NovelToon NovelToon
Ketika Wanita Licik Diselingkuhi

Ketika Wanita Licik Diselingkuhi

Status: sedang berlangsung
Genre:Suami Tak Berguna / Pelakor / Selingkuh / Cinta Terlarang / Kaya Raya / Playboy
Popularitas:20.2k
Nilai: 5
Nama Author: Ocean Na Vinli

Norman Turner mengira Grace Wills, wanita yang mudah dibodohi, sayangnya ia tidak memahami istrinya dengan baik.

Grace Wills malah memilih langkah yang paling berbeda saat mengetahui suaminya mendua.

Apa yang dilakukan Grace Wills? Penasaran, kepoin yuk ceritanya ...

Untuk tahu info update, follow IG: @nana_vinli
Diusahakan update setiap hari, 1 sampai 3 bab.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ocean Na Vinli, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tidak Ada Yang Benar-Benar Tulus

Grace pun segera menemui Mia untuk mendapatkan informasi terbaru, sesuai dengan tempat yang telah mereka sepakati sebelumnya. Setelah mendengarkan semua informasi yang disampaikan perempuan itu, Grace akhirnya mengetahui sesuatu yang sama sekali tidak pernah ia duga sebelumnya.

Tak lama kemudian, Grace telah tiba di butik Vow & Veil.

Sebenarnya, ia ingin menghabiskan waktu untuk menenangkan pikirannya. Namun, informasi yang baru saja diterimanya membuat Grace tidak bisa tinggal diam. Ia membutuhkan penjelasan, meskipun jauh di dalam hatinya, ia sudah mengetahui jawaban yang mungkin akan didengarnya.

Begitu memasuki butik, Grace mendapati Carmen sedang merapikan beberapa pakaian di dekat rak pajangan.

"Siang, Grace." Carmen menoleh dan tersenyum seperti biasa. "Bagaimana keadaanmu? Kau sudah merasa lebih baik?"

Grace tidak langsung menjawab. Wajahnya tetap datar, tanpa memperlihatkan sedikit pun emosi yang berkecamuk di dalam dadanya.

Ia hanya berjalan melewati Carmen, kemudian berbalik menuju pintu masuk. Tangannya terulur untuk membalik tanda di depan butik dari OPEN menjadi CLOSED.

Carmen mengernyit melihat tingkah sahabatnya. "Grace? Ada apa?"

Grace berbalik. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, ia mengeluarkan selembar foto dari dalam tasnya, kemudian melemparkannya ke atas meja di hadapan Carmen.

"Jelaskan ini padaku."

Carmen menunduk. Namun, begitu melihat foto yang tergeletak di atas meja, wajahnya seketika memucat. Matanya membelalak. Bibirnya terbuka, tetapi tak satu pun kata berhasil keluar dari mulutnya.

Foto itu memperlihatkan Carmen sedang memasuki sebuah hotel bersama Norman Turner.

Suami Grace sendiri.

"Gr-Grace, aku ...."

"Bisa kau jelaskan apa maksud foto ini?!" potong Grace. Tatapannya begitu tajam, meskipun suaranya terdengar tenang.

Carmen menelan ludah. Kedua tangannya mulai gemetar. Ia ingin meraih foto itu, tetapi urung ketika melihat tatapan Grace yang membuatnya tak berani bergerak.

Untuk beberapa saat, keduanya hanya saling berhadapan.

Grace menatap perempuan di hadapannya dengan perasaan yang sulit diungkapkan. Ia sudah menduga bahwa hidupnya tidak pernah benar-benar mudah. Norman berkali-kali memberinya luka, sementara keluarga suaminya pun tidak pernah membuatnya merasa diterima.

Namun, Carmen berbeda.

Perempuan itu telah menjadi sahabatnya sejak SMA. Mereka melewati masa sekolah bersama, berbagi cerita, tertawa, bahkan saling menemani ketika menghadapi kesulitan. Grace telah menganggap Carmen sebagai saudara, seseorang yang bisa dipercaya ketika dunia seolah-olah tidak lagi berpihak kepadanya.

Grace tidak pernah berpikir bahwa suatu hari ia akan berdiri di hadapan sahabatnya sendiri sambil mempertanyakan ketulusan semua kenangan mereka.

"Aku tidak habis pikir ...." Suara Grace mulai bergetar. Ia mengepalkan tangan di sisi tubuhnya, berusaha mempertahankan ketenangannya. "Orang yang sudah kuanggap sebagai saudaraku sendiri, orang yang sudah kuanggap sebagai adikku sendiri, tega melakukan ini kepadaku."

Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. Grace segera mengangkat dagu, seolah-olah gerakan kecil itu bisa mencegah air matanya jatuh.

Carmen ikut menangis. Rasa bersalah terpancar jelas dari sorot matanya.

"Aku bisa menjelaskannya, Grace. Tolong, dengarkan aku ...."

"Menjelaskan apa!?" Grace menggeleng, lalu menatapnya dengan mata yang mulai memerah. "Menjelaskan bahwa kau tidur dengan suamiku?"

Carmen terdiam.

Grace menarik napas panjang, tetapi dadanya justru terasa semakin sesak. Ia menatap Carmen lekat-lekat, seolah-olah masih berharap perempuan itu akan menyangkal semuanya.

"Kau pernah tidur dengan dia?" tanyanya lirih.

Carmen menggeleng lemah. Air matanya mengalir membasahi pipi.

Grace memejamkan mata sesaat. "Carmen, aku bertanya kepadamu. Kau pernah tidur dengan dia, bukan?"

Kali ini, Carmen tidak sanggup mengelak. Ia menundukkan kepala, kemudian mengangguk pelan.

Seketika, pertahanan Grace runtuh.

Air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya jatuh. Ia menutup mulut dengan satu tangan, sementara tangan lainnya mencengkeram ujung blazer yang dikenakannya.

Ternyata, ia salah.

Selama ini, Grace masih berusaha meyakinkan dirinya bahwa setidaknya ada satu orang yang benar-benar tulus menyayanginya tanpa menginginkan apa pun sebagai balasan. Seseorang yang tidak akan menusuknya dari belakang ketika ia sedang berusaha bangkit dari kehancuran.

Namun, kenyataannya, orang itu pun telah mengkhianatinya.

"Bukan begitu, Grace ...." Carmen menggeleng cepat, mencoba mendekat, tetapi berhenti ketika Grace mengangkat tangannya sebagai isyarat agar ia tidak bergerak lebih jauh. "Aku melakukan itu karena kami sama-sama mabuk waktu itu. Aku tahu aku salah, tapi ...."

"Mabuk?" Grace mengulang kata itu dengan suara bergetar.

Ia mengusap air matanya kasar, kemudian menatap Carmen dengan tatapan kecewa.

"Seberapa mabuk kau sampai melakukan itu?" lanjut Grace.

Carmen terdiam.

Grace mengenalnya dengan sangat baik. Carmen bukan seseorang yang mudah mabuk. Bahkan ketika minum minuman keras, perempuan itu masih mampu mengendalikan dirinya. Karena itulah, alasan yang baru saja didengarnya terasa semakin menyakitkan.

"Kau pikir aku tidak mengenalmu?" Grace tertawa hambar di sela tangisnya. "Aku tahu kau bukan orang yang mudah mabuk, Carmen."

"Aku ...."

"Kau melakukannya dalam keadaan sadar." Grace menggeleng, membiarkan air matanya terus mengalir. "Jadi, jangan gunakan mabuk sebagai alasan untuk membenarkan apa yang sudah kau lakukan."

Carmen terisak. "Maafkan aku, Grace. Aku benar-benar menyesal."

Namun, permintaan maaf itu tidak mampu mengembalikan kepercayaan yang telah hancur.

Grace menatapnya untuk terakhir kali. Hatinya terasa sakit, tetapi ia tahu dirinya tidak akan sanggup berdiri lebih lama di hadapan perempuan yang selama ini dipercayainya.

"Cukup!"

"Grace, aku mohon ..."

"Aku tidak ingin mendengar apa pun darimu lagi," kata Grace kemudian berbalik dan melangkah menuju pintu.

Namun, baru beberapa langkah, suara Carmen kembali terdengar di belakangnya.

"Tunggu, Grace!"

Grace berhenti sejenak tanpa menoleh. "Jangan temui aku untuk beberapa waktu ini," ucapnya dingin.

Setelah mengatakan itu, Grace membuka pintu dan keluar tanpa menunggu jawaban. Pintu butik tertutup dengan bunyi keras di belakangnya.

Carmen terduduk lemas. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangan, menangis karena menyadari bahwa perbuatannya telah menghancurkan persahabatan yang mereka bangun selama bertahun-tahun.

Ia memang menyesali perbuatannya. Namun, penyesalan itu tidak menghapus kenyataan bahwa ia telah menyakiti Grace dengan cara yang sama sekali tidak pantas diterima sahabatnya sendiri.

Carmen tahu Grace tidak akan mudah memaafkannya. Karena itulah, meskipun hubungan mereka kini retak, ia memutuskan tetap mengikuti rencana Grace dan tidak memberitahukan apa pun kepada Norman. Setidaknya, itulah satu-satunya hal yang masih bisa dilakukannya sebagai bentuk penyesalan.

Sementara itu, Grace terus melangkah dengan pandangan kosong.

Setiap langkah terasa berat. Dadanya sesak, seolah-olah seseorang telah merenggut sesuatu yang selama ini menjadi tempatnya bersandar.

Ia sudah berkali-kali dikecewakan Norman. Akan tetapi, rasa sakit yang ditimbulkan Carmen justru terasa berbeda. Norman adalah suami yang telah mengkhianati pernikahan mereka, sedangkan Carmen adalah sahabat yang seharusnya memahami betapa hancurnya Grace akibat semua pengkhianatan itu.

Namun, perempuan itu justru menjadi bagian dari luka yang sama.

Apa sebenarnya yang masih bisa dipercayai Grace?

Pertanyaan itu terus berputar di kepalanya sepanjang perjalanan pulang.

***

Begitu tiba di rumah orang tuanya, Grace langsung mencari Emma.

"Grace?" Emma yang sedang berada di ruang keluarga segera berdiri. "Kau sudah pulang? Tadi kau datang, lalu pergi lagi. Kau dari mana saja, Sayang?"

Grace tidak menjawab. Dia berjalan menghampiri Emma, lalu memeluk ibunya erat-erat. Wajahnya disembunyikan di bahu perempuan itu, sementara tangis yang sejak tadi ditahannya akhirnya pecah.

Emma terkejut. Kedua tangannya segera merengkuh tubuh putrinya.

"Grace, Sayang, ada apa?" tanyanya panik sambil mengusap punggung Grace. "Kenapa kau menangis seperti ini?"

Grace hanya menggeleng. Jemarinya mencengkeram pakaian Emma, seolah-olah ia takut kehilangan satu-satunya tempat yang masih bisa memberinya ketenangan.

"Grace, bicaralah kepada Mama. Apa yang terjadi, Nak?"

"Tidak, Ma ...." Grace menggeleng lagi, suaranya teredam di bahu ibunya.

Ia ingin bercerita, tetapi kata-kata seolah-olah tersangkut di tenggorokannya. Ia terlalu lelah untuk menjelaskan bagaimana sahabatnya sendiri telah menghancurkan kepercayaannya.

Dari ruang keluarga yang terbuka tanpa sekat, George melihat kejadian itu.

Pria tersebut terdiam. Tatapannya tertuju kepada Grace yang menangis dalam pelukan Emma. Rahangnya perlahan mengeras ketika menyaksikan putrinya yang biasanya begitu tegar kini bahkan tidak sanggup menjelaskan apa yang sedang dirasakannya.

George memang bukanlah ayah yang pandai memperlihatkan kasih sayangnya. Ia lebih sering menyembunyikan perasaan di balik sikap dingin dan gengsinya sendiri.

Namun, melihat Grace seperti itu membuat dadanya terasa berat. Ia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, tetapi satu nama segera terlintas di pikirannya. Norman Turner.

Emma mengusap rambut Grace dengan lembut, kemudian membawanya ke ruangan lain agar putrinya bisa menenangkan diri.

Begitu keduanya menjauh, George segera berbalik. Tanpa mengatakan apa pun kepada mereka, ia melangkah menuju tempat penyimpanan barang-barangnya dan mengambil sebuah pistol. Tatapannya mengeras.

Kali ini, ia tidak berniat menunggu sampai seseorang memberitahunya apa yang telah dilakukan Norman.

***

Di kantor Norman, Edmund dan Mona masih berada di sana bersama Norman. Tangan kanan Julian yang sebelumnya telah pergi bersama atasannya kini kembali ke kantor tersebut untuk menyampaikan sesuatu berkaitan dengan urusan bisnis mereka.

Mereka tengah membicarakan sesuatu ketika pintu ruangan tiba-tiba terbuka.

George masuk dengan bantuan tongkat yang menopang salah satu kakinya yang lumpuh. Meski langkahnya tidak secepat orang pada umumnya, pria yang merupakan mantan tentara itu tetap berjalan dengan tegap.

Norman mengangkat kepala. Begitu melihat kedatangan ayah mertuanya, wajahnya sedikit berseri.

"Papa, apa kabar?" sapanya.

George tidak menjawab. Ia langsung melangkah masuk, kemudian mengangkat tangannya.

Seketika, sebuah pistol mengarah tepat kepada Norman.

"Jangan panggil aku Papa, bajingan!"

1
Lovita BM
Grace kakean omong, sudah berkali-kali disakitin, lsg jambak rambutnya seret keluar, itu baru perempuan Badas sbg istri sah 😏
yula
💪💪💪💪💪thor
mery harwati
Perusahaan sebesar Siera Sunwork tidak punya nama tamu yang mengundangnya 🫣 Aneh klo relasi bisnis tidak mencantumkan nama perusahaan & nama orang yang akan menghadiri rapat kan? Disabotase, alasan klise itu
Bodyguard pun tak ada bwt Grace ☹️
mery harwati
Grace, aq kasih vote ya bwt kamu biar kamu semakin waspada dengan segala kelicikan keluarga Turner meski mereka taringnya sudah patah💪
Hati² sama Norman ya Grace
mery harwati
Gimana anak keturunan Edmund mau bener kelakuannya, klo biangnya aja udah berotak kotor 🤣
yula
💪💪💪💪💪thor lanjut
yula
💪💪💪💪💪thor
mery harwati
Tragis nasib Johan 😔
Mungkin Julian menjadi tau arti kesetiaan setelah kematian Johan anak tunggalnya
Bagaimana nasib Omar yang menembak Johan? Matikah atw dipenjara?
yula
💪💪💪💪💪thor
Nurhartiningsih
suka deh sama tokoh wanita yg ngga cengeng
Lovita BM
👏🏼👏🏼😲
Lovita BM
nah moment ini yg aq tunggu 😁
Lovita BM
WOWW plot twist nih 👍
mery harwati
Jacob, Hendry, Edmund masih tetep menyalahakan Grace & ingin Grace celaka🙈
Dew666
Siapa yg bantu Grace ? Kevin kah?
Oma Gavin
norman kah atau justru mona
mery harwati
Waahh tak tau klo Grace dalam perlindungan Julian Sinclair meski Grace sendiri tak menyadari perlindungan tersebut 🤭
Belum lagi pasukan bayangan Kevin Cloud & Mia dan jangan lupakan Carmen meski berkhianat pada Grace tapi Carmen berniat menebus kesalahannya dengan membantu Grace menghadapi Norman meski tak harus tampil di depan Grace
Susan Paulina
Di tunggu Up selanjutnya Thor 👍
Lovita BM
kenapa Grace terus disenggol, ntar² lah Thor, tunjukkan aslinya anak Mona bukan anak Norman, biar lebih hebat badai dan guncangannya 🤣👍
Adinda
bagaimana kalau mona simpanan kakeknya norman🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!