama dua puluh empat jam tersebut. Catatan menghilang. Ingatan berubah. Bahkan beberapa tempat mengalami perubahan bentuk.”
Ia menunjuk ke arah lonceng.
“Dan sejak hari itu, para pemain mulai menyadari bahwa permainan mereka dapat dilukai.”
Gu Chen menatap benda hitam tersebut.
“Jadi, aku adalah orang yang melukai permainan mereka.”
“Bukan hanya itu.”
Lelaki itu menelan ludah.
“Kau adalah alasan mengapa Papan Kesepuluh diciptakan.”
Lingkaran hitam di langit mendadak menyusut.
Suara dari baliknya terdengar kembali, kali ini tanpa sedikit pun kehangatan.
“Cukup.”
Satu kata itu membuat seluruh jendela di desa pecah secara bersamaan. Penduduk berteriak dan berlarian mencari perlindungan. Tanah bergetar, sementara bayangan-bayangan hitam merangkak keluar dari celah di antara bebatuan.
Gu Chen segera menyimpan lonceng ke dalam pakaiannya.
“Lin Yue! Bawa penduduk desa ke tempat aman!”
Lin Yue mengangguk, lalu berlari menuju rumah-rumah terdekat. Ia tidak lagi mempertanyakan siapa Gu Chen atau mengapa mereka terlibat dalam kejadian aneh ini. Untuk saat ini, ia memilih bertindak.
Gu Chen berbalik menghadapi bayangan-bayangan yang merayap mendekat.
Salah satunya mengambil bentuk manusia. Tubuhnya tinggi dan kurus, tanpa wajah, dengan sebuah pedang panjang yang muncul dari lengannya.
Bayangan itu menyerang.
Gu Chen menghindar ke samping, tetapi gerakannya terlambat. Ujung pedang menyayat bahunya dan membuatnya terlempar ke tanah.
Rasa sakit menyambar tubuhnya.
Ia menggertakkan gigi, lalu meraih batu di dekat kakinya dan melemparkannya ke kepala lawan. Batu tersebut menembus tubuh bayangan itu tanpa memberikan kerusakan berarti.
“Bagus,” gumam Gu Chen. “Musuh tanpa wajah yang tidak bisa dipukul. Tentu saja. Mengapa tidak sekalian membuatnya bisa memakan jiwa?”
Bayangan itu kembali menerjang.
Kali ini Gu Chen tidak mencoba menghindarinya sepenuhnya. Ia memperhatikan gerakan kaki lawan, arah pedang, serta jeda kecil sebelum setiap serangan. Makhluk itu tidak memiliki wajah, tetapi tetap mengikuti pola gerakan tertentu.
Ketika pedang kembali menyapu, Gu Chen menjatuhkan diri dan mengayunkan pisau ke bagian kaki lawan.
Pisau itu menembus bayangan.
Namun, sesaat sebelum pedang mengenai tanah, tubuh makhluk tersebut berkedip. Gerakannya terhenti sepersekian detik.
Gu Chen menyadarinya.
Setiap kali makhluk itu menyerang, ada jeda kecil ketika bentuknya menjadi tidak stabil.
Ia harus menemukan cara untuk memanfaatkan jeda tersebut.
“Lelaki berjubah abu-abu!” teriaknya. “Bagaimana cara membunuh benda ini?”
“Jangan menyerang tubuhnya!”
“Terima kasih! Saranmu sangat membantu!”
“Cari bagian yang menghubungkannya dengan papan!”
Gu Chen melirik langit. Di atas kepala makhluk itu, terdapat seutas benang hitam tipis yang membentang menuju lingkaran di langit.
Sebuah hubungan antara bidak dan pemain.
Tentu saja.
Gu Chen menyeringai.
“Kalau begitu, mari kita putuskan tali kekangmu.”
Ia berlari menuju makhluk tersebut, berpura-pura menyerang dari depan. Bayangan itu mengangkat pedangnya. Gu Chen mendadak mengubah arah, menginjak dinding rumah yang runtuh, lalu melompat ke samping.
Tangannya berhasil menangkap benang hitam itu.
Seketika, rasa sakit luar biasa menyambar seluruh tubuhnya.
Ia merasa seolah ribuan jarum menusuk tulang-tulangnya. Benang tersebut bukan benda biasa. Ia dipenuhi energi yang berusaha menghapus keberadaan siapa pun yang menyentuhnya.
Namun, Gu Chen tidak melepaskan genggamannya.
“Kalau kau ingin menghapusku,” geramnya, “setidaknya lakukan sendiri!”
Ia menarik benang itu sekuat tenaga.
Benang hitam tersebut bergetar, kemudian putus.
Makhluk tanpa wajah itu membeku.
Retakan muncul di seluruh tubuhnya. Dalam hitungan detik, ia hancur menjadi debu hitam yang terbawa angin.
Gu Chen terjatuh berlutut. Napasnya memburu, dan kedua tangannya gemetar hebat.
Namun, sebelum ia sempat beristirahat, tulisan muncul di hadapannya.
\[INTERFERENSI TERDETEKSI.\]
\[ANDA TELAH MEMUTUS HUBUNGAN ANTARA BIDAK DAN PENGAMAT.\]
\[KEMAMPUAN BARU TERCATAT: PEMUTUS BENANG.\]
\[PERINGATAN: KEMAMPUAN INI TIDAK DAPAT DIGUNAKAN TANPA RISIKO.\]
Gu Chen menatap tulisan tersebut.
“Jadi, sekarang aku bisa memutus hubungan antara bidak dan pengamat?”
Lelaki berjubah abu-abu mendekat dengan wajah serius.
“Jangan terlalu senang. Kau tidak memutus hubungan itu secara permanen. Kau hanya memutus saluran yang digunakan makhluk tersebut untuk mempertahankan bentuknya.”
“Apakah itu berarti aku bisa melakukan hal yang sama kepada para pemain?”
“Tidak.”
“Kenapa?”
“Karena kau bahkan belum memiliki kekuatan untuk menghancurkan satu bidak tingkat tinggi. Memutus hubungan seorang pemain dengan dunia ini jauh lebih sulit.”
Gu Chen berdiri sambil menahan sakit.
“Bagus. Berarti aku hanya perlu menjadi lebih kuat.”
“Kau masih tidak mengerti.”
Lelaki itu menatapnya tajam.
“Setiap kali kau menggunakan kemampuan tersebut, sesuatu di dalam dirimu akan terbangun. Dan jika sesuatu itu bangun sepenuhnya, kau mungkin tidak lagi menjadi Gu Chen.”
Gu Chen tidak menjawab.
Ia teringat sosok berjubah hitam di balik pintu. Sosok yang memiliki wajahnya sendiri dan duduk di atas takhta yang dikelilingi ribuan bidak hancur.
Mungkin itulah yang dimaksud lelaki tersebut.
Namun, ia tidak akan berhenti hanya karena kemungkinan buruk menunggunya di akhir jalan.
Ia telah kehilangan ayahnya. Ia hampir kehilangan identitasnya. Bahkan dunia tempatnya hidup tampaknya dapat mengubah sejarah sesuka hati.
Apa lagi yang bisa ia takutkan?
Ketika langit mulai kembali normal, Lin Yue berlari menghampiri mereka.
“Penduduk desa sudah berkumpul di alun-alun. Beberapa orang terluka, tetapi sebagian besar selamat.”
Gu Chen mengangguk. “Bagus.”
Lin Yue memperhatikan luka di bahunya.
“Kau terlihat seperti baru saja dihajar sepuluh orang.”
“Enam.”
“Apa?”
“Aku menghitungnya. Hanya enam orang yang benar-benar berhasil memukulku.”
Lin Yue menatapnya tanpa ekspresi.
“Kau tahu, terkadang aku bertanya-tanya apakah kepalamu terluka sejak lahir.”
“Mungkin. Tapi setidaknya kepalaku masih berada di tempatnya.”
Lin Yue hendak membalas ketika ia melihat tulisan yang masih melayang di udara. Nama Gu Chen perlahan menghilang, tetapi satu baris tetap terlihat.
PAPAN KESEPULUH: STATUS TIDAK DIKETAHUI.
Gadis itu menunjuknya.
“Apa maksudnya Papan Kesepuluh?”
Gu Chen menoleh kepada lelaki berjubah abu-abu.
“Kurasa sekarang saat yang tepat untuk menjelaskan semuanya.”
Lelaki itu memandang mereka bergantian, lalu menghela napas.
“Papan Pertama mengatur kelahiran. Papan Kedua mengatur kematian. Papan Ketiga mengatur ingatan. Papan Keempat mengatur hubungan antara sebab dan akibat. Papan Kelima mengatur kemungkinan. Papan Keenam mengatur ruang. Papan Ketujuh mengatur waktu. Papan Kedelapan mengatur kehendak. Papan Kesembilan mengatur batas antara dunia.”
Ia berhenti sejenak.
“Dan Papan Kesepuluh tidak mengatur apa pun. Ia menyimpan sesuatu yang tidak dapat dikendalikan oleh sembilan papan lainnya.”
Lin Yue mengerutkan kening.
“Apa yang disimpannya?”
Lelaki itu menatap Gu Chen.
“Segala sesuatu yang seharusnya tidak pernah ada.”
Gu Chen merasakan lonceng di dalam pakaiannya bergetar pelan.
“Termasuk aku?”
“Termasuk dirimu.”
Keheningan menyelimuti mereka.
Lalu Gu Chen bertanya, “Di mana Papan Kesepuluh berada?”
Lelaki itu menggeleng.
“Tidak ada yang mengetahui lokasinya. Bahkan para pemain hanya mengetahui bahwa papan tersebut pernah ada.”
“Kalau begitu, bagaimana kau tahu aku adalah alasan papan itu diciptakan?”
“Karena sebelum identitasmu dihapus, ada satu pesan yang berhasil lolos dari pemusnahan arsip.”
Lelaki itu mengangkat tangannya. Di telapak tangannya muncul selembar kertas tipis berwarna hitam.
Ia menyerahkannya kepada Gu Chen.
Di atas kertas tersebut terdapat sebuah kalimat yang ditulis dengan tinta merah.
JIKA ANAK ITU KEMBALI, JANGAN BIARKAN IA MENEMUKAN PEMILIK NAMA PERTAMANYA.
Di bagian bawah terdapat sebuah tanda tangan.
Gu Yuan.
Gu Chen membaca pesan itu dua kali.
Ayahnya telah mengetahui bahwa ia akan kembali. Ia bahkan meninggalkan peringatan agar putranya tidak menemukan pemilik nama pertamanya.
Namun, mengapa?
Apakah orang tersebut adalah pemain yang pernah dibunuh Gu Chen? Atau justru sosok yang berada di balik pintu hitam?
“Siapa yang menyimpan pesan ini?” tanyanya.
“Aku.”
“Kenapa kau tidak memberikannya sejak tadi?”
“Karena aku ingin memastikan apakah kau benar-benar telah mengingat sesuatu.”
Gu Chen melipat kertas itu dan memasukkannya ke dalam saku.
“Kalau begitu, kau pasti juga mengetahui sesuatu tentang ayahku.”
Lelaki itu mengangguk.
“Aku tahu tempat terakhir Gu Yuan menyembunyikan dirinya sebelum dibunuh.”
Gu Chen langsung menatapnya.
“Di mana?”
“Di reruntuhan sebuah kota yang telah dihapus dari peta. Kota itu berada di utara Pegunungan Tulang Kelabu, di wilayah yang sekarang dikenal sebagai Tanah Tanpa Nama.”
“Berapa jauh?”
“Sekitar tujuh hari perjalanan, jika kalian tidak bertemu masalah.”
Gu Chen menatapnya datar.
“Dengan pengalaman kita sejauh ini, aku memperkirakan kita akan bertemu masalah dalam waktu tujuh menit.”
Untuk pertama kalinya, lelaki berjubah abu-abu tertawa.
“Sekarang aku mengerti mengapa Gu Yuan memilihmu.”
Gu Chen tidak ikut tertawa.
“Aku belum selesai. Kau akan ikut bersama kami.”
Senyuman lelaki itu menghilang.
“Aku tidak bisa.”
“Kenapa?”
“Karena aku adalah orang yang membunuh Gu Yuan.”
Udara seolah membeku.
Lin Yue langsung mengangkat busurnya. Gu Chen tidak bergerak, tetapi tangannya perlahan menggenggam gagang pisau.
Lelaki itu menundukkan kepala.
“Aku tidak membunuhnya karena kebencian. Aku menjalankan perintah yang diberikan oleh seseorang yang memiliki otoritas lebih tinggi dariku.”
Gu Chen menghunus pisaunya.
“Siapa yang memberikan perintah itu?”
Lelaki itu mengangkat wajah.
“Pemain Pertama.”
Gu Chen menatapnya lama. Kemudian ia melangkah mendekat dan menempelkan ujung pisau ke leher lelaki tersebut.
“Kalau begitu, berikan satu alasan mengapa aku tidak seharusnya membunuhmu sekarang.”
Lelaki itu tidak melawan.
“Karena Gu Yuan masih hidup ketika aku meninggalkannya.”
Gu Chen membeku.
“Apa?”
“Aku melihat tubuhnya terjatuh. Aku melihat darahnya mengalir. Namun, ketika aku kembali beberapa saat kemudian, tubuhnya telah menghilang. Tidak ada mayat. Tidak ada jejak energi. Hanya ada sebuah pesan di dinding.”
Lelaki itu menelan ludah.
“Pesan itu berbunyi: Kematian telah ditolak oleh pemiliknya.”
Gu Chen merasakan tangannya bergetar.
Ayahnya telah mati di hadapannya. Ia sendiri yang menguburkan tubuh lelaki itu. Namun, sekarang seorang pria mengaku bahwa kematian Gu Yuan mungkin tidak sesederhana yang selama ini ia percayai.
“Jadi, kau mengatakan ayahku masih hidup?”
“Aku tidak tahu.”
“Kalau kau berbohong…”
“Aku akan membiarkanmu membunuhku.”
Gu Chen menatap mata lelaki tersebut. Ia ingin membencinya. Ia ingin mengakhiri hidup orang yang mengaku telah membunuh ayahnya.
Namun, ada sesuatu dalam penjelasannya yang tidak sesuai dengan kebohongan biasa.
Bukan berarti lelaki itu dapat dipercaya.
Hanya saja, membunuhnya sekarang mungkin akan mengubur satu-satunya petunjuk yang tersisa.
Gu Chen akhirnya menarik pisaunya.
“Kau akan ikut bersama kami.”
Lelaki itu mengangguk pelan.
“Baik.”
“Dan jangan mencoba melarikan diri.”
“Aku tidak akan melakukannya.”
“Bagus. Kalau kau berbohong, aku akan memotong kakimu terlebih dahulu. Dengan begitu, kau tidak perlu repot berlari.”
Lin Yue menatap Gu Chen dengan wajah lelah.
“Bisakah kau tidak mengancam setiap orang yang kita temui?”
“Bisa.”
Gu Chen menyarungkan pisaunya.
“Aku hanya tidak ingin mereka merasa diabaikan.”
Lin Yue menutup wajahnya dengan satu tangan.
Sementara itu, jauh di atas dunia, di sebuah ruangan yang tidak mengenal waktu, seorang sosok bertopeng berdiri di hadapan papan raksasa.
Satu bidak hitam telah bergerak keluar dari kotak yang ditentukan.
Di sebelahnya, sebuah kursi kosong mulai retak.
Sosok bertopeng itu menunduk.
“Pemain Pertama, penghapusan telah gagal. Arsip yang hilang mulai kembali.”
Dari balik topeng terdengar suara dingin.
“Aku tahu.”
“Apakah kita harus mengirim pemain kedua?”
“Tidak.”
Sosok tersebut mengangkat satu tangan dan menyentuh bidak hitam yang mewakili Gu Chen.
“Biarkan dia menemukan kota itu.”
“Namun, jika dia menemukan Gu Yuan—”
“Justru itulah yang kuinginkan.”
Topeng tersebut perlahan terangkat.
Di baliknya terdapat wajah yang sangat mirip dengan Gu Chen.
Hanya saja, rambutnya putih seluruhnya, dan di mata kirinya terdapat sebuah simbol berbentuk lingkaran kosong.
Ia tersenyum tipis.
“Biarkan anak itu menemukan ayahnya.”
Lalu ia berbisik kepada papan raksasa itu.
“Karena kali ini, aku akan membunuh mereka berdua dengan tanganku sendiri.”
Bersambung ke Bab 14.