NovelToon NovelToon
Zombie Cordyceps

Zombie Cordyceps

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Zombie / Hari Kiamat
Popularitas:227
Nilai: 5
Nama Author: Fery Oktavian

Ketika kebocoran fasilitas riset menyebarkan mutasi jamur pembawa wabah kematian, dunia runtuh dalam hitungan hari dan mengubah manusia menjadi mayat hidup yang dikendalikan spora ganas. Di tengah kekacauan Kota Mati, Luna harus memimpin empat penyintas lain, Steve si petarung, Nancy sang peretas, Endru si tenaga medis, dan Onad sang mekanik humoris. untuk bertahan hidup dari kejaran monster cordyceps dan ancaman kejam kelompok penyintas manusia lainnya. Di antara semak sisa peradaban, adegan penjarahan yang menegangkan, serta benih-benih cinta yang hangat di tengah malam kelam, mereka harus memperebutkan satu-satunya wilayah safe zone yang tersisa. Mampukah naluri survival dan ikatan manusiawi membawa kelimanya selamat, ataukah mereka justru hancur oleh kejamnya sesama penyintas?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fery Oktavian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 31 - PATROLI JALANAN

Embusan angin pagi berembus dingin menembus celah-celah deretan mobil pribadi yang terbengkalai di Jalan Utama Distrik Barat. Suara langkah sepatu taktis milik Luna dan Steve terdengar amat halus, nyaris tak bersuara tatkala keduanya melangkah konvoi menyusuri trotoar beraspal. Di belakang mereka, jarak dengan truk rakitan Onad yang mogok kehabisan bahan bakar telah merayap sejauh seratus meter, tenggelam perlahan di balik tikungan ruko-ruko tua.

Luna berjalan di barisan depan dengan postur tubuh tegap yang lentur. Jemari tangan kirinya mencengkeram erat riser busur recurve, sementara tangan kanannya bersiap di dekat bulu anak panah yang tersimpan di dalam tabung quill bahunya. Mata kelam mantan taruna itu tak henti menyapu pengamatan 360 derajat—mengamati setiap sudut jendela ruko yang pecah, bawah kolong kendaraan rosok, hingga celah gang sempit di sepanjang jalan raya.

Steve bergerak sejajar di sisi kanan Luna, mempertahankan jarak dua langkah agar ayunan pipa besi tebal di tangannya memiliki ruang pukul yang bebas. Pria berbadan tegap itu memutar lehernya pelan, memastikan area ketinggian di atap-atap bangunan bebas dari ancaman tersembunyi.

"Area sekitar trotoar ini relatif bersih," bisik Steve seraya merendahkan posisi tubuhnya di balik kap mobil sedan yang berdebu tebal.

Luna menghentikan langkahnya, berlutut pelan di samping roda depan mobil sedan tersebut seraya mengamati garis lurus jalan raya di depan mereka.

"Bersih bukan berarti aman, Steve," balas Luna dengan vokal berbisik yang amat tenang dan jernih.

"Jalanan sepi seperti ini justru sering jadi perangkap. Monster yang peka suara biasanya bersembunyi di balik bayangan ruko sampai ada dorongan suara yang memancing mereka keluar," jelas Luna memberikan analisis taktisnya.

Steve menyunggingkan senyum khasnya, menatap keprofilan wajah Luna dari samping yang tampak amat fokus dan berani. Rasa kagum dan kepercayaan murni pada kepemimpinan gadis di sebelahnya makin mengakar kuat di dada Steve.

"Naluri tarunamu selalu bikin aku merasa aman berjalan di sampingmu, Luna," tutur Steve jujur dengan nada vokal yang hangat.

Luna berpaling sedikit, menatap mata Steve dari balik helai rambut hitamnya yang tertiup angin fajar. Sudut bibirnya menyunggingkan senyum tipis yang amat lembut, sebuah gestur emosional yang amat jarang ia perlihatkan di depan orang lain.

"Dan kekuatan fisikmu di garis depan yang bikin aku yakin kita bisa melewati setiap pertempuran, Steve," bisik Luna tulus.

Keduanya bertukar pandang sejenak di tengah sunyinya Kota Mati, menyalurkan arus dorongan moral dan chemistry yang kian erat sebelum kembali memfokuskan pandangan ke arah jalur patroli.

Mereka melanjutkan pergerakan merayap dari satu mobil ke mobil lain. Di sepanjang tiga ratus meter koridor jalan raya, bekas-bekas kekacauan awal wabah Cordyceps terpampang nyata. Bercak darah kering yang menghitam di atas aspal, tas pakaian yang tertinggal dalam keadaan terbuka, serta deretan kendaraan yang saling bertabrakan menjadi saksi bisu betapa cepatnya kepanikan massal melumpuhkan kota ini.

"Sejauh ini belum ada tanda-tanda keberadaan 'Toge Mentah' atau 'Jamur Barat Tahu Isi'," bisik Steve seraya menyeringai pelan, mengingat istilah-istilah konyol buatan Onad kemarin sore.

Luna terkekeh halus tanpa mengalihkan pandangannya dari jalur depan. "Jangan lupa mewaspadai 'Kunti Enoki'. Jenis yang merayap di lorong gelap itu paling berbahaya kalau kita lengah."

"Tenang saja, kalau ada yang coba-coba mendekat, pipa besi ini siap memberikan salam hangat," sahut Steve mantap seraya mencengkeram erat balutan tali kain pada pegangan senjatanya.

Setelah melangkah perlahan selama sepuluh menit menembus jalan raya yang sepi, keduanya akhirnya tiba di persimpangan jalan komersial Distrik Barat. Dari balik naungan bangkai bus kota yang miring di tepi jalan, Luna dan Steve mengintip ke arah pelataran luas di seberang persimpangan.

Di sana, berdiri kokoh struktur kanopi seng berukuran besar milik Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU). Empat unit mesin dispenser pompa bensin berderet di bawah kanopi, sementara sebuah bangunan minimarket SPBU berdiri membisu di bagian belakang pelataran. Sebuah truk tangki bahan bakar berkapasitas sepuluh ribu liter terparkir melintang agak miring di dekat pintu masuk area pengisian.

Luna merogoh saku rompi taktisnya, mengeluarkan teropong monokular kecil lalu menempelkannya di mata kanannya untuk melakukan pengamatan jarak jauh yang presisi.

"Bagaimana kondisi SPBU itu, Luna?" tanya Steve penuh perhatian seraya merapatkan bahunya di samping Luna.

"Struktur bangunan utama SPBU masih utuh. Pintu kaca minimarket di belakang tampak pecah berkeping-keping, tapi tidak ada pergerakan kerumunan monster di sekitar mesin dispenser," paparkan Luna mendetail.

"Truk tangki bahan bakar di pelataran itu... apakah kran buangannya masih tersegel?" tanya Steve penasaran seraya mengamati truk tangki merah putih tersebut.

Luna menggeser fokus lensa monokularnya ke arah bagian bawah truk tangki. Matanya menyipit tatkala menangkap detail visual yang menarik perhatian taktisnya.

"Kran selang bawahnya masih terkunci rapi pakai rantai besi. Kemungkinan besar truk tangki itu terhenti di sana sebelum sempat menguras isinya ke dalam tangki depositi bawah tanah," jawab Luna dengan binar mata kepemimpinan yang penuh harapan.

"Itu artinya kita punya pasokan solar yang melimpah untuk truk Onad!" seru Steve gembira dengan suara berbisik yang tertahan.

Namun, saat Luna hendak menurunkan teropong monokularnya untuk menyusun rencana pemanggilan tim, pandangan matanya mendadak terhenti pada permukaan tanah di sekitar trotoar SPBU.

Di atas tanah berdebu di samping tiang kanopi SPBU, terdapat serangkaian jejak yang sama sekali tidak menyerupai jejak kaki kaku zombie Cordyceps yang terseret acak.

"Tunggu, Steve..." bisik Luna mendadak dingin, suaranya berubah menjadi amat waspada.

Steve seketika menegakkan posisinya, memutar pipa besinya ke posisi siap pukul. "Ada apa, Luna? Kamu melihat ada monster bersembunyi?"

"Bukan monster," jawab Luna seraya menyerahkan teropong monokularnya kepada Steve.

"Coba kamu lihat ke arah tanah berpasir di dekat tiang kanopi sebelah kanan. Ada jejak sepatu bot tebal bergigi dalam dan deretan bekas gesekan roda kendaraan lain yang masih sangat baru," petunjuk Luna tegas.

Steve menempelkan monokular ke matanya, mengamati area yang ditunjuk Luna dengan saksama. Raut wajah tegas pria itu perlahan berganti menjadi penuh perhitungan taktis tatkala menyadari arti dari temuan tersebut.

Jejak kaki yang berderet rapi, sisa puntung rokok yang terinjak di atas tanah, serta bekas goresan rantai besi di tiang kanopi menunjukkan satu kenyataan tak terbantahkan: area SPBU ini baru saja dilintasi atau dijadikan pos pengamatan oleh kelompok manusia lain.

"Ini bukan jejak penyintas biasa yang berlari panik," gumam Steve seraya mengembalikan monokular kepada Luna.

"Pola pijakannya teratur dan memakai sepatu bot militer atau pekerja berat. Ada kelompok manusia berorganisasi yang baru saja berada di sekitar sini," tambah Steve memberikan penilaian logisnya.

Luna mengangguk pelan, merapatkan busur recurve-nya di depan dada. Keberadaan kelompok manusia asing di tengah kiamat seperti ini sering kali menyimpan marabahaya yang jauh lebih tidak terduga dibandingkan ancaman zombie Cordyceps, karena gesekan kepentingan atas pasokan logistik dan bahan bakar bisa memicu konflik berdarah.

"Patroli spionase kita mendapatkan data yang sangat krusial," kata Luna dengan vokal mantap yang memimpin.

"Kita sudah menemukan sumber bahan bakar solar di truk tangki itu, tapi kita juga harus bersiap menghadapi kemungkinan keberadaan kelompok asing yang mengintai wilayah ini," lanjut Luna menyusun langkah selanjutnya.

Steve menatap Luna dengan senyum penuh keberanian dan kehangatan, mengacungkan jempol tegapnya. "Aku siap mendukung setiap keputusanmu, Komandan. Kita periksa area sekitar lebih dalam sebelum memanggil Onad dan yang lainnya."

Di balik naungan bangkai bus tua itu, Luna dan Steve berdiri saling menguatkan. Dengan kejelian taktis, ketangguhan fisik, dan rasa kebersamaan yang makin kokoh, kedua penyintas utama ini bersiap menyisir area sekitar SPBU untuk menguak tanda-tanda keberadaan kelompok asing demi menjaga keselamatan seluruh tim mereka.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!