Menikahi seorang duda beranak tiga dipikirnya akan membawa kebahagiaan baru, namun kenyataan menjadi ibu tiri ternyata jauh lebih rumit dari yang dibayangkan. Di balik pintu rumah yang tampak sempurna, ia harus berhadapan dengan penolakan halus, bahkan kasar, serta dinamika tiga anak dengan karakter yang bertolak belakang.
Mampukah Ayu meluluhkan hati anak-anak tirinya dan mempertahankan rumah tangganya, atau justru menyadari bahwa ketulusan saja tidak pernah cukup?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 6: Peran istri & ibu
Keheningan yang ditinggalkan Kenzo dan Lea di meja makan tadi pagi masih membekas di sudut hati Ayu. Namun, sebagai seorang wanita dan ibu, Ayu menolak untuk membiarkan suasana muram menguasai harinya.
Meskipun status mereka adalah pengantin baru, Yoga tidak bisa sepenuhnya meliburkan diri. Sebagai kepala proyek kontraktor besar, ada beberapa dokumen penting dan penandatanganan berkas di kantor yang tidak bisa ditunda.
"Ayu, maafkan saya ya... Hari pertama kita menikah, tapi saya malah harus meninggalkanmu di rumah," tutur Yoga penuh penyesalan saat berdiri di depan pintu utama, sambil merapikan kerah kemejanya.
Ayu tersenyum lembut, seraya membantu menyimpul dasi Yoga dengan telaten. "Mas Yoga tidak perlu minta maaf. Pekerjaan kan tanggung jawab. Lagipula di rumah ada Bibi Minah dan Moana, saya tidak akan kesepian."
Yoga menatap istrinya dengan pendar kehangatan. Sebelum melangkah pergi, ia sempat mengecup dahi Ayu dengan lembut. "Saya usahakan pulang setengah hari. Kalau ada apa-apa, langsung telepon saya ya."
Setelah mobil sedan hitam milik Yoga menghilang di balik gerbang besi, Ayu mengalihkan perhatiannya pada Moana. Sesuai dengan kebiasaan mereka selama satu tahun terakhir, pukul sembilan pagi adalah waktunya mendampingi Moana belajar.
Di ruang tengah yang sejuk, Ayu membimbing Moana mengeja kata-kata baru dan latihan berhitung menggunakan kartu bergambar.
"B-U-K-U... Buku!" seru Moana riang.
"Pintar anak Ibu!" puji Ayu sembari mengelus kepala Moana.
Mata Moana berbinar-binar setiap kali mendengar kata 'Ibu' terucap. Setelah menyelesaikan tugas membacanya, Moana menarik-narik ujung gamis Ayu dengan wajah menggemaskan.
"Ibu, Moana bosan di rumah... Boleh gak kita jalan-jalan ke taman komplek? Moana mau main ayunan!" pinta Moana dengan mata bulatnya yang berbinar penuh harap.
Ayu menatap jam dinding yang menunjukkan pukul sepuluh pagi. Udara di luar masih terasa cukup sejuk dan matahari belum terlalu terik. "Boleh, Sayang. Tapi izin Bibi Minah dulu ya, dan pakai topi biar gak kepanasan."
"Horeee! Jalan-jalan sama Ibu!" Moana melompat gembira, lalu menyambar topi pantai bertepi lebar berwarna merah muda dari gantungan baju.
**
Taman komplek perumahan elite itu terletak sekitar dua ratus meter dari rumah Yoga. Pohon-pohon mahoni yang rimbun memayungi area rumput hijau, dan mengelilingi fasilitas arena bermain anak yang bersih dan tertata rapi.
Di sanalah kehangatan antara Ayu dan Moana terpancar sempurna. Moana tertawa lepas saat Ayu mendorong ayunannya pelan-pelan. Gelak tawa kecil itu menggema di area taman yang tadinya sepi.
Ayu mengusap peluh di pelipis Moana, menggandeng tangan kecil itu menyusuri jalan setapak, serta membantunya memanjat perosotan.
Interaksi mereka begitu alami, penuh perhatian dan kasih sayang yang memancar tanpa pura-pura, persis seperti hubungan ibu dan anak kandung.
Namun, menginjak pukul setengah sebelas pagi, suasana taman mulai berubah ramah menjadi bising. Satu per satu ibu-ibu komplek berdatangan membawa anak-anak balita mereka untuk bermain.
"Eh, ada Moana!" sapa seorang wanita bergaun rumahan mewah berhias perhiasan emas di pergelangan tangannya yang bernama Bu Siska, salah satu tokoh vokal di komplek tersebut.
Moana menghentikan langkahnya, dan mengangguk sopan. "Pagi, Tante Siska."
Ayu pun tersenyum ramah seraya membungkukkan badan sedikit sebagai tanda hormat pada warga komplek setempat. "Selamat pagi, Ibu-ibu..."
Ibu-ibu lain yang berkumpul—termasuk Bu Murni dan Bu Dina seketika menghentikan obrolan mereka. Pandangan mereka tertuju tajam pada Ayu dari ujung kepala hingga ujung kaki.
Mereka menatap jilbab sederhana Ayu, gaun polosnya, serta riasan wajahnya yang sangat minimalis.
"Ini... istrinya Pak Yoga yang baru ya?" tanya Bu Siska dengan nada suara yang sengaja ditinggikan, dengan mata yang menyipit menilai.
"Iya, Bu. Nama saya Ayu," jawab Ayu selembut mungkin, dan berusaha menjaga tata kramanya.
"Oh... Mbak Ayu yang dulu guru privatnya Moana itu, kan?" timpal Bu Murni sambil bersedekap. Senyum sinis pun terukir tipis di bibirnya. "Wah, pinter ya Moana, sekarang gurunya berubah jadi Mamanya."
Ayu meremas jemarinya pelan di balik lipatan gamisnya. Rasa tidak nyaman mulai merayapi hatinya, namun ia berusaha tetap tersenyum. "Alhamdulillah, Bu. Ini sudah takdir dan amanah untuk saya."
Bu Siska tertawa kecil, suara tawa yang terdengar sangat meremehkan. Ia lalu melangkah mendekati Ayu, dan memperhatikan wajah Ayu dari dekat.
"Tapi jujur ya, Mbak Ayu... Mbak ini kelihatan mudaaa banget. Masih imut-imut gitu. Beda jauh sama almarhumah Mbak Ratna, istrinya Pak Yoga yang dulu," sentil Bu Siska tanpa beban.
Suasana di sekitar taman mendadak mengencang. Beberapa ibu-ibu di belakang Bu Siska mulai berbisik-bisik sambil saling senggol.
Bu Siska melanjutkan perkataannya tanpa rasa segan, "Almarhumah Mbak Ratna itu kan wanita karir hebat, anggun, wibawanya dapet banget kalau mendampingi Pak Yoga di acara-acara penting komplek. Cocok banget sama Pak Yoga yang pengusaha sukses. Nah kalau Mbak Ayu... maaf ya, kelihatan terlalu muda. Lebih cocok jadi kakaknya Moana atau malah kakaknya Kenzo sama Lea. Apa Pak Yoga gak kepikiran cari istri yang lebih sepadan ya?"
"Iya lho, Bu Siska," sambung Bu Dina tanpa ragu. "Waktu saya denger Pak Yoga nikah lagi sama guru privat anak bungsunya, saya kaget banget. Soalnya beda usianya lumayan jauh kan? Apalagi Kenzo sama Lea itu kan udah remaja, apa gak canggung punya ibu tiri seumuran gini?"
Kalimat-kalimat itu dilontarkan begitu saja di depan umum, tepat di hadapan Ayu dan Moana. Sindiran halus yang dikemas dalam bentuk keprihatinan palsu itu menusuk ulu hati Ayu dengan sangat tajam. Rasanya lebih menyakitkan daripada prasangka tetangga di gang rumah orang tuanya.
Ayu menarik napas panjang, dan menahan gemetar di dadanya. Ia tidak ingin terlihat lemah di depan Moana, apalagi memancing keributan di taman.
"Ibu-ibu yang baik," ujar Ayu dengan suara yang sangat tenang namun berwibawa. "Almarhumah Mbak Ratna memang wanita yang luar biasa, dan saya tidak akan pernah berniat untuk membandingkan diri atau menggantikan posisi beliau di hati keluarga ini. Saya di sini hanya menjalankan takdir saya sebagai istri Mas Yoga dan berusaha memberikan kasih sayang terbaik untuk Moana, Lea, dan Kenzo."
Bu Siska tertegun sejenak mendengar jawaban Ayu yang begitu tenang dan santun itu, bahkan tidak terpancing emosi sedikit pun.
Moana yang merasakan aura permusuhan dari ibu-ibu tersebut langsung memeluk kaki Ayu erat-erat. Wajah polosnya mendongak menatap Bu Siska dengan cemberut.
"Tante Siska jangan nakal sama Ibu Ayu!" seru Moana dengan suara cantiknya yang tegas. "Ibu Ayu itu cantik! Ibu Ayu baik banget sama Moana! Moana sayang sama Ibu Ayu!"
Pembelaan polos dari anak berusia enam tahun itu seketika membungkam ibu-ibu komplek tersebut. Wajah Bu Siska dan Bu Dina mendadak berubah canggung dan merah padam karena malu ditegur langsung oleh seorang anak kecil.
Ayu kemudian berlutut dan mengusap kepala Moana dengan lembut. "Sudah, Sayang... Tidak apa-apa." Ayu lalu berdiri dan menatap ibu-ibu komplek itu dengan senyuman tulus. "Permisi Ibu-ibu, karena Moana sudah mulai lelah, kami pamit pulang dulu. Selamat siang."
Ayu menggandeng tangan Moana, melangkah meninggalkan taman dengan kepala tegak. Meskipun hatinya terluka oleh sentilan dan perbandingan sengaja itu, Ayu berjalan dengan penuh martabat.
Bersambung...