"Gue capek jadi badut. Mulai hari ini, lo bebas dari gue."
Selama tiga tahun di SMA Nusantara, semua orang tahu kalau Elsa Nur Cahyani adalah cegil (cewek gila) garis keras yang bucin mati-matian ke Muhammad Firdaus, Ketua OSIS sempurna yang sedingin es. Elsa rela dipermalukan, jadi seksi sibuk OSIS tanpa dibayar, sampai dihukum lari keliling lapangan demi cari perhatian Firdaus. Hasilnya? Nol besar. Firdaus tetap menganggap Elsa gangguan yang tidak punya harga diri.
Titik balik itu datang di hari ulang tahun Firdaus. Setelah kuenya dihancurkan dan cintanya ditolak mentah-mentah di depan satu sekolah, Elsa sadar: dia sudah selesai. Elsa memutuskan pensiun jadi budak cinta. Dia berubah total—menjadi cuek, fokus pada ujian, dan benar-benar menganggap Firdaus tidak ada.
Tapi anehnya, saat Elsa melangkah pergi, justru Firdaus yang mulai kehilangan arah. Cowok yang tadinya antipati itu mendadak sadar kalau dunia tanpa gangguan Elsa ternyata terasa sangat sepi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rofiwan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perkataan Menusuk Elsa 18.
Aroma buku tua dan wangi karbol pembersih lantai di perpustakaan SMA Nusantara biasanya menjadi tempat paling damai bagi Firdaus.
Namun sore ini, ruangan sunyi itu terasa mencekik. Di pojok paling belakang, dekat deretan rak buku biologi yang berdebu, Elsa sedang duduk sendirian.
Dia tidak sedang belajar.
Gadis itu hanya menatap kosong ke luar jendela, memperhatikan rintik hujan yang membasahi kaca. Posisinya persis seperti sore kelam di koridor waktu itu.
Langkah sepatu Firdaus sengaja diperlambat. Dadanya bergemuruh hebat.
Bayangan tatapan mengejek Aris dan ingatan tentang gelang rajutan di tempat sampah basah berputar-putar di kepalanya seperti kaset rusak.
“Lo itu egois, Daus. Lo gak mau memiliki dia, tapi lo juga gak sudi liat dia bahagia sama orang lain.”
Firdaus menarik napas dalam, mencoba mengusir suara Aris dari benaknya.
Dia menegakkan bahu, mengembalikan wibawa sang Ketua OSIS yang sempat runtuh.
Dia melangkah mendekat, lalu menarik kursi kayu di hadapan Elsa tanpa permisi.
Suara derit kursi membuat Elsa menoleh.
Mata bulat yang dulunya selalu berbinar jenaka setiap kali melihat Firdaus, kini benar-benar redup. Kosong. Bahkan tidak ada riak terkejut sedikit pun saat melihat cowok yang tiga tahun ini dia gilai duduk di depannya.
"Gue mau ngomong," buka Firdaus. Suaranya terdengar agak serak, egonya yang setinggi langit mendadak terasa mengganjal di tenggorokan.
Elsa tidak menyahut. Dia hanya menaikkan sebelah alisnya, menunggu dengan raut wajah jengah.
Firdaus berdeham, tangannya di bawah meja meremas lututnya sendiri. "Soal Aris. Gue minta lo jauhi dia. Dia berandal, Sa. Dia cuma bakal bawa pengaruh buruk buat nilai-nilai lo. Akhir-akhir ini lo sering bolos, kan?"
Mendengar itu, Elsa justru terkekeh. Terdengar renyah, tapi sangat sinis. Dia menutup buku novel di depannya dengan ketukan pelan.
"Kak Ketua OSIS yang terhormat," ucap Elsa, menopang dagunya dengan sebelah tangan. "Lo sengaja nyamperin gue ke pojokan perpus cuma buat khotbah tentang kedisiplinan? Kurang kerjaan banget."
"Gue serius, Elsa Nur Cahyani!" Firdaus menaikkan nada suaranya satu oktav, membuat penjaga perpus di meja depan berdeham memperingatkan. Firdaus menurunkan egonya lagi, memajukan tubuhnya. "Gue... gue gak suka liat lo dekat sama dia. Lo berubah banyak sejak hari itu. Lo bukan Elsa yang gue kenal."
"Elsa yang lo kenal?" Elsa memotong, tatapannya menembus langsung ke manik mata Firdaus. "Maksud lo, Elsa si cewek murahan yang hobi malu-maluin diri sendiri demi lo? Elsa yang rela dikurung di gudang OSIS, Elsa yang selalu lo bentak dan lo usir kayak hama?"
Setiap kata yang keluar dari bibir Elsa seperti belati tipis yang mengiris perlahan dada Firdaus.
"Bukan gitu..." Firdaus terbata. Lidahnya yang biasa pintar berdebat di forum mendadak kelu. "Gue cuma mau... lo balik kayak dulu."
Kalimat itu akhirnya lolos. Kalimat paling egois yang pernah Firdaus ucapkan seumur hidupnya. Dia merindukan gangguan itu. Dia merindukan bekal jam empat pagi yang dulu selalu berakhir di tong sampah. Dia merindukan eksistensi cewek yang menganggapnya sebagai pusat semesta. Setelah Elsa pergi, dunia Firdaus mendadak menjadi ruang hampa yang sesungguhnya.
Elsa terdiam sejenak. Dia menatap Firdaus dari ujung rambut hingga pin OSIS di dadanya, persis seperti cara Aris menatap cowok itu tadi.
"Sorry, gue pensiun jadi pemuja lo, Kak Daus. Bukannya itu yang lo mau, Hm?" Katanya dengan nada yang teramat dingin, nyaris tanpa riak emosi.
"Sa, gue—"
"Lo yang bilang sendiri, kan? Lo risi. Sangat risi," potong Elsa lagi, suaranya tenang namun telak menghantam ulu hati Firdaus. "Gue udah kabulin kemauan lo. Gue udah hilang dari radar lo. Gue udah gak pernah lagi muncul di depan muka lo. Sekarang, pas gue udah sadar kalau harga diri gue jauh lebih mahal dibanding cowok gak punya hati kayak lo... kenapa lo malah ngerasa kehilangan?"
Firdaus terpaku. Wajahnya mendadak pias. Kata-kata Elsa adalah tamparan kenyataan yang paling mematikan.
"Gue gak maksud ngomong kasar waktu ulang tahun gue, Sa. Gue cuma... gue gak terbiasa sama cara lo," Firdaus mencoba membela diri, menyodorkan pembenaran yang terdengar sangat menyedihkan di telinganya sendiri.
"Udah telat, Daus." Elsa bangkit berdiri. Dia menyampirkan tas ranselnya ke bahu sebelah kanan. Gerakannya santai, tidak ada lagi ketergesaan atau kegugupan seorang cegil yang salah tingkah di depan pujaan hati.
Elsa menatap Firdaus dari atas. "Tiga tahun gue jadi batu yang lo tetesi minyak tanah sampai hangus. Sekarang batunya udah hancur, udah jadi abu, dan ditiup angin. Jangan harap abu itu bisa lo susun lagi jadi batu yang sama."
"Elsa, tunggu—" Firdaus refleks berdiri, tangannya terulur hendak menahan pergelangan tangan Elsa.
Namun, sebelum kulit mereka bersentuhan, sebuah tangan kekar berkulit sedikit tan mencengkeram pergelangan tangan Firdaus di udara. Kuat, kasar, dan penuh ancaman.
Firdaus tersentak. Dia menoleh tajam.
Aris sudah berdiri di sana. Jaket levisnya tersampir di satu bahu, seragamnya keluar, dan sebatang permen lolipop berada di sudut bibirnya. Matanya yang cokelat gelap menatap Firdaus dengan kilat berbahaya.
"Tangan lo," desis Aris rendah, suaranya bergetar menahan geram. "Gue udah bilang kan tadi di koridor? Jangan sentuh dia."
"Aris, ini urusan gue sama Elsa! Lo gak usah ikut campur!" bentak Firdaus, mencoba melepaskan cengkeraman Aris, namun tenaga berandal sekolah itu jauh di atas rata-rata.
Aris tidak membalas ucapan Firdaus. Dia melirik Elsa yang berdiri di sampingnya. "Aman, Sa? Mau balik sekarang?"
Elsa menatap Aris, dan untuk pertama kalinya sore itu, Firdaus melihat sudut bibir Elsa terangkat tipis. Sebuah senyuman kecil yang tulus.
Senyuman yang dulu hanya menjadi hak milik Firdaus, kini diberikan Elsa kepada cowok lain di depan matanya sendiri.
Rasanya seperti jantungnya diremas hingga hancur.
"Aman. Yuk balik, Ris. Di sini udaranya mendadak bikin pengap," sahut Elsa santai.
Aris melepaskan cengkeramannya pada tangan Firdaus dengan satu sentakan kasar, membuat sang Ketua OSIS agak terhuyung ke belakang menabrak meja.
"Balik gih ke ruang OSIS, Pak Ketua. Jangan kayak bocah yang nangis pas mainannya diambil orang. Padahal lo sendiri yang buang mainan itu ke tempat sampah," bisik Aris penuh ejekan tepat sebelum dia berbalik.
Firdaus hanya bisa berdiri mematung. Dia menatap punggung Elsa yang berjalan beriringan dengan Aris menjauh menyusuri lorong perpustakaan. Elsa sama sekali tidak menoleh ke belakang. Tidak ada keraguan di langkah kakinya.
......................
...****************...
Tbc,