NovelToon NovelToon
Tahta, Dahaga, Dan Mahkota

Tahta, Dahaga, Dan Mahkota

Status: sedang berlangsung
Genre:Perperangan / Enemy to Lovers / Cinta Istana/Kuno / Wanita perkasa
Popularitas:408
Nilai: 5
Nama Author: Laygraph

"Aku akan menumpahkan darahmu di atas ranjang ini, demi rakyatku."

Itu adalah sumpah Dyah Ayu di malam pertamanya sebagai selir rampasan perang. Tangannya menggenggam erat tusuk konde beracun di balik selimut sutra. Namun, Prabu Hayam Vira—Raja kejam yang telah membumihanguskan tanah kelahirannya—hanya menatapnya dingin, lalu mencengkeram pergelangan tangannya.

"Silakan tikam aku, Selirku," bisik sang Raja dengan senyum sinis yang mengintimidasi. "Tapi jika aku mati malam ini, pastikan kau sanggup melihat adikmu dan seluruh rakyatmu dibakar hidup-hidup esok pagi."

Terjebak di dalam Keputren Kerajaan Kagendra yang indah namun beracun, Dyah Ayu harus memutar otak untuk bertahan hidup. Ia bukan hanya harus menghadapi kekejaman Raja, tetapi juga intrik mematikan dari Permaisuri Agung dan puluhan selir yang haus kekuasaan. Niat awalnya hanya satu: menghancurkan kerajaan itu dari dalam.

Namun, seiring berjalannya waktu, kekejaman sang Raja perlahan memudar, tergantikan oleh perlindungan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laygraph, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11: Perburuan Musim Kemarau

Debu tanah merah sudah menempel di bulu mata Dyah Ayu sebelum tandunya berhenti.

Kemarau tahun ini datang lebih awal dan lebih kejam. Jalan setapak menuju Hutan Kancana retak-retak seperti kulit kerbau yang dijemur terlalu lama. Setiap derap kuda di depan rombongan menerbangkan kepulan merah yang tidak mau turun, menggantung di udara panas dan masuk ke setiap lipatan kain.

Daun-daun jati di kiri-kanan jalan sudah meranggas. Yang tersisa di dahan berwarna cokelat kering, menggulung di tepinya, berbunyi gemerisik setiap kali angin lewat. Yang sudah gugur menumpuk setinggi mata kaki, rapuh, hancur menjadi serbuk di bawah roda pedati.

Bau hutan ini bukan bau hijau. Bau ini bau ranting yang menunggu api.

***

Tiga hari lalu, seluruh Keputren mengira ia akan dikremasi.

Pagi ini, ia turun dari tandu di gerbang keraton dengan kemben sutra hijau gelap dan selendang perak bersulam matahari emas di bahunya. Pucat, sedikit kurus, tetapi berdiri tegak di samping kuda-kuda rombongan.

Dyah Ayu tidak akan melupakan wajah-wajah itu.

Selir Ratna menjatuhkan kipasnya ke lumpur kering. Dua selir di belakangnya saling mencengkeram tangan. Nyi Ageng Rukmi, yang sedang memeriksa barisan Prajurit Estri, berhenti di tengah langkah dan menatapnya lama, dengan wajah yang tidak bisa dibaca.

Dan Gusti Prabaswari, di atas tandu berkanopi emas, hanya tersenyum.

Senyum yang sama sempurnanya seperti di Balai Agung. Ia bahkan mengangguk ramah ke arah Dyah Ayu.

Satu jam kemudian, seorang juru tata kemah menghampiri tandu Dyah Ayu dengan gulungan lontar berstempel lilin merah. Atas wewenang Gusti Permaisuri, pengatur adat perkemahan, tenda Selir Utama ditempatkan di Sektor Selatan.

Demi ketenangan Gusti Selir yang baru pulih dari sakit, tulisnya. Jauh dari keramaian dan kebisingan.

***

Sektor Selatan adalah ujung perkemahan yang paling jauh.

Tenda Dyah Ayu berdiri sendirian di sebuah tanah lapang kecil berumput kering, dikelilingi tegakan jati tua. Lima puluh langkah ke selatan, tanah berakhir begitu saja. Tebing batu kapur, curam dan putih, menukik ke jurang yang dasarnya ditumbuhi semak berduri. Angin yang naik dari jurang membawa debu kapur yang membuat mata perih.

Perkemahan utama, dengan tenda-tenda megah Raja, para menteri, dan Permaisuri, berada di tepi sungai kering di utara. Jaraknya sepemakan sirih berjalan kaki. Di antara keduanya, hanya hutan jati yang meranggas dan sebuah parit tanah yang retak.

Pos penjagaan Bhayangkara ada di tepi parit itu. Terlalu jauh untuk mendengar teriakan.

Sebagai gantinya, enam pengawal sekunder berdiri di sekitar tenda Dyah Ayu. Lelaki-lelaki bertubuh liat dengan tombak bermata lebar dan kain ikat kepala berwarna cokelat tanah. Mereka tidak memakai lambang Bhayangkara. Mereka juga tidak memakai lambang Prajurit Estri.

Dyah Ayu memperhatikan sesuatu di gagang tombak salah satu dari mereka. Ukiran kecil. Bunga teh berkelopak lima.

Ia sudah pernah melihat ukiran itu. Di silsilah Empu Wiradarma. Di bawah nama keluarga Rakryan Wiradipa, pemilik kebun teh di lereng Gunung Kawi.

***

Ratih datang menjelang tengah hari dengan sebuah kendi air di bahunya.

Ia berjalan dengan kepala tertunduk, melewati keenam pengawal itu tanpa menoleh, dan masuk ke dalam tenda dengan sembah singkat. Tidak ada yang mencegahnya. Seorang dayang Permaisuri yang mengantar air ke tenda selir yang dibenci tidak mencurigakan bagi siapa pun.

Begitu tirai tenda jatuh tertutup, Ratih berlutut dan menuang air ke cawan. Tangannya gemetar sedikit.

"Patok wilayah buruan digeser semalam, Gusti," bisiknya, tanpa mengangkat wajah. "Patok kain merah yang menandai batas Sektor Selatan. Aslinya di tepi parit. Sekarang ditancapkan di tepi tebing."

Dyah Ayu mengambil cawan itu, tetapi tidak meminumnya.

"Artinya?"

"Artinya, menurut aturan perburuan, seluruh wilayah antara tenda Gusti dan parit itu adalah daerah buruan terbuka. Siapa pun boleh melepaskan anak panah di sana." Ratih menelan ludah. "Kalau ada yang terkena panah nyasar di daerah buruan terbuka, itu kecelakaan. Bukan pembunuhan."

Di luar, angin kering menggesek kain tenda. Bunyinya seperti bisikan.

"Pengawal di luar?"

"Orang-orang dari rumah Rakryan Wiradipa. Didandani sebagai abdi perkemahan." Ratih meremas ujung kembennya. "Dan Gusti Selir, penunjuk jalan untuk rombongan Sinuwun besok pagi juga orang Rakryan. Hamba dengar ia akan membawa Sinuwun mengejar rusa jantan putih ke arah utara. Rusa itu sudah dilepas dua hari lalu, sengaja, dari kandang di Kawi."

Rusa jantan putih. Pertanda keberuntungan. Tidak ada raja Kagendra yang akan menolak memburunya.

Dyah Ayu meletakkan cawannya.

"Dan Arya?"

"Malam ini." Suara Ratih nyaris tak terdengar. "Surat dan keris kecilnya akan diselipkan ke bilik tahanan saat penjaga berganti di pentungan kedua. Besok pagi, Rakryan Wiradipa akan menggeledah dengan alasan ada laporan. Sinuwun tidak ada di keraton untuk mencegahnya."

Dyah Ayu diam sejenak. Lalu ia mencondongkan tubuh dan membisikkan sesuatu ke telinga Ratih. Tiga kalimat. Pendek dan cepat.

Wajah Ratih memucat. Lalu ia mengangguk.

"Kembalilah sebelum mereka menghitung berapa lama kau di sini."

***

Terompet tanduk kerbau berbunyi tiga kali, panjang dan parau, ketika matahari mulai condong.

Rombongan pemburu berkumpul di lapangan tengah. Tiga puluh penunggang kuda, para pangeran dan menteri muda dengan busur di punggung. Anjing-anjing pemburu menyalak, menarik tali kekang mereka sampai leher tercekik. Debu merah berputar di bawah kaki kuda.

Rombongan itu tidak langsung menuju hutan utara. Mereka berderap memutar, melintasi tepi Sektor Selatan, seolah memeriksa batas-batas wilayah buruan.

Dyah Ayu berdiri di depan tendanya. Ia menyembah ketika kuda paling depan melambat.

Kuda perang hitam legam, tingginya hampir dua kali tubuh manusia, dengan surai yang dikepang dan pelana berlapis kulit macan. Penunggangnya mengenakan zirah perburuan dari kulit kerbau yang diwarnai gelap, dengan busur panjang tersampir di punggung dan tabung anak panah di pinggang.

Prabu Hayam Vira tidak turun dari kudanya.

Para bangsawan di belakangnya ikut berhenti. Puluhan pasang mata menunggu. Di antara mereka, Dyah Ayu melihat Rakryan Wiradipa, lelaki tua kurus berjanggut putih dengan mata yang terlalu tajam untuk usianya, memperhatikan dengan tangan bertumpu di gagang pedang.

Raja menatapnya dari atas kuda. Tidak ada senyum. Tidak ada kata-kata manis.

"Selir Utama." Suaranya datar dan keras, cukup untuk didengar oleh seluruh rombongan. "Hutan Kancana penuh ular di musim kemarau. Mereka keluar dari sarang mencari air. Jangan sekali pun melepaskan tongkat dari pinggangmu."

Tidak ada tongkat di pinggang Dyah Ayu.

Yang ada, di balik lilitan setagen dan tersembunyi di bawah selendang perak, hanyalah sebilah belati kecil bergagang naga emas.

"Hamba mendengar perintah Gusti," jawab Dyah Ayu. Ia mengangkat wajahnya, menatap lurus ke mata Raja itu. "Hamba sudah menaburkan garam di sekeliling tenda. Ular mana pun yang datang malam ini akan meninggalkan jejaknya di sana."

Beberapa bangsawan muda tertawa kecil. Selir istana dan takhayul dusunnya.

Tetapi Hayam Vira tidak tertawa. Ia menatap Dyah Ayu satu tarikan napas lebih lama dari yang wajar. Tangan yang memegang tali kekang mengencang. Kuda hitam itu mendengus dan mengentakkan kakinya ke tanah kering.

Lalu Raja itu menarik kekangnya, memutar kuda, dan memacunya ke utara.

Debu merah menelan seluruh rombongan.

Di barisan paling belakang, seorang Bhayangkara bertopeng hitam menoleh sekali ke arah tenda Dyah Ayu, sebelum ikut menghilang di balik pepohonan.

***

Malam jatuh tanpa membawa kesejukan.

Udara Hutan Kancana justru semakin kering. Angin yang berembus dari arah utara terasa panas, seperti napas tungku pandai besi. Bibir Dyah Ayu pecah-pecah. Setiap kali ia menarik napas, tenggorokannya terasa berpasir.

Tidak ada jangkrik. Itu yang pertama kali ia sadari. Di musim kemarau, serangga-serangga pindah mendekati air. Hutan jati di sekelilingnya sunyi, hanya diisi oleh gemerisik daun-daun kering yang bergesekan.

Dari dalam tenda, Dyah Ayu mengintip lewat celah tirai.

Enam pengawal itu masih berdiri di posisi mereka. Tetapi obor-obor yang mereka pegang sejak senja kini sudah ditancapkan ke tanah. Dan satu per satu, mereka mulai bergerak menjauh. Seorang berjalan ke arah semak dengan alasan buang air. Dua orang duduk bersandar di batang jati, membelakangi tenda. Yang lain menghilang ke balik gelap.

Di kejauhan, di arah utara, cahaya obor-obor rombongan perburuan terlihat seperti barisan kunang-kunang. Seharusnya mereka sudah kembali ke perkemahan saat senja.

Kunang-kunang itu terus bergerak. Semakin jauh ke utara. Semakin kecil.

Dyah Ayu mencium sesuatu yang terbawa angin. Samar, menyengat di pangkal hidung.

Bau daun jati yang terbakar.

Bukan dari api unggun perkemahan utama. Arahnya dari barat, dari tegakan jati paling lebat yang memisahkan tendanya dari parit. Tidak ada cahaya api yang terlihat. Hanya bau itu, dan sedikit kabut tipis yang bukan kabut.

Lalu terdengar bunyi itu.

Panjang dan melengking, seperti angin yang ditiupkan melewati batang bambu berlubang. Dari balik rimba jati di timur. Satu nada, naik, lalu turun.

Berhenti.

Dari arah barat, bunyi yang sama menjawabnya. Lalu dari utara. Lalu dari arah tebing di selatan, dari tempat yang seharusnya tidak bisa dicapai siapa pun.

Seruling angin. Sandi para pemburu di tanah Kawi untuk mengepung buruan.

Dyah Ayu melepaskan tirai tenda. Ia mencabut belati naga emas dari setagennya. Gagangnya yang licin terasa hangat di telapak tangannya yang basah oleh keringat.

Di luar, kedua obor yang tadi tertancap di tanah dipadamkan bersamaan. Tenda itu tenggelam dalam kegelapan pekat.

Lalu, tepat di belakangnya, di dinding tenda yang menghadap ke tebing, terdengar bunyi kain tebal yang disayat. Pelan. Panjang. Dari atas ke bawah.

Udara panas berbau asap menyusup masuk melalui celah sayatan itu.

1
Agus Tina
Bagus ceritanya
Agus Tina
Sepertinya semua cerita tentang istana memang penuh dengan intrik dan kepalsuan
Laygraph: Iya kak, bahkan banyak sejahrawan mencatat banyak relief yang membuktikan Konspirasi sudah ada sejak zaman kerajaan kuno. bahkan sampai sekarang. 😄
total 1 replies
Agus Tina
Cerita, alur, cara menukis ceritq ini bagus semua ... kenapa yg like sedikit? Ayo pembaca
.. ke sini ... cerutqnya bagus loh
..
Laygraph: Terimakasih masukannya kak, semoga setia sampai ceritanya selesai yah 🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!