NovelToon NovelToon
Jatuhkan Talakmu, Gus

Jatuhkan Talakmu, Gus

Status: sedang berlangsung
Genre:Cerai / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Dijodohkan Orang Tua / Penyesalan Suami
Popularitas:549.3k
Nilai: 5
Nama Author: SunRise510k

"Satu tahun aku menjaga kehormatan pernikahan ini. Satu tahun aku bersabar menanti kesiapanmu menyentuhku. Namun, di hari jadi pernikahan kita, Allah justru menyentakku dengan kebenaran yang mengoyak dada. Kau tidak menyentuhku bukan karena belum siap, Gus...tapi karena hatimu telah kau habiskan untuk santrimu sendiri."
Demi menjadi istri berbakti bagi Gus Reyhan, Adskhania Nayara melepas impian besarnya menjadi seorang dokter psikiater. Dia mengabdi di pesantren, dicintai mertua, dan dihormati para santri. Namun, predikat 'Ning' ternyata hanya mahkota berduri. Tepat di usia pernikahan yang pertama, Naya mendapati fakta bahwa suaminya telah menikah siri dengan seorang santriwati.
Di hadapan Sang Mertua yang menangis menahan malu atas kelakuan putranya, Naya berdiri tegak dengan sisa-sisa harga dirinya yang hancur. Tidak ada lagi air mata untuk penolakan yang sia-sia.
Dengan lantang, di atas kesuciannya yang masih utuh, Naya bersuara: "Di depan Abi dan Umi, jatuhkan talakmu, Gus!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SunRise510k, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18

Deru halus mesin sedan hitam itu akhirnya padam sewaktu ban kendaraan melintasi pelataran berkerikil halus Kompleks Pesantren Al-Ikhlas, Jombang. Udara sore di tempat ini memang tidak secanggih dan sedingin pegunungan Pacet, namun embusan angin pedesaan yang menyejukkan terasa bagai oase baru bagi paru-paru Naya.

Di hadapannya, berdiri megah ndalem utama berarsitektur joglo klasik dengan teras kayu yang begitu luas. Halamannya dipenuhi rimbun pohon mangga dan beringin tua yang meneduhkan.

Seorang kang ndalem berseragam rapi dengan sigap menyapa Abah Zaydan, lalu membantu membawakan koper-koper serta tas jinjing berisi tumpukan buku milik Naya.

"Monggo pinarak, Ning Naya," sapa kang ndalem itu dengan senyum takzim.

Naya menyunggingkan senyum tipis. Ada getaran hangat yang merayapi dadanya saat jemari kakinya melangkah melintasi ambang pintu jati ndalem utama. Rumah masa kecilnya. Tempat di mana ia tumbuh tanpa perlu memikirkan ekspektasi dingin seorang pria atau tuntutan status sosial yang mengekang.

Mereka melangkah masuk menuju ruang keluarga. Ruangan berkarpet tebal itu terasa begitu ramah, dipenuhi aroma rempah herbal dan harum bunga sedap malam yang selalu disukai ibunya. Naya mendudukkan diri di atas sofa empuk, diapit oleh Umma Mahera dan Abah Zaydan, sementara Arsyaka mengambil tempat di sofa tunggal berseberangan.

Umma Mahera menggenggam jemari Naya yang terasa dingin. Tatapan mata sang ibu dipenuhi kecemasan yang mendalam.

"Bagaimana perasaanmu sekarang, Nak?"

Naya menatap lekat paras ibunya. Tatapan mata Naya jernih, bibirnya mengukir kurva lembut yang amat tenang—sebuah ketenangan murni tanpa kepura-puraan.

"Naya sudah baik-baik saja, Umma," jawabnya halus, suaranya mengalir ringan di udara.

Abah Zaydan menghela napas berat. Pria sepuh berwibawa itu menatap putri tunggalnya dengan raut bersalah yang teramat sangat. "Maafkan Abah, Naya... Permintaan perjodohan masa kecil itu justru berakhir menghancurkan hidupmu dan menahan langkahmu selama ini."

Naya menggelengkan kepala perlahan. Ia membalas tatapan ayahnya dengan kedewasaan yang utuh.

"Perjodohan ini tidak menghancurkan Naya, Abah," tutur Naya dengan penekanan kata yang tertata rapi. "Perasaan yang ditempatkan pada tempat yang salah itulah yang merusak semuanya. Awalnya, sewaktu pertama kali menemukan kebenaran itu, Naya memang merasa dunia Naya runtuh. Tapi saat ini... Naya tidak merasakan amarah atau dendam apa pun lagi. Justru, Naya merasa sangat lega."

Arsyaka menyandarkan punggungnya ke sofa, menatap adiknya dengan binar bangga yang tak disembunyikan. "Setelah ini, istirahatlah total. Selama beberapa tahun di Al-Anwar, kamu bekerja keras tanpa jeda—mengajar di madrasah, mengurus santriwati, dan menjaga perasaan orang lain. Kamu bahkan tidak pernah mengambil hak liburmu."

Naya mengangguk setuju. "Inggih, Mas. Naya mau fokus memulihkan energi mental Naya sendiri dulu. Setelah itu... Naya ingin melanjutkan pendidikan spesialisasi di Psikologi Klinis. Naya ingin merintis klinik konseling sendiri."

"Abah dan Umma mendukung penuh apa pun keputusanmu, asal itu membuatmu bahagia dan berkembang," tegas Abah Zaydan, diiringi senyuman tulus dari Umma Mahera.

"Terima kasih banyak... karena Abah, Umma, dan Mas Arsyaka selalu ada di sisi Naya," bisik Naya lembut.

Umma Mahera langsung merengkuh tubuh putrinya itu ke dalam pelukan hangat. "Jangan pernah mengucapkan terima kasih untuk hal itu, Nak. Kamu anak kami. Sudah menjadi kewajiban dan kehormatan kami sebagai orang tua untuk menjagamu dan berdiri paling depan saat kamu dizalimi."

Di dalam dekapan ibunya, Naya memejamkan mata. Impian lama yang selama satu tahun ini terkubur di bawah bayang-bayang statusnya sebagai istri Gus—keinginan untuk menjadi psikiater dan konselor profesional—kini kembali menyala terang.

Arsyaka merogoh saku dalam jasnya, mengeluarkan sebuah dokumen tipis berlogo Universitas Airlangga Surabaya. Ia meletakkannya perlahan di atas meja kaca di hadapan Naya.

"Mas sudah cek kemarin," buka Arsyaka seraya tersenyum tipis. "Pendaftaran gelombang khusus program Pendidikan Dokter Spesialis dan Magister Psikologi Klinis di Unair masih dibuka sampai akhir bulan ini. Berkas pendaftaranmu yang dulu sempat tertunda... masih tersimpan rapi di sistem mereka. Kalau kamu siap, Mas bisa bantu urus proses administrasi ulangnya minggu depan."

Mata Naya berbinar jernih menatap lembaran berkas tersebut. Lembaran itu bukan sekadar formulir pendaftaran, melainkan pintu gerbang menuju masa depannya yang mandiri dan merdeka.

**

Sementara itu, seratus kilometer dari Jombang, hawa dingin pegunungan Pacet menggigit makin pekat di kompleks Pesantren Al-Anwar, Mojokerto.

Reyhan duduk sendirian di tepi dipan kamar utama. Ruangan itu luas, namun terasa amat mencekam dan asing baginya. Di sudut ruangan, koper-koper milik Rani tertata di dekat lemari, menandakan keberadaan wanita yang kini resmi menjadi istrinya.

Namun, raga dan pikiran Reyhan terlempar jauh.

Bayangan Naya yang menyapa santriwati dengan anggun, cara Naya menyeduh teh tanpa banyak bicara, serta tatapan mata rasional wanita itu sewaktu mendengarnya mengikrarkan talak... terus berputar di kepalanya bagai kaset rusak.

Pintu kamar berderit pelan. Rani melangkah masuk membawa selimut tebal baru. Wajah polos gadis itu nampak layu, diliputi kecemasan atas perubahan drastis sikap Reyhan selama beberapa jam terakhir.

"Gus..." panggil Rani halus, melangkah mendekat. "Rani bawakan selimut tambahan. Udara Pacet malam ini dingin sekali."

Reyhan tidak menoleh. Ia tetap menatap lurus ke arah dinding kayu yang kosong. "Taruh saja di sana, Rani."

Rani menahan napasnya sejenak. Keheningan di antara mereka begitu pekat hingga suara rintik hujan di luar terdengar amat bising.

"Gus Reyhan..." Rani memberanikan diri duduk di ujung dipan, berjarak satu meter dari Reyhan. "Apakah... apakah Gus Reyhan menyesal telah melepaskan Ning Naya?"

Pertanyaan itu meluncur polos, namun menusuk langsung ke ulu hati Reyhan.

Reyhan memejamkan mata rapat-rapat. Jemarinya mencengkeram kain sarungnya hingga buku-buku jarinya memutih. Menyesal? Kata itu bahkan tidak cukup untuk menggambarkan kehampaan yang meremukkan dadanya saat ini. Ia baru menyadari bahwa rasa bahagianya bersama Rani dulu hanyalah ilusi dari ego pria yang ingin disanjung.

"Jangan tanyakan hal yang sudah terjadi, Rani," jawab Reyhan datar, suaranya dingin tanpa emosi. "Tidurlah. Aku masih ada urusan berkas di ruang kerja."

Reyhan berdiri, melangkah cepat meninggalkan kamar tanpa sekali pun menatap wajah Rani.

Rani ditinggalkan seorang diri di atas dipan dingin tersebut. Air mata menetes perlahan membasahi pipinya. Kemenangan yang ia impikan untuk menggeser posisi Naya di ndalem ternyata berbuah kekosongan. Pria yang dicintainya kini ada di sisinya, namun hatinya telah terkunci rapat di tempat lain.

**

Hawa dingin malam menyelinap pelan di antara sela-sela pekarangan Pesantren Al-Ikhlas, Jombang. Naya melangkah pelan menyusuri lorong berlantai plester rapi di komplek pondok putri. Sesekali, jarinya menyapu pinggiran pagar pembatas kayu seraya menghirup aroma tanah basah dan wangi kamboja yang tumbuh di sudut halaman. Ia mengenakan gamis longgar berwarna hijau zaitun dengan pashmina hitam yang disampirkan sederhana.

Langkah kakinya ringan. Tidak ada lagi ketergesaan, tidak ada beban di pundak yang memaksanya selalu tampil sempurna sebagai seorang Ning atau istri putra pimpinan pesantren besar.

Di sekelilingnya, riuh rendah suara santriwati berlalu-lalang mewarnai malam. Ada kelompok yang berjalan berbondong-bondong menuju aula utama dengan kitab di tangan, ada yang asyik menghafal di bawah lampu taman, dan ada pula yang bersenda gurau tipis seraya merapikan jilbab. Kegiatan pengajian malam itu dijadwalkan berakhir tepat pukul sembilan. Sejam setelahnya, seluruh penerangan komplek akan diredupkan, menandakan batas istirahat mutlak sebelum bel pukul tiga pagi membangunkan mereka untuk shalat malam serta kajian subuh bersama kepala pondok.

Naya menarik napas panjang, meresapi dinamika yang amat dirindukannya ini. Selama berada di Al-Anwar, waktunya habis terserap oleh pusaran formalitas ndalem dan upaya melelahkan untuk memahami pria yang tak pernah mau membuka hati. Di sana, ia mengajar dengan status yang dipagari rasa canggung. Namun di sini, di tanah kelahirannya sendiri, ia kembali menjadi Naya—perempuan muda yang mencintai kebebasan berpikir dan kedamaian jiwa.

"Sugeng dalem, Ning Naya," sapa dua orang santriwati senior yang melintas seraya membungkukkan badan penuh hormat dan takzim.

Naya menghentikan langkahnya, menyunggingkan senyum hangat yang lepas tanpa beban. "Sugeng dalem. Mau ke hall pengajian?"

"Inggih, Ning. Ini mau setoran hafalan sama Ustazah Fatim," jawab salah seorang dari mereka dengan wajah berseri.

"Alhamdulillah. Semangat ya setorannya," balas Naya lembut, mengusap pelan bahu santriwati tersebut sebelum membiarkan mereka berlalu.

Ketenangan ini adalah oase. Naya menyandarkan tubuhnya sebentar di salah satu tiang pendopo tengah pondok putri, menatap langit malam yang bersih tanpa awan.

Di dalam benaknya, lembaran masa lalu bersama Reyhan perlahan meluruh. Ia tidak merasa benci, tidak pula merasa dendam. Latar belakang psikologinya mengajarkan bahwa bertahan pada hubungan yang beracun hanya akan mematikan potensi diri. Keputusannya menuntut cerai bukan didasari emosi impulsif, melainkan sebuah pertimbangan rasional atas harga diri dan keadilan hidup.

Ia tahu, di luar sana, impian lamanya untuk menjadi psikiater sudah melambaikan tangan.

***

Ndalem Utama milik Keluarga Naya

Pondok Pesantren Al-Ikhlas Jombang

1
Wulan Dari
di tubggu kelsnjutannya thor
Haula Kartidasari
pelajaran agama hanya teori doang, tapi tidak di terapkan dalam kehidupan, mubazir al azhar menjadikan Reyhan sbg alumninya
irma hidayat
mantap rasa pahitnya yg terasa ya rayhan atas pilihan jalan yg kamu ambil dulu saat menghianati istrimu
yeni kusmiyati
ketemimu sama mantan
Rahma Inaya
nyata nya rey yg blm bisa move on dr naya sedngkan naya sdh jauh lbh lenggowo menerima perpishan dgn rey tnp beban dan perlahan ada yg jauh lbh baik yg bisa menggntikan posisi reyhan di hati naya yaitu zeyad
Rahma Inaya
gmn sih reyham ki dl malu punya istri terlalu sempurna katanya mau pnya istri yg bergantung padanya sdh di lepas naya malh menyseal sdh menyianyiakan naya .malh mengeluh dgn istri yg bergantung pada nya . sekrg naya terlepas dr nya bisa sukses dan menggapai cita2 nya yg sempat tertunda demi pengabdian dr seorang istri tp di blas dgn penghiantan
Ma Em
Reyhan merasa minder mungkin setelah bertemu dgn Naya wanita yg dulu Reyhan sia siakan sekarang makin bersinar , apalagi setelah Reyhan tau bahwa MB Aya aka menikah dgn Zeyad atau Emir pasti Reyhan makin bertambah penyesalan nya karena Rayhan sdh membuang permata yg sangat berharga demi memilih batu kerikil .
Ita Putri
dulu pas Naya masih jadi istrinya GK di gubris ,di cuekin sekarang Naya sdh pergi kamar bekas Naya aja jadi tempat suci yg tak boleh di nodai Rani
hadeeehh
falea sezi
muter doank gk sat set🤣
sunaryati jarum
Kejujuran merupakan landasan kuat dari sebuah hubungan yang serius.Sengguh romantis Zeyad.Tapi siapa mantan suaminya belum diketahui Zehad.i
evana gusani
baru mampir
dewi rofiqoh
Naya udah cerita masa lalunya, bahkan pertemuan nya dengan sang mantan. Jadi penasaran dengan masa lalu zeyad 🤔🤔
dyah EkaPratiwi
mas zeyad😍😍😍 sisain 1 kayak mas zeyad buat calon mantu
Luna
kamu sendiri juga GK mau jujur tentang masa lalu mu yad,,,, bau baunya nanti ada drama mantan nya zeyad datang ,,,diuji lagi deh hatinya Naya 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣,
Sani Srimulyani
kayanya bentar lagi kondangan nih kita.....🤭
Sri Murtini
kapan zeyad mau cerita masa lalumu ke Naya shg saat lamaran tidak ada rahasia berdua👍👍👍
bibuk Hannan & Afnan
nyesel gak Gus nyesel pasti lah,
Mundri Astuti
kamu sendiri belum jujur zeyad
Agnezz
Yup fondasi yg kuat dalam pernikahan adalah keterbukaan dan kejujuran. Setelah Naya terbuka ttg masa lalunya kini giliranmu Zeyad. Jangan ada yg disembunyikan. Paling tidak kalian berawal dari titik yg sama. Yakni sama2 berusaha menjadikan pernikahan ini berhasil. Jangan seperti pernikahan Naya dan Rayhan dimasa lalu. Mereka menikah karena perjodohan, belum kenal satu sama lain. Ternyata mereka tiidak memulai dari titik yg sama. Hanya Naya saja yg berusaha. Rayhan tidak sepenuhnya menerima pernikahan perjodohan ini. Cenderung mengabaikan bahkan diam2 telah menikah siri dengan wanita lain.
Agnezz: dikira Naya gak akan berani minta cerai, karena selama ini menjadi istri yg diam dan menurut. Dulu Rayhan merasa diatas angin sebagai anak kyai yg berilmu tinggi dan tampan, mana ada wanita yg menolaknya, yg ada malah memujanya. Ternyata Naya ambil sikap tegas, tidak bisa dibujuk rayu oleh tangisan buaya. Good job Naya, kamu ambil langkah yg berani.
total 4 replies
Herman Lim
ne sih blom seberapa blom lagi u lihat tmn u jadi calon suami mantan istri mu u lebih bakal lebih nyesal lagi klo kamu tidak seujung kuku dari zeyad
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!