Di usianya yang baru menginjak 25 tahun, Rania mengambil keputusan besar dalam hidupnya. Ia menerima pinangan Arkan, seorang duda kaya raya berparas rupawan yang berusia 38 tahun. Kehidupan barunya tidak hanya membawanya pada gelimang kemewahan, tetapi juga menuntut Rania untuk beradaptasi dengan peran barunya sebagai ibu sambung bagi dua putra Arkan yang memiliki kepribadian sangat bertolak belakang.
Zidan, putra sulung Arkan ternyata bersahabat baik dengan keponakannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noona Rara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sop Ayam
Tak butuh waktu lama hingga balasan masuk ke ponsel Luna.
Orang tak dikenal: Siap. Kirimkan namanya.
Luna menatap layar ponsel beberapa detik. Matanya menyipit, bibirnya menyunggingkan senyum penuh dendam. Kemudian ia mengetik:
Luna: Rania kalau nggak salah. Cari semua tentang dia. Tempat tinggal, pekerjaan, siapa keluarganya. Aku ingin tahu semuanya. Lalu urus sisanya.
Tangannya menekan tombol kirim.
"Lihat aja, sialan. Kamu pikir bisa rebut Arkan dari aku? Baru juga masuk, udah merasa penting?" gumamnya tajam.
Ia duduk kembali dengan tubuh kaku. Di luar terlihat tenang, di dalam Luna tengah memutar ribuan rencana.
Ah, dia juga harus memberitahu Rosa tentang Rania.
Luna membuka kembali ponselnya, mencari nama "Tante Rosa" di daftar kontak, lalu menekan tombol panggil. Beberapa detik berselang, suara Rosa terdengar di seberang.
"Halo, Lun. Udah di rumah Arkan?" sapanya ramah.
Fani menarik napas panjang, lalu menjawab dengan nada yang sengaja dibuat lemah dan kecewa. "Udah, Tan. Kedatangan aku tadi gak disambut baik..."
"Kenapa? Arkan marah?" tanya Rosa, langsung khawatir.
"Bukan cuma itu. Ada perempuan lain di sini, Tante. Namanya Rania. Dia masakin bubur buat Arkan, dan... dia datang pagi-pagi banget. Bahkan Kenzie keliatan banget lebih milih ikut dia daripada sama aku."
Rosa terdiam sejenak. "Rania?"
"Iya. Aku yakin dia yang waktu itu bawa Kenzie. Yang sok dekat sama Kenzie dan bikin anak itu makin nggak mau sama aku."
Nada suara Luna terdengar semakin geram, tapi tetap terkontrol. "Aku gak tahu apa yang Arkan pikirin sekarang, Tan. Tapi dia keliatan serius sama cewek itu, gimana rencana kita, Tan?"
Suara Rosa terdengar lebih serius. "Tenang aja, Lun. Tante yang urus. Arkan memang keras kepala, tapi dia anak yang patuh. Kalau tante bilang kamu calon istrinya, maka gak akan ada perempuan lain yang bisa ganggu."
Luna tersenyum tipis. Persis seperti yang ia harapkan.
"Makasih, Tan. Aku benar-benar gak ingin kehilangan Arkan... bukan setelah semua yang udah kita rancang. Selain itu, aku udah mengorbankan waktuku selama ini untuk nunggu Arkan."
"Tante tahu, Luna. Arkan milik kamu." balas Rosa sebelum menutup telepon.
Luna mendesah pelan, tapi kali ini senyum liciknya semakin dalam. "Aku tetep yang akan menang."
...****************...
Rania membawa Kenzie pulang ke rumahnya, anak itu memang sudah izin tidak masuk sekolah hari ini. Rencananya, ia akan merawat Arkan. Tapi siapa sangka, malah muncul Luna dan merusak suasana.
"Laper nggak, Cil?" tanya Rania sambil menutup pintu. Kenzie sudah lebih dulu melangkah masuk.
"Laper, Tante. Makan apa kita?" sahut Kenzie tanpa sungkan sedikit pun.
"Tadi Tante udah masak sih, tapi cuma nasi goreng. Tapi pedas." ujar Rania. "Kita cek Mbok Darmi aja, ya?"
Mbok Darmi adalah asisten rumah tangga baru yang bekerja di rumah Rania atas permintaan Tristan.
Rania menggandeng tangan Kenzie dan mengajaknya ke dapur.
"Mbok..." panggil Rania saat tiba di dapur.
Mbok Darmi yang sedang sibuk menyiapkan bumbu menoleh cepat. "Lho, udah pulang, Non?"
"Gak jadi ngurus orang sakit, Mbok." jawab Rania ringan. "Soalnya ada pasien lain yang lebih butuh perhatian. Sakit jiwa, kayaknya."
Mbok Darmi sempat menatap bingung, tapi Rania hanya nyengir dan tak menjelaskan lebih lanjut.
"Aku sama Kenzie lapar, Mbok. Tapi dia nggak bisa makan nasi gorengku. Tadi aku kebanyakan cabai." kata Rania sambil menarik kursi ruang makan.
Kenzie dengan sigap naik ke kursi di sebelah Rania dan duduk manis.
"Den Kenzie mau dimasakin apa?" tanya Mbok Darmi. "Baru ada nasi, Non."
Rania menoleh pada Kenzie, begitu juga anak itu yang langsung memandangnya antusias.
"Mau makan apa, Cil?" tanya Rania lembut, tersenyum hangat.
Kenzie berpikir sejenak lalu berkata, "Boleh Kenzie makan sop ayam, Tante?"
"Kalau sop ayam lama nggak, Mbok?" tanya Rania sambil menatap Mbok Darmi yang tengah mengelap tangan dengan lap dapur.
"Kalau ayamnya direbus dulu, ya kira-kira setengah jam, Non. Tapi kalau buru-buru, bisa pakai panci presto, cepet." jawab Mbok Darmi.
Kenzie langsung berseru, "Tante, kita tunggu aja ya? Kenzie pengen sop ayam banget!"
Rania tersenyum melihat antusiasme Kenzie. "Oke, kita tunggu. Tapi nanti Kenzie bantu Tante cuci sayur, ya?"
"Siap!" sahut Kenzie semangat.
Mbok Darmi terkekeh pelan. "Ya udah, Non. Mbok siapkan dulu bahannya."
Rania lalu berdiri dan menggulung lengan bajunya. "Aku bantuin, Mbok. Biar cepet juga."
"Ayo... biar cepet makan." kata Mbok Darmi sambil mengambil ayam dari kulkas.
Rania hanya tersenyum sambil melirik Kenzie yang duduk di kursinya, mengayun-ayunkan kakinya dengan riang.
"Mau tante ajarin motong wortel?" tanya Rania sambil menyerahkan talenan kecil ke Kenzie.
Kenzie mengangguk cepat. "Mau, mau!"
Suasana pagi yang sempat bikin jengkel hilang seketika.
Lima belas menit kemudian, Rania dan Kenzie sudah duduk manis di ruang makan, menunggu sop ayam matang. Mbok Darmi masih sibuk di dapur, dan aroma kaldu mulai memenuhi udara.
Ponsel Rania berdering. Nama Arkan muncul di layar. Ia sempat menatap malas, ragu untuk mengangkat. Tapi rasa penasaran lebih kuat. Apa yang akan Arkan katakan setelah tadi ia pergi begitu saja dan membawa Kenzie bersamanya?
Begitu sambungan tersambung, suara Arkan langsung terdengar, cepat dan tanpa basa-basi. "Di mana?"
Rania mendecak pelan. "Kenapa?"
"Di mana, Ra? Saya susul. Kamu sama Kenzie, kan? Saya udah di jalan."
Rania melirik Kenzie yang masih asyik bersenandung di sebelahnya. "Orang sakit emang bisa keluyuran?" sindirnya santai.
"Bisa. Calon pacar sama anak kabur, masa saya diam aja? Sekarat pun saya kejar." jawab Arkan, nada suaranya tetap santai bahkan terdengar menggoda.
Rania memutar mata. "Nggak usah sok. Tunangan kamu bisa ngamuk kalau tahu."
Arkan tertawa kecil. "Kamu calon tunangan saya? Kamu lagi ngamuk?"
"Gak lucu." ketus Rania.
"Siapa yang lucu? Saya serius..." Arkan memberi jeda lalu menambahkan, "Ara."
"Hah?"
"Panggilan sayang buat kamu." bisik Arkan dengan nada menggoda.
Rania sempat terdiam, tak siap dengan ucapan terakhir Arkan yang mendadak manis begitu. Wajahnya langsung memanas.
dan entah kenapa hatinya ikut berdebar.
"Ara... Ara, apaan sih." gumamnya pelan.
Kenzie yang duduk di sebelahnya mengernyit bingung. Ia menatap Rania lalu ikut melirik ke ponsel yang masih ditempelkan di telinga wanita itu.
"Tante ngomong sama siapa sih? Kok senyum-senyum?" tegurnya polos, suaranya jernih dan jujur.
Rania buru-buru menegakkan posisi duduknya, wajahnya memerah. "Nggak....nggak kok, Cil. Biasa aja." elaknya gugup sambil melirik sekilas pada Kenzie yang masih memelototinya curiga.
"Tapi wajah tante merah." komentar Kenzie jujur, membuat Rania makin kalang kabut.
Di seberang, Arkan malah tertawa puas. "Saya bikin kamu salah tingkah, ya?"
Rania langsung memutus sambungan tanpa menjawab. "Nggak." gumamnya pelan, lalu buru-buru menaruh ponsel di meja dan bangkit untuk pura-pura membantu Mbok Darmi di dapur.
Kenzie cuma bisa menggeleng pelan. "Tante aneh." komentarnya heran.
Beberapa menit kemudian, aroma sop ayam mulai memenuhi ruang makan. Mbok Darmi menyajikannya di atas meja dengan senyum hangat.
"Makan dulu, Den Kenzie, Non Rania." katanya.
Kenzie langsung duduk dengan semangat, tangannya sudah meraih sendok sebelum Rania sempat bicara. "Wah, enak banget baunya, Mbok!"
Rania ikut duduk, masih berusaha menetralisir wajahnya yang hangat. Tapi ia tersenyum melihat antusiasme Kenzie. "Pelan-pelan, masih panas."
Baru saja mereka mulai menyuap makanan, terdengar suara bel dari depan rumah.
Rania dan Kenzie saling menatap. Rania refleks menoleh ke arah ponselnya yang tadi ia tinggal di meja.
"Jangan bilang itu bapakmu, Cil..."
"Daddy..." potong Kenzie sambil langsung melompat turun dari kursinya.
"Cil! Sop-nya..." panggil Rania tapi anak itu sudah berlari ke arah pintu depan.
Rania menghela napas. "Nggak jadi makan tenang..." gumamnya sambil menyusul ke depan.