NovelToon NovelToon
Blood Reign: Queen Bangkit Dari Abu Orangtuanya

Blood Reign: Queen Bangkit Dari Abu Orangtuanya

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mafia
Popularitas:534
Nilai: 5
Nama Author: Nina1708

Dulu Queen cuma anak manja yang hidupnya aman di bawah sayap orangtuanya. Sampai malam itu, kedua orangtuanya dibunuh berdarah dingin oleh rival keluarga, Don King. Queen selamat, tapi dunianya hancur. 15 tahun kemudian dia kembali, bukan sebagai korban. Dengan taktik licik, pasukan setia, dan dendam yang membara, Queen merebut satu demi satu apa yang menjadi haknya dari musuhnya sampai seluruh dunia bawah berlutut di kakinya. Tapi dendam yang dia jalankan harus dia korban juga dengan darah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nina1708, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Fakta Baru Lagi

Happy Reading

❤❤❤❤❤❤❤

Queen menyuruh Stella maju. Stella, anak 5 tahun, adik seibu Queen dan King, adik tiri Herman? Bukan, keponakan tiri? Silsilah nya rumit. Tapi Stella adalah darah Amanda, darah yang Herman obsesif.

Stella menatap Herman, pria bau sampah itu. "Om Herman?" kata Stella polos. "Om yang di foto Mommy? Yang Mommy bilang nakal?"

Herman melihat Stella, anak kecil berambut keriting mirip Amanda. Air mata Herman jatuh lagi."Stella... kau... kau anak Amanda..." Ucap Herman.

DEG//

Queen berjongkok, sejajar dengan Herman yang berlutut. " Herman, ini Stella. Adik kami. Anak Mommy dari Daniel Russo. Bukan anak haram. Tapi anak yang Mommy sembunyikan karena takut kau bunuh dia seperti kau bunuh Mommy. Stella umur 5 tahun. Dia tidak tahu apa itu senjata, apa itu mafia. Dia hanya tahu huruf A sampai Z." Ucap Queen.

" Herman, kau punya dua pilihan malam ini. Pilihan pertama, kau lari lagi, kembali ke Al-Rashid Group, mereka akan pakai kau untuk bunuh kami lagi, dan kau akan mati di tembak polisi dalam pelarian, seperti anjing. Tidak ada yang akan ingat kau, bahkan Amanda tidak akan maafkan kau." Ucap Queen.

"Pilihan kedua..." Queen mengambil cincin berlian dari tangan Herman yang gemetar, dan memasangkan cincin itu bukan di batu nisan, tapi di jari manis Stella yang kecil, sebagai cincin mainan.

"Pilihan kedua, kau ikut kami kembali ke pelabuhan. Kau kerja di Sekolah kasih Amanda sebagai tukang kebun. Gaji kecil, tapi halal. Kau siram mawar putih di kuburan Mommy setiap hari. Kau ajari 30 anak cara tanam bunga. Dan setiap malam, kau tidur di gudang nomor 7, bukan di penjara, tapi di gudang yang kau dulu pakai untuk ikat Marco. Kau tebus dosa dengan cara jadi manusia biasa, bukan Tuan." Lanjut Queen.

Herman terpaku. Menjadi tukang kebun sekolah? Dari Tuan Muda yang kuasai Genoa, jadi tukang kebun?

Itu penghinaan terbesar bagi mafia. Tapi juga... Pengampunan terbesar.

King menambahkan, " Herman, aku dulu hampir mati di laut karena kau. Aku bisa bunuh kau malam ini dan tidak ada yang tahu. Tapi aku tidak akan. Karena Mommy ajarkan, kalau kau takut, nyalakan lilin, jangan tutup mata. Malam ini, kami nyalakan 100 lilin untuk kau, supaya kau tidak takut lagi jadi manusia biasa." Ucap King. Tuan erman menangis keras, memeluk batu nisan Nyonya Amanda.

" Amanda... aku... aku pilih jadi tukang kebun... aku... aku capek jadi monster..." Ucap Tuan Herman.

Tuan Herman menyerah. Tidak ada perlawanan. Tidak ada tembakan. Hanya tangisan pria tua yang baru sadar dia sudah buang 50 tahun hidup nya untuk obsesi.

Bruno dan yang lain nya datang, bukan untuk borgol tuan Herman, tapi kasih Tuan Herman jaket hujan.

"Ayo, tuan Herman... eh... Pak Herman... pulang... sekolah sudah siapin kamar gudang buat Bapak..." Ucap Bruno.

Tuan Herman berjalan turun bukit, diapit 100 lilin, di tengah hujan gerimis, menuju pelabuhan, menuju sekolah kasih amanda, tempat dia dulu mau bakar.

Di belakang, Queen menatap kuburan ibu nya. " Mommy, lihat, mommy... Herman pulang... bukan sebagai tyan... tapi sebagai tukang kebun... Mommy maafkan dia ya..." Ucap Queen.

Angin berhembus, mawar putih di kuburan Nyonya Amanda bergoyang, seolah mengangguk.

Tapi di kejauhan, di bawah bukit, ada mobil hitam yang sama, yang lihat 100 lilin itu. Di dalam mobil, ada pria Arab muda, anak buah Al-Rashid Group yang belum tertangkap. Pria itu telepon seseorang.

📞 "Pak, Herman menyerah. Vito jadi tukang kebun. Rencana gagal." Ucap nya.

Suara di seberang, suara tua Al-Rashid dari penjara Tripoli lewat telepon selundupan, menjawab,

📞"Kalau Herman jadi tukang kebun, kita tidak butuh Herman lagi. Kita punya kartu terakhir. Kartu yang bahkan Queen tidak tahu. Kartu... Adik kandung Queen yang sebenarnya masih hidup. Bukan Stella. Tapi... King." Ucap nya.

*********

Malam itu juga, setelah tuan Herman menyerah dan jadi tukang kebun, Queen, King, Daniel, Leila, dan Paman Cito kembali ke gudang nomor 7. Hujan masih gerimis. 100 lilin sudah padam, tapi satu lilin besar masih menyala di tengah kelas, lilin yang di nyalakan Stella untuk Om Herman yang baru jadi tukang kebun.

Tuan Herman tidur di pojok gudang paling belakang, di atas kasur tipis bekas anak pelabuhan, pakai selimut karung goni. Untuk pertama kali nya dalam 20 tahun, Tuan Herman tidur tanpa pistol di bawah bantal. Dia tidur sambil pegang sekop kecil untuk berkebun besok pagi. Air mata nya masih mengalir dalam tidur. Bukan tangis tian yang kalah perang, tapi tangis manusia yang baru sadar dia sudah buang hidup nya.

Queen menatap tuan Herman yang tidur itu. Hati.nya campur aduk. Kasihan, benci, lega, takut. Semua jadi satu.

Tapi telepon Paman Cito berdering lagi. Jam 23.14. Nomor tidak di kenal, dengan kode +218. Kode Libya.

Paman Cito angkat, pakai loudspeaker agar semua dengar.

"Pronto?" Gumam Paman Cito bingung.

Suara tua, berat, beraksen Arab kental, bahasa Italia patah-patah, tapi jelas.

📞"Halo... Keluarga Alessandro... Ini Al-Rashid... dari penjara Tripoli..."

Semua di gudang langsung berdiri. Al-Rashid. Bos teroris Libya. Ayah Leila. Yang seharus nya sudah ditangkap Interpol pagi tadi di Tripoli. Ternyata masih bisa telepon dari penjara lewat HP selundupan. Leila langsung merebut telepon.

📞"Ayah! Kenapa kau telepon lagi! Kau sudah kalah! Kau sudah masuk penjara! Jangan ganggu Queen lagi!" Ucap Leila.

Al-Rashid tertawa di seberang. Tawa serak orang tua yang sekarat tapi masih ganas.

📞"Leila... anak ku yang pintar... anak ku yang penjarakan ayah.nya sendiri... kau hebat... kau lulusan Harvard... tapi kau lupa satu pelajaran dari ayah... pelajaran paling penting dalam mafia..." Ucap Al-Rashid.

📞"Apa?" tanya Leila gemetar.

📞"Jangan pernah percaya... bahwa kau sudah menang... karena musuh yang kalah... selalu simpan satu peluru terakhir... untuk di tembakkan saat musuh sedang peluk-pelukan kemenangan..." Al-Rashid batuk keras, lalu lanjut.

📞" Raty Queen... King... kalian dengar?" Ucap nya lagi.

📞 "Saya dengar, Al-Rashid. Kau mau apa lagi? Uang 50 miliar ganti rugi sudah hakim putuskan. Herman sudah menyerah jadi tukang kebun. Kau sudah kalah." Ucap Queen. Al-Rashid tertawa lagi.

📞"Queen... Queen kecil yang pintar... kau pikir kau menang karena bakar 200 Miliar, karena menang sidang lilin... kau pikir kau Ratu yang suci... tapi kau tidak tahu... tahta yang kau duduki... itu tahta palsu..." Ucap nya.

📞 "Apa maksud mu, teroris tua!" Ucap King emosi.

📞"King... King Alessandro... atau haruskah aku panggil... King Russo?" Lanjut nya.

***********

Happy Reading Guys. 🥰🤗

1
🙈
karyanya bagus banget 😍
🙈
semangat nulisnya kak, 🤭, yokk intip karyaku kak 🤭, like komen yukk🤭
🙈: aman kak, yok nilai punya ku bestie,😋
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!