NovelToon NovelToon
Ketika Pengorbanan Dipermainkan

Ketika Pengorbanan Dipermainkan

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Balas Dendam / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:20.7k
Nilai: 5
Nama Author: Mama Mia

Mentari adalah CEO konglomerat besar yang menyamar menjadi karyawan biasa demi mencari cinta sejati. Ia bertemu dengan Bara seorang pekerja yang sangat ulet dan ambisius. Selama tiga tahun ia menjalin hubungan dan diam-diam membantu pria itu membangun perusahaan.

Bara pernah berjanji akan memberikan pernikahan yang megah setelah sukses, tetapi setelah berhasil meraih kejayaan sikap pria itu ternyata berubah.

Pada malam peresmian perusahaan, Vanya, sahabat sekaligus sekretaris Bara menghina dan mempermalukan Mentari. Namun, Bara hanya diam dan berpura-pura tidak melihat.

Kecewa dengan sikap pria itu, Mentari pun pergi dan menghentikan seluruh bantuan yang selama ini diberikannya.

Saat Bara menyesali perbuatannya dan berusaha mendapatkan Mentari kembali, wanita itu telah menemukan kebahagiaan bersama Titan, seorang miliarder yang mencintainya dengan tulus.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mama Mia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11 — Pintu yang Semakin Tertutup Rapat

Tanpa mengatakan apapun, Bara berjalan menuju mobil dengan langkah cepat, sementara Vanya berusaha mengejar dari belakang. Wajah lelaki itu masih terlihat tenang, tetapi ketegangan yang semakin jelas di rahangnya akibat penolakan yang baru saja ia terima.

Begitu pintu mobil tertutup, Bara menarik napas panjang sebelum menyandarkan tubuhnya. Matanya menatap lurus ke depan, lalu berkata dengan suara rendah, “Kita masih punya pilihan lain. Bank tadi bukan satu-satunya tempat yang bisa kita datangi.”

Vanya yang duduk di sampingnya mengangguk pelan. Sebenarnya ia ingin mengatakan bahwa situasi mereka tidak sesederhana itu, tetapi melihat wajah Bara membuatnya mengurungkan niat. “Aku sudah menghubungi beberapa orang. Ada satu bank besar yang mungkin masih bersedia menerima pengajuan kita. Tapi mereka juga akan melakukan penilaian ulang terhadap kondisi perusahaan.”

“Biarkan mereka menilai,” jawab Bara sambil merapikan jasnya. Nada suaranya terdengar jauh lebih percaya diri daripada perasaannya sendiri. “Aku hanya membutuhkan waktu. Begitu pembayaran proyek cair, semuanya akan kembali normal,” ucapnya terdengar terdengar meyakinkan, walaupun sebenarnya hatinya merasa tidak tenang.

Sejak beberapa hari terakhir, ia merasa dunia seperti jungkir balik. Investor mundur, pembayaran tertunda, bank menolak. Padahal sebelumnya semua lancar-lancar saja, seolah semua berada dalam kendalinya.

Beberapa menit kemudian, mobil mereka berhenti di depan sebuah bank besar di kawasan pusat bisnis. Bara turun lebih dulu dan langsung berjalan masuk tanpa menunggu Vanya.

Di dalam lobi ia memperlambat langkahnya melihat sekeliling, kemudian menuju meja layanan korporasi lalu menyerahkan berkas pengajuan kepada petugas secara langsung.

“Kami membutuhkan fasilitas kredit jangka pendek dengan proses cepat,” jelas Bara sambil menunjuk beberapa dokumen di atas meja.

Petugas tersebut menerima berkas dengan sikap profesional. “Baik, Pak. Kami akan meneruskannya kepada bagian pemeriksaan.”

“Lakukan dengan cepat,” kata Bara sedikit menekan.

Petugas itu menatap merasa kesal dengan sikap bara yang begitu arogan, namun tetap mengangguk dan membawa dokumen tersebut pergi.

Bara kemudian duduk di ruang tunggu bersama Vanya. Lima belas menit berlalu. Kemudian tiga puluh menit. Waktu terus berjalan,hingga satu jam lamanya mereka duduk di sana dengan gelisah. Bara beberapa kali melihat jam tangannya.

Hingga akhirnya seorang pria berusia sekitar lima puluh tahun datang menghampiri mereka, Bara langsung berdiri.

Pria itu memperkenalkan diri sebagai kepala layanan korporasi dan meminta mereka mengikuti ke ruang pertemuan kecil di sisi lobi. Sikapnya sopan, tetapi ekspresi wajahnya terlalu serius untuk sekadar menyampaikan bahwa proses administrasi membutuhkan waktu.

Setelah mereka duduk, pria itu meletakkan berkas di atas meja dengan hati-hati.

“Pak Bara, kami sudah melakukan pemeriksaan awal terhadap profil perusahaan dan fasilitas yang Bapak ajukan,” katanya dengan nada tenang. “Setelah mempertimbangkan kondisi perusahaan secara keseluruhan, manajemen kami memutuskan bahwa pengajuan ini tidak dapat kami lanjutkan.”

Bara menatap tajam. “Tidak dapat dilanjutkan?” ulangnya dengan rahang mengeras.

Pria itu mengangguk. “Kondisi risiko perusahaan Bapak mengalami perubahan yang cukup signifikan. Ada potensi gagal bayar yang membuat pihak kami tidak berani mengambil resiko.”

Bara mencondongkan tubuhnya. “Perusahaan saya memiliki aset, kontrak berjalan, dan proyek dengan nilai yang jauh lebih besar daripada fasilitas yang saya ajukan.”

“Kami memahami itu, Pak.”

“Lalu apa masalahnya?” Bara mulai meninggikan suara. “Anda pasti mengenal perusahaan saya dan bagaimana rekam jejak perusahaan saya.”

Pria di hadapannya tetap tenang. “Justru karena kami sudah mengenal rekam jejak perusahaan Bapak, perubahan kondisi beberapa minggu terakhir menjadi perhatian bagi manajemen.”

Vanya yang sejak tadi diam mulai merasa tidak nyaman. Ia menatap Bara sebelum akhirnya bertanya, “Apakah ada masalah pada dokumen kami? Kalau memang ada kekurangan, kami bisa melengkapinya.”

“Masalahnya bukan ada pada dokumen,” jawab kepala layanan itu. “Tetapi kami melihat adanya perubahan pada komitmen beberapa investor, penarikan sebagian modal, serta tekanan likuiditas yang cukup besar. Dengan kondisi tersebut, manajemen tidak bisa menambah eksposur kredit.”

Bara merasakan dadanya mulai sesak. Pria itu berdiri begitu cepat hingga kursinya terdorong ke belakang. Telapak tangannya menghantam meja, membuat beberapa dokumen bergeser. “Kita sudah bekerja sama selama tiga tahun. Dan selama ini perusahaan saya tidak pernah melakukan kesalahan.”

Vanya langsung ikut berdiri dan berusaha menenangkan keadaan. “Bara, tenang. Kita cari solusi lain.”

Namun Bara sudah kehilangan kendali. Tanpa menoleh ia menepis tangannya ketika perempuan itu mencoba menarik lengannya. “Diam, Vanya. Aku sedang bicara.”

Kepala layanan korporasi itu memberi isyarat kecil kepada petugas keamanan yang berdiri tidak jauh dari pintu, dan dua orang petugas segera mendekat.

“Pak, kami mohon Bapak untuk menjaga sikap,” ujar salah satu dari mereka dengan suara tegas. “Kalau Bapak membuat keributan yang mengganggu kenyamanan nasabah lain, kami terpaksa meminta Bapak keluar dari sini.”

Bara menatap mereka dengan tidak percaya. Kemarahannya semakin membesar karena merasa diperlakukan seperti orang yang tidak memiliki posisi apa-apa.

“Kalian tahu siapa aku?” bentaknya. “Aku CEO perusahaan yang selama ini menjadi nasabah besar di sini!”

Petugas keamanan tidak membalas provokasinya. Salah satu dari mereka hanya berkata, “Kami tahu siapa Bapak. Tapi itu bukan berarti Bapak bisa bersikap semaunya di sini.”

Bara masih mencoba bertahan di tempatnya dan meminta kepala layanan yang sebelumnya melayaninya untuk memeriksa kembali bahkan dengan suara yang kasar dan berkali-kali menggebrak meja. Karena jengah melihat sikap Bara, kepala layanan korporasi memberi isyarat pada dua petugas itu untuk membawa Bara keluar.

Saat dua petugas memegang kedua lengannya dan menyeretnya keluar, Bara berteriak dan berusaha menarik tubuhnya untuk melepaskan diri, namun semua perlawanannya sia-sia. Tubuhnya tetap diseret hingga melewati lobi, membuatnya jadi tontonan para nasabah yang ada dalam ruangan itu.

“Lepaskan aku!” bentak Bara. “Aku bisa menuntut bank ini!”

Vanya berjalan cepat di belakangnya dengan wajah pucat karena melihat Bara yang diseret seperti itu. Begitu tiba di halaman, ia melihat tubuh Bara didorong hingga tersungkur jatuh di atas paving karena kehilangan keseimbangan.

Sambil meringis menahan sakit di lutut dan telapak tangannya, Bara berusaha berdiri dan menatap pantulan dirinya sendiri lewat pantulan pintu kaca yang telah kembali tertutup. Jas mahal dan jam tangan mewah di pergelangan tangan yang selama ini menjadi simbol kebanggaan, kini seperti sama sekali tak berarti.

Vanya segera mendekat dan membantu pria itu membersihkan celananya yang kotor dengan nafas tak teratur.

“Bara, lebih baik kita pulang ke kantor. Aku baru menerima pesan dari kantor pusat. Mereka meminta laporan lengkap mengenai kondisi likuiditas perusahaan sebelum sore,” ucap Vanya. “Beberapa vendor juga sudah mulai menghubungi bagian legal. Mereka mengancam akan mengambil tindakan kalau pembayaran besok tidak dilakukan,” lanjutnya.

Bara akhirnya menoleh. “Besok?”

Vanya mengangguk. “Gaji karyawan juga jatuh tempo.”

Semua masalah datang bersamaan membuat Bara merasa kepalanya bagai dihantam batu keras. Pria itu terdiam dengan mata terpejam.

“Tidak apa-apa, pasti akan ada jalan keluar." Tiba-tiba saja ia seperti mendengar suara Mentari yang dulu selalu menghibur nya.

Seketika itu juga matanya terbuka. Dulu ia menganggap kalimat hiburan dari mentari sebagai sesuatu yang biasa. Namun sekarang, saat ia ingin mendengar suara itu, Mentari sudah tak ada lagi di sampingnya.

“Tidak,” gumam Bara sambil menggeleng pelan. “Ngapain aku ngarepin dia?"

Vanya menatapnya bingung. “Apa?”

Bara tidak menjawab pertanyaan itu. Ia justru menatap gedung bank di hadapannya dengan ketakutan yang perlahan muncul dari sorot matanya. Perlahan pria itu mengepalkan tangannya, kemudian menarik napas panjang.

“Ayo kembali ke kantor,” katanya akhirnya dengan suara yang tak lagi angkuh seperti sebelumnya. “Pasti akan ada jalan keluar," ucapnya menirukan kata-kata Mentari.

Sambil mengangguk pelan Vanya mengikuti langkah, matanya menatap punggung pria itu yang tampak lunglai. Ada sesuatu yang tiba-tiba mengusik hatinya tapi ia tidak tahu itu apa.

Mobil yang membawa mereka berdua perlahan bergerak meninggalkan halaman parkir bank. Sepanjang perjalanan tak ada yang berbicara. Bara terus memandangi jalan di depan dengan pikiran yang semakin kacau, sementara Vanya duduk dengan dua tangan saling meremas di atas pangkuan.

"Pasti ada jalan keluar.” Satu kalimat itu yang mereka tanamkan dalam benak mereka. Namun, benarkah demikian?

1
Ayudya
malu kan kamu Vanya dan bara dllihat kenyataan yg ada bawa mentari dan Titan telah tunangan🥰🥰🥰🥰🥰
Ayudya
hey jalang Vanya ya jelas lah mentari bisa duduk dengan para petinggi Danuarta group lah Titan kan calon suaminya🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
ryuka
👍👍👍👍😍😍😍😍😍😍😍
Ayudya
siapa juga yg mau balikan ma kamu bara 🤣🤣🤣🤣😍😍
Ayudya
nah kaget kan kamu bara siapa mentari yg telah kau sakiti dan kau sia sia kan🤣🤣🤣🤣🤣
Ayudya
jalan keluarnya ya kehancuran bara.CEO kok bego banget🤣🤣🤣🤣🤣
Siskasuryaningsih
lain kali semua barang ambel aja semua nya, jangan di tinggal kan, teros jual kan,, kan keren tu, 🤭🤭🤭🤭..
Ayudya
gercep banget babang Tristan langsung main tembak aja🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Ayudya
panik panik dah kamu bara🤣🤣🤣🤣
Ayudya
nah bara kamu akan kembali jadi gembel🤣🤣🤣🤣🤣
Ayudya
ayo mentari balaskan semua rasa sakit yg telah bara berikan.tunjukan pada bara dan Vanya kalau kamu kuat
Mundri Astuti
bener" y si Vanya ...ga kapok juga...
Lucy
moga para preman bayaran Vanya ketangkap dan dikasih pelajaran,dan kau Vanya tunggu senjata makan tuan😀😀😀
Ariany Sudjana
semoga anak buahnya Titan bisa menangkap si pelacur murahan itu
Ariany Sudjana
Titan Modus itu, supaya bisa dekat sama mentari 🤣🤣
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨
segera*
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨
tadi itu*
Muft Smoker
mau di bantu gx Titan ,, bntar aq ambil 🔨 🔨 🔨 dlu ,,

Mak boleh yx getok dikit anak ny ,, 🤭
Muft Smoker: ok klo bgtuuu ,, 👍🏻👍🏻👍🏻😁😁
total 2 replies
Muft Smoker
jjiiiiaaaaah si ibu malah pesen cucu ,,
SIM ny blum ad Bu ,, 🤭🤭🤣🤣
Patrick Khan
gws ya anak emak🤲
✍️⃞⃟𝑹𝑨 Mama Mia: terima kasih.
Alhamdulillah sudah baikan kok
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!