NovelToon NovelToon
Jatuh Cinta Pada Musuhku Sendiri

Jatuh Cinta Pada Musuhku Sendiri

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Diam-Diam Cinta / Balas Dendam
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Uranenantios

🔥CRAZY UP🔥

Alina Prameswari ingin membersihkan nama mendiang ayahnya yang dituduh menggelapkan miliaran rupiah oleh keluarga Mahendra. Untuk membongkar kebenaran, ia harus berhadapan dengan Adrian Mahendra, CEO dingin yang ia anggap sebagai musuh.

Mereka terpaksa bekerja sama untuk mengungkap konspirasi di balik skandal perusahaan. Namun, ketika sandiwara menjadi pasangan mulai menumbuhkan perasaan, rahasia tentang kematian mantan tunangan Adrian justru mengancam menghancurkan segalanya.

Bagaimana jika pria yang paling ingin Alina jatuhkan justru menjadi orang yang paling sulit ia lepaskan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Uranenantios, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 20

Senin pagi Alina tiba lebih awal dan tidak langsung turun. Di lobi ia duduk di kursi pengunjung sampai Dimas muncul, karena lift ke arsip tidak bisa ia panggil sendiri. Stiker hari ini ia tempel lurus. Map kosong di tasnya hanya cukup untuk satu salinan, kalau salinan itu memang jadi miliknya.

“B2,” kata Dimas. “Bukan ruang baca. Yusuf sudah di bawah. Jangan anggap ruangan itu sebagai gudang yang bisa Anda buka lagi besok tanpa kertas.”

Alina ikut. “Saya tidak datang untuk membuka gudang. Saya datang untuk melihat apakah batas yang dijanjikan masih berupa batas, atau sudah berubah jadi tali.”

Dimas tidak menjawab dengan lelucon. Lift arsip menunggu mereka di ujung lorong layanan, terpisah dari lift karyawan.

Senin, 20 Oktober, Alina turun ke lantai B2 dengan badge pengunjung yang masih harus dikembalikan di lobi. Lift arsip lebih lambat. Udara di bawah terasa lebih rendah daripada di lantai tiga puluh, dan sebagian lampu menyala hanya setelah mereka melewati sensor. Di ujung koridor ada pintu brankas. Ruang Arsip Lama berada di sebelahnya: ruang kecil, tanpa jendela, meja kayu tua di tengah, empat kursi yang tidak satu set.

Dimas sudah di dalam. Sari menata pena di sisi kanan meja, tiga batang, tutupnya belum dibuka. Yusuf dari tim hukum, firma yang namanya tercetak kecil di kaki halaman, berdiri dengan map cokelat. Ia tidak membawa koper. Ia membawa kertas yang sudah cukup tebal untuk dibaca pelan.

Adrian datang terakhir. Tasnya ia letakkan di kursi yang tidak dipakai, bukan di meja. Map Koridor Timur tidak ia keluarkan.

“Kita mulai,” katanya.

Yusuf meletakkan dua salinan perjanjian di depan Alina dan Adrian, lalu satu salinan untuk arsip firma di sampingnya. “Perjanjian kerja sama terbatas. Bukan kontrak kerja. Bukan kuasa. Saya akan diam kalau ada klausul yang ingin dibaca ulang. Saya tidak akan meringkas agar lebih enak didengar.”

Alina membaca baris demi baris. Ruangan berbau kertas dan debu. Sesekali lampu sensor di koridor mati, lalu hidup lagi ketika Sari bergeser di kursinya. Tidak ada yang menyuruh Alina cepat.

Akses yang diberikan terbatas pada dokumen terkait rekonsiliasi vendor historis dan draf akuisisi Pesisir Garuda yang relevan dengan temuan yang sudah ia bawa. Ia tidak mendapat kunci data room. Ia tidak mendapat hak menghadiri rapat direksi. Setiap masuk ke area terbatas harus dengan izin, dan setiap temuan baru harus diserahkan salinannya ke Dimas sebelum dibawa ke luar gedung.

Kewajiban di sisi lain sama sempitnya. Adrian mendapat jaminan bahwa Alina tidak akan masuk tanpa izin, tidak akan membocorkan ke media, dan tidak akan membawa keluar salinan yang belum dicatat. Berlaku sampai 20 April 2027. Bisa diperpanjang atau diakhiri lebih awal dengan kesepakatan tertulis.

Alina berhenti di pasal status. “Tidak ada kalimat yang mengangkat saya menjadi karyawan.”

“Memang tidak ada,” kata Yusuf. “Anda bukan karyawan, bukan penerima kuasa perusahaan, dan bukan pihak dalam transaksi Pesisir. Kalau ada orang yang memperkenalkan Anda seperti itu, kalimat itu tidak lahir dari perjanjian ini.”

“Dan temuan yang sudah saya pegang sebelum hari ini?”

Yusuf menunjuk ayat yang ia sendiri yang menyusun. “Tidak dialihkan. Salinan temuan baru selama masa perjanjian wajib ke Pak Dimas. Materi yang sudah Anda miliki sebelum tanda tangan, termasuk yang pernah Anda tunjukkan di luar gedung, tidak serta-merta menjadi milik perusahaan. Perusahaan juga tidak wajib menganggap materi itu benar hanya karena ada di tangan Anda.”

Adrian mengangguk sekali. “Itu batasnya. Bukan hadiah.”

Alina membaca ayat kerahasiaan sekali lagi. Melanggarnya punya akibat. Yusuf tidak mengubah akibat itu menjadi ceramah. Ia hanya berkata, “Kalau ada kontak dari media, jalurnya ke Pak Dimas, sesuai yang sudah Anda bahas Jumat. Ayat ini yang membuat pembicaraan itu tidak hanya berupa janji lisan.”

“Kalau salah satu pihak ingin berhenti di bulan kedua?” tanya Alina.

“Harus tertulis,” jawab Yusuf. “Tidak cukup dengan pesan. Tidak cukup dengan tidak datang. Akses berhenti pada tanggal yang disepakati di surat itu, dan salinan temuan yang sudah diserahkan tidak ditarik kembali hanya karena salah satu pihak berubah pikiran.”

Adrian tidak menambahkan ancaman. “Enam bulan, atau lebih pendek kalau kita sama-sama menandatangani pengakhiran. Tidak ada perpanjangan otomatis.”

“Saya mengerti,” kata Alina.

Adrian meletakkan tangannya di tepi dokumen, tidak menutupi teks. “Perjanjian kerja sama terbatas enam bulan. Anda mendapat akses terbatas ke dokumen terkait rekonsiliasi vendor historis dan draf akuisisi Pesisir yang relevan dengan temuan Anda. Saya mendapat jaminan bahwa Anda tidak akan masuk tanpa izin, tidak akan membocorkan ke media, dan akan menyerahkan salinan temuan baru ke Dimas sebelum dibawa ke luar. Berlaku sampai 20 April 2027. Bisa diperpanjang atau diakhiri lebih awal dengan kesepakatan tertulis.”

“Ini bukan kerja sama karena saling percaya,” lanjutnya. “Ini karena angka yang sama mengancam kita berdua, dan karena saya lebih memilih Anda di dalam pengawasan daripada di luar sebagai ancaman yang tidak terkendali.”

Alina mengambil pena yang disiapkan Sari. Tutupnya ia letakkan sejajar dengan kertas, bukan dijatuhkan. “Saya menandatangani karena saya butuh akses untuk membuktikan ayah saya tidak menerima uang itu, bukan karena saya sudah berhenti curiga pada perusahaan ini.”

Mereka menandatangani. Tiga rangkap, halaman terakhir lebih dulu, lalu paraf di pinggir pasal yang Yusuf tandai dengan klip. Dimas menandatangani sebagai saksi. Sari menandatangani di sampingnya, tulisan rapi, tanpa coretan tambahan. Yusuf mengambil satu salinan untuk firma. Alina mengambil salinannya dan memasukkannya ke map kosong yang ia bawa sendiri, bukan ke map bermaterai perusahaan. Adrian menyimpan yang ketiga.

Tidak ada jabat tangan. Tidak ada foto. Sari mengumpulkan pena yang tidak terpakai.

“Mulai besok, badge akses terbatas akan dipersiapkan,” kata Adrian. “Sari yang akan jelaskan batasnya. Jangan coba melebihi.”

“Kalau batasnya tidak jelas, saya akan bertanya sebelum melanggar,” jawab Alina. “Bukan sesudah.”

“Bagus.”

Alina berdiri lebih dulu. Kopian di tangannya tidak ia lipat. Di pintu ia berhenti hanya untuk memastikan nama di halaman pertama tertulis lengkap: Alina Prameswari, bukan inisial yang dulu ia pakai di buku tamu. Lalu ia keluar, didampingi Sari sampai lift.

Koridor B2 sepi. Lampu menyala mengikuti langkah mereka dan mati di belakang. Di dalam lift yang naik, Alina memegang map di depan dada agar pinggirnya tidak tertekuk. Enam bulan. Cukup untuk mencari, atau cukup untuk terjebak. Ia tidak tahu yang mana. Yang ia tahu, hari ini ia tidak masuk lewat pintu servis, dan kertas di tangannya tidak mengubah siapa yang dulu dibiarkan menanggung angka Rp187 miliar di berita.

Sari tidak mengisi naik lift dengan ucapan selamat. “Besok pukul delapan empat puluh, lobi lantai dua puluh delapan. Bawa identitas. Badge tidak boleh difoto untuk disimpan orang lain.”

“Saya datang.”

Lift terbuka di lantai dasar. Alina mengembalikan stiker pengunjung. Di luar, siang Sudirman biasa saja. Ia tidak menelepon siapa pun dari pelataran.

Di Ruang Arsip Lama, Adrian tidak langsung berdiri. Ia menunggu sampai langkah di koridor hilang dan lampu sensor mati. Yusuf sudah pamit lebih dulu dengan salinannya. Sari ikut mengantar Alina. Yang tinggal hanya Dimas.

Adrian mengambil tas dari kursi. Map Koridor Timur ia keluarkan dan ia letakkan di meja kayu, di tempat perjanjian tadi berada. Amplop kecil sudah tidak tersegel rapi seperti minggu-minggu sebelumnya. Ia membuka amplop itu dan meletakkan surat pendek di atas meja, di bawah lampu yang tidak ramah pada kertas tua.

Dimas tidak langsung menyentuhnya. Ia membaca dalam diam. Tulisan Darmawan jelas.

“Baskara, hentikan pembayaran berikutnya. Halim memindahkannya lagi. Jangan simpan ini di arsip biasa.”

Dimas mengangkat wajah. “Ini...”

“Saya baru membacanya kemarin malam,” kata Adrian. “Saya belum tahu artinya penuh. Tapi nama itu ada. Dan ayah saya menulisnya kepada ayahnya.”

Dimas menatap nama di tengah kalimat, lalu menatap pintu yang sudah tertutup. “Alina tidak melihat ini.”

“Tidak hari ini.” Adrian tidak mengeraskan suara. “Kita baru saja menandatangani batas soal temuan. Surat ini bukan temuannya. Saya juga belum bisa menjelaskan pembayaran yang dimaksud tanpa mengarang. Jangan disimpan di arsip biasa. Dan jangan dijadikan kalimat di luar ruangan ini.”

Dimas mengangguk. Ia tidak memotret surat itu. Ia tidak menulis ulang isinya ke buku catatan. Buku itu, hari ini, hanya berisi jam penandatanganan dan nomor rangkap.

Mereka diam di ruangan yang berbau kertas tua. Di luar, lift naik membawa Alina kembali ke permukaan. Di dalam, surat itu tergeletak di meja kayu, membuka pintu ke arah yang belum siap mereka masuki berdua.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!