NovelToon NovelToon
Simpanan Kesayangan Sang CEO

Simpanan Kesayangan Sang CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Dendam konglomerat / Sekretaris
Popularitas:0
Nilai: 5
Nama Author: Elara Chandrakanta

Dua tahun Anala Paramitha menjadi sekretaris pribadi—sekaligus "simpanan"—Damar Hadiwijaya, pewaris paling berbahaya di Jakarta. Semua orang mengira Nala mencintainya. Padahal setiap ciuman di mata pria itu adalah bagian dari dendam.

Dibius dan dilelang di Batam, Nala menikam penculiknya, lalu pulang membawa barang curian Damar dan menyebut harganya: sepuluh miliar. Damar membayar, menghancurkan musuhnya demi dia, lalu menjadikannya miliknya—tanpa nama, tanpa status.

Makin gila Damar mencintainya, makin dekat Nala pada bukti untuk menjatuhkannya. Tapi bagaimana kalau pria yang ingin dia hancurkan bukan pembunuh yang dia cari… dan ternyata yang selama ini jadi pengganti bukan dirinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elara Chandrakanta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 33

Bab 33: Bukan Pacarnya

Candra tidak minta maaf.

Dia menatap kakaknya beberapa detik, dengan dada naik turun dan mata yang basah oleh sesuatu yang bukan hujan. Lalu dia berbalik dan berlari ke ujung gang, menghilang di tikungan sebelum siapa pun sempat menahannya.

Arka tidak mengejar. Dia hanya berdiri di sana, memegangi lengan kanannya dengan tangan kiri, dan darah menetes dari sela jarinya ke aspal yang basah.

"Laras," kata Nala tanpa menoleh. "Taksi. Sekarang."

***

Instalasi gawat darurat rumah sakit di Margonda itu penuh. Anak kecil yang demam, laki-laki tua dengan napas berbunyi, seorang pengendara ojek dengan lutut yang lecet. Nala mengantar Laras pulang lebih dulu dengan taksi daring, memaksanya berjanji untuk tidak bercerita kepada siapa pun sampai besok, lalu kembali ke ruang tindakan tempat Arka duduk di ranjang dengan lengan kemeja yang sudah digunting.

Lukanya panjang. Dari pergelangan tangan sampai hampir ke siku, tidak terlalu dalam, tapi cukup lebar untuk membuat dokter jaga menggeleng.

"Delapan jahitan," kata dokter itu, seorang laki-laki muda dengan mata yang lelah. Dia menyiapkan jarum. Lalu dia melirik Nala, yang berdiri di dekat tirai dengan payung hitam yang masih basah di tangannya. "Mbaknya pacarnya? Tolong pegangin tangan Masnya, ya. Biasanya cowok pura-pura kuat, padahal pas disuntik bius langsung pucat."

Arka tertawa. "Belum," katanya. "Aku lagi mengejarnya."

Dokter itu tersenyum kecil dan menyuntikkan bius.

"Saya bukan pacarnya," kata Nala dengan suara datar.

"Oh. Maaf, Mbak."

"Tidak apa-apa." Nala tidak bergerak dari tirai. "Tapi Pak Arka harus menjelaskan satu hal kepada saya."

Arka mengangkat alis. Dia meringis sedikit ketika jarum pertama masuk, tapi senyumnya tidak hilang.

"Kenapa kamu selalu ada di sekitarku?" tanya Nala. "Batam. Rumah sakit. Sekarang gang di Kober, pas pada saat ada orang yang membawa pisau. Itu bukan kebetulan. Kamu menyuruh orang mengikutiku?"

Dokter itu menunduk lebih dalam ke jahitannya, pura-pura tidak mendengar.

"Mungkin," kata Arka.

"Kenapa?"

"Karena kamu punya bakat luar biasa untuk berada di tempat yang salah." Dia menatapnya. Di bawah lampu ruang tindakan yang putih dan keras, wajahnya terlihat lebih lelah dari biasanya. "Dan karena aku punya bakat untuk ingin tahu kenapa."

Itu bukan jawaban. Mereka berdua tahu itu.

Dokter itu menyelesaikan jahitan kelima. Arka menatap langit-langit, rahangnya mengeras sedikit, lalu bertanya tanpa menoleh, "Laras?"

"Sudah pulang. Aku yang pesan taksinya."

"Dia takut?"

"Sedikit. Lebih banyak marah."

Arka tersenyum kecil, seperti orang yang mendengar kabar baik. "Bagus. Anak itu lebih baik marah daripada takut." Dia diam sebentar. "Bilang ke dia jangan pulang sendirian lewat gang itu lagi. Minimal sampai bulan depan."

Nala menatapnya. Laki-laki yang dua bulan lalu, di rumah sakit Jakarta Selatan, berkata kepada gadis itu bahwa dia salah orang. Laki-laki yang sekarang, dengan lengan yang sedang dijahit, menanyakan kabarnya lebih dulu daripada menanyakan lukanya sendiri.

"Kenapa tidak kamu bilang sendiri?" tanya Nala.

Arka tidak menjawab. Dia menutup matanya ketika jarum keenam masuk.

***

Nala keluar untuk membayar biaya tindakan di loket administrasi. Antreannya panjang. Ketika dia kembali, lewat koridor samping yang lebih sepi, dia mendengar suara dari balik tikungan, dekat pintu ruang tindakan.

Suara yang rendah dan cepat. Suara laki-laki muda yang tadi di gang.

Dia kembali. Tentu saja dia kembali.

Nala berhenti di balik tikungan. Dia menempelkan punggungnya ke dinding.

"Kakak lupa Papa?" bisik Candra. Suaranya serak, seperti habis menangis. "Kakak lupa kenapa Kakak dipecat? Kakak lupa semuanya?"

"Turunkan suaramu."

"Damar harus bayar, Kak. Damar harus bayar semuanya. Kakak sendiri yang bilang dulu."

Hening. Lalu suara Arka, tanpa candaan, tanpa nada malas. Suara yang belum pernah Nala dengar darinya.

"Belum waktunya," katanya. "Kalau mau memukul ular, pukul di kepalanya. Bukan ekornya. Bukan perempuan yang kebetulan berdiri di sebelahnya. Dan bukan adik perempuannya." Jeda. "Pulang, Can. Kuliah. Biar aku yang urus."

"Tapi..."

"Pulang."

Langkah kaki menjauh, ke arah pintu keluar yang lain.

Nala tetap berdiri di balik tikungan sampai napasnya kembali biasa. Lalu dia berjalan ke ruang tindakan dengan kwitansi di tangannya, dan meletakkannya di ranjang di sebelah Arka seolah dia baru saja datang dari loket.

Arka menatapnya. Lengannya sudah terbalut perban putih.

"Kamu dengar," katanya. Bukan pertanyaan.

"Dengar apa?"

Arka tersenyum. Tapi kali ini senyumnya tidak sampai ke mata.

***

Pesan itu masuk pukul sebelas malam, ketika Nala sudah berbaring di paviliun Pondok Indah dengan lampu dimatikan.

Lenganku sakit. Delapan jahitan. Kapan bayar utang budimu, Sekretaris Nala?

Dia menatap layar itu lama. Utang. Satu kunci mobil sewaan di Batam. Satu lengan di gang Kober. Dua utang, kepada laki-laki yang menyimpan dendam terhadap orang yang tidur di lantai atas rumah ini.

Dia tidak membalas.

***

Tiga hari kemudian, rumah teh di Kemang itu sepi seperti biasa.

Tempat itu tersembunyi di belakang sebuah galeri seni, di ujung gang yang dipenuhi pohon kamboja. Hanya ada enam meja. Pemiliknya, seorang perempuan tua yang tidak pernah bertanya, menghidangkan teh dalam poci tanah liat dan meninggalkan mereka sendirian di ruang belakang yang menghadap kolam ikan.

Radit sudah menunggu. Dia tidak menyentuh tehnya.

"Aku sudah cari," katanya, sebelum Nala sempat duduk. "Semua yang bisa dicari tentang malam itu."

Nala duduk. Dia menuang teh untuk dirinya sendiri, karena tangannya butuh sesuatu untuk dilakukan.

"Dua kejadian," kata Radit pelan. "Di malam yang sama. Ledakan gudang di dermaga Anyer. Dan kecelakaan di jalan menuju dermaga itu, beberapa kilometer sebelumnya. Polres menutup yang pertama sebagai kecelakaan industri, korsleting di gudang bahan kimia. Yang kedua sebagai kecelakaan lalu lintas biasa. Dua berkas, dua penyidik, tidak pernah digabungkan."

"Tidak ada yang curiga?"

"Ada satu." Radit memutar cangkirnya di atas meja. "Seorang polisi muda di sana. Dia tidak mau menutup berkasnya. Dia bilang dua kejadian itu berhubungan. Tiga bulan kemudian, dia dikeluarkan dari kepolisian. Tuduhannya menerima suap dari bandar narkoba. Buktinya muncul tiba-tiba di laci mejanya."

Nala tidak bergerak.

"Aku belum dapat namanya. Arsipnya dibersihkan." Radit menatapnya. "Tapi ada satu nama lain yang muncul berkali-kali. Malam itu, dia ada di sana. Atau seharusnya ada di sana."

Dia mengeluarkan selembar kertas kecil dari saku kemejanya dan meletakkannya di meja.

Dimas Prawira.

Nala menatap nama itu. Dia tahu nama itu. Dia tahu wajah di belakang nama itu. Laki-laki kurus berambut panjang yang duduk di balik drum di panggung-panggung kecil kampus, dengan stik yang berputar di jari-jarinya dan senyum yang hanya ditujukan kepada satu orang di barisan depan.

"Pemain drum band kampusnya Sekar," kata Radit. "Pacarnya. Setelah malam itu, dia hilang. Tidak ada di rumahnya, tidak ada di kampus, tidak ada di mana pun. Ada yang bilang dia ke Batam. Ada yang bilang dia sudah mati."

"Dan Gilang?"

"Malam itu Gilang ada di Jakarta. Di sebuah pesta di Senopati, dengan dua puluh saksi. Bukan dia."

Nala menatap kolam ikan di luar jendela. Seekor koi besar berwarna jingga naik ke permukaan, membuka mulutnya, lalu tenggelam lagi.

"Kecelakaan itu," katanya pelan. "Mobil yang menabrak mereka. Siapa yang menyetir?"

Radit tidak menjawab.

"Sebut saja namanya, Dit."

Radit menatapnya. Lama. Di mata laki-laki itu, Nala melihat sesuatu yang membuat tenggorokannya tercekat. Bukan ketidaktahuan. Sesuatu yang lebih buruk. Seseorang yang tahu, atau mengira dia tahu, dan tidak sanggup mengatakannya di depan orang yang paling tidak boleh mendengarnya.

Radit tetap diam.

Nala menunduk. Dia mengambil pulpen dari tasnya, menarik kertas kecil itu ke arahnya, dan menulis sesuatu di bawah nama Dimas. Lalu dia mendorong kertas itu kembali ke seberang meja.

"Tolong cari satu orang lagi," katanya.

Radit membaca tulisan itu.

Arka Ardana.

Dia mengerutkan dahinya. Matanya menyipit, seperti orang yang mencoba menangkap sesuatu yang lewat terlalu cepat.

"Nama ini..." katanya pelan. "Aku pernah dengar. Di berita lama."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!