NovelToon NovelToon
Tukang Ojek Online Bisa Melihat Masa Depan

Tukang Ojek Online Bisa Melihat Masa Depan

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Mengubah Takdir
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Asep agustian

Dirga, seorang office boy dan pengemudi ojek online, rela berutang belasan juta rupiah demi membahagiakan kekasihnya, Eri. Namun, ketulusannya dibalas pengkhianatan kejam. Eri membuangnya demi Leon, putra konglomerat kaya. Harga diri Dirga diinjak-injak, diusir calon mertuanya, dan dipecat secara tidak hormat dari PT Nusa Investama.

Dalam kondisi terpuruk dan kelaparan, Dirga ditabrak sedan mewah milik Lisa. Di ambang kematian, leluhurnya hadir membuka Mata Batin yang memberinya kemampuan melihat penglihatan masa depan. Bersama Lisa dan kekuatan barunya, Dirga siap bangkit dari penderitaan demi membalas setiap hinaan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asep agustian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29: Akumulasi Aset

Malam baru saja merayap turun di atas permukiman. Di dalam kamar rumah tuanya yang kini kokoh beratapkan baja ringan, Dirga terduduk bersila di atas amben kayu. Bau harum cat baru dan kayu jati sisa perbaikan atap masih tercium samar. Di hadapannya, layar ponsel pintar jadul yang retak di sudut kanan bawah itu menampilkan antarmuka aplikasi sekuritas dengan pendar cahaya hijau yang dominan.

Angka yang tertera di kolom saldo portofolio bersihnya tidak lagi berada di kisaran belasan atau puluhan juta rupiah. Angka itu telah melompati batas psikologis yang dulu tak pernah terbayangkan oleh seorang petugas kebersihan biasa: Rp500.000.000,00.

Setengah miliar rupiah. Hasil dari disiplin rotasi saham yang presisi, eksekusi tanpa emosi, serta pemanfaatan kilatan mata batin yang ia latih setiap malam melalui penguasaan pernapasan.

Suara langkah kaki yang ragu-ragu terdengar menginjak papan teras rumahnya. Tak lama kemudian, ketukan pelan berbunyi di pintu depan.

"Dirga? Kamu sudah tidur, Nak?" suara Pak RT (Pak Hendro) terdengar dari luar, memanggil dengan nada penuh keseganan yang teramat sangat.

Dirga menyimpan ponselnya ke dalam saku celana, lalu berdiri dan melangkah membukakan pintu. "Belum, Pak RT. Silakan masuk. Ada apa malam-malam begini?"

Pak RT masuk dengan tubuh agak membongkok, membawa sebuah kantong plastik berisi pisang goreng hangat. Di belakangnya, tampak Pak Mandor Karno, tukang bangunan senior yang memimpin renovasi atap rumah Dirga, ikut mengekor dengan wajah sungkan.

"Ini, Nak Dirga... Bu RT baru selesai menggoreng pisang. Saya pikir kamu belum istirahat," kata Pak RT sambil meletakkan kantong plastik itu di atas meja kayu. Tangannya dengan canggung meremas ujung kemejanya sendiri. "Sekalian ini... Pak Karno mau melaporkan sisa pembayaran renovasi kemarin."

Pak Karno melangkah maju satu tapak, merogoh saku celananya, lalu meletakkan amplop cokelat tebal dan sebuah buku catatan kecil di atas meja.

"Mas Dirga," ucap Pak Karno dengan nada suara yang amat santun dan tertata formal. "Seluruh pekerjaan penggantian atap baja ringan, pembenahan kasau kayu yang lapuk, serta pemasangan genteng metal sudah rampung seratus persen kemarin sore. Total biaya material dan upah sepuluh tukang selama empat hari adalah tiga puluh dua juta rupiah. Uang muka dua puluh juta rupiah yang Mas Dirga berikan di awal sudah saya alokasikan. Ini rincian kuitansinya, Mas."

Dirga mengambil buku catatan kecil itu, membolak-balik halamannya dengan teliti tanpa terburu-buru. Matanya memindai tiap angka pembelian semen, pasir, hingga baja ringan.

"Perhitungannya sangat rapi dan jujur, Pak Karno," ujar Dirga dengan intonasi tenang dan berwibawa. "Sisa pembayaran dua belas juta rupiah akan saya transferkan malam ini juga ke rekening Pak Karno. Terima kasih atas kerja kerasnya."

Pak Karno mengusap dadanya lega, mengangguk berkali-kali. "Terima kasih banyak, Mas Dirga! Sungguh, jujur saja saya sempat heran... dari mana Mas Dirga punya dana tunai sebesar ini dalam waktu singkat? Tetangga-tetangga di pangkalan ojol maupun Bu Marni sempat berspekulasi yang tidak-tidak."

Pak RT mendelik pelan ke arah Pak Karno, lalu berdeham menetralkan suasana. "Hush! Pak Karno jangan ikut-ikutan menyebar gosip! Mas Dirga ini pemuda terpelajar. Sewaktu kerja di kantor investasi dulu, dia tentu sudah paham cara mengelola modal!"

Dirga menyunggingkan senyum tipis yang sarat akan makna mendalam. Ia menatap kedua pria paruh baya di hadapannya dengan pandangan jernih.

"Tidak apa-apa, Pak RT," pangkas Dirga santai. "Wajar jika masyarakat heran. Tetapi seperti yang pernah saya sampaikan, rezeki ini murni hasil transaksi pasar modal yang sah di lantai bursa. Saya tidak pernah menyentuh uang haram, uang perjudian, apalagi menjual kemampuan batin saya untuk pesugihan."

Pak RT mengangguk-angguk penuh rasa hormat. "Kami percaya penuh padamu, Dirga. Apalagi setelah kamu menyelamatkan warga Perumahan Asri dari musibah tanggul jebol minggu lalu. Kami tahu kamu ini pemuda yang lurus dan berharga diri tinggi."

Pak RT lalu menoleh ke arah jendela yang menampakkan pekarangan rumah panggung Dirga yang agak sempit. "Tapi bicara soal uang... dengan saldo investasi yang makin besar, apakah kamu tidak berniat membeli rumah beton yang lebih layak di perumahan elite, Dirga? Rumah kayu ini, meski atapnya sudah baru, lokasinya masih sering kena luapan selokan jika hujan lebat."

Dirga menggelengkan kepala perlahan. Tangannya mengelus permukaan meja kayu tua peninggalan almarhumah ibunya.

"Rumah ini menyimpan kenangan almarhumah ibu saya, Pak RT," jawab Dirga dingin namun hangat di dalam. "Saya tidak akan pernah menjual atau meninggalkannya begitu saja. Namun, mengenai investasi aset... Pak RT benar. Memarkir seluruh dana di pasar saham memiliki risiko volatilitas yang tinggi. Saya harus mulai memindahkan sebagian modal ke dalam aset riil yang tidak bisa tergerus inflasi."

Pak Karno yang mendengar hal itu langsung memotong antusias. "Properti, Mas Dirga! Kalau Mas punya dana lebih, belilah tanah! Tanah tidak pernah bertambah luas di bumi ini, tapi harganya selalu naik saban tahun!"

"Benar kata Pak Karno," timpal Pak RT. "Tapi harus hati-hati, Nak. Sekarang banyak tengkulak dan mafia tanah. Apalagi kalau membeli lahan di kawasan pinggiran kota yang tidak jelas prospek pengembangannya. Bisa-bisa uangmu mati tertanam di sana berbelas-belas tahun tanpa ada kenaikan harga."

"Lahan mati..." gumam Dirga pelan. Matanya mendadak memancarkan pendar ketajaman yang berbeda. "Tergantung bagaimana kita melihat prospek masa depannya, Pak RT."

"Maksudmu bagaimana, Nak Dirga?" tanya Pak RT heran.

"Banyak investor awam hanya melihat bentuk fisik tanah hari ini, apakah itu rawa, semak belukar, atau jauh dari pusat kota," jelas Dirga dengan bahasa analisis yang runtut dan berwibawa. "Namun investor sejati melihat apa yang akan berdiri di atas tanah tersebut lima hingga sepuluh tahun ke depan. Nilai sebuah lahan bukan terletak pada tanahnya itu sendiri, melainkan pada aksesibilitas dan kebijakan tata ruang pemerintah yang akan melaluinya."

Pak Karno terperangah mendengar penjelasan diplomatis tersebut, sementara Pak RT hanya bisa menggelengkan kepala takjub.

"Luar biasa..." bisik Pak RT. "Cara bicaramu makin hari makin persis seperti para konglomerat yang sering muncul di berita televisi, Dirga."

"Saya hanya belajar dari pengalaman, Pak," sahut Dirga rendah hati. "Malam sudah makin larut. Terima kasih pisang gorengnya, Pak RT. Bukti transfer sisa pelunasan renovasi akan saya kirimkan ke ponsel Pak Karno sebentar lagi."

Setelah Pak RT dan Pak Karno pamit pulang dengan rasa puas dan segan yang makin menebal, Dirga kembali mengunci pintu depan. Suasana rumah kembali hening.

Dirga duduk di kursi kerjanya, lalu membuka laptop bekas yang baru saja ia beli dua hari lalu untuk menunjang kegiatan analisisnya. Ia membuka situs bursa lelang properti dan portal jual-beli tanah independen di kawasan pinggiran Jakarta Selatan dan Kabupaten Bogor.

Jemari Dirga menari di atas papan ketik. Ia menyaring pencarian berdasarkan kriteria spesifik, luas lahan di atas dua hektar, harga di bawah harga pasar (distressed asset), dan berstatus kepemilikan Sertifikat Hak Milik (SHM) yang bersih tanpa sengketa.

Berbagai daftar iklan tanah bermunculan di layar monitor. Ada lahan perkebunan karet yang dijual murah karena pemiliknya terlilit utang, ada tanah kavling mangkrak di daerah perbukitan, hingga lahan rawa bekas tambak galian.

Dirga memiringkan kepalanya, memindai tiap iklan satu per satu. Ia menutup matanya sejenak, menarik napas dalam-dalam menembus rongga dada, melatih pemusatan fokus pernapasannya seperti yang diajarkan oleh Sang Leluhur di alam bawah sadar.

Hening. Kosong. Bening.

Ketika Dirga membuka matanya kembali, pendar mata batinnya mulai menyatu dengan analisis logis dari data batas wilayah perumahan di layar laptop. Tangannya menggulirkan mousenya ke bawah, hingga pandangannya terhenti pada sebuah iklan penjualan tanah yang baru saja diperbarui dua jam lalu.

Sebuah judul iklan mencolok terpampang di layar:

[DIJUAL CEPAT / BUTUH UANG] Lahan Seluas 3,5 Hektar di Kawasan Desa Sukamaju, Pinggiran Koridor Timur. Status SHM Atas Nama Pribadi. Harga Rp120.000 / Meter (Nego Sampai Jadi).

Dirga mengklik iklan tersebut untuk membaca deskripsi lebih detail.

Di dalam kolom deskripsi, penjual menjelaskan bahwa lahan tersebut merupakan area perbukitan berbatu dan semak belukar yang tidak produktif untuk pertanian. Lokasinya terisolasi dari jalan raya utama, tidak memiliki akses air bersih yang memadai, dan telah terbengkalai selama lebih dari lima belas tahun.

Beberapa komentar di bawah iklan tersebut dari para pembeli dan agen properti tampak bernada cemoohan.

'Lokasi masuk angin. Tidak ada akses jalan mobil besar, buat apa beli lahan mati begini?' 'Harga seratus ribu per meter pun masih kemahalan untuk tanah bebatuan yang tidak bisa ditanami!' 'Investor mana yang mau tanam modal di Desa Sukamaju? Sepi petunjuk jalan, sepuluh tahun lagi juga tidak bakal berkembang!'

Dirga membaca cemoohan para investor awam itu dengan sunggingan senyum dingin di bibirnya.

Total harga yang ditawarkan untuk lahan seluas 3,5 hektar (35.000 meter persegi) tersebut adalah Rp4.200.000.000,00 (Empat Koma Dua Miliar Rupiah). Namun, di bagian bawah iklan tertera catatan khusus dari pemiliknya:

'Menerima pembelian parsial (sebagian blok) mulai dari luas 3.000 meter persegi bagi pembeli tunai dengan uang muka cepat karena pemilik butuh dana pelunasan utang bank minggu ini.'

Dirga menatap foto lokasi lahan yang gersang, terjal, dan ditutupi ilalang tinggi di layar laptopnya.

Tiba-tiba, saat jemarinya menyentuh permukaan gambar peta satelit lokasi tanah Sukamaju di layar, dahi Dirga berdenyut pelan. Sebuah getaran energi yang sangat halus merambat naik dari telapak tangannya menuju saraf pusat.

Cahaya di dalam kamar terasa meredup seketika. Pandangan visual Dirga menembus foto dua dimensi di layar monitor, membawanya melompat masuk ke dalam lorong waktu masa depan.

Di dalam penglihatan batinnya, lahan gersang berbatuan di Desa Sukamaju yang diejek sebagai "lahan mati" itu tidak lagi sepi dan terbengkalai. Di sana, raungan mesin-mesin berat, ekskavator, dan buldoser bergema keras membelah perbukitan.

Dirga berdiri tegak di tengah pusaran kilatan visi masa depan tersebut. Ia menatap ke arah peta digital yang melayang di hadapannya.

Di layar penglihatannya, tampak sebuah garis merah tebal ditarik lurus oleh Kementerian Pekerjaan Umum dari arah pusat kota, memotong persis di tengah-tengah lahan 3,5 hektar di Desa Sukamaju tersebut. Sebuah tiang pancang besar bertuliskan 'Rencana Pembangunan Simpang Susun Tol Koridor Utama' tertancap kokoh tepat di atas tanah berbatuan yang hari ini ditertawakan orang.

Denyutan di dahinya perlahan mereda. Kesadaran Dirga kembali sepenuhnya ke dalam kamar rumah panggungnya yang hening.

Napas Dirga teratur, dadanya naik turun dengan tenang. Tatapan matanya memancarkan keteguhan tekad yang sangat mengerikan.

"Lahan mati..." bisik Dirga pada keheningan malam, senyumnya terkembang sarat akan dominasi. "Dalam tiga bulan ke depan, tanah berbatuan ini akan menjadi emas paling diperebutkan di seluruh provinsi."

Tanpa menunda waktu semenit pun, Dirga merogoh ponselnya, mencatat nomor telepon pemilik tanah yang tertera di iklan, dan menekan tombol panggil.

Di seberang telepon, nada dering berbunyi tiga kali sebelum akhirnya diangkat oleh seorang pria paruh baya dengan suara yang terdengar sangat letih dan panik.

"Halo? Selamat malam... dengan siapa ini?" tanya pemilik tanah di seberang telepon.

"Selamat malam," jawab Dirga dengan intonasi suara yang begitu dingin, berharga diri tinggi, dan tidak bisa dibantah. "Nama saya Dirga. Saya menelpon terkait iklan penjualan lahan tiga koma lima hektar di Desa Sukamaju."

Pemilik tanah mendesah berat, seolah sudah terbiasa menerima telepon keputusasaan. "Ah... Mas Dirga. Mau menawar berapa? Kalau mau menawar lima puluh ribu per meter maaf tidak bisa, Mas. Saya sedang butuh uang tunai cepat minggu ini untuk menutup utang."

"Saya tidak akan menawar harga murah yang merendahkan Anda," kata Dirga tegas, membuat pemilik tanah di seberang telepon seketika bungkam tertegun. "Saya membawa dana tunai lima ratus juta rupiah malam ini. Saya ingin membeli blok depan lahan Anda besok pagi secara tunai tanpa perantara."

Suara napas pemilik tanah di seberang telepon mendadak tercekat. "Mas... Mas Dirga serius? Besok pagi? Lima ratus juta tunai?"

"Besok pagi jam delapan tepat," pangkas Dirga tanpa memberi ruang keraguan. "Kirimkan titik lokasi pertemuan dan siapkan salinan Sertifikat Hak Milik asli Anda. Saya akan datang ke lokasi lahan Sukamaju besok pagi."

1
Adelina Lin
thor, balaskan kehancuran Dirga pada dua orang manusia yang sudah menginjak injak harga dirinya, kasihan Dirga
Rizky Fadillah: Kalo sampai naif mc nya ini author nya yg sebagai pembuat karakter dan jalan pikiran mc nya bodoh tolol
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!