Dua puluh lima tahun Ryu Jin mengurung jiwanya di dasar jurang terlarang demi menahan kebangkitan Pedang Tulang Hitam. Namun, Aliansi Tiga Sekte membantai seluruh warga desanya demi menguras darah jiwa murni. Tetesan darah warga merobek segelnya. Sang Iblis Purba terbangun dengan mata membara. Mereka tidak tahu bahwa desa itu bukanlah pemukiman biasa, melainkan penjara tempat dikurungnya bencana abadi. Kini, pintunya telah terbuka, dan Ryu Jin siap menagih jiwa para penguasa benua!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LanzT0k3, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BISIKAN DI BALIK KUBAH
Malam membungkus Lembah Tengkorak Hitam dalam kegelapan yang pekat. Udara di dalam celah jurang karang itu terasa sangat berat, dipenuhi aura dingin yang meremangkan bulu kuduk. Di dasar lembah, Formasi Kubah Darah memancarkan pendar cahaya keemasan tipis—sebuah tirai pelindung raksasa yang dirancang untuk mendeteksi setiap getaran energi sekecil apa pun.
Di atas tebing karang yang menjulang tinggi di luar jangkauan cahaya panggung batu, dua bayangan manusia bergeming di antara retakan batu tambang kuno.
Ryu Jin berdiri mematung. Jubah cokelar pudar yang dikenakannya menyatu sempurna dengan kegelapan malam. Di sampingnya, Tuan Putri Yuan Xuefei menahan napas rapat-rapat. Wajah cantiknya sangat pucat, dan dadanya naik-turun menahan gejolak emosi yang membakar.
Ryu Jin tidak merusak formasi pelindung di hadapan mereka. Tangan kanannya terangkat pelan, membentuk lingkaran aura kematian yang teramat tipis dari dalam dadanya. Aura tipis berwarna kabut kelabu itu membungkus tubuhnya dan Yuan Xuefei, menyelaraskan frekuensi detak jantung dan alur energi murni mereka dengan gelombang angin malam.
Bahkan ahli ranah Nascent Soul sekalipun tidak akan mampu menangkap keberadaan mereka. Mereka bagaikan dua helai daun kering yang melayang di balik bayangan tebing.
"Tahan napasmu," bisik Ryu Jin sangat pelan. Suaranya hampir tak terdengar, lenyap disapu angin malam.
Yuan Xuefei mengangguk tegas. Matanya yang tajam menatap lurus ke bawah, menembus lapisan tipis Formasi Kubah Darah menuju ke tenda utama tempat ayahnya berada.
Di dasar lembah, di dalam tenda kain merah darah yang megah, aroma dupa penenang jiwa membubung tipis.
Gubernur Kota Yuan berdiri sedikit membungkuk di hadapan meja batu. Di hadapannya, duduk dua pejabat tinggi yang memancarkan aura menekan yang teramat kuat: Utusan Khusus Zang dari Puncak Gunung yang berzirah besi hitam, dan Ketua Cabang Luar Mo—wanita bergaun sutra hitam yang memegang tongkat tengkorak racun.
"Gubernur Yuan," suara Utusan Zang menggelegar kaku bagaikan batu beradu. "Kau katakan ada kemacetan teknik pada simpul formasi bawah tanah balai kota? Kau tahu betapa vitalnya pasokan esensi jiwa itu bagi Puncak Gunung?!"
Gubernur Yuan segera berlutut dengan satu kaki, menyodorkan sebuah gulungan kulit kayu berukirkan emas di atas meja. Wajahnya dipenuhi keringat dingin.
"Mohon ampun, Utusan Zang!" seru Gubernur Yuan dengan nada memelas. "Terjadi lonjakan energi tak terduga kemarin malam. Namun hamba telah menyiapkan solusinya! Gulungan ini berisi dokumen penyerahan hak akses tambang rahasia dan lima ratus anak tambahan yang siap disetorkan besok!"
Utusan Zang meraih gulungan itu, menyimpannya di balik zirah besinya dengan senyuman dingin.
Namun, dari atas tebing tersembunyi, pendengaran batin Ryu Jin yang tajam menyadap setiap suku kata yang diucapkan di dasar lembah. Apa yang terdengar berikutnya justru menyingkap teka-teki konspirasi yang jauh lebih rumit dan tak terduga.
Ketua Cabang Luar Mo terkekeh sinis, menyandarkan tubuhnya pada kursi kayu. "Kau sangat cerdik, Gubernur Yuan. Tapi kau pikir kami tidak tahu rencana busukmu?"
Gubernur Yuan mendadak membeku di tempatnya. "A-Apa maksud Ketua Mo?"
"Kau sengaja menyumbat aliran esensi jiwa ke balai kota semalam, bukan?" seloroh Ketua Mo dengan mata menyipit tajam. "Kau sedang mencoba memperlambat ritual di Puncak Gunung karena kau tahu... jika ritual kebangkitan itu selesai, seluruh pejabat kota luar seperti dirimu akan dieksekusi untuk dijadikan bahan pemurnian terakhir!"
Mata Gubernur Yuan melotot lebar. Keringat dingin menetes makin deras dari dagunya.
Di atas tebing, Yuan Xuefei terperanjat hebat. Ayahnya ternyata tidak sekadar tunduk pasrah, melainkan sedang mencoba melakukan manipulasi gila demi menyelamatkan nyawanya sendiri dari pembantaian internal sekte!
Utusan Zang menyandarkan punggungnya, menatap Gubernur Yuan dengan pandangan penuh penghinaan. "Dan kau harus tahu satu hal lagi, Gubernur. Petinggi Sekte yang kau agungkan—Lian Xue... wanita itu sama sekali tidak dilindungi di Puncak Gunung. Tetua Agung Du Xuan telah menjadikan Lian Xue sebagai Wadah Jiwa Hidup. Jiwa dan raga Lian Xue sedang digerogoti setiap detik untuk memberi jalan bagi kebangkitan entitas purba!"
Informasi itu bagaikan petir di siang bolong. Lian Xue yang dikira pimpinan berkuasa di puncak gunung ternyata tak lebih dari sekadar sangkar bernyawa yang sedang dikuras habis oleh Tetua Agung Du Xuan!
"Sayang sekali, Gubernur Yuan," kata Utusan Zang seraya berdiri dari kursinya. Arogansi dan hawa membunuh ranah Nascent Soul Menengah mendadak meledak dahsyat dari tubuh jangkungnya. "Permainan dua kakimu telah berakhir malam ini. Kami tidak lagi membutuhkan dirimu. Gulungan dokumen kota ini sudah cukup bagi kami."
SSSTTT!
Ketua Cabang Luar Mo berdiri serentak, mengacungkan tongkat tengkoraknya. Dari mulut tengkorak kayu itu, menyembur kabut hijau pekat—Racun Pemakan Daging Ribuan Kalajengking—yang langsung mengunci seluruh jalur melarikan diri Gubernur Yuan!
"K-Kalian... kalian menjebakku?!" jerit Gubernur Yuan histeris, mencabut pedang peraknya dengan tangan gemetar.
Gubernur Yuan yang panik mencoba mengerahkan seluruh energi ranah Core Formation Puncak miliknya untuk bertahan. Namun di hadapan dua ahli ranah Nascent Soul, perlawanannya tampak seperti ayunan bayi.
Tepat pada saat Utusan Zang mengayunkan cakar berzirah besinya untuk meremukkan kepala Gubernur Yuan...
Dari atas tebing karang yang gelap, Ryu Jin bergerak!
Ryu Jin tidak melompat turun. Ia tetap berdiri tenang di balik kegelapan. Tangan kanannya merentang tipis, meluncurkan dua jarum aura kematian mikro yang tak kasat mata melalui celah getaran Formasi Kubah Darah.
TAP! TAP!
Dua jarum aura kematian itu menancap sangat halus di titik energi punggung Utusan Zang dan Ketua Cabang Luar Mo.
Dampaknya terjadi secara seketika dan teramat mengerikan!
Tepat saat cakar Utusan Zang hendak mengenai wajah Gubernur Yuan, simpul energi Nascent Soul di dalam dada Utusan Zang mendadak kejang hebat akibat kontaminasi aura kematian Ryu Jin. Jalur energinya berbalik arah secara liar!
Cakar Zang melenceng tak terkendali, justru menghantam dada Ketua Cabang Luar Mo yang berdiri di sampingnya!
DUAARR!
"Khhhk!" Ketua Cabang Luar Mo memuntahkan darah hitam, terhempas menghantam pilar batu hingga patah! Matanya melotot gila menatap Utusan Zang. "Zang! Beraninya kau menusukku dari belakang demi menguasai dokumen ini sendiri?!"
"A-Apa?!" Utusan Zang terperanjat, menatap lengannya sendiri dengan kebingungan luar biasa. "Bukan aku! Energiku mendadak kejang—"
"Mati kau, pengkhianat!" teriak Ketua Mo histeris. Mengira Utusan Zang sengaja ingin membunuhnya untuk merebut seluruh persembahan, Ketua Mo menghentakkan tongkat tengkoraknya ke tanah!
WUUUUUSH!
Gelombang kabut racun hijau pekat berbentuk naga raksasa meledak dari tongkatnya, melahap tubuh Utusan Zang secara mematikan!
"Jalang gila!" teriak Utusan Zang murka. Merasa diserang secara membabi buta, Utusan Zang mencabut Pedang Tengkorak Hitam dari punggungnya, melancarkan tebasan aura pedang merah darah yang sanggup membelah tebing!
DUAARR! DUAARR! DUAARR!
Pertarungan sengit dan teramat seru pecah di antara dua ahli ranah Nascent Soul tersebut!
Kedua pimpinan sekte itu saling serang dengan jurus-jurus paling mematikan. Kabut racun hijau membakar seluruh isi tenda raksasa, sementara tebasan pedang merah meremukkan panggung batu di dasar lembah. Mereka bertarung mati-matian, saling tuduh dan saling bantai dengan dendam membara, sama sekali tidak menyadari bahwa tubuh mereka telah dimanipulasi oleh aura kematian yang ditanamkan Ryu Jin dari atas tebing!
Gubernur Yuan yang terhempas ke sudut batu hanya bisa menonton dengan mata melotot dan tubuh gemetar hebat. Ia tidak mengerti mengapa dua utusan tinggi yang semula ingin mengeksekusinya mendadak saling bantai dengan begitu brutal!
CRES!
Pedang Utusan Zang berhasil menancap lurus menembus dada Ketua Cabang Luar Mo, meremukkan Inti Jiwa wanita itu. Namun pada detik yang sama, tongkat racun Ketua Mo berhasil menancapkan taring tengkoraknya tepat ke leher Utusan Zang, menyuntikkan seluruh racun pemakan daging ke dalam pembuluh darahnya!
"K-Kau..." Utusan Zang memuntahkan darah hijau beracun, tubuhnya membiru dan menggelembung hebat sebelum akhirnya ambruk ke tanah bersama mayat Ketua Mo!
Dua ahli ranah Nascent Soul yang ditakuti seluruh benua... tewas saling bantai dalam genangan darah mereka sendiri!
Keheningan yang mencekam kembali menyelimuti Lembah Tengkorak Hitam.
Asap racun tipis membumbung dari panggung batu yang hancur berkeping-keping. Di tengah reruntuhan itu, Gubernur Yuan merangkak dengan tubuh terluka parah, bernapas tersengal-sengal di antara dua mayat petinggi sekte.
"Hahaha..." Gubernur Yuan tertawa kaku dengan suara gemetar, mengusap darah di bibirnya. "Aku selamat... Aku masih hidup..."
TAP. TAP. TAP.
Suara langkah kaki yang tenang dan teratur bergaung pelan dari arah tebing batu.
Gubernur Yuan mendongak secara perlahan. Matanya menyimpang ketakutan saat melihat Formasi Kubah Darah yang menyelimuti lembah mendadak terbelah rapi tanpa suara, seolah tirai kain yang dipotong oleh pisau tak kasat mata.
Dari balik bayangan tebing yang gelap, dua sosok manusia melangkah turun dengan anggun.
Di barisan depan, berdiri seorang pemuda berkain cokelar pudar dengan pedang besi berkarat di pinggangnya—Ryu Jin. Di belakang pemuda itu, melangkah Tuan Putri Yuan Xuefei dengan tatapan mata yang dingin tak berdasar.
Mata Gubernur Yuan melotot lebar hingga hampir melompat keluar saat mengenali wajah putrinya dan pemuda di sampingnya.
"X-Xuefei?!" rintih Gubernur Yuan dengan suara patah-patah. "Kau... kenapa kau bisa ada di sini?! Dan pemuda ini... pemuda gembel dari turnamen itu..."
Gubernur Yuan menghentikan kata-katanya. Ketajaman ingatan dan rasa takutnya mendadak menyatu, menyadari satu fakta mengerikan yang membuat seluruh jiwanya runtuh seketika.
Kejang energi yang dialami Utusan Zang... pembantaian di lorong bawah tanah balai kota... dan hilangnya keberadaan Tetua Gong...
Pemuda berkain cokelar yang memenangkan turnamen secara "kebetulan" ini... dialah monster sejati yang berdiri di balik seluruh kekacauan ini!
"K-Kau..." Gubernur Yuan merangkak mundur dengan histeria yang luar biasa, wajahnya pucat pasi bagaikan mayat. "Kau adalah... Iblis dari Benua Lama itu?!"
Ryu Jin berhenti melangkah sejauh tiga meter di hadapan Gubernur Yuan. Jubah cokelar pudarnya terkibas pelan oleh angin malam yang dingin.
Ryu Jin tidak membalas pertanyaan sang Gubernur. Wajah kusamnya tetap tenang dan datar, matanya yang merah pudar menatap pria terluka itu bagaikan menatap sesosok bangkai yang tak bernilai.
Di sampingnya, Yuan Xuefei melangkah satu sudut lebih depan, menatap ayahnya sendiri tanpa ada lagi sisa air mata di pipinya.
Teka-teki konspirasi di Benua Luar kini telah mengarahkan ujung pedangnya langsung ke Puncak Gunung Tengkorak Merah!