Ayana pikir cinta berarti selalu berada di sisi orang yang dicintainya. Ketika Angga kehilangan kekasih dan ibunya dalam waktu berdekatan, Ayana hadir untuk membantunya bangkit. Bahkan tanpa sepengetahuan Angga, Ayana diam-diam menggunakan segala yang dimilikinya untuk membantu pria itu meraih kesuksesan. Hingga mereka bertunangan dan pernikahan tinggal menghitung hari. Namun masa lalu Angga kembali. Rara, mantan kekasihnya, datang membawa luka, air mata, dan seorang bayi dalam kandungan. Perlahan, Angga mulai memilih Rara. Meninggalkan Ayana di hari fitting gaun pengantin Membiarkan Rara duduk di sampingnya sementara Ayana harus duduk di belakang Bahkan meminta Ayana mengalah dalam pencatatan pernikahan demi masa depan anak Rara. Sampai akhirnya Ayana sadar, Ia bukan lagi calon istri yang diprioritaskan. Ia hanya pilihan yang diminta untuk mengerti. Ayana pun pergi. Tanpa dendam. Tanpa membalas. Ia hanya berhenti menyelamatkan pria yang tidak pernah menyadari bahwa selama ini, dialah yang membuat hidupnya begitu mudah. Ketika Ayana kembali ke kota besar dan bertemu Kenan, seorang pewaris yang setara dengannya, hidupnya perlahan berubah. Sementara itu, kehidupan Angga mulai runtuh. Dan saat Angga akhirnya mengetahui siapa sebenarnya Ayana, semuanya sudah terlambat. Karena perempuan yang dulu rela berdiri di belakangnya kini telah menemukan seseorang yang bersedia berdiri di sisinya. Akankah Angga mendapatkan Ayana kembali, atau harus hidup dengan penyesalan karena telah kehilangan perempuan yang seharusnya menjadi istrinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nittagiu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Masalah yang Mulai Datang
Beberapa bulan setelah Ayana meninggalkan kehidupannya, Angga mulai menyadari bahwa keadaan perusahaannya tidak sebaik yang ia kira.
Awalnya hanya beberapa angka yang terlihat sedikit berbeda dari laporan sebelumnya. Penjualan menurun, beberapa proyek yang biasanya berjalan lancar mulai mengalami keterlambatan, dan klien lama yang memilih menunda kerja sama dengan alasan kondisi pasar yang sedang tidak menentu.
Tidak ada yang cukup besar untuk membuat perusahaan langsung berada dalam bahaya. Namun, cukup untuk membuat Angga mulai lebih sering berada di ruang kerjanya hingga larut malam.
Siang itu setelah membaca dokumen resmi yang menbuat hatinya tidak karuan, Angga duduk di ujung meja rapat sambil membaca laporan yang baru saja diberikan oleh manajer keuangannya. Beberapa halaman sudah ia baca berulang kali, tetapi hasilnya tetap sama.
Angga mengusap wajahnya pelan. “Berapa besar penurunan bulan ini?”
Manajer keuangan di hadapannya membuka catatan.“Belum terlalu besar, Pak. Tapi kalau tren ini terus berlanjut sampai beberapa bulan ke depan, kita harus mulai melakukan penyesuaian.”
Angga terdiam. Ia mengambil laporan tersebut kembali dan membacanya. Selama bertahun-tahun, ia terbiasa melihat angka-angka yang terus bergerak naik. Perusahaan yang dibangun dengan susah payah itu akhirnya berkembang jauh lebih cepat dari yang pernah ia bayangkan. Karena itu, melihat angka mulai bergerak ke arah sebaliknya membuatnya tidak nyaman.
“Proyek yang di Jakarta bagaimana?” Tanyanya.
“Masih berjalan, Pak. Tapi ada sedikit keterlambatan.” Jawab manager tersebut.
“Kenapa?”
“Beberapa pihak belum menyelesaikan bagian mereka.”
Angga menghela napas panjang. “Segera selesaikan.”
“Baik, Pak.”
Setelah rapat berakhir, Angga kembali ke ruangannya dan menutup pintu. Ia berdiri di depan jendela sambil memandang gedung-gedung di luar. Dari tempat itu, semuanya terlihat baik-baik saja. Tidak ada yang tahu bahwa di balik pintu ruangannya, pikirannya mulai dipenuhi berbagai kemungkinan buruk.
Namun, Angga masih berusaha menenangkan dirinya sendiri. Ini hanya masalah bisnis, naik dan turun adalah hal biasa. Ia pernah melewati masa yang lebih sulit, dan perusahaan ini juga tidak dibangun dalam satu malam. Ia pasti bisa memperbaikinya. Setidaknya, itulah yang terus ia katakan kepada dirinya sendiri.
Menjelang sore, Angga menerima beberapa pesan dari bagian pemasaran. Salah satu calon klien besar meminta penundaan pembicaraan kontrak. Pesan lain menyebutkan bahwa sebuah proyek yang seharusnya dimulai bulan depan masih menunggu keputusan dari pihak luar. Angga membaca semuanya dengan wajah semakin serius. Hari itu ia pulang lebih malam dari biasanya.
Rara sudah menunggunya di ruang keluarga. Begitu mendengar pintu terbuka, perempuan itu segera bangkit dari sofa.
“Kamu belum makan?” tanyanya sambil memperhatikan wajah Angga yang terlihat lelah.
Angga meletakkan tas kerjanya di meja. “Belum.”
“Aku sudah minta disiapkan. Tinggal dipanaskan.”
Rara berjalan menuju dapur, tetapi Angga tidak langsung mengikutinya. Ia justru berdiri diam beberapa saat.
Melihat Angga tidak mengikutinya seperti biasa, Rara menoleh. “Kamu kenapa?”
Angga menggeleng. “Tidak apa-apa. Cuma capek.”
Rara memperhatikannya sebentar sebelum mengangguk. Ia tahu Angga sedang banyak pikiran. Belakangan ini laki-laki itu memang lebih sering pulang dengan wajah serius. Tidak banyak bercerita seperti biasanya, tetapi juga tidak pernah mengatakan bahwa ada masalah besar.
Setelah makan malam, Angga kembali membuka laptop di ruang keluarga. Rara yang sedang duduk tidak jauh darinya beberapa kali melirik.
“Kamu masih mau kerja?”
“Sebentar.” Jawabannya singkat.
Rara mengangguk dan kembali membaca buku tentang kehamilan. Hingga akhirnya Rara terlelap di sofa di ruang keluarga itu.
Malam semakin larut, Angga masih berada di depan laptop. Sebuah laporan baru saja masuk ke emailnya. Ia membacanya perlahan, lalu menyandarkan tubuh ke kursi.
Ada masalah lain. Salah satu pembayaran dari klien mengalami keterlambatan. Tidak besar. Namun, ketika beberapa masalah kecil datang bersamaan, semuanya mulai terasa berbeda.
Angga memejamkan mata. Untuk pertama kalinya, ia merasa ada sesuatu yang tidak bisa ia kendalikan. Bukan karena perusahaannya langsung berada dalam bahaya. Tetapi karena ia tidak tahu masalah berikutnya akan datang dari mana.
Ia menutup laptop dan melihat jam. Hampir tengah malam. Rara sudah terlelap di sofa. Angga berdiri masuk ke dalam kamar yang ditempati Rara, dan mengambil selimut untuk menutupi tubuh perempuan itu.
Sesaat ia menatap wajah Rara yang terlihat tenang, ada rasa bersalah kecil karena akhir-akhir ini ia terlalu sibuk dengan pikirannya sendiri.
Namun, ia belum menyadari bahwa tekanan yang sekarang hanya terasa seperti gangguan kecil itu perlahan akan mengubah banyak hal dalam hidupnya.
Angga membawa laptopnya ke kamar. Sebelum tidur, ia kembali membuka laporan keuangan yang tadi dibacanya. Tatapannya berhenti cukup lama pada angka-angka tersebut.
“Ini pasti bisa diperbaiki,” gumamnya pelan. Ia mengatakannya bukan kepada siapa pun, tapi kepada dirinya sendiri.
Karena jauh di dalam hati, untuk pertama kalinya, Angga mulai merasa takut. Bukan takut kehilangan uang, tetapi takut kehilangan sesuatu yang selama ini ia pikir akan selalu berada di tangannya.
Emak akan memberi 5 bintang jika Angga benar-benar hancur
slah sndiri lbh memilih memungut smpah masa lalu....
mna g sadar diri... egois.... maunya sll di mngerti... tpi tak mau mngrti org lain....
harusnya km sadar angga.... perempuan yg dlu mninggalknmu... tk akn mngkin brubah.... dan mau mnemanimu di saat susahmu....
lihatlah skrg.... disaat km butuh suport & butuh ktenangan.... masa lalumu tak prnah mau mngrti keadaanmu... tak peduli dgn smua msalahmu... krna dia maunya sll km yg harus mngerti dia....