NovelToon NovelToon
Menikahi Duda Tua, Malah Dimanja Setiap Hari

Menikahi Duda Tua, Malah Dimanja Setiap Hari

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Tiri / Menikahi tentara
Popularitas:278
Nilai: 5
Nama Author: Raven Ayu

Semua orang bilang Laras sial.

Dibesarkan belasan tahun sebagai putri keluarga perwira, ia dicampakkan dalam semalam begitu putri kandung yang sesungguhnya—**Tiara**—pulang lewat tes DNA. Dan ketika Tiara menolak menikahi "duda tua beranak tiga dari kampung" yang lamarannya sudah diterima, keluarga memaksa Laras menggantikannya demi nama baik.

Sebuah desa asing. Seorang lelaki dingin dan pendiam. Tiga anak yatim yang kurus, waspada, dan salah satu balita yang bahkan belum bisa bicara. Semua menyangka Laras "menikah turun derajat" dan pasrah pada nasib.

Tak ada yang tahu—rumah termewah satu-satunya di desa itu adalah miliknya. Bahwa lelaki pendiam bernama **Arya** itu adalah **mantan perwira Kopassus** yang disegani para jenderal, seorang **konglomerat yang menyamar** di balik peternakan sapi.
Dan tak ada yang menyangka: duda "tua" yang katanya dingin itu justru **memanjakan istrinya setiap hari**—diam-diam, dengan tindakan, sampai membuat seluruh desa iri.

Sedikit demi sedikit, Laras membalik keadaan. Ia besarkan tiga anak terlantar itu menjadi anak-anak jenius. Ia permalukan satu per satu orang yang pernah memandangnya rendah. Ia bangkit dari "ibu tiri kampungan" menjadi mahasiswa UI dengan nilai tertinggi.

Tapi keluarga yang membuangnya belum menyerah. Tiara masih menginginkan segalanya yang "seharusnya" jadi miliknya. Dan rahasia asal-usul ketiga anak itu—darah keluarga konglomerat **Adiwangsa**—bisa mengubah segalanya…

*"Kamu menikahiku karena terpaksa," katanya suatu malam. "Tapi aku akan mencintaimu sampai kamu lupa pernah terpaksa."*

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raven Ayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 26

Bab 26: Bayu Memanggil Bunda

Perempuan berpakaian modis di pintu ternyata pemilik katering kecil dari desa sebelah.

Dia mencium aroma rendang saat mampir ke warung dan ingin memesan tiga kilogram untuk acara keluarga. Aku mencatat pesanan, menerima uang muka, lalu dia pergi tanpa membawa masalah apa pun. Tidak semua tatapan pada keberhasilanku ternyata menyimpan niat buruk.

Beberapa hari kemudian, wali kelas Bayu mengirim pesan tentang pertemuan orang tua murid.

Arya harus mengawasi pemeriksaan ternak, jadi aku datang bersama Sasa. Raka sudah berada di sekolah karena kelasnya belum selesai. Aku mengenakan pakaian sederhana dan membawa buku catatan, sementara Sasa duduk di kereta dorong dengan biskuit di tangan.

Bayu menungguku dekat pintu kelas. Ketika melihatku, wajahnya langsung cerah, tetapi dia tidak berlari seperti biasanya. Beberapa anak berdiri di belakangnya.

“Itu siapa?” tanya seorang anak bernama Aldi.

“Mbak Laras,” jawab Bayu.

Aldi tertawa. “Katanya bukan ibu kandungmu. Berarti kamu tetap tidak punya ibu.”

Bayu mengepalkan tangan.

Aku mendekat sebelum pertengkaran terjadi. “Siapa yang mengajarkanmu bicara begitu?”

Aldi menatapku dari atas ke bawah. “Mama bilang dia cuma ibu tiri.”

“Ibu tiri tetap anggota keluarga. Dan orang tua seharusnya mengajarkanmu tidak memakai kematian ibu orang lain sebagai bahan ejekan.”

Wajah anak itu berubah, tetapi sebelum dia menjawab, Bayu sadar kotak pensilnya tidak ada.

“Kembalikan,” katanya kepada Aldi.

“Bukan aku.”

Satu pensil Bayu menyembul dari saku seragam Aldi.

Bayu meraihnya. Aldi mendorong bahunya. Aku menangkap Bayu sebelum jatuh, lalu memanggil wali kelas, bukan membalas mendorong anak orang.

Pertemuan dimulai terlambat karena wali kelas harus membawa kami ke ruang guru. Ibu Aldi datang beberapa menit kemudian dengan wajah tidak senang.

Wali kelas lebih dulu meminta Bayu dan Aldi menunggu di kursi luar agar orang dewasa tidak berdebat di atas kepala mereka. Sasa tetap bersamaku karena tidak ada yang menjaganya. Dia duduk di pangkuanku sambil memainkan ujung kartu identitas tamu.

“Sebelum hari ini, apakah ada kejadian lain?” tanyaku kepada guru.

Guru membuka buku catatan. Dalam dua minggu terakhir, kotak makan Bayu pernah disembunyikan dan sepatunya dilempar ke belakang kelas. Bayu tidak melapor karena takut disebut pengadu.

Aku menahan marah. “Mengapa saya baru diberi tahu sekarang?”

“Kami mengira anak-anak hanya bermain. Setelah melihat dorongan tadi, saya sadar polanya berulang.”

“Kalau sesuatu membuat satu anak tertawa dan anak lain takut datang ke sekolah, itu bukan permainan.”

Guru menerima teguranku tanpa membela diri. Dia berjanji mengamati waktu istirahat, mencatat kejadian, dan menyediakan jalur laporan tanpa membuat korban berdiri di depan kelas.

“Anak laki-laki memang bercanda begitu,” katanya setelah mendengar penjelasan. “Tidak perlu dibesar-besarkan.”

Aku meletakkan kotak pensil Bayu di meja. Tutupnya retak dan dua pensil patah.

“Mengambil barang, menyembunyikan, mengejek anak yatim, lalu mendorong bukan satu candaan.”

“Aldi bilang Bayu lebih dulu merebut.”

Wali kelas meminta dua anak lain masuk sebagai saksi. Keduanya mengatakan Aldi mengambil kotak saat Bayu ke toilet. Guru juga memeriksa saku Aldi dan menemukan penghapus milik murid lain.

Ibu Aldi masih mencoba menyalahkan anak-anak yang ceroboh menjaga barang.

“Kalau barang diambil tanpa izin, yang salah pengambilnya,” kataku. “Saya tidak meminta anak Ibu dipermalukan. Saya meminta sekolah menghentikan perilakunya, mengembalikan barang, dan memastikan ejekan tentang orang tua tidak diulang.”

Wali kelas setuju membuat catatan kejadian, mengawasi Aldi selama beberapa pekan, dan menghubungi kedua orang tuanya untuk pertemuan lanjutan. Aldi diminta meminta maaf kepada Bayu serta pemilik penghapus.

“Kotak pensil yang rusak akan kami ganti,” kata ibu Aldi akhirnya.

“Silakan, tetapi yang lebih penting anak Ibu tahu kenapa tindakannya salah.”

Aku meminta Bayu masuk kembali. Guru menjelaskan bahwa melapor bukan berarti lemah dan tidak ada seorang pun boleh mengambil barang atau mengejek keluarganya. Bayu mendengarkan sambil berdiri dekat kursiku.

Ketika ditanya siapa yang menjemputnya, dia menunjukku. “Mbak Laras.”

Ada jeda kecil sebelum ia menambahkan, “Istri Ayah. Yang mengurus kami.”

Cara dia menjelaskan hubungan kami terdengar canggung, seolah masih mencari kata yang tepat. Aku tidak melengkapinya. Panggilan semacam itu tidak boleh diminta oleh orang dewasa hanya untuk memuaskan hati sendiri.

“Maaf,” gumamnya.

“Jangan ambil barangku lagi,” jawab Bayu.

“Dan jangan bilang aku tidak punya ibu.”

Aldi melirikku, lalu menunduk. “Iya.”

Aku tidak merasa menang. Anak yang belajar merendahkan orang lain sering kali hanya mengulang suara orang dewasa di rumah. Namun Bayu melihat bahwa dia tidak harus menerima ejekan agar disebut anak baik.

Seusai pertemuan, kami berjalan pulang. Raka menyusul setelah kelasnya selesai dan mendorong kereta Sasa. Bayu menggenggam tangan kiriku sepanjang jalan.

“Mbak Laras marah?” tanyanya.

“Kepada Aldi?”

“Kepadaku. Aku hampir memukul dia.”

“Marah boleh. Memukul bukan pilihan pertama. Kamu tadi berhenti dan bicara kepada guru. Itu bagus.”

Dia mengangguk, tetapi langkahnya melambat.

“Kalau aku memanggil Mbak Laras seperti anak-anak memanggil ibu mereka, boleh?”

Aku berhenti.

Bayu menatap tanah. Jemarinya yang kecil mencengkeram tanganku lebih erat.

“Panggilan apa pun boleh kalau kamu sungguh menginginkannya,” jawabku. “Tidak perlu karena Aldi atau orang lain.”

“Kalau aku panggil begitu, Mbak Laras tidak akan pergi?”

Pertanyaannya menusuk. Rupanya di balik keinginan mengganti panggilan masih ada rasa takut bahwa satu kata dapat membuatku berubah seperti perempuan yang datang sebelumku.

“Panggilan bukan tali yang mengikat orang,” kataku. “Aku tinggal karena aku memilih kalian. Kalau kamu belum siap, kamu boleh tetap memanggilku Mbak Laras selama yang kamu mau.”

Bayu memandang Raka. Kakaknya tidak mendorong atau mengangguk. Raka hanya berdiri diam, memberi adiknya ruang mengambil keputusan sendiri.

“Aku siap,” kata Bayu.

Dia menarik napas, lalu mengangkat wajah.

“Bunda.”

Satu kata itu membuat mataku langsung panas.

Aku berjongkok dan memeluknya. Bayu memeluk leherku, lebih kuat daripada saat dia pertama kali meminta nasi di dapur.

Sasa yang melihat kami ikut merentangkan tangan dari kereta. Bibirnya bergerak susah payah.

“Un... da.”

Kami semua terdiam.

Bayu lebih dulu tertawa. “Sasa juga bilang Bunda!”

Sasa menepuk-nepuk tangan, senang karena suaranya membuat semua orang memperhatikannya. Ucapannya belum jelas, hanya dua potong bunyi yang ditiru dari kakaknya. Namun bagiku, itu cukup.

Raka berdiri di belakang kereta dengan kedua tangan pada pegangan. Dia tidak ikut mengucapkan panggilan itu.

Aku juga tidak memaksanya.

Arya sudah pulang ketika kami tiba. Bayu berlari masuk dan mengumumkan, “Ayah, mulai sekarang aku panggil Mbak Laras Bunda!”

Arya menatapku. Matanya memerah tipis, tetapi dia hanya mengusap kepala Bayu.

“Bagus,” katanya.

Malam itu, setelah anak-anak tidur, aku memeriksa kamar satu per satu. Bayu tersenyum dalam tidurnya. Sasa memeluk boneka sambil sesekali membentuk bunyi kecil.

Ketika hendak menutup pintu kamar Raka, aku mendengar suaranya dari dalam gelap.

“Bun...”

Dia berhenti, lalu menarik selimut lebih tinggi seolah sedang kesal kepada dirinya sendiri.

Aku pura-pura tidak mendengar. Kututup pintu perlahan, bersandar pada dinding lorong, dan tersenyum tanpa suara.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!