NovelToon NovelToon
Aku Pergi Setelah Kau Mendua

Aku Pergi Setelah Kau Mendua

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami
Popularitas:12.4k
Nilai: 5
Nama Author: kikoaiko

Naya selalu diabaikan Aslan, suaminya. Hingga suatu hari Aslan pergi dinas dan tak pulang selama tiga bulan.

Naya yang khawatir memutuskan untuk menyusulnya, Namun dia justru mendapati Aslan telah menikah siri dengan wanita lain secara diam-diam.

Tanpa marah dan tanpa meminta penjelasan, Naya memilih pergi dari kehidupan suaminya.
Namun, ketika Naya benar-benar menghilang, Aslan justru mulai menyadari bahwa kehilangan istrinya adalah kesalahan terbesar dalam hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikoaiko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 22

Aslan memarkir mobilnya di garasi dengan hati-hati. Seharian ini dia merasa lelah, setelah seharian penuh di kantor mengurus surat panggilan pengadilan, rapat dadakan dengan pengacara, dan tumpukan pekerjaan yang tertunda membuat tubuhnya terasa lega sekaligus hancur. Perutnya keroncongan karena belum sempat makan malam. Bahkan kopi terakhir yang ia minum sudah dari jam empat sore.

Ia mengeluarkan kunci, memutarnya di lubang kunci pintu utama.

Ceklek…

Pintu terbuka. Yang menyambutnya bukan cahaya hangat atau aroma masakan, melainkan kegelapan total. Tidak satu pun lampu menyala di ruang tamu. Hanya cahaya redup dari luar yang menyelinap melalui celah gorden, cukup untuk memperlihatkan siluet sofa dan meja yang kosong.

Aslan berdiri di ambang pintu beberapa detik. Suasana rumah itu sunyi. Tidak ada langkah kaki yang buru-buru mendekat. Tidak ada suara istrinya yang dulu selalu ia dengar dari Naya, meski sering ia abaikan. Tidak ada tawaran air hangat, tidak ada pertanyaan apakah ia sudah makan, tidak ada senyum lelah yang menunggu di sofa. Hanya keheningan malam yang menyesakkan dadanya.

Aslan menghela napas panjang, lalu menutup pintu itu. Setelah itu berjalan menaiki tangga dengan langkah berat. Setiap anak tangga terasa lebih tinggi dari biasanya. Di lorong lantai atas, lampu kecil masih menyala redup. Ia menuju kamar utama, kamar yang kini dia tempati dengan Liza.

Ceklek…

Pintu kamar terbuka. Di dalam, Liza bersandar santai di headboard ranjang, kaki dilipat, mata tertuju pada layar ponsel. Cahaya biru dari ponsel menerangi wajahnya. Ia menoleh ketika mendengar pintu terbuka, lalu tersenyum tipis.

“Kamu sudah pulang,” ucapnya singkat. Tidak ada gerakan untuk bangkit. Tidak ada usaha untuk mendekat.

Aslan mengangguk pelan. Ia meletakkan tas kerjanya di atas meja rias, melepas jas, lalu menjatuhkan tubuhnya ke sofa kecil di sudut kamar. Badan terasa lemah, perut semakin keroncongan.

“Kamu sudah makan malam?” tanya Liza, masih tanpa mengalihkan perhatian penuh dari ponsel.

“Belum,” jawab Aslan, suaranya serak. “Tolong buatkan aku makanan.” pinta Aslan.

Liza akhirnya menoleh sebentar, lalu kembali ke layar. “Beli saja. Aku malas memasak.” Jawaban itu keluar datar, tanpa rasa bersalah, tanpa usaha untuk merundingkan.

Aslan terdiam. Ia menatap wanita di ranjang itu, mencoba mencerna. “Kalau begitu… tolong siapkan air hangat. Aku ingin berendam. Badanku pegal.”

Liza menghela napas pendek, seolah permintaan itu memberatkan. “Sudah malam, tidak usah berendam. Kamu mandi air shower saja. Aku tidak mau ribet isi bak.”

Kalimat itu meluncur begitu saja, menolak permintaannya.

Aslan duduk diam di sofa, menatap Liza yang kembali asyik dengan ponselnya. Jari-jari wanita itu bergerak cepat di layar, sesekali tersenyum sendiri pada sesuatu yang ia baca. Tidak ada perhatian, tidak ada usaha, tidak ada rasa ingin melayani.

Dan di saat itulah, perbandingan itu datang tanpa diundang.

Dulu, ketika ia pulang larut, Naya selalu menyalakan lampu. Selalu ada makanan yang dihangatkan, meski selalu ia tolak dengan ketus tapi istrinya itu tidak pernah menyerah. Selalu ada air hangat yang disiapkan di bak, meski ia sellau menolaknya. Naya tidak pernah diminta. Ia selalu menawarkan. Bahkan ketika Aslan mengabaikan, membentak, atau pulang tanpa kabar, wanita itu tetap menyiapkan segalanya dalam diam.

Sekarang, ketika ia yang meminta, bahkan dengan tubuh lelah dan perut lapar yang ia dapatkan hanyalah penolakan berulang.

Aslan mengalihkan pandangan ke lantai. Rasa lapar di perutnya tiba-tiba terasa lebih dalam, bercampur dengan rasa kosong yang tidak bisa dijelaskan. Ia tersenyum getir sendiri, senyum yang tidak sampai ke mata.

Seperti karma. Dulu ia menolak semua yang Naya berikan tanpa diminta. Sekarang ia meminta, dan yang ia dapatkan hanyalah penolakan.

Liza di ranjang masih asyik dengan ponselnya, sama sekali tidak menyadari pergolakan di wajah suaminya. Aslan akhirnya berdiri, berjalan menuju kamar mandi tanpa mengucapkan apa-apa lagi. Ia menyalakan shower, membiarkan air dingin mengguyur tubuhnya yang lelah.

Di bawah guyuran air, ia memejamkan mata. Bayangan Naya muncul lagi, bukan Naya yang marah atau yang pergi dengan koper, melainkan Naya yang dulu selalu menunggu di sofa dengan wajah lelahnya.

Aslan menyandarkan dahi ke dinding keramik yang dingin. Air terus mengalir, membasahi rambut dan wajahnya. Rasa lapar masih ada, tapi yang lebih menusuk adalah kesadaran yang semakin jelas. Ia baru menyadari nilai dari sesuatu… setelah sesuatu itu benar-benar pergi.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Usai mandi, Aslan berdiri di depan cermin kamar sambil mengeringkan rambut dengan handuk. Air masih menetes di pelipisnya. Ia mengenakan kaos oblong abu-abu dan celana pendek yang biasa ia pakai untuk tidur, lalu keluar dari kamar tanpa mengucapkan apa-apa pada Liza yang masih asyik dengan ponselnya di atas ranjang.

Langkahnya pelan menuruni tangga. Rumah itu tetap gelap di sebagian besar ruangan. Hanya lampu kecil di dapur yang ia nyalakan. Cahaya putih itu menyinari meja dapur yang bersih, seolah sudah lama tidak digunakan untuk memasak.

Aslan membuka lemari makanan. Matanya memindai rak-rak di dalamnya. Hampir kosong, tidak ada beras dalam jumlah cukup, tidak ada bumbu lengkap. Yang tersisa hanyalah beberapa bungkus mie instan rasa ayam bawang dan sekotak telur yang masih tersisa empat butir. Kemasan mie itu terlihat agak kusam, seolah sudah tersimpan cukup lama. Aslan langsung menebak bahwa semua bahan itu sisa persediaan dari Naya.

Ia menghela napas panjang, suara napasnya terdengar jelas di dapur yang sunyi.

Dengan gerakan terpaksa, ia mengambil satu bungkus mie dan dua butir telur. Panci kecil diisi air, kompor dinyalakan. Bunyi api yang menyala terasa asing di telinganya. Dulu ia hampir tidak pernah masuk dapur, apalagi berdiri di depan kompor. Semua urusan makan selalu beres tanpa ia pikirkan. Naya yang mengurus semuanya meski tidak pernah dia makan.

Sekarang ia sendiri yang harus melakukannya.

Air mendidih. Ia memasukkan mie, lalu memecahkan telur ke dalam wajan terpisah. Bau mie instan yang biasa ia benci perlahan memenuhi dapur. Dulu Aslan paling anti dengan makanan seperti ini. Alasan kesehatan, katanya. Kadar natrium tinggi, pengawet, tidak baik untuk tubuh. Ia selalu menolak jika Naya menawarkannya, bahkan dengan wajah menyeringai enggan.

Tapi malam ini, perutnya yang lapar tidak memberi banyak pilihan.

Aslan mengaduk mie dengan sumpit sambil menatap api kompor. Pikirannya kembali ke malam-malam sebelumnya. Tentang Naya.

Sekarang, di dapur yang sama, Aslan berdiri sendirian memasak mie instan yang dulu ia hinakan.

Ketika semuanya matang, ia menuang mie ke dalam mangkuk, menaruh telur ceplok di atasnya, lalu duduk di kursi makan. Sendok ia ambil, lalu menyendok suapan pertama. Rasanya hambar, terlalu asin, dan jauh dari standar makanan yang biasa ia makan di restoran. Tapi ia tetap mengunyah.

Di tengah suapan ketiga, ia berhenti sejenak. Matanya menatap mangkuk di depannya, lalu ke arah kursi kosong di seberang meja, kursi yang dulu selalu ditempati Naya.

Senyum getir muncul di sudut bibirnya. Dulu ia menolak yang terbaik yang diberikan tanpa diminta. Sekarang ia terpaksa menerima yang paling sederhana, karena tidak ada lagi yang menyiapkan untuknya.

Aslan melanjutkan makannya dalam diam. Setiap suapan terasa seperti pengingat. Rumah ini masih berdiri, dapur ini masih ada, tapi sesuatu yang dulu menghidupkannya sudah pergi. Dan yang tersisa hanyalah mie instan, telur sisa, dan keheningan yang semakin dalam.

1
falea sezi
🤣🤣 nunggu penyesalan si bangke aslan
sunaryati jarum
🤣🤣🤣 ingin hidup mewah , dengan merebut suami orang yang bisa kau bodohi tapi dia tetap perhitungan tentang uangnya.Benarkah anak yang kau kandung benih Aslan? Emak harap bukan.Agar jika terbongkar nanti Aslan makin menyesal.😃😃
Ariany Sudjana
hahaha pelacur murahan kamu itu Liza, kamu itu hanya bisa menghabiskan uang, tapi ga bisa menghasilkan uang 🤣🤣😂😂 dan otak kamu zonk, kelas kamu jauh dibawah Naya, yang cerdas dan mandiri 🤣🤣😂😂
jadi kenapa kamu harus marah?
cinta semu 2
🤣🤣🤣🤣 pelakor bergaya elit ...dinkasih ATM langsung tancap gas belanja barang branded... sementara suami siri ny belajar hidup irit...
cinta semu 2
pelakor kelas teri mah level ny terjun ke bawah ..jaman dah canggih masih pake gaya manual🤣🤣sekalian bawa keranjang sayuran biar Aslan yakin kalo mau pergi ke pasar 😁
𝐀⃝🥀Weny
sokoooor.... itulah wanita yang kamu pilih.. ternyata mata duitaaaan.. kuras habis saja Liza uangnya biar kapok tu orang🤣🤣🤣
𝐀⃝🥀Weny
sok berkuasa 😪 padahal blm di akui secara hukum🤣🤣🤣
sunaryati jarum
🤣🤣🤣🤣 terus Liza kuras uang Aslan bersama ibumu, sebelum dibuang saat terbongkar anak dalam kandungan kamu bukan anak Aslan.
sunaryati jarum
Itu baru istri siri sudah mengacaukan pekerjaan kamu nanti setelah jadi istri sah menghancurkan perusahaan kamu 👋👋🤣🤣
Agus Tina
Rasain, memang apa si yang siharapkan dari seorang wabita yg berani menerima cinta dari pria beristri? Kekataan, ketenaraan, jadi terima saja .... itu pilihanmu Aslan ...
Sri Widiyarti
tunggu kurma otw Aslan...
Oma Gavin
rasakan itu ashlan istri siri pilihan mu bisanya habisin duit mata mu sudah ketutup selangkangannya
Ariany Sudjana
kenapa kamu harus marah Aslan? itu uangnya Naya, dan harus dia selamatkan daripada jatuh ke pelacur murahan yang ga tahu diri itu
Ariany Sudjana
baru jadi istri siri, sudah bertingkah seperti nyonya bos 😂😂🤣🤣 maklum sih orang miskin, jadi seperti kacang lupa kulitnya, karena dapat suami orang kaya, dan kelasnya jauh di bawah Naya , jadi terima saja hasil kebodohan kamu Aslan
cinta semu 2
bagus thor q suka
cinta semu 2
kapok ...kakean tingkah ...wong Lanang g bersyukur 🤭
sunaryati jarum
kok punya cuma satu bab Thoor
sunaryati jarum
Yang ada kamu masuk penjara Aslan dengan pasal perzinahan dan menikah tanpa izin lagi ada pengakuan Liza yang mengetahui Aslan pria beristri jadi dua- duanya bisa masuk penjara
Ariany Sudjana
kenapa kamu harus marah Aslan? kan ini pilihan kamu sendiri, kamu menganggap remeh Naya dan lebih mengutamakan pelacur murahan kesayangan kamu itu 🤣🤣😂😂
sunaryati jarum
Kamu entar diusir tidak jadi istri sah karena keburu terbongkar kebusukan kamu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!