Alea hidup dalam realitas kemiskinan mulai dari tagihan listrik dan kontrakan yang menunggak memaksanya berjuang keras banting tulang demi memenuhi kebutuhannya sendri.
Di sisi lain, Arka Adiwangsa hidup dalam kemewahan namun dibayangi darah, pengkhianatan, dan rahasia gelap keluarganya.
Hingga pertemuan tak terduga di tepi jembatan malam itu menjadi titik balik yang mengubah segalanya.
Dua dunia yang bertolak belakang pun berbenturan: Alea perlahan terseret ke dalam pusaran bahaya dunia mafia, sementara logika absurd gadis itu tanpa sadar menundukkan sisi gelap di dalam diri Arka.
Ketika nyawa dan uang receh dipertaruhkan di meja yang sama, akankah sang pewaris takhta akhirnya luluh dan menaklukkan hati Alea? Atau justru mereka harus kembali melangkah di jalan masing-masing?
Kisah mereka lebih dari sekadar pertemuan dua dunia yang tak seharusnya bersentuhan. Penasaran? Langsung baca saja ya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riniasyifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30
Dua pria berjaket bomber gelap itu melangkah mendekat dengan pola pergerakan terukur, khas pengawal lapangan yang terlatih menekan target di ruang tertutup. Jarak mereka tersisa tiga meter dari meja booth tempat Alea duduk memangku boneka oranye dan milktea-nya.
Alih-alih panik atau meringsut mundur ketakutan, Alea justru memutar bola matanya malas. Bagi gadis yang biasa menghadapi preman terminal membawa rantai bergerigi, dua orang berwajah kaku ini terlihat seperti brosur berjalan yang kurang edukasi etika bertamu.
"Dengerin ya, Mas, Abang, Om, ah atau apalah sebutannya," suara Alea datar namun tegas, tangan kanannya sudah merayap membuka tutup botol spray antiseptik ukuran 500ml di dalam tas.
"Kalau kalian mau nawarin asuransi jiwa, sorry, polis gue udah autodebet dari BPJS subsidi. Kalau mau nagih iuran lingkungan, ketua RT gue namanya Pak Hartono bukan kalian. Dan kalau mau nyulik..."
Alea mendadak berdiri, menegakkan postur setinggi seratus enam puluh senti dengan tatapan mengintimidasi level kelas pekerja.
"...budget penculikan kalian nggak akan nutup biaya ganti rugi jas kalian sendiri yang bakal gue tumpahin milktea ini!"
Pria di depan mengerutkan kening, bingung menghadapi respon di luar protokol operasional. "Nona Alea. Anda ikut dengan kami secara baik-baik, atau—"
Hosh!
Tanpa menunggu ancaman selesai, Alea menyemprotkan cairan antiseptik beralkohol tinggi 70% tepat ke arah bola mata pria pertama dengan akurasi penembak jitu.
"ARGH! Sialan, mata gue!" pekik pria itu refleks menutup wajah dengan kedua tangan, mundur terhuyung-huyung menubruk pot tanaman hias kafe.
Pria kedua terperanjat, mencabut baton logam lipat dari balik punggungnya.
"Cewek sialan—"
Belum sempat baton itu terayun, sebuah tendangan samping melesat dari sisi kanan, menghantam telak rusuk pria kedua hingga tubuhnya terlempar melintasi meja dan mendarat menindih kursi plastik.
Arka berdiri di ambang pintu rooftop dengan napas sedikit memburu, kemeja lengan panjangnya sedikit berantakan, dan aura membunuh yang tadi diredam kini tumpah meluber memenuhi ruangan terbuka itu.
Di belakangnya, satu orang pria berjas hitam terkapar tak sadar di lantai koridor bawah tangga darurat.
Sorot mata obsidian Arka menyala tajam, menatap dua penyusup itu dengan ancaman maut. Namun saat kepalanya menoleh ke arah Alea guna memastikan tidak ada goresan di kulit gadis itu, emosinya mendadak bertabrakan dengan realitas.
Alea sedang berdiri santai sambil meniup ujung botol spray alkoholnya yang masih mengepulkan kabut halus, seolah baru saja selesai menyiram tanaman hias di teras kontrakan.
"Lima menit belum habis, Bos," ujar Alea tanpa dosa, menunjuk jam tangan diskonannya.
"Tapi evaluasi keamanan rooftop ini nilai E minus. Lampunya kurang terang, trus penjaga koridor bawah juga kecolongan."
Arka mematung sesaat, lalu menghela napas panjang untuk meredam pening di kepalanya.
"Lo... gak terluka kan?"
"Jangan khawatir, cuman hadapi dua sales magang gini mah kecil bos!" balas Alea santai, membenarkan letak boneka oranye di dekapannya.
"Tapi kita harus segera cabut dari sini sekarang juga, sebelum manajemen kafe dateng trus nuntut ganti rugi pot bunga yang pecah itu sama kita!"
Arka hanya menggeleng pasrah sambil menahan senyum saat Alea menarik lengannya menjauhi TKP.
Namun langkah Arka dan Alea seketika terhenti saat suara sumbang berderap masuk dari arah lift servis rooftop yang terbuka.
Dari balik pilar beton sudut rooftop, muncul Kevin dengan senyum liciknya. Kevin masih mengenakan atribut lengkap seragam sekolah elitnya. Di belakangnya mengekor dua anak sahabatnya.
Kevin tegap berdiri, lalu menyeringai sinis saat matanya menatap ke arah belakang Alea dan Arka yang berantakan dengan pecahan pot, dan dua orang pria yang masih mengerang di lantai.
"Turun kasta lo, Kak?" ledek Kevin dengan nada merendah, melangkah mendekat dengan angkuh.
"Dari sekolah elit sekelas kita malah sengaja pindah ke pinggiran kumuh, cuma buat... jadi pengawal pribadi cewek miskin dan bar-bar ini? Kalau Papa tahu kejadian ini, bisa-bisa saham perusahaan Papa ikut anjlok karena ulah Kakak ini, sungguh memelukan."
Teman-teman Kevin ikut tertawa kecil, melirik Alea dengan tatapan jijik ala anak orang kaya manja.
Alea tidak gentar sedikit pun. Ia menurunkan botol spray alkoholnya, lalu melirik Kevin dari atas ke bawah dengan tatapan menyelidik bak mandor proyek menilai bahan bangunan KW.
"Aduh! Napa harus ketemu bocah manja dan tukang pamer ini lagi sih!" balas Alea santai, mengukir senyum miring yang menyebalkan.
"Eh, kalian gak punya kaca di rumah ya, sok kegantengan padahal mukanya kayak penagih utang panci yang nggak laku. Mau gue kasih diskon sepuluh persen buat les privat cara ngomong sopan?"
Wajah Kevin seketika memerah menahan murka.
"Heh, cewek murahan! Beraninya lu ngomong gitu di depan—"
Belum sempat kalimat itu tuntas, suhu udara di sekitar mereka mendadak anjlok sepuluh derajat.
Arka melangkah satu langkah ke depan, menutupi separuh tubuh Alea. Auranya bergeser total dari seorang siswa SMA menjadi eksekutor berdarah dingin yang siap merobek leher siapa saja yang berani melewati batas. Sorot mata obsidiannya menusuk lurus ke manik mata Kevin.
"Kalian salah tempat, Kevin," suara bariton Arka dingin, mengiris sunyi.
"Baiknya cepat minggir, jangan halangi langkah gue, kalau gak gue gak akan segan-segan membuat kalian semua berangkat sekolah besok pakai kursi roda. Satu, dua..."
Kevin mendadak menelan ludah kasar. Nyalinya menciut seketika melihat kilat mata Arka yang tidak bercanda. Ia mundur selangkah, menarik lengan teman-temannya yang mulai panik.
"S-sialan... lo emang gila, Kak! Awas gue bakal aduin ini sama Papa!" cibir Kevin gugup, buru-buru berbalik dan melarikan diri masuk kembali ke dalam lift bersama gengnya.
Hening kembali menyelimuti rooftop.
Arka menghela napas pelan, meredakan ketegangannya, lalu melirik ke samping di mana Alea masih berdiri santai memeluk boneka oranye.
"Anak itu... memang hobi banget nyari masalah," gumam Arka datar.
"Bukan hobi, Bos," sahut Alea enteng, menyemprotkan angin tipis dari botol alkoholnya lagi.
"Dia cuma kekurangan validation. Jadi pelariannya ke toxic flexing."
Arka menatap gadis itu lekat-lekat, lalu tanpa sadar sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman kecil yang tulus. "Ayo kita langsung pulang."
Bersambung...
udh lah jngan suka mancing2 Alea yg bar2 ini, bisa kena bogem loh buru**nya nnt 😂😂😂