NovelToon NovelToon
Aku Mengulang Kematian Dalam Hitungan Detik

Aku Mengulang Kematian Dalam Hitungan Detik

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Action / Fantasi
Popularitas:427
Nilai: 5
Nama Author: ViNZ idk

Di dalam Menara Terkutuk yang membelah peradaban Valenthia, kaum jelata dilemparkan ke garis depan sebagai pasukan tumbal bagi kemuliaan para bangsawan darah biru. Ren, seorang prajurit buangan, dijatuhi vonis mati di Lantai 10 saat monster Chimera menerkam barisan mereka.

Namun ketika ajalnya tiba, waktu terputar mundur puluhan detik ke belakang. Terjebak dalam lingkaran maut yang tak berujung, Ren mengumpulkan ingatan dari setiap kematian untuk memetakan jalur bertahan hidup—merobek tirani aristokrasi dan memimpin para penyintas menembus Koloseum Darah Lantai Menara.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ViNZ idk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 29

Angin sejuk yang berhembus dari celah kubah amfiteater perlahan menepis sisa bau asam dan belerang yang menyesakkan dada.

Di tengah amfiteater batu andesit yang telah bersih dari kabut darah, Julius von Ravensburg duduk terikat pada sebongkah batu pilar yang patah. Kedua pergelangan tangannya terkunci rapat oleh borgol besi hitam penekan mana. Cahaya keemasan yang memancar dari Gerbang Ascensi Lantai 16 menyinari wajah sang komandan muda yang coreng-moreng oleh jelaga dan tanah, merenggut seluruh keangkuhan bangsawan yang biasa ia pamerkan di hadapan para prajurit.

Elise melangkah ke hadapan pria itu. Di tangan kanannya, sang putri bangsawan memegang sebuah kristal rekam sihir berbentuk prisma segi delapan. Kristal pusaka Wangsa Althea itu memancarkan pendar perak lembut, memproyeksikan rekaman visual yang berputar di udara terbuka.

Bayangan sihir itu memperlihatkan setiap jengkal tindakan Julius di medan laga: saat ia memerintahkan penutupan paksa gerbang keluar di Lantai 10, saat ia memerintahkan korps sihir menembaki barisan pelopor di Lantai 14, hingga detik ketika ia melepaskan tombak petir ke arah punggung Ren di tengah amukan Agares. Rekaman visual itu begitu terang dan jernih, tanpa celah manipulasi apa pun.

Julius menatap proyeksi cahaya itu dengan mata melebar ketakutan. Napasnya tersengal menahan rasa ngilu dari bahu kirinya yang dibalut kain kasar.

“Kristal itu…” bisik Julius dengan bibir bergetar, suaranya parau bercampur kepanikan. “Elise, kau… sejak kapan kau menyalakan kristal rekam resmi kekaisaran?”

“Sejak hari pertama ekspedisi ini memasuki parit Lantai 10,” jawab Elise dengan suara tenang namun menusuk dingin. “Aku bersumpah di hadapan altar keluargaku untuk mencatat kebenaran ekspedisi, bukan menutup-nutupi kejahatan seorang perwira yang menjual nyawa pasukannya demi kemuliaan palsu.”

Julius menggelengkan kepalanya dengan liar, berusaha menegakkan punggungnya yang terikat ke batu.

“Kau tidak berhak menghakimiku di tempat liar ini, Elise!” teriak Julius, urat di lehernya menonjol saat ia berusaha mencari jalan keluar dari jeratan bukti di depannya. “Aku bertindak atas nama keselamatan divisi inti kekaisaran! Dalam doktrin militer darurat, pengorbanan barisan pelopor sah dilakukan bila komandan menilai situasi mengancam keberlangsungan ekspedisi secara menyeluruh! Mahkamah Bangsawan di Valenthia akan membenarkan keputusanku!”

Paman Vargas melangkah mendekat, langkah sepatu bot bajanya menimbulkan bunyi berderak di atas lantai batu. Sang veteran melipat kedua tangannya di dada, menatap Julius dengan pandangan muak.

“Menembak komandan garis depan dari belakang saat monster sedang terpojok… kau sebut itu tindakan pengorbanan taktis?” dengus Vargas dengan nada mencemooh. “Bocah bangsawan ini tidak punya secuil pun nyali prajurit sejati. Saat bahaya datang, dia sembunyi di balik zirah emasnya. Begitu kemenangan sudah di depan mata, dia mencoba mencuri mangsa dengan membunuh orang yang membuka jalan untuknya.”

Dua puluh sembilan prajurit pelopor yang selamat berdiri mengelilingi tempat itu dalam keheningan yang mencekam. Di mata mereka yang letih, tidak ada lagi rasa hormat atau ketakutan terhadap kresta burung rajawali Ravensburg yang kini tergeletak patah di tanah. Mereka adalah saksi hidup dari kekejian yang dirancang secara sadar oleh pria di hadapan mereka.

“Bawa dia turun bersama sepuluh ksatria pengawal Althea,” perintah Elise seraya menoleh kepada kapten pengawalnya. “Gunakan jalur lift logistik darurat di menara barat yang telah disucikan. Serahkan dia dan kristal rekam ini langsung ke tangan garnisun tetap di Lantai 1 untuk dicatat dalam arsip pengadilan militer kekaisaran. Pastikan segel rantai mana tidak dibuka selama perjalanan.”

Elise mengeluarkan gulungan perkamen segel lilin perak dari balik ikat pinggangnya, menuliskan catatan resmi deposisi medan tempur dan menandatanganinya dengan cincin stempel Wangsa Althea.

Julius tersentak mendengar perintah itu. Wajahnya yang pucat kian memutih bagai dinding kapur saat menyadari apa artinya rekaman kristal dan deposisi itu jika sampai ke tangan komando pusat di lantai bawah.

“Elise! Jangan lakukan ini!” jerit Julius seraya berusaha meronta dari ikatan rantainya. “Ayahku akan menghancurkan nama keluargamu di dewan bangsawan! Kau akan kehilangan hak waris dan dicap sebagai sekutu kaum pemberontak! Elise!”

Dua ksatria Althea berzirah lengkap tidak mempedulikan lolongan sang bangsawan. Mereka mencengkeram lengan Julius dan menyeretnya bangkit, membawanya melangkah menjauhi amfiteater menuju lorong barat di bawah pengawalan ketat tombak terhunus. Suara ratapan dan ancaman kosong Julius berangsur-angsur tenggelam oleh desau angin yang mengalir di sepanjang koridor batu.

Keheningan kembali menyelimuti koloseum.

Ren menghembuskan napas panjang, meluruskan punggungnya yang terasa kaku. Rasa nyeri di sekujur tubuhnya telah banyak berkurang setelah Shizuka membersihkan luka bakarnya dengan cairan herbal penyejuk saraf.

Di dekat reruntuhan altar utama, sebuah bongkahan batu kristal hitam berukuran sekepalan tangan tergeletak di antara tumpukan abu Agares. Kristal itu memancarkan denyut energi hangat yang stabil, sisa intisari murni sang raksasa purba yang telah terbebas dari kutukan darah menara.

Ren melangkah mendekati altar tersebut, lalu memungut kristal hitam itu dari lantai. Saat jemarinya menyentuh permukaan kristal yang halus, aliran panas yang lembut merambat naik ke lengannya, meredakan ketegangan sirkuit energi di dalam tubuhnya yang sempat kelelahan akibat puluhan kali regresi waktu.

“Itu kristal inti Agares,” ucap Elise yang melangkah menghampiri Ren dari belakang. Matanya menatap batu tersebut dengan rasa takjub. “Batu itu menyerap hukum pertahanan lantai selama ratusan tahun. Di tangan pandai besi yang tepat, inti ini bisa ditempa menjadi pelindung atau bilah pusaka yang tak mempan ditembus sihir kutukan.”

“Kita simpan ini untuk persiapan di lantai atas,” kata Ren seraya memasukkan kristal itu ke dalam kantung kulit tebal di pinggangnya. “Kita tidak tahu ancaman macam apa yang menanti di atas awan Lantai 16.”

Di sudut timur amfiteater, Paman Vargas dan Riku telah membongkar peti-peti perbekalan perang milik regu pengawal Ravensburg yang tertinggal di arena. Peti-peti kayu ek berukir itu sebelumnya dikunci rapat dengan gembok tembaga tebal, berisi ransum mewah dan perlengkapan cadangan kualitas tinggi yang sengaja disembunyikan Julius dari para prajurit jelata.

“Lihat ini, Ren!” seru Vargas sambil menendang tutup salah satu peti hingga terbuka lebar. “Daging asap kering bergaram, gandum manis, botol-botol anggur penambah stamina, dan perban linen bersih… Bajingan pirang itu menimbun ransum kelas satu di kereta logistiknya, sementara memberi kita biskuit apak yang sudah berjamur dan air sumur payau!”

Riku berseru girang saat mengeluarkan gulungan tali busur dari serat ulat sutra menara dan seikat anak panah berujung baja tempaan dingin. “Anak panah ini seimbang sekali! Batangnya dari kayu pohon besi dan matanya bergalur tajam. Jauh lebih mematikan daripada panah kayu rapuh yang dibagikan perwira di lantai bawah!”

Elise menatap tumpukan logistik itu, lalu menoleh ke arah barisan prajurit pelopor yang berdiri mengamati dari kejauhan dengan kerongkongan kering.

“Buka semua peti perbekalan itu,” kata Elise dengan tegas kepada para prajurit. “Bagi rata seluruh makanan, obat-obatan, dan senjata cadangan kepada setiap orang yang ada di sini. Tidak ada pembagian kasta. Siapa pun yang berdiri dan menumpahkan darah di amfiteater ini berhak mendapatkan perlengkapan terbaik untuk melanjutkan perjalanan.”

Sorak kelegaan terdengar dari para prajurit yang segera mendekat untuk mengambil bagian mereka. Untuk pertama kalinya dalam sejarah ekspedisi Batalion ke-7, para kuli angkut dan prajurit garis depan menikmati ransum daging kering berkualitas dan meminum air bersih tanpa perlu memohon atau mencuri dari gudang perwira.

Shizuka membagikan botol-botol salep antiseptik dan cairan penurun demam kepada prajurit yang terluka, merawat pergelangan kaki yang terkilir dan membebat luka gores senjata dengan teliti. Ia juga mengumpulkan botol-botol ekstrak daun perak penangkal racun dan membagikannya ke dalam kantung perbekalan masing-masing regu.

“Minum setengah takaran jika dada kalian mulai terasa sesak oleh udara tipis di tangga atas,” pesan Shizuka lembut kepada seorang prajurit muda yang pergelangan tangannya baru saja diperban.

Suasana tegang yang selama berhari-hari mencekik rombongan itu perlahan mencair, digantikan obrolan hangat dan rasa kebersamaan yang terjalin erat di antara para penyintas.

Dari dua puluh sembilan prajurit pelopor yang selamat, sembilan orang yang menderita luka berat pada persendian dan patah tulang memutuskan untuk ikut turun bersama regu pengawal Althea menuju pangkalan Lantai 1. Mereka telah memberikan seluruh tenaga mereka di medan tempur dan tidak lagi memiliki ketahanan fisik untuk menghadapi badai di lantai atas.

Dua puluh prajurit jelata lainnya, bersama Vargas, Shizuka, dan Riku, memilih untuk tetap berdiri di sisi Ren. Mereka adalah orang-orang yang telah menyaksikan keajaiban panduan taktis Ren di parit-parit maut, orang-orang yang menolak kembali menjadi budak kekaisaran di daratan bawah.

Di tengah pembagian logistik itu, Elise membuka sebuah peti kayu besi yang terletak di bagian terdalam kereta perbekalan. Di dalamnya tersimpan sebilah pedang panjang dengan sarung kulit hitam berhias pelat perak halus, serta sehelai jubah pelindung kelabu tebal bertatahkan benang penangkal dingin.

“Ini perlengkapan cadangan milik perwira tinggi pengawal Althea,” ucap Elise seraya menyerahkan pedang dan jubah itu kepada Ren. “Bilahnya ditempa dari baja perak campuran yang mampu menahan benturan kinetik tinggi tanpa mudah retak, dan jubah ini ditenun dengan bulu binatang kutub menara untuk menahan suhu beku di ketinggian. Senjata lamamu sudah hancur lebur di pertempuran tadi. Kau membutuhkan bilah yang bisa diandalkan untuk menebas monster di lantai-lantai berikutnya.”

Ren menerima pedang itu, menarik bilahnya keluar beberapa jengkal dari sarungnya. Logam perak pedang itu memantulkan kilau cahaya fajar yang tajam dan jernih, bobotnya terasa seimbang dan mantap di genggaman tangannya. Tidak terlalu berat untuk ayunan cepat, namun cukup kokoh untuk menangkis sabetan cakar monster buas.

“Terima kasih, Nona Elise,” ucap Ren seraya menyarungkan kembali pedang tersebut dan mengikatkannya ke pinggang kirinya. Ia lalu mengenakan jubah kelabu tebal itu di bahunya, merasakan kehangatan kain tenun yang langsung mengusir sisa rasa dingin di kulitnya.

Di lantai arena yang mulai tenang, para prajurit mulai merapikan ransel, mengencangkan tali zirah, dan memeriksa ketajaman mata tombak masing-masing.

Ren melangkah ke tengah pelataran, menatap Gerbang Ascensi Lantai 16 yang terbuka lebar di hadapan mereka. Di balik lengkungan gerbang emas itu, deretan anak tangga marmer putih membentang naik menembus lapisan kabut tebal, menuju hamparan langit terbuka yang belum pernah diinjak oleh pasukan ekspedisi sebelumnya.

Perjuangan berdarah di makam pasukan tumbal telah usai. Namun di atas sana, misteri dan keganasan sesungguhnya dari Menara Terkutuk baru saja akan dimulai.

1
Lusiana Dewi ♥
mengerikan
Lusiana Dewi ♥
sungguh kejam 😡
Lusiana Dewi ♥
mengerikan kuku nya besar lemari /Scare/
Lusiana Dewi ♥
kasihan /Cry/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!