Anindya, wanita muda yang tulus dan sederhana, tanpa sengaja terjebak dalam cinta kepada Reynand — pria berwibawa yang sudah memiliki istri bernama Gisella. Di mata publik, rumah tangga mereka tampak sempurna. Namun saat kebenaran mulai terkuak satu per satu, tidak ada yang benar-benar tahu apa yang terjadi di balik pintu tertutup. Akankah Anindya pergi sebelum terlambat, atau ia akan tetap bertahan — terperangkap dalam cinta yang ternyata jauh lebih rumit dari yang ia kira?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Red_Purple, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 30
Sore itu, langit di luar berwarna jingga keunguan. Di ruang pertemuan sebuah gedung kantor bergaya modern, Reynand baru saja menutup pertemuan dengan klien penting. Anindya duduk di sebelahnya, mencatat hal-hal penting, sesekali menatapnya dengan senyum tipis.
Saat berjabat tangan mengakhiri pertemuan, wajah pemilik perusahaan mitra itu tersenyum tulus.
"Jujur, Pak Reynand... kami sempat ragu setelah berita pemutusan kerja sama dengan Wijaya Group menyebar. Tapi melihat ketegasan dan kejujuran Bapak hari ini... kami yakin memilih jalan bersama adalah keputusan yang tepat."
Reynand tersenyum tipis, namun terasa tulus.
"Terima kasih atas kepercayaannya. Kami tidak menjanjikan keuntungan instan. Tapi kami berjanji akan berusaha sebaik mungkin."
Setelah berpisah dengan klien itu dan melangkah keluar ke lorong yang sepi, beban berat perlahan terangkat dari bahu Reynand. Ia menoleh ke arah Anindya yang berjalan di sampingnya.
"Kamu dengar itu?" tanyanya pelan, matanya menyiratkan kelegaan. "Mereka percaya."
Anindya mengangguk, matanya berbinar.
"Karena mereka melihat siapa kamu sebenarnya, Rey."
Reynand berhenti sejenak, menatapnya lekat. Di lorong yang sepi itu, ia menyentuh ujung jari wanita itu pelan.
"Dan kamu ada di sini... sejak awal. Tanpamu, mungkin aku sudah menyerah."
Anindya menggenggam tangannya erat, tak peduli siapa yang lewat.
"Kita lewati ini bersama, ingat?"
Reynand tersenyum, lalu mengangguk mantap.
"Ya. Bersama."
Mereka melangkah menuju mobil. Di dalamnya, suasana terasa damai. Reynand menyetir perlahan, sesekali melirik Anindya yang duduk di sampingnya, menatap ke luar jendela dengan senyum tipis yang tak hilang.
"Rasanya sudah lama sekali aku tidak menikmati suasana sore seperti ini..." gumam Anindya pelan, seakan masih tak percaya. "Benar-benar indah."
Reynand tersenyum tipis, menoleh sebentar ke arah Anindya.
"Karena akhir-akhir ini kita sibuk di kantor. Setelah semuanya stabil, aku akan mengajakmu keluar untuk jalan-jalan."
Anindya menoleh, menatapnya lembut.
"Tidak perlu. Aku hanya—"
"Perlu," potongnya pelan. "Biar aku selesaikan semua urusanku dulu, setelah itu aku akan memiliki banyak waktu untukmu."
Mobil melaju tenang membelah jalanan kota yang mulai sepi. Tidak ada pembicaraan berat, tidak ada kekhawatiran yang mengintai. Untuk sesaat, mereka hanya berdua, menikmati kebersamaan yang sederhana namun berharga.
Sampai akhirnya kendaraan berhenti tepat di depan pagar rumah Anindya. Lampu teras belum dinyalakan, namun cahaya samar dari dalam jendela sudah terlihat hangat.
Reynand mematikan mesin, lalu menoleh sepenuhnya ke arah Anindya. Tatapannya tak lepas dari wajah wanita itu, seakan ingin mengabadikan setiap sudutnya sebelum melepaskan.
"Sudah sampai," ucapnya pelan, suaranya terdengar sayang sekaligus berat melepaskan. Jemarinya menyisir lembut helai rambut yang jatuh menutupi dahi Anindya, perlahan menyelipkannya ke belakang telinga. "Rasanya perjalanan tadi terlalu singkat..."
Anindya tidak segera membuka pintu. Ia menatapnya lekat, lalu menggenggam tangan pria itu lebih erat, mendekatkannya ke pipinya yang hangat.
"Kamu akan kembali ke kantor?" tanyanya lirih. "Jangan terlalu memaksakan diri, Rey. Kamu bisa sakit."
Reynand mengusap punggung tangannya dengan ibu jari, sentuhannya penuh kelembutan.
"Aku kuat, Anindya. Masih ada beberapa pekerjaan yang harus aku urus." Ia mendekat, keningnya bersandar sejenak di kening wanita itu, mata mereka saling bertaut dalam keheningan yang hangat. "Masuklah. Istirahat yang cukup. Besok aku jemput pagi-pagi."
Anindya mengangguk, namun diam saja, tak beranjak sedikit pun. Matanya menatap bibir pria itu sesaat, lalu kembali menatap matanya.
"Baik. Jangan pulang terlalu larut ya... telepon aku jika sudah pulang."
Reynand tersenyum tipis, mengecup lembut sudut bibirnya.
"Iya... janji."
Perlahan Anindya membuka pintu, turun, lalu menoleh sekali lagi, melambaikan tangan pelan sebelum melangkah ke arah pintu rumah. Reynand tetap duduk di sana, memastikan wanita itu masuk dengan selamat, sampai pintu tertutup dan cahaya di dalam ruangan menyala.
Baru kemudian ia menghela napas panjang, dan menyalakan kembali mesin mobilnya.
-
-
-
Di dalam apartemen yang mewah namun kini terasa dingin dan sepi, Gisella berdiri di dekat meja tengah, tas di genggamannya. Ia menatap pria yang berdiri beberapa langkah di hadapannya.
"Aturan mainnya jelas, Gavin," ucapnya pelan namun tegas, suaranya mengingatkan pada percakapan mereka malam pertama di tempat ini. "Kau yang minta aku menemani di masa sulitmu, dan aku yang butuh pelarian dari pernikahan yang hampa. Kita saling mengisi kekosongan, itu saja. Tidak ada janji, tidak ada masa depan."
Gavin terdiam, ingatan itu melintas jelas di benaknya, saat Gisella mengatakan kalimat yang sama persis, matanya dingin namun ada luka yang tersembunyi di sana.
"Aku datang untuk menepati janjiku," lanjut Gisella, menegaskan kembali. "Surat pengalihan hak atas apartemen ini sudah aku tandatangani. Mulai sekarang, tempat ini jadi milikmu sepenuhnya."
Gavin menatapnya, alisnya berkerut, tak ingin membiarkan hal itu berakhir sesingkat ini.
"Gisella... apa maksudnya?"
"Ini berarti kita berakhir, Gavin." Gisella menegakkan bahunya, menahan getar di suaranya. "Seperti yang kita sepakati sejak awal. 'Saat salah satu dari kita mulai ingin lebih, kita berhenti.' Kau lupa kalimat itu? Sekarang aku minta satu hal darimu, jangan pernah lagi mencari aku dan jangan pernah mengganggu hidupku lagi."
Ia berbalik hendak melangkah keluar, namun tiba-tiba lengan kekar melingkar di pinggangnya, menariknya mundur erat ke dada bidang itu.
"Siapa bilang aku mau berakhir?" bisik Gavin tepat di telinganya, suaranya rendah dan terdengar mendesak. "Kalimat itu dulu... sekarang sudah berbeda. Aku tidak mau, Gisella. Tidak bisa."
Gisella menegang, berusaha melepaskan pelukannya, namun pelukan itu justru makin erat.
"Gavin, lepaskan! Kita sudah sepakat!"
"Itu kesepakatanmu sendiri!" Gavin tak melepaskan, napasnya memburu di leher wanita itu. "Aku tidak pernah bilang aku siap melepaskanmu. Aku sudah terbiasa dengan kehadiranmu, Gisella. Aku tidak bisa kembali seperti dulu tanpamu."
Gisella menarik napas panjang, mengerahkan kekuatan untuk melepaskan genggamannya perlahan namun pasti. Ia berbalik menatapnya, matanya berkaca-kaca namun tetap teguh.
"Justru karena kamu mulai menginginkan lebih, ini harus berakhir." Air mata satu menetes, namun ia buru-buru menghapusnya. "Kita tidak punya masa depan, Gavin. Aku mencintai suamiku. Dan kamu tahu itu. Biarkan aku pergi... tolong."
Ia melangkah mundur, menjaga jarak, lalu berbalik menuju pintu dan keluar tanpa menoleh lagi.
Di luar, langit sudah mulai gelap. Gisella masuk ke dalam mobilnya, menyalakan mesin, dan kendaraan itu perlahan melaju meninggalkan area kompleks apartemen itu. Matanya menatap lurus ke depan, napasnya teratur, namun hatinya terasa sesak dan perih.
Ia tak menyadari, bahwa di sisi jalan tepat di luar gerbang, sebuah mobil hitam terparkir dengan tenang. Di balik kaca yang sedikit tertutup, sepasang mata mengawasi setiap gerak-geriknya. Hingga mobil Gisella hilang dari pandangan matanya.
-
-
-
Bersambung...