🔥CRAZY UP🔥
Alina Prameswari ingin membersihkan nama mendiang ayahnya yang dituduh menggelapkan miliaran rupiah oleh keluarga Mahendra. Untuk membongkar kebenaran, ia harus berhadapan dengan Adrian Mahendra, CEO dingin yang ia anggap sebagai musuh.
Mereka terpaksa bekerja sama untuk mengungkap konspirasi di balik skandal perusahaan. Namun, ketika sandiwara menjadi pasangan mulai menumbuhkan perasaan, rahasia tentang kematian mantan tunangan Adrian justru mengancam menghancurkan segalanya.
Bagaimana jika pria yang paling ingin Alina jatuhkan justru menjadi orang yang paling sulit ia lepaskan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Uranenantios, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 16
Rabu 15 Oktober ruang baca terbatas dibuka lagi atas perintah Adrian. Bukan karena ia sudah percaya penuh pada Alina, tapi karena kode Lazuardi muncul lagi di draf terbaru yang Oscar kirim malam sebelumnya. Kali ini bukan hanya di lampiran historis. Nama itu muncul di bagian catatan rekonsiliasi yang akan dilampirkan ke Aruna Capital. Adrian membaca kiriman itu di ruang kerjanya sebelum gedung ramai, lalu mengirim pesan ke Dimas, pendek: bawa dia ke ruang baca. Bukan ke lantai 32. Belum.
Dimas mengantar Alina dari lobi. Tali pengunjung dipasang lagi, dan Sari yang menerimanya di pintu lift, bukan resepsionis. Sari tidak bertanya kabar. Ia hanya melihat jam di tangannya dan berkata, "Sepuluh menit dari lobi ke ruang baca. Kalau lebih, saya yang jelaskan ke atas."
"Tidak akan lebih," kata Dimas.
Alina tidak membawa amplop. Amplop itu tidak ada di tangannya sejak kemarin. Yang ia bawa hanya ponsel di saku dalam dan kepala yang masih menyimpan coretan 12,4 dan 18,9. Di lift ia tidak bertanya kenapa dipanggil. Dimas juga tidak menjelaskan di dalam lift, karena dinding lift bukan tempat untuk nama vendor.
Sari menjaga pintu. Ia berdiri di luar, kartu akses di tangan, dan tidak masuk kecuali diperlukan. Monitor sudah menyala dengan versi draf yang ditahan. Ruangannya sama dengan Jumat: meja, dua kursi, buku catatan Dimas yang sudah berisi angka-angka sebelumnya. Tidak ada kursi ketiga yang disiapkan seperti untuk tamu.
"Lihat bagian ini," kata Dimas, menunjuk baris di tengah halaman. "Oscar menambahkan catatan kemarin malam. Lazuardi masih tercantum sebagai item yang perlu ditinjau ulang sebelum closing."
Alina duduk dan membaca. Kursor tidak berkedip karena bukan layar yang sedang diedit. Nama itu hidup lagi, bukan sebagai sisa masa lalu, tapi sebagai ancaman yang menempel pada deal yang sedang berjalan. Di sampingnya ada kalimat pendek dari Oscar, bukan penghapusan. Statusnya menggantung. Kalau Aruna melihat vendor historis yang belum bersih, pertanyaan akan datang. Kalau pertanyaan datang, akuisisi bisa molor atau bahkan retak.
Alina menggulir ke atas, lalu ke bawah, memastikan nama itu tidak hanya muncul sekali sebagai sisa salin. Ada di catatan rekonsiliasi. Jejak di lampiran historis belum hilang. Dua tempat. Sama seperti pola yang membuat ringkasan terlihat lebih rapi daripada belakangnya.
"Ini bukan hanya masalah saya," kata Alina. "Ini masalah deal Anda."
"Saya tahu," jawab suara dari belakang.
Adrian masuk tanpa mengetuk. Sari sempat bergeser di ambang, lalu kembali ke posisinya ketika melihat siapa yang masuk. Adrian berdiri di samping Dimas, menatap layar. Jasnya tidak ia lepas. "Saya menahan penandaan ulang karena saya ingin melihat apakah nama ini akan hilang sendiri atau tetap muncul. Ternyata tetap muncul. Sekarang saya ingin Anda melihat bersama saya, bukan di belakang saya."
Alina menoleh. "Kenapa tiba-tiba mengizinkan?"
"Karena ancaman ini sekarang milik kita berdua. Kalau Lazuardi bocor ke Aruna dalam kondisi seperti ini, investor akan bertanya kenapa vendor lama masih hidup di draf. Saya tidak bisa membersihkan sendirian tanpa risiko terlihat seperti menyembunyikan. Anda sudah menemukan jejaknya lebih dulu. Saya lebih memilih Anda melihat di depan saya daripada mencoba masuk lagi lewat pintu servis."
"Jadi saya di sini supaya Anda tidak kelihatan menyembunyikan."
"Anda di sini supaya jejak itu dibaca dua pasang mata sebelum ada yang merapikannya." Adrian menunjuk layar, bukan menunjuk Alina. "Baca. Jangan salin."
Mereka bekerja sampai siang. Alina menandai setiap kemunculan Lazuardi dengan cara menyebut halamannya, dan Dimas yang menulis. Ia tidak menyentuh buku itu. Dimas mencatat tanggal dan status. Ada yang masih "muncul pada rekonsiliasi". Ada yang sekarang duduk di catatan yang akan dilampirkan, dengan kalimat Oscar soal tinjauan ulang sebelum closing. Adrian sesekali bertanya, bukan untuk menguji, tapi untuk memastikan ia tidak melewatkan pola yang sama dengan tiga transaksi yang digeser sebelumnya.
"Yang Rp5,6 miliar masih di baris yang sama?" tanyanya.
"Masih," kata Alina. "Tidak pindah ke ringkasan. Tidak juga dihapus. Yang berubah, dia ikut masuk ke catatan yang akan dibaca orang luar."
"Tanggalnya?"
Dimas membalik catatannya. "Saya tulis di sini. Sama dengan kemunculan yang Jumat."
Sari membuka pintu sekali, hanya kepalanya. "Masih di dalam?"
"Masih," kata Dimas.
"Baik." Pintu tertutup lagi. Tidak ada orang lain yang minta masuk.
Adrian mengangguk sekali. Ia tidak meminta Alina menjelaskan ulang selisih delapan belas koma sembilan. Angka itu sudah ada di buku. Yang ia kejar hari ini hanya apakah Lazuardi bergerak sendiri atau tetap dipegang pola yang sama.
Menjelang siang Adrian menutup monitor. Layar menjadi hitam, dan bayangan mereka hilang dari kaca. "Cukup. Saya akan bicara dengan Oscar hari ini. Anda tidak boleh menyalin apa pun. Catatan hanya di buku Dimas."
Alina berdiri. Tangannya kosong, dan itu ia tunjukkan dengan membalik telapak sekali, bukan sebagai lelucon. "Kalau Anda membersihkannya tanpa saya tahu hasilnya, saya tidak punya cara untuk memastikan jejaknya tidak dihapus total."
"Saya tidak akan menghapus. Saya akan menandai sebagai 'dalam peninjauan internal'. Itu cukup untuk menahan pertanyaan Aruna sementara, tanpa menghilangkan jejak."
"Peninjauan internal bisa jadi laci."
"Kalau jadi laci, Anda akan tahu karena nama itu hilang dari draf berikutnya. Selama Anda masih melihatnya di sini, jejaknya belum saya bunuh."
Alina mengangguk. Ia tidak menyebut itu kerja sama. Adrian juga tidak. Ia keluar bersama Sari. Tali pengunjung dilepas di lobi, sama seperti hari ia dilepaskan dengan syarat, hanya saja hari ini tidak ada ultimatum yang diucapkan di lift.
Di lift ia merasa aneh: untuk pertama kali akses diberikan bukan sebagai penahanan, tapi karena ancaman yang sama. Bukan kerja sama. Hanya kepentingan yang tiba-tiba bertemu. Sari berdiri di sisi lain, melihat angka lantai, dan baru bicara ketika pintu akan terbuka.
"Sampai lobi. Setelah ini saya tidak mengantar ke mana-mana."
"Tidak perlu."
Sore itu Adrian memanggil Oscar dan Hendra Salim ke ruangannya. Ia tidak menyebutkan nama Alina. Buku Dimas tidak ada di meja. Ia hanya menunjukkan baris Lazuardi di draf, di layar yang sudah ia besarkan supaya dua orang yang berdiri tidak perlu membungkuk.
"Tahan. Jangan ditandai selesai. Jangan dihapus. Tulis 'dalam peninjauan internal' dan laporkan ke saya setiap perubahan."
Hendra mengernyit. Tangannya yang memegang map berhenti di kunci map, tidak membukanya. "Ada masalah, Pak?"
"Ada item yang belum bersih. Saya tidak ingin investor melihatnya dulu."
"Kalau ini soal lingkup akses, tim saya perlu tahu apakah peninjauan itu internal dewan atau hanya catatan Direktur Utama. Itu beda arsip."
"Catatan saya. Bukan agenda dewan. Tidak perlu disalin ke tempat lain."
Hendra mengangguk, pelan, seperti orang yang menyimpan prosedur untuk dipakai nanti, bukan untuk dilawan di ruangan ini. "Saya catat instruksinya. Kalau ada yang minta item itu ditutup hari ini, saya arahkan ke Bapak."
"Tepat."
Oscar belum duduk. "Tiga hari yang Bapak minta kemarin masih jalan. Kalimat 'dalam peninjauan internal' saya taruh di status, bukan di ringkasan halaman depan."
"Halaman depan jangan dibuat seolah ini sudah selesai," kata Adrian. "Itu yang kemarin hampir terjadi pada angka lain."
Oscar tidak bertanya angka lain yang mana. Ia mencatat kalimat statusnya di ponsel kerja, memperlihatkan layarnya sekali supaya tidak salah kutip, lalu mengunci layar. "Saya kirim konfirmasi setelah diubah."
"Ke saya. Bukan ke grup."
Setelah mereka keluar, ruangan kembali kosong kecuali Adrian. Ia menunggu sampai langkah di koridor tidak lagi terdengar, lalu membuka lagi map Koridor Timur di mejanya. Sampulnya ia hadapkan ke atas. Tulisan tangan Darmawan terbaca utuh: jangan diarsipkan biasa. Ia masih belum membuka amplop kecil di dalamnya. Klip di bagian belakang tidak ia sentuh. Tapi nama Lazuardi di draf hari ini membuat tulisan ayahnya di sampul map terasa lebih berat. Berat itu tidak ia ubah menjadi kesimpulan. Ia hanya menaruh map kembali ke tas, resleting ditutup, dan tidak membawanya ke rapat siapa pun sore itu.
Di Tebet, Alina menulis di buku catatan: "Lazuardi muncul lagi di draf yang akan ke Aruna. Adrian memberi akses karena ancaman ini juga miliknya. Bukan percaya. Bukan kerja sama. Hanya kepentingan yang bertemu." Ia menulis pelan supaya hurufnya tidak tembus ke halaman coretan angka. Buku itu ia tutup. Ponsel di sampingnya tidak berbunyi. Ia membiarkannya.