Selama tiga tahun menjadi istri Arga Pratama, Rania selalu merasa tertekan karena dianggap gagal memberikan keturunan.
Arga mencintainya, tapi tak sanggup menahan tekanan ibunya yang mengancam akan mengakhiri hidup jika Arga tidak mau menikah lagi dan bercerai dengan Rania.
Akhirnya, Rania meninggalkan rumah tangganya dengan hati yang hancur.
Di sisi lain, Alvino Pratama, saudara sepupu Arga yang jauh lebih kaya dan berkuasa, ternyata sudah lama menyimpan perasaan pada Rania.
Rania pun menerima lamaran dari Alvino karena orang tua Alvino mengatakan Alvino juga tidak bisa memiliki keturunan. Rania berharap setidaknya ia bisa mendapatkan ketenangan karena tak lagi dikejar masalah anak.
Namun baru tiga bulan menikah, Rania dinyatakan hamil. Rania bahagia, tapi juga cemas. Bagaimana kalau kehamilannya dicurigai? Karena itu Rania menyembunyikan kehamilannya. Namun, tanpa sengaja Alvino mengetahui kehamilan Rania.
Lalu, apakah Alvino bisa menerima kehamilan Rania?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mama Mia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
29
.
Sinar matahari pagi menyelinap lewat celah tirai besar, memancarkan cahaya keemasan ke seisi ruangan. Aroma melati yang semalam tercium masih terasa samar, bercampur dengan udara sejuk dari pendingin ruangan.
Rania mengerjapkan matanya perlahan. Beberapa saat ia hanya menatap langit-langit, pikiran masih terasa kosong. Lalu satu per satu ingatan kembali muncul. Tentang pernikahan, pengakuan Pak Hasan, hingga malam yang tenang bersama Alvino.
"Sudah pagi..." gumamnya pelan sambil menggerakkan badannya, menggeliat seperti kebiasaan ketika ia bangun tidur. Namun gerakannya tertahan, membuatnya terdiam. Tubuhnya terasa berat seolah terikat erat, tak bisa beranjak sedikit pun. Ia coba mengangkat bahu… tidak bergerak. Menggeser pinggang… tetap diam di tempat.
Perlahan ia menundukkan pandangan, dan matanya seketika matanya membulat terkejut.
"Ya Allah..."
Ternyata sejak entah kapan, ia sudah terlelap di dalam pelukan Alvino. Lengan kanan pria itu melingkar erat di pinggangnya, menarik tubuhnya menempel pas di dada bidangnya. Pelukannya kuat, tapi terasa hangat dan nyaman sekali.
Wajahnya seketika merah merona. Apalagi saat menyadari satu kaki panjang Alvino melingkar santai di atas kedua pahanya, benar-benar mengunci gerak kakinya hingga tak bisa bergerak bebas.
"Astaga..." desisnya pelan sambil menelan ludah gugup. “Bukannya semalam kita tidur berjauhan ya? Bagaimana bisa berubah jadi begini?” gumamnya bingung.
Dengan sangat hati-hati ia coba menarik tubuhnya sedikit demi sedikit. Namun bukannya lepas, pelukan itu malah makin erat. Rania benar-benar tak bisa bergeser walau sejengkal.
"Hmm..." Alvino menggumam pelan tanpa membuka matanya.
Rania langsung membeku di tempat. Jantungnya berdegup makin kencang.
"Lima menit lagi..." Suara Alvino terdengar serak, khas orang yang baru setengah sadar.
Rania membelalakkan mata. Dengan hati-hati ia coba mengangkat kepalanya, tapi sama. Tidak bisa bergerak. Rania menelan ludahnya saat menyadari dirinya menggunakan lengan Alvino sebagai bantal di bawah tengkuknya, serta telapak tangan pria itu membingkai kepalanya agar tetap bersandar nyaman di lekukan bahu pria itu. Jemarinya bahkan terselip di antara helai rambut panjangnya.
"Ya ampun..." bisiknya malu. "Kenapa bisa begini?"
Pinggang dipeluk, kepala tertahan, kaki pun terjepit… Lengkap sudah.
Rania mengembuskan napas pelan, lalu mencoba sekali lagi dengan gerakan lebih halus. Namun Alvino malah semakin mengeratkan pelukan, wajahnya makin mendekat hingga napas hangatnya menyapu lembut dahi Rania, membuat wanita itu merasa badannya panas dingin. Dadanya berdegup kencang.
Perlahan Rania mengguncang lengan Alvino yang melingkar di atas perutnya.
“Pak… Pak Alvino… bangun. Sudah pagi.”
"Tidak mau.”
Rania terbelalak. Jadi sebenarnya Alvino sudah bangun?
"Tapi ini sudah pagi. Papa sama Mama pasti juga sudah menunggu.” Rania mencoba mengangkat tangan Alvino dari perutnya tapi gagal.
“Biar saja. Mereka pasti maklum, ini malam pertama kita.” Dengan santainya Alvino malah mengendus-endus wajah Rania.
“Ayolah, Pak Alvino. Saya akan malu kalau terlambat bangun,” rengek Rania lagi.
“Panggil Pak Suami dulu! Kalau Bu Istri masih salah panggil, Pak Suami tidak mau bangun.”
Rania lagi-lagi menelan ludahnya kaku. “Ta- tapi… itu terasa aneh…” cicitnya pelan.
"Aneh apanya?” Alvino berseru tidak terima dan kembali mengeratkan pelukan. "Itu justru unik. Di novel lain belum ada yang manggil gitu.”
Rania hanya bisa melirik dengan ekor matanya karena untuk menggerakkan kepala pun tak bisa. Terlihat olehnya mata pria itu masih terpejam. Wajah yang begitu tampan dengan posisi hanya beberapa centi dari wajahnya.
Apa pria itu tidak tahu? Posisi mereka ini sangat tidak aman bagi kesehatan jantungnya. Pasalnya bukan hanya pelukan itu, tapi juga karena ia merasa ada sesuatu yang mengeras menekan pahanya dari arah samping. Sebagai wanita dewasa, Rania tentu tahu itu apa. Dan itu membuat wajahnya semakin merah.
Memejamkan mata sesaat sambil menghela nafas, akhirnya Rania berucap…
“Pak… Pak Suami… ayo bangun…” walaupun merasa geli, dia harus mengalah atau dirinya akan terikat di atas ranjang sepanjang hari.
Alvino perlahan mengendurkan pelukannya. Dan Rania segera mengambil kesempatan untuk segera duduk.
"Kalau salah panggil lagi, Pak Suami akan mengikat Bu Istri lagi.”
Setelah mengatakan itu, secepat kilat Alvino turun dari ranjang dan melangkah cepat menuju kamar mandi. Ada sesuatu yang harus dituntaskan sendiri karena dia tidak ingin memaksa Rania yang akhirnya hanya akan membuat wanita itu merasa tidak nyaman.
*
Rania berdiri di depan cermin memutar tubuhnya ke kiri dan ke kanan, mengamati penampilannya yang telah berganti dengan gaun berwarna krem yang terlihat pas di tubuhnya. Rambut panjangnya dibiarkan tergerai sederhana, hanya sebagian kecil disematkan ke belakang dengan jepit mutiara.
Alvino yang sudah lebih dulu rapi, mendekat lalu berdiri di belakangnya. Bertukar pandang melalui pantulan cermin.
"Kamu sudah siap?" tanyanya sambil tersenyum.
Rania mengangguk pelan. "Iya."
Alvino menggenggam tangannya membawanya keluar dari kamar lalu berjalan menuju restoran hotel yang berada di lantai dasar.
Di dalam lift, mata Rania tak lepas memandangi tangannya yang berada dalam genggaman Alvino. Terasa hangat, dan menyentuh hingga ke dalam kalbunya. Kehangatan yang sama yang dulu pernah ia dapatkan dari Arga. Namun kini terasa lebih posesif. Seakan Alvino benar-benar tak akan pernah melepaskannya.
Pintu lift terbuka. Aroma kopi yang baru diseduh dan roti hangat langsung menyambut mereka. Restoran hotel tampak ramai oleh para tamu yang sedang menikmati sarapan. Di salah satu sudut dekat jendela besar, Tuan Aksara dan Bu Soraya yang sudah lebih dulu menunggu, melambaikan tangan ke arah mereka.
"Papa, Mama," sapa Alvino dan Rania bersamaan.
Bu Soraya langsung berdiri sambil tersenyum hangat menyambut tangan Rania.
"Ayo sini, Sayang. Duduk di sebelah Mama."
Rania sempat melirik Alvino seolah meminta.izin. Setelah pria itu menganggukkan kepala sambil tersenyum kecil, barulah Rania duduk di samping Bu Soraya.
"Selamat pagi, Ma."
"Pagi juga, Sayang."
Sapaan penuh kasih itu membuat hati Rania kembali terasa hangat.
Pelayan segera datang membawa beberapa menu sarapan. Ada bubur ayam, nasi uduk, aneka roti, omelet, buah-buahan segar, hingga berbagai jenis jus dan kopi.
"Ayo kita mulai sarapan," ujar Tuan Aksara.
"Terima kasih, Pa."
Rania mengambil semangkuk kecil bubur dan beberapa potong buah.
Melihat itu, Bu Soraya mengernyit. "Lho, cuma segitu?"
"Saya memang makannya sedikit, Ma.” Rania tersenyum malu.
Bu Soraya menggeleng pelan. "Tidak boleh,” serunya tegas. Wanita itu langsung mengambilkan sebutir telur rebus dan beberapa potong roti untuk Rania. "Kamu kemarin kelelahan. Harus makan yang cukup."
Rania tampak sungkan. "Ma, ini terlalu banyak."
"Kalau tidak habis juga tidak apa-apa. Tapi jangan membiasakan sarapan sedikit."
Rania hanya bisa mengangguk. "Iya, Ma."
Sementara itu, Tuan Aksara yang sedang menikmati secangkir kopi melirik putranya.
"Kamu juga."
Alvino yang sedang mengoleskan selai ke roti mengangkat kepala. "Aku kenapa, Pa?"
"Semalaman pasti kurang tidur."
Alvino hampir tersedak kopinya. "Siapa bilang?"
"Oh ya?" Tuan Aksara menyeringai tipis. "Lalu kenapa bisa ada lingkaran hitam di matamu?"
Bu Soraya yang memahami maksud suaminya langsung menyikut pelan lengan Tuan Aksara. "Sudah, jangan menggoda mereka."
Namun senyum jahil di wajah pria itu justru semakin lebar. "Papa kan cuma bertanya."
Alvino melirik sengit ke arah Papanya, sementara Rania yang belum menangkap arah pembicaraan hanya menatap mereka bergantian dengan wajah polos. "Ada apa?"
Pertanyaan itu membuat Bu Soraya dan Tuan Aksara saling berpandangan sebelum akhirnya tertawa kecil.
"Abaikan mereka," kata Bu Soraya sambil mengusap punggung tangan Rania. "Tidak usah dipikirkan."
Alvino diam-diam menghembuskan napas lega. Kalau sampai Rania mengerti apa yang sedang digoda oleh kedua orang tuanya, bisa-bisa istrinya semakin malu.
Beberapa saat kemudian suasana kembali tenang. Mereka menikmati sarapan sambil membicarakan hal-hal ringan. Tuan Aksara sesekali bercerita tentang masa kecil Alvino yang ternyata sangat usil.
"Dulu waktu TK, dia pernah kabur dari sekolah."
"Pa..." protes Alvino. "Aku tidak kabur. Cuma pulang lebih dulu."
"Bedanya apa?" sahut Bu Soraya sambil tertawa. "Guru sampai menelepon Mama karena anaknya hilang. Ternyata dia sudah santai makan mie instan di rumah."
Rania tidak dapat menahan tawanya. Benar-benar berbeda dengan sosok Alvino yang selama ini dikenalnya di kantor. Di hadapan kedua orang tuanya, pria itu ternyata tetap menjadi anak yang sering dijadikan bahan cerita.
Melihat Rania tertawa, Alvino hanya mendengus kesal. "Jangan percaya semua cerita Papa sama Mama."
"Semuanya fakta," balas Tuan Aksara santai.
Suasana meja makan dipenuhi tawa hangat. Rania merasakan bagaimana rasanya menikmati sarapan tanpa bentakan, sindiran ataupun tatapan sinis. Hanya ada percakapan sederhana, canda ringan, dan perhatian yang tulus. Perlahan matanya mulai mengembun.
Bu Soraya yang duduk di sampingnya segera menyadarinya. “Sayang… ada apa?”
"Tidak apa-apa.” Rania buru-buru menggeleng.
"Jangan bohong."
Rania tersenyum kecil. "Saya hanya merasa bahagia bisa makan bersama dengan suasana hangat seperti ini.”
Ucapan Rania membuat meja makan mendadak sunyi. Tuan Aksara dan Alvino saling berpandangan. Sementara Bu Soraya menggenggam lembut tangan menantunya.
"Mulai sekarang, kamu hanya boleh tersenyum. Jika pun ada air mata, itu harus air mata bahagia."
Air mata yang semula hanya menggenang akhirnya jatuh juga. Namun kali ini bukan karena sedih. Melainkan karena rasa syukur.
Di keluarga yang baru dikenalnya selama beberapa hari ini, Rania justru menemukan kehangatan yang selama dua puluh tujuh tahun selalu ia rindukan.
Alvino, hati-hati dengan tuan surya!
hati² alvino ma om mu itu jaga baik² istrimu