NovelToon NovelToon
Kutukan Jiwa Niskala 2

Kutukan Jiwa Niskala 2

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Romansa Fantasi / Fantasi
Popularitas:288
Nilai: 5
Nama Author: Soobin Chan

Disarankan untuk baca season pertamanya dulu ya!

****

Tiga tahun setelah bangkit dari kematian dengan kekuatan Batu Es yang terkutuk, Han Seol menjelma menjadi penyihir terkuat yang ditakuti sekaligus kesepian. Di tengah bayang-bayang arwah jahat dan luka masa lalu atas hilangnya Seol Ah, ia dipertemukan kembali dengan Jin So Hwa—putri sulung rahasia dari Jinyowon yang jiwanya menyimpan misteri besar.
Demi lolos dari kurungan ibunya, So Hwa nekat mengajukan pernikahan gila kepada Han Seol. Dan demi membungkam seisi kerajaan, sebuah kebohongan konyol terucap: "Saksi pernikahan kami adalah anak di dalam perutku!"
Saat takdir lama mulai terajut kembali dengan identitas baru, akankah es di hati Han Seol mencair, ataukah rahasia tiga tahun lalu justru akan menghancurkan mereka sekali lagi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15. Siasat di Balik Meja Judi

"Aku berhasil melacak identitas orang pertama yang meneriakkan rumor pembantaian di Danau Cheon Gi kepada warga pasar. Orang itu bernama Byeong Gu."

Baek Seo Jun merebut kertas tersebut, matanya menyipit tajam. "Byeong Gu? Siapa dia sebenarnya?"

"Dari informasi yang kukumpulkan dari para nelayan, Byeong Gu saat ini hidup menggelandang di atas kapal-kapal kargo kecil dan bekerja serabutan di dermaga. Di samping profesi tidak jelasnya itu, dia juga sangat dikenal luas di kalangan bawah sebagai orang yang gemar berjudi kronis. Utangnya menumpuk di mana-mana," jelas Ha Jin dengan nada serius.

Baek Seo Jun menyunggingkan senyum cerdasnya. "Penyebar rumor yang gemar berjudi... itu adalah kombinasi yang sempurna untuk dibeli dengan uang. Ha Jin, siapkan pedangmu. Kita susun rencana untuk mencari bedebah bernama Byeong Gu ini di semua rumah judi yang ada di kota, termasuk tempat judi terselubung milik Soi yang berada di Desa Gaima."

****

Pencarian mereka akhirnya menuntun kedua pemuda itu menembus kabut tebal menuju Desa Gaima, sebuah kawasan kumuh yang terkenal sebagai sarang para dukun ilmu hitam dan pelarian. Di sana, mereka melakukan penggerebekan senyap di markas perjudian ilegal yang dikelola oleh Soi.

Melalui interogasi paksa terhadap para penjaga yang ketakutan, terungkaplah sebuah fakta yang mencengangkan bahwa sosok yang menyuruh dan membayar Byeong Gu untuk menyebarkan isu bohong tentang kebangkitan Nara... tidak lain adalah Soi sendiri!

Skema itu ternyata murni merupakan taktik bisnis kelam yang dirancang oleh Soi. Ia sengaja menciptakan kepanikan massal mengenai hantu Nara agar jimat-jimat penangkal roh Nara buatan para dukun dari Desa Gaima yang telah ia stok dalam jumlah besar mendadak laris manis dan habis diburu dengan harga selangit oleh warga kota yang ketakutan.

Saat Ha Jin menyatakan keheranannya mengapa bisnis ilegal sebesar ini tidak pernah diendus oleh pihak berwenang, salah satu bandar judi membisikkan alasan utamanya. Selama ini Soi bisa menjalankan bisnis judinya dengan teramat lancar dan tak tersentuh hukum dikarenakan adanya sokongan dana dan perlindungan politik yang sangat kuat dari dalam organisasi Cheonbugwan di bawah kendali Jin Wu.

****

Di sisi lain, di tengah-tengah masyarakat pasar bawah yang kian hari kian panik, isu kemunculan Nara tidak hanya berputar pada masalah jimat pelindung. Desas-desus kelam yang berkembang di warung-warung teh mulai mengaitkan keselamatan sang pengantin baru.

Banyak orang awam beranggapan bahwa jika Nara benar-benar muncul kembali dari kematian dan berniat meneror warga, maka pastinya yang akan menjadi target utama pembantaiannya adalah Jin So Hwa. Logika warga sangat sederhana: So Hwa kini memegang status sebagai istri sah dari Han Seol, pria yang dulu paling dicintai sekaligus dikhianati oleh Nara.

Siang itu, Jin So Hwa tanpa sengaja sedang berjalan sendirian melewati koridor pasar yang ramai untuk membeli beberapa keperluan herbal bagi Bibi Myung Ja. Tiba-tiba, lengannya ditarik dengan heboh oleh sesosok wanita paruh baya berpakaian sutra mencolok.

"Nona So Hwa! Astaga, berani sekali kau berkeliaran sendirian di tempat terbuka seperti ini!" seru Kim Yeon Hong, sang pemilik Rumah Mawar yang kebetulan sedang sibuk memilih-milih jimat di sebuah lapak pedagang kaki lima.

So Hwa mengerjapkan matanya bingung. "Ada apa, Nyonya Kim?"

Kim Yeon Hong langsung menyodorkan selembar kertas kuning berajah mantra merah ke depan wajah So Hwa, lalu mengajaknya dengan setengah memaksa.

"Ayo, kau harus segera membeli jimat penangkal Nara ini sekarang juga! Seluruh kota sedang membicarakan bahwa hantu pembunuh bayangan itu sedang mengincarmu karena kau telah merebut posisi Han Seol darinya. Jangan meremehkan amukan arwah wanita yang cemburu, Nona Jinyowon!"

Jin So Hwa hanya bisa menatap jimat tersebut dengan pandangan heran, sementara mata spiritualnya mendeteksi bahwa kertas itu sama sekali tidak memiliki aliran energi pelindung apa pun selain tinta murahan buatan Desa Gaima.

****

Ketika malam mulai merayap menggantikan siang, hawa dingin kembali menyelimuti padepokan Cheon Gi Won. Han Seol berdiri di selasar atas, menatap lurus ke arah cakrawala. Telinganya yang tajam sudah menangkap dengan sangat jelas apa yang menjadi anggapan dan desas-desus orang-orang di pasar mengenai keselamatan Jin So Hwa yang terancam oleh hantu Nara.

Namun, alih-alih merasa takut, Han Seol justru menyatukan semua potongan petunjuk di dalam kepalanya. Instingnya yang tajam segera mengaitkan seluruh fenomena rumor palsu ini dengan kecurigaannya yang mendalam kepada Jin Wu.

“Jin Wu sengaja memaksaku pergi ke danau melalui perintah Raja, sementara di saat yang sama ia menebar opini bahwa Jin So Hwa adalah target utama Nara,” pikir Han Seol dengan rahang mengeras.

“Ini adalah taktik pengalihan. Dia ingin menguras posisiku agar rumah ini kosong.”

Oleh karenanya, pada malam itu, Han Seol mengambil keputusan yang berani. Ia memilih untuk menentang perintah langsung dari Raja untuk pergi melakukan perburuan di Danau Cheon Gi.

Sebaliknya, ia lebih memilih untuk tetap tinggal di kediamannya dan merundingkan masalah konspirasi besar tersebut bersama Do Kwang di dalam ruang rahasia mereka. Han Seol tahu, jika ia melangkah kaki ke danau malam ini, ia akan masuk ke dalam jebakan yang bisa merenggut Jin So Hwa dari sisinya untuk selamanya.

****

Pagi hari di Negeri Niskala disambut oleh desas-desus baru yang tak kalah menggemparkan. Tepat pada hari peringatan haol ketiga kematian tragis Nara sang pembunuh bayangan, sebuah undangan resmi berlapis emas tersebar luas ke seluruh kediaman wanita terpandang di ibu kota.

Pengirimnya tidak main-main: sang Ratu yang saat ini jiwanya masih bersarang di raga dukun Choi.

Nama Jin So Hwa tertulis jelas di salah satu gulungan undangan tersebut. Di dalam maklumatnya, Ratu menyatakan bahwa jamuan teh malam hari ini diadakan secara khusus untuk menenangkan hati para wanita bangsawan sekaligus membasmi ketakutan massal akibat isu kemunculan hantu Nara.

Namun, di balik kata-kata manis dan dekorasi mewah yang mulai dipasang, sebuah rencana busuk telah matang diatur. Jamuan tersebut murni merupakan jebakan maut yang diinisiasi oleh otak licik Jin Wu. Tujuan utamanya adalah untuk memburu dan melenyapkan Jin So Hwa malam itu juga.

Jin Wu menghitung dengan cermat: jika Jin So Hwa berhasil disingkirkan di bawah hidung sang Penyihir Agung, maka Jin Hwa Young dipastikan akan mengamuk dan menganggap Han Seol tidak becus menjaga keselamatan putri sulungnya.

Hubungan menantu dan ibu mertua itu akan hancur dan mereka akan saling bermusuhan. Momen perpecahan inilah yang sangat diharapkan oleh Ratu dan Jin Wu agar mereka bisa dengan mudah menguasai benteng Jinyowon beserta seluruh artefak ritual langit di dalamnya.

Malam yang dinantikan pun tiba. Aula luar istana peristirahatan disulap menjadi panggung pesta yang teramat meriah. Gelak tawa para wanita bangsawan berpadu dengan alunan musik dawai, dibalut oleh indahnya kembang api yang melesat bergantian menghias langit malam.

Suasana yang begitu riang gembira dan penuh kemewahan itu berhasil membuat seluruh tamu undangan lengang. Tidak ada satu pun dari mereka yang mengkhawatirkan bahaya, apalagi mencurigai adanya pemindah jiwa di sekitar mereka.

Hingga pada saat mereka semua benar-benar berada di titik paling lengah...

Sringgg!

Sesosok bayangan hitam berkelebat cepat memecah kerumunan. Munculah seorang pemindah jiwa wanita dengan mata abu-abu pudar, menghunus sebilah pedang panjang yang berkilat tajam. Tanpa bisa dicegah oleh siapa pun, pedang itu langsung dihunuskan dengan satu tusukan kuat tepat menembus dada Jin So Hwa yang sedang berdiri di dekat selasar.

Jleb!

"AAAKHHH!"

Jeritan histeris penonton pecah seketika. Tubuh Jin So Hwa langsung ambruk, tewas seketika di atas lantai batu dengan darah yang mengalir deras, sementara pedang panjang itu masih menancap kokoh di punggungnya. Si pemindah jiwa tidak membuang waktu; ia melompat ke atas atap dan melesat terbang kabur menghilang ke dalam kegelapan malam.

Melihat metode pembunuhan yang begitu cepat, dingin, dan menggunakan senjata kuno, seluruh orang yang ada di aula pesta langsung meyakini dengan histeris bahwa pemindah jiwa yang baru saja beraksi adalah hantu Nara yang bangkit dari kubur untuk membalas dendam.

Namun, di balik layar kekacauan tersebut, sebuah kebenaran tak terduga telah berjalan. Han Seol ternyata jauh lebih cerdas dari yang dikira Jin Wu.

Berkat rundingannya bersama Do Kwang semalam, ia telah mengantisipasi jebakan ini. Do Kwang secara diam-diam telah diutus untuk menemui Jin Hwa Young, memberi tahu secara serius bahwa nyawa putri sulungnya malam ini sedang terancam oleh konspirasi Cheonbugwan.

Demi melindungi anaknya, Jin Hwa Young akhirnya setuju bekerja sama dan meminjamkan sebuah relik mistis paling sakral milik Jinyowon—sebuah patung tikus putih ajaib bernama Gwiseo. Berkat kekuatan relik Gwiseo yang dialiri energi spiritual, terciptalah sebuah kloningan sempurna alias fotokopi magis yang wujudnya sangat identik dengan Jin So Hwa yang asli.

Terungkaplah bahwa sosok yang baru saja ditusuk hingga tewas di aula perjamuan hanyalah tubuh ilusi dari kloningan tikus putih tersebut. Hal itu terbukti secara mutlak ketika beberapa saat setelah pembunuh itu pergi, jasad Jin So Hwa di lantai perlahan memudar, berubah kembali ke bentuk semula menjadi seekor tikus putih mistis, lalu melesat terbang kembali pulang ke dalam dekapan pelindung Jinyowon.

Pada waktu yang bersamaan, di pelarian si pembunuh, Han Seol telah menghadang langkah sang pemindah jiwa tepat di atas sebuah jembatan batu besar di perbatasan kota.

"Kau pikir bisa membodohiku dengan topeng itu, Jin Wu?"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!