Ervan Noir seorang yang bermimpi menjadi Hunter akan tetapi impianya tidak sesuai kenyataan ketika peluang menjadi Hunter di Depan Mata, kejadian diluar prediksi dimana saat proses pemasanagn CORE progres instalationya 0℅ sejak itu Ervan menjadi bahan olokan sering di bully , hingga suatu Insiden menimpa Ervan dimana ketika Ervan berada di Ambang kematian Instalation yang awalnya 0℅ mulai aktif, hingga akhirnya Takdir Ervan sebagsi seorang Hunter dimulai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LetterFromJusticia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 2 — PAGI SETELAH KEMATIAN
Dingin.
Itulah hal pertama yang dirasakan Ervan ketika kesadarannya perlahan kembali.
Punggungnya menempel pada permukaan keras yang lembap. Udara pagi menyentuh wajahnya, membawa aroma aspal, debu, dan bau logam yang membuat perutnya terasa tidak nyaman.
Kelopak matanya bergerak.
Cahaya putih menyusup melalui celah bangunan di kanan-kiri gang.
Ervan mengernyit sebelum akhirnya membuka mata sepenuhnya.
Langit sudah terang.
Untuk beberapa detik ia hanya menatap ke atas tanpa bergerak, mencoba memahami kenapa dirinya masih bisa melihat warna langit.
Ingatan terakhirnya datang dalam potongan-potongan kasar.
Seorang pria.
Pisau.
Pergumulan.
Rasa panas yang menembus tubuhnya.
Darah.
Lalu dingin.
Dan tepat sebelum semuanya gelap—
BIP.
Suara elektronik itu kembali terngiang begitu jelas di kepalanya.
«CORE INSTALLATION PROCESS STARTING...»
Ervan menahan napas.
Potongan angka yang semalam terlihat samar dalam pandangannya kembali muncul dalam ingatan.
«25%»
«48%»
«71%»
«93%»
Kemudian angka yang selama bertahun-tahun bahkan tak pernah berani ia bayangkan.
«100%»
Dan terakhir—
«CORE INSTALLATION COMPLETE»
Ervan mendadak bangkit setengah duduk.
“Ah—”
Tangannya refleks menekan sisi tubuhnya.
Ia membeku.
Tidak sakit.
Ervan menatap tangannya sendiri, lalu menekan bagian yang sama sekali lagi, kali ini lebih kuat.
Tidak ada rasa nyeri menusuk.
Tidak ada sensasi luka terbuka.
Tidak ada darah baru.
“Apa...?”
Ia menarik ujung kausnya.
Kain itu kaku karena darah yang telah mengering. Tepat pada bagian tempat pisau menembus tubuhnya terdapat sobekan yang bentuknya terlalu jelas untuk dianggap salah ingat.
Ervan menelan ludah.
Jari-jarinya bergerak perlahan menyentuh kulit di balik sobekan tersebut.
Utuh.
Ia mengusapnya sekali.
Lalu dua kali.
Tidak ada luka.
Bahkan bekas sayatan pun tidak ia temukan.
Ervan terdiam.
Otaknya segera bekerja mencari penjelasan yang paling masuk akal.
Mungkin pisau itu tidak masuk sedalam yang ia kira.
Tidak.
Ia masih ingat rasa logam menembus tubuhnya.
Mungkin darah sebanyak ini bukan miliknya.
Ervan menunduk.
Lantai di dekat tempatnya terbangun dipenuhi noda kecokelatan yang sudah mulai mengering. Jejak darah membentuk garis tak beraturan dari mulut gang sampai tempat dirinya terjatuh.
Terlalu banyak untuk luka ringan.
Ia mencoba mengingat apa yang terjadi setelah dirinya pingsan.
Seseorang menolongnya?
Tidak mungkin.
Kalau ada orang yang menemukannya dalam kondisi seperti itu, setidaknya ia akan dibawa ke rumah sakit, bukan dibiarkan tergeletak di gang dengan pakaian berlumuran darah.
Ervan meraba sisi tubuhnya sekali lagi.
Tetap tidak ada luka.
“Kenapa aku masih hidup?”
Suaranya terdengar asing di tengah gang yang sepi.
Ervan menyandarkan punggung ke dinding.
Barulah saat itu ia menyadari sesuatu yang lain.
Tubuhnya terasa... aneh.
Bukan sakit.
Justru sebaliknya.
Ringan.
Kepalanya yang seharusnya berat setelah kehilangan banyak darah terasa jernih. Tidak ada pusing. Tidak ada mual. Bahkan rasa lemas yang seharusnya muncul setelah kejadian semalam nyaris tidak terasa.
Ia mengepalkan tangan.
Normal.
Setidaknya terlihat normal.
Ervan menatap telapak tangannya cukup lama.
CORE.
Pikiran itu muncul dengan sendirinya.
Selama bertahun-tahun benda di dalam tubuhnya hanyalah kegagalan yang terlalu mahal untuk dilupakan.
Resonance Compatibility: 99%.
Angka yang dulu membuat semua orang menaruh harapan besar kepadanya.
Lalu—
Installation Progress: 0%.
Angka yang menghancurkan semuanya.
Dokter, teknisi, laboratorium, pemeriksaan berulang. Tidak satu pun mampu menjelaskan kenapa CORE dengan kompatibilitas hampir sempurna justru gagal melakukan instalasi.
Pada akhirnya kasusnya mendapat satu klasifikasi yang terus menempel pada hidupnya.
BUG.
Dan orang-orang memberinya nama yang jauh lebih sederhana.
Zero.
Ervan menunduk.
“Tapi semalam angkanya... seratus persen.”
Ia mengingatnya.
Bukan mimpi.
Setidaknya ia yakin itu bukan mimpi.
Namun keyakinan tersebut tidak menjawab apa pun.
Apakah aktivasi CORE yang menyelamatkannya?
Apakah CORE mampu menyembuhkan luka seperti itu?
Kalau iya, kenapa selama ini ia tidak pernah mendengar kasus serupa?
Ervan mengembuskan napas perlahan.
“Datanya masih terlalu sedikit.”
Kebiasaan lamanya mengambil alih.
Jangan membuat kesimpulan dari satu kejadian.
Yang ia tahu hanya tiga hal.
Ia ditusuk.
CORE miliknya aktif.
Dan sekarang lukanya hilang.
Hubungan di antara ketiganya belum tentu sesederhana yang terlihat.
Ervan merogoh saku celananya.
Ponselnya masih ada.
Layarnya retak kecil pada salah satu sudut, tetapi masih menyala setelah ia menekan tombol samping.
Puluhan notifikasi langsung memenuhi layar.
Mata Ervan melebar.
Panggilan tak terjawab.
Pesan.
Panggilan lagi.
Hampir semuanya berasal dari orang yang sama.
Rosaline Laurentcia.
“Aduh, gawat.”
Rasa bingung mengenai tubuhnya seketika digantikan persoalan yang jauh lebih dekat.
Ervan membuka pesan paling awal.
Rosaline awalnya hanya menanyakan kenapa ia belum sampai di panti.
Pesan berikutnya meminta Ervan mengabari kalau mendapat jadwal tambahan di minimarket.
Beberapa waktu kemudian kalimat-kalimatnya berubah.
Ia mulai menanyakan posisi Ervan.
Lalu meminta Ervan menjawab telepon.
Pesan terakhir dikirim ketika hari sudah mendekati pagi.
Rosaline hanya ingin tahu bahwa ia masih baik-baik saja.
Ervan memejamkan mata.
Ada rasa bersalah yang jauh lebih tidak nyaman daripada noda darah di bajunya.
Wanita itu sudah berusia tujuh puluh tujuh tahun.
Dan ia membuatnya tidak tidur semalaman.
Jempol Ervan bergerak di atas layar.
Maaf. Aku baik-baik saja. Aku sedang pulang.
Ia menatap pesan itu.
Kata baik-baik saja terasa seperti kebohongan meski secara fisik memang demikian.
Bagaimana ia menjelaskan pakaian penuh darah sementara tubuhnya bahkan tidak mempunyai luka?
Ervan menghapus kalimat terakhir, lalu mengetik ulang.
Maaf membuat khawatir. Aku sedang pulang. Nanti aku jelaskan setelah sampai.
Kirim.
Belum sampai sepuluh detik, layar ponselnya bergetar.
Rosaline menelepon.
Ervan menatap nama itu beberapa saat sebelum menerima panggilan.
“Ervan?”
Suara di seberang langsung membuat dadanya terasa sesak.
Rosaline tidak berteriak.
Justru itu yang membuat Ervan merasa semakin bersalah.
“Iya, ini aku. Maaf, aku baru lihat ponsel.”
“Kamu di mana sekarang? Aku menelepon dari semalam, tidak ada satu pun yang kamu angkat. Orang minimarket bilang kamu sudah pulang sesuai jadwal.”
Ervan menoleh ke mulut gang.
“Aku sedang di jalan, mau pulang ke panti.”
“Pulang dari mana? Jam kerjamu sudah habis sejak semalam.”
Pertanyaan sederhana.
Masalahnya, Ervan sendiri tidak mempunyai jawaban yang terdengar masuk akal.
“Ceritanya agak panjang. Susah kalau kujelaskan lewat telepon.”
Hening sesaat.
“Ervan.”
Nada suara Rosaline berubah.
Bukan marah.
Terlalu tenang untuk disebut marah.
Ervan sudah mengenalnya cukup lama untuk tahu keadaan seperti ini justru lebih buruk.
“Aku tidak apa-apa, sungguh,” katanya. “Sampai di panti, aku ceritakan semuanya. Aku janji.”
Rosaline menarik napas dari seberang.
“Ya sudah. Pulang dulu, langsung ke panti. Jangan mampir ke mana-mana.”
“Iya, aku langsung pulang.”
“Teleponmu jangan dimatikan. Kalau aku menelepon lagi, kamu angkat.”
Ervan hampir tersenyum kecil.
“Tidak akan kumatikan, sampai aku berdiri di depan pintu.”
Panggilan berakhir.
Ervan memasukkan ponsel kembali ke saku.
Sekarang muncul masalah berikutnya.
Ia memandang dirinya sendiri.
Kaus penuh darah.
Celana dengan noda gelap.
Kalau ia berjalan melewati jalan ramai seperti ini, seseorang bisa mengira baru terjadi pembunuhan.
Rumah sakit sempat terlintas dalam pikirannya.
Itu pilihan yang logis.
Setidaknya seorang dokter dapat memastikan kondisinya.
Namun Ervan kembali melihat kulit utuh di balik kaus yang robek.
Datang ke rumah sakit dengan pakaian dipenuhi darah, mengaku semalam ditusuk, lalu menunjukkan tubuh tanpa satu luka pun bukan sesuatu yang bisa ia jelaskan dengan mudah.
Terlebih lagi kalau aktivasi CORE-nya diketahui.
Kasusnya sudah pernah dianggap sebagai anomali laboratorium.
Ervan tidak ingin membuat keputusan besar sebelum memahami sedikit saja apa yang sedang terjadi pada tubuhnya.
Pulang lebih dulu.
Mandi.
Ganti pakaian.
Pikirkan semuanya dengan kepala jernih.
Baru setelah itu ia bisa menentukan langkah berikutnya.
Ervan berdiri.
Ia sempat bersiap menahan pusing.
Tidak ada.
Kedua kakinya menopang tubuh dengan stabil.
Bahkan terlalu stabil.
Ervan mengerutkan dahi, tetapi memilih tidak memikirkannya sekarang.
Ia mengambil jaket kerjanya yang tergeletak tidak jauh dari tempatnya jatuh. Bagian depan jaket itu juga ternoda darah. Ervan mengenakannya dan menarik ritsleting setinggi mungkin untuk menutupi kaus di dalam.
Tidak sempurna.
Namun setidaknya tidak membuat seluruh orang yang dilewatinya langsung menoleh.
Sebelum meninggalkan gang, Ervan berhenti.
Ia memandang tempat dirinya terbangun.
Noda darah di tanah menjadi bukti bahwa semalam benar-benar terjadi.
Bukan mimpi.
Bukan halusinasi.
Ia hampir mati di tempat itu.
Ervan menatapnya beberapa detik lebih lama sebelum akhirnya berbalik.
---
Perjalanan menuju panti terasa lebih panjang dari biasanya.
Ervan memilih jalan yang tidak terlalu ramai.
Beberapa kali tangannya tanpa sadar menyentuh bagian tubuh tempat dirinya ditusuk. Setiap kali itu pula ia menemukan hasil yang sama.
Tidak ada apa-apa.
Semakin dekat ke panti, semakin banyak pertanyaan memenuhi kepalanya.
Kenapa CORE yang tidak pernah bergerak selama bertahun-tahun tiba-tiba menyelesaikan instalasi ketika dirinya sekarat?
Apakah kondisi kritis menjadi pemicunya?
Kalau begitu, mengapa?
Kenapa tidak pernah terjadi sebelumnya?
Dan yang paling mengganggunya—
apa yang sebenarnya berubah setelah angka itu mencapai seratus persen?
Ervan tidak punya jawabannya.
Belum.
Gerbang panti akhirnya terlihat dari ujung jalan.
Langkah Ervan melambat.
Bangunan itu sama seperti ketika ia tinggalkan kemarin.
Tempat yang menjadi rumahnya sejak ia bahkan belum cukup besar untuk memahami arti kata yatim piatu.
Sebuah tempat yang sederhana, jauh dari kehidupan para keluarga Hunter terkenal yang sering muncul di berita.
Namun bagi Ervan, tidak ada tempat lain yang lebih pantas disebut rumah.
Tangannya menyentuh gagang gerbang.
Baru sekarang ia kembali memikirkan penampilannya.
Rosaline pasti akan melihat darah ini.
Ia mungkin bisa mengatakan terjadi perampokan.
Itu memang kenyataannya.
Masalahnya adalah bagian setelah itu.
Ervan mengembuskan napas panjang.
“Selesaikan satu-satu dulu.”
Ia melangkah masuk.
Halaman masih relatif sunyi. Beberapa anak kemungkinan belum memulai aktivitas pagi mereka.
Ervan berjalan menuju pintu utama.
Semakin dekat, semakin berat langkahnya.
Bukan karena tubuhnya lelah.
Justru karena ia tahu siapa yang menunggunya di balik pintu.
Ia mengangkat tangan untuk mengetuk.
Belum sempat buku jarinya menyentuh permukaan pintu—
Klik.
Pintu terbuka dari dalam.
Ervan membeku.
Rosaline berdiri di sana.
Rambut wanita tua itu belum tertata serapi biasanya. Wajahnya tampak lelah, seolah semalaman benar-benar tidak tidur.
Sesaat setelah melihat Ervan, ketegangan di wajahnya seperti mengendur.
Namun hanya sesaat.
Tatapan Rosaline turun.
Ke jaket Ervan.
Ke noda merah tua yang tidak seluruhnya berhasil disembunyikan.
Kemudian ke celananya.
Wajahnya berubah.
Rosaline mengangkat pandangan kembali kepada Ervan.
Kali ini tak ada kelegaan di sana.
“Ervan...”
Matanya kembali jatuh pada darah kering yang memenuhi pakaiannya.
“Itu darah siapa?”
mangat nulisnya
mampir juga di karyaku yah😊