Astiana Larasati turun ke ibu kota dengan ilmu bela diri kuno, pengobatan ajaib, dan kemampuan mendengar niat jahat untuk mencari orang tua kandungnya. Berpandukan liontin yang bisa menyala hijau, Astiana menavigasi intrik para elit kota sambil mati-matian menekan kekuatannya demi mematuhi amanat kakek angkatnya untuk hidup rendah hati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18
Brummm.
Mobil sedan perak milik Raka membelah jalanan malam yang semakin sepi.
Hanya ada suara deru mesin dan gesekan ban dengan aspal yang menemani perjalanan pulang mereka.
Di dalam mobil, suasana terasa sedikit canggung dan hening.
Astiana menyandarkan kepalanya di kaca jendela sambil menatap lampu-lampu jalan yang berkelebat cepat.
"Kau tahu, Nona Astiana, apa yang kau lakukan tadi itu sangat nekat."
Raka akhirnya membuka suara memecah keheningan di antara mereka berdua.
"Meskipun kita berhasil mempermalukan mereka, kita baru saja menyatakan perang secara terbuka dengan PT Bintang Zamrud."
"Aku tahu."
Astiana menjawab singkat tanpa mengalihkan pandangannya dari jendela.
"Lalu kenapa kau melakukannya."
"Karena aku tidak suka melihat orang serakah yang menipu orang lain."
Jawaban polos Astiana itu membuat Raka hanya bisa menggelengkan kepalanya pelan.
"Mulai besok, aku akan melipatgandakan jumlah penjaga di rumah utama dan di sekitar paviliunmu."
"Keluarga Adibrata tidak pernah melepaskan mangsa yang sudah mempermalukan mereka di depan umum."
Raka memberikan peringatan dengan nada suara yang sangat serius.
"Tidak perlu repot-repot, Tuan Muda Raka."
Astiana memutar tubuhnya menghadap Raka dengan wajah datarnya yang khas.
"Penjaga sebanyak apa pun tidak akan berguna jika musuh menggunakan cara kotor dari dalam."
"Kita sudah melihat sendiri bagaimana Dokter Handoko hampir membunuh kakekmu kan."
Raka terdiam sejenak meresapi ucapan Astiana yang memang benar adanya.
"Kau benar, uang bisa membeli banyak hal termasuk kesetiaan orang-orang di sekitar kita."
Raka menghela nafas panjang dan memfokuskan pandangannya ke jalan raya.
"Tapi setidaknya aku akan memastikan kau dan kakek aman selama aku masih bernafas."
"Baguslah kalau begitu, aku pegang janjimu."
Astiana kembali bersandar dan memejamkan matanya hingga mobil itu memasuki gerbang rumah Keluarga Darma.
Malam itu berlalu tanpa ada insiden berarti.
Keesokan paginya, sinar matahari masuk melalui celah gorden paviliun Astiana.
Wushhh.
Suara bising seperti mesin jet kecil terdengar menderu di dalam kamar Astiana.
"Nadin, apakah alat ini tidak akan meledak di kepalaku."
Astiana duduk di depan cermin sambil menutupi kedua telinganya dengan telapak tangan.
Di belakangnya, Nadin sedang sibuk mengarahkan sebuah alat pengering rambut ke arah kepala Astiana.
"Ya ampun, Nona Astiana ini lucu sekali."
Nadin tertawa kencang agar suaranya tidak kalah dari suara mesin tersebut.
"Ini namanya hairdryer, Nona, alat ini cuma mengeluarkan angin panas untuk mengeringkan rambut."
"Tapi suaranya sangat berisik dan anginnya membuat kepalaku pusing."
Astiana mengeluh pelan melihat pantulan rambutnya yang berterbangan tidak karuan di cermin.
Dia benar-benar tidak terbiasa dengan benda-benda elektronik modern yang aneh ini.
Di desa, kakeknya selalu menyuruhnya mengeringkan rambut dengan handuk lalu menjemurnya di bawah sinar matahari.
"Nona harus terbiasa dengan perawatan kecantikan modern kalau mau tinggal di kota besar."
Nadin mulai mengoceh panjang lebar sambil terus menyisir rambut Astiana.
"Rambut Nona itu sebenarnya sangat bagus, hitam dan tebal sekali."
"Sayang kalau tidak dirawat pakai sampo mahal dan dikeringkan dengan benar."
Nadin mematikan alat pengering rambut itu dan meletakkannya di atas meja rias.
Klik.
Suasana kamar mendadak menjadi sangat hening setelah mesin itu dimatikan.
Astiana menghela nafas lega dan menurunkan tangannya dari telinga.
"Nanti saya pakaikan serum rambut juga ya, Nona, biar rambutnya wangi dan lembut."
"Terserah kau saja, Nadin, aku ikut saja asal tidak pakai mesin berisik itu lagi."
Astiana mengalah karena dia tahu berdebat dengan Nadin soal kecantikan adalah hal yang sia-sia.
Pelayan cerewet ini memang sangat peduli pada penampilan Astiana sejak kejadian pesta semalam.
Tok tok tok.
Pintu kamar paviliun tiba-tiba diketuk dengan cukup keras dari luar.
"Nona Astiana, Tuan Besar memanggil Nona untuk sarapan bersama di ruang makan utama."
Suara salah satu pengawal terdengar dari balik pintu.
"Baik, aku akan segera ke sana."
Astiana berdiri dari kursi riasnya dan merapikan kemeja kasual yang dia pakai.
"Ayo Nona, kita harus cepat, kudengar hari ini ada tamu keluarga yang datang berkunjung."
Nadin membukakan pintu untuk Astiana dan berjalan mengekor di belakangnya.
"Tamu keluarga."
Astiana menoleh sedikit ke arah Nadin saat mereka berjalan menyusuri lorong paviliun.
"Iya, Nona, itu Tuan Bima dan Nyonya Rosa."
"Mereka itu sepupu dan bibi dari Tuan Muda Raka."
Nadin menurunkan nada suaranya menjadi setengah berbisik.
"Nona harus hati-hati pada mereka berdua, sifat mereka sangat berbeda dengan Tuan Besar."
Astiana mengangguk paham mendengar peringatan dini dari pelayannya itu.
Setibanya di ruang makan utama, suasana ternyata sudah cukup ramai.
Pak Darma duduk di kursi utamanya seperti biasa dengan wajah yang segar.
Di sebelah kanan duduklah Raka yang sedang meminum kopi hitamnya dengan tenang.
Namun di sebelah kiri meja, ada dua sosok baru yang belum pernah Astiana lihat sebelumnya.
Seorang wanita paruh baya dengan perhiasan emas yang mencolok di leher dan pergelangan tangannya.
Dan seorang pemuda seumuran Raka yang memakai kemeja sutra bermotif bunga-bunga norak.
"Selamat pagi, Kakek Darma."
Astiana menyapa dengan sopan sambil melangkah mendekati meja makan.
Semua mata langsung tertuju padanya.
Raka tersenyum tipis dan menggeser kursi kosong di sebelahnya agar Astiana bisa duduk.
Srek.
"Selamat pagi, Nak Astiana, ayo cepat duduk, sarapannya sudah siap."
Pak Darma menyambut dengan sangat hangat dan ramah.
Wanita paruh baya yang memakai banyak emas itu langsung mengerutkan dahinya dengan tatapan jijik.
"Ayah, siapa gadis kampung ini."
Wanita bernama Rosa itu bertanya pada Pak Darma dengan nada suara yang sangat melengking.
"Kenapa dia diizinkan ikut duduk di meja makan utama keluarga kita."
Bima, pemuda berkemeja sutra itu, ikut menatap Astiana dari atas sampai bawah.
"Apakah keluarga kita sekarang membuka panti sosial untuk menampung gelandangan, Kakek."
Bima tertawa sinis setelah mengeluarkan kalimat hinaan tersebut.
Pak Darma langsung meletakkan garpunya dengan cukup keras ke atas piring.
Trang.
"Jaga ucapan kalian berdua."
Suara Pak Darma berubah menjadi tegas dan penuh wibawa.
"Gadis ini adalah Astiana, dia adalah tamu kehormatanku sekaligus asisten pribadi Raka."
Rosa dan Bima langsung saling berpandangan dengan tatapan tidak percaya.
"Asisten pribadi."
Rosa menutup mulutnya dengan tangan yang penuh cincin berlian.
"Raka, apa kau sudah gila menjadikan gadis tidak berpendidikan seperti ini sebagai asistenmu."
Raka meletakkan cangkir kopinya dan menatap bibinya itu dengan sangat dingin.
"Dia jauh lebih berguna dan pintar daripada anak kesayangan Tante yang hanya tahu menghamburkan uang."
Kalimat tajam Raka langsung menusuk harga diri Bima.
"Hei, jaga ucapanmu, Raka."
Bima menggebrak meja dengan wajah memerah karena marah.
"Aku ini lulusan universitas luar negeri, tidak seperti gembel yang kau pungut dari jalanan ini."
Astiana hanya diam menikmati roti selainya tanpa merasa terganggu sedikit pun oleh keributan itu.
selamat untuk memperbaiki semua kerusakannya pak manajer 🤣🤣