Aurora kira pertemuannya dengan Bima cuma kebetulan. Tapi semakin dekat, semakin dia sadar cowok itu menyembunyikan banyak hal — dia tahu hal-hal yang belum pernah diceritakan siapa pun, dan selalu bicara soal "38.000 langkah" yang belum selesai.
Saat Bima akhirnya berjanji akan datang menemuinya, justru kabar kecelakaan yang datang. Bima pergi, meninggalkan sebuah kotak misterius. Dari sana Aurora mulai menelusuri jejak Bima, dan menyadari bahwa pertemuan mereka sama sekali bukan kebetulan. Bima sudah berjalan jauh, melewati banyak hal berat, cuma untuk sampai ke hatinya.
Walau tak bisa bertemu lagi, cinta Bima sudah sampai tujuan di hati Aurora, selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yanto Hl, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13 — Pesan di Balik Tutup Kayu
Tiga hari berlalu tapi kotak kayu itu masih duduk tenang di sudut mejaku. Tiap pagi bangun, hal pertama yang kulihat adalah dia. Tiap malam sebelum tidur, aku menatapnya sebentar sebelum memadamkan lampu. Nggak ada rasa takut sebenarnya. Cuma ada perasaan berat yang nggak bisa kujelasin. Rasanya kalau aku buka kotak itu, berarti aku benar-benar menutup satu bab terakhir dari masa lalu. Setelah ini nggak ada lagi yang bisa kucari, yang bisa kubaca, yang bisa kuingat soal dia. Semuanya bakal lengkap, dan aku harus melangkah benar-benar sendirian.
Suatu sore hujan turun deras banget. Bunyi air ngetok di atap bikin suasana jadi tenang banget. Aku duduk di meja belajar, tarik napas panjang, lalu tanganku perlahan menyentuh permukaan kotak itu. Kayunya halus, bekas diukir pakai tangan, terasa hangat di kulitku. Aku putuskan hari ini. Hari ini waktunya.
Tutupnya terbuka pelan, nggak ada suara berisik. Hal pertama yang kulihat adalah selembar amplop cokelat, dan di bawahnya ada sebuah benda kecil yang dibungkus kain lembut. Aku ambil amplop itu dulu, namaku tertulis di depannya dengan tulisan tangannya yang rapi dan jelas. Tinta di atas kertas terlihat sudah cukup lama kering, berbulan-bulan mungkin. Jantungku berdebar pelan pas aku membuka lipatannya.
"Halo Aurora. Kalau kamu baca ini, berarti aku sudah pergi dan kamu sudah bertemu sama Ibuku. Terima kasih sudah menyambut dia dengan baik ya. Dia orang yang paling aku sayang di dunia ini, dan aku senang dia punya kamu sekarang untuk diajak ngobrol sesekali.
Aku nggak tahu harus mulai dari mana. Banyak hal yang mau aku bilang, tapi aku selalu lebih pandai menyimpannya daripada mengucapkannya langsung. Kamu tahu kan kenapa aku memilih taman itu buat menunggumu? Dulu waktu aku masih kecil dan merasa dunia terlalu berat buat aku tanggung sendirian, aku lari ke sana. Duduk di bangku yang sama, di bawah pohon yang sama. Tempat itu jadi rumah kecilku selama bertahun-tahun. Lalu suatu hari aku lihat kamu di sana. Kamu duduk sendirian sambil baca buku, dan dunia rasanya tiba-tiba lebih tenang cuma karena ada kamu di dalamnya. Sejak hari itu aku tahu, tempat itu nggak lagi jadi tempat persembunyianku. Itu jadi tempat tujuanku. Aku belajar setiap hari untuk berjalan ke sana, bukan untuk lari, tapi untuk menyapa kamu.
38.000 langkah itu bukan cuma soal sisa hariku. Itu soal setiap hal kecil yang kamu berikan ke aku yang bikin hari-hari itu terasa berharga. Senyum kamu, cerita kamu, waktu yang kamu luangkan buat duduk bareng aku tanpa banyak tanya. Semua itu adalah langkah yang kamu ambil juga, tanpa kamu sadari. Kita berjalan ke arah satu sama lain, cuma aku yang tahu jaraknya tinggal sedikit lagi, dan kamu yang nggak tahu apa-apa.
Di bawah surat ini ada dua hal yang aku titipkan. Yang pertama adalah kunci kotak kecil di meja pojok kamarku. Isinya bukan harta berharga, tapi catatan-catatan kecil yang aku tulis tiap malam setelah pulang dari taman. Baca pelan-pelan aja, nggak perlu terburu-buru. Yang kedua adalah kalung sederhana. Liontinnya berbentuk bunga kecil dengan tiga kelopak — tanda yang selalu aku pakai di akhir tulisanku. Aku mau kamu pakai itu. Bukan supaya kamu ingat aku, karena aku tahu kamu nggak akan lupa. Tapi supaya kamu tahu, ke mana pun kamu pergi, aku selalu ada di dekat hatimu, sama seperti liontin itu yang menempel di dadamu.
Jangan berhenti menulis ya. Ceritamu indah banget, dan dunia butuh dengar suara kamu. Lakukan hal yang kita rencanakan. Pergilah ke bukit itu, ke pantai itu, ke tempat-tempat yang belum pernah kita lihat. Lihatlah untuk kita berdua. Hidup dengan tulus, sama seperti yang selalu kamu lakukan. Kalau suatu hari kamu merasa sendirian, lihatlah ke langit sore. Matahari yang sama yang menyinari kamu, juga menyinari aku. Kita nggak pernah benar-benar terpisah kan?
Terima kasih udah jadi tujuan perjalananku, Aurora. Terima kasih udah bikin aku merasa hidup sepenuhnya, walau cuma sebentar. Sampai ketemu di pertemuan kita yang lain. Aku mencintaimu. Selamanya.
Air mataku jatuh membasahi kertas pelan-pelan, tapi aku nggak berusaha menyekanya. Biar saja. Rasanya wajar kalau air mataku ikut jadi bagian dari pesan ini. Setelah selesai membaca, aku membuka bungkusan kain itu. Sebuah kalung perak sederhana dengan liontin bunga kecil persis seperti yang dia tuliskan. Aku pasang sendiri di leherku, merasakan liontinnya jatuh tepat di atas dadaku, dekat jantungku. Rasanya hangat, seolah dia sedang menempelkan tangannya di sana.
Malam itu aku tidur dengan kalung itu masih terpasang. Mimpiku tenang. Kita berdiri di puncak bukit, matahari terbit di depan kita berwarna keemasan. Dia berdiri di sebelahku, nggak pergi menjauh kali ini. Dia menunjuk ke depan, ke arah jalan panjang yang terlihat dari atas bukit, lalu menatapku dan tersenyum. Senyum yang bilang kamu bisa, kamu kuat, aku bangga sama kamu. Saat aku terbangun pagi berikutnya, hatiku terasa ringan banget. Nggak ada lagi rasa berat yang menahan aku. Semua pesannya sudah sampai. Semua rahasianya sudah terbaca. Semua kata-katanya sudah kudengar. Sekarang memang waktunya aku melangkah.
Beberapa hari kemudian aku pergi ke rumah Bima. Ibunya menyambutku dengan senyum hangat, seolah aku memang bagian dari keluarganya. Dia membawaku ke kamar Bima. Ruangannya rapi banget, beraroma kayu dan buku tua, persis kayak dia. Di meja pojok persis seperti yang dia sebutkan, ada kotak kecil yang dikunci. Aku buka pakai kunci dari kotak kayu itu. Isinya tumpukan kertas kecil yang diikat pita biru muda. Setiap lembar berisi tulisan pendek, catatan harian singkat yang dia tulis setiap hari setelah pulang dari taman.
"Hari ini dia cerita soal buku yang sedang dia baca. Matanya bersinar saat bercerita. Aku berharap hari-hariku lebih panjang supaya aku bisa mendengarkan dia bercerita lebih lama lagi."
"Hari ini hujan dan dia tetap datang. Duduk di sebelahku sambil tersenyum basah. Indah banget. Kalau waktu bisa berhenti di sore ini saja, aku rasa aku sudah cukup bahagia."
"Dokter bilang kondisiku belum membaik. Tapi pas aku lihat dia di taman tadi, aku rasa aku orang paling sehat sedunia. Cukup lihat dia senyum, itu obat terbaik yang pernah ada."
"Besok aku mau bilang padanya kalau dia berarti buat aku. Tapi belum waktunya. Aku mau bilang dengan cara yang paling benar, saat aku berdiri di depannya utuh dan kuat. Semoga aku punya waktu sampai hari itu datang."
Aku baca satu per satu dengan tenang. Rindu masih ada, tapi sekarang terasa penuh bukan kosong. Dia tidak pernah pergi. Dia ada di setiap kata yang dia tulis, di setiap senyum yang dia berikan, di setiap langkah yang dia tempuh cuma untuk melihatku sebentar. Saat aku menutup kotak itu dan berpamitan dari kamarnya, aku nggak merasa perpisahan. Aku merasa seperti baru saja berpamitan sama teman yang akan aku temui lagi di tempat yang lebih indah nanti.
Di jalan pulang aku melewati taman itu. Aku berhenti sebentar di gerbangnya, melihat bangku kayu itu dari kejauhan. Sore itu kosong, tenang, disinari matahari yang mulai turun perlahan. Aku menyentuh liontin di leherku, tersenyum dalam hati. Terima kasih udah sampai di hatiku Bima. Sekarang giliranku. Aku akan berjalan, aku akan melihat, aku akan menceritakan semuanya ke orang-orang. Istirahatlah dengan tenang. Ceritamu sekarang ada di tanganku. Dan aku akan menjaganya seumur hidupku.