"Aku yang menciptakan penderitaanmu... maka aku juga yang akan jadi takdir bahagiamu."
Lili tidak pernah menyangka akan bertransmigrasi ke dalam novel buatannya sendiri—menjadi Lilian, seorang pelayan biasa. Mengerikannya, ia datang saat Damian, sang tokoh utama pria, berada di titik terendah.
Dibuang keluarga, posisinya dijarah, dan tunangannya direbut anak angkat yang licik.
Tahu betul penderitaan ciptaannya, Lilian pasang badan. Berbekal 'pengetahuan masa depan', ia membongkar kejahatan anak angkat itu dan menuntun Damian merebut kembali segalanya.
Namun, saat dendam terbalaskan dan Lilian berniat pergi, Damian justru menguncinya erat.
"Kamu yang mengajarkanku cara bangkit, Lilian. Jangan harap bisa pergi setelah merebut hatiku!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nopani Dwi Ari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.13
Bugh!
Sebuah pukulan mentah mendarat telak di rahang Damian!
Tubuh Damian tersungkur ke samping, sudut bibirnya robek dan mengeluarkan darah segar.
"Saya bilang jangan pernah temui anak saya lagi!" bentak Arthur murka. Suaranya menggelegar memenuhi ruangan, membuat para perawat membisu ketakutan.
Damian meringis memegangi rahangnya yang berdenyut nyeri, menatap ayahnya dengan tatapan tak percaya. "D-Dad..."
"Tuan!" seru Lilian panik, refleks pasang badan di depan Damian yang masih tergeletak di lantai.
Arthur menunjuk wajah Lilian dan Damian bergantian dengan napas memburu. "Diam kamu! Mulai sekarang, pergi dari rumah saya! Kamu bukan anakku lagi, Damian!"
Kata-kata usiran itu terucap tanpa keraguan. Tanpa sudi menoleh lagi, Arthur berbalik kasar dan melangkah keluar dari ruang perawatan.
Damian berusaha bangkit dengan tubuh gemetar. Matanya yang berkaca-kaca beralih menatap ibunya, berharap mendapat sedikit kehangatan. "Mom..."
Namun, Eleanor hanya diam membisu. Tatapan matanya yang biasa hangat kini berubah menjadi dingin dan penuh rasa kecewa yang mendalam.
"Mommy benar-benar kecewa sama kamu, Damian. Kenapa kamu tega... kenapa kamu ingin mempercepat kematian adikmu sendiri?" bisik Eleanor dengan suara serak menahan tangis.
"Enggak, Mom! Bukan aku! Aku sama sekali enggak sentuh apapun. Kara dia, aku..." suara Damian tercekat di tenggorokan.
Eleanor menggeleng pelan, lalu membisikkan kalimat yang bagaikan sembilu merajang dada Damian. "Aku menyesal... telah melahirkanmu, Damian."
DEG!
Seketika, dunia Damian serasa runtuh total. Pria gagah itu terpaku kaku, matanya kosong, dan dadanya terasa dihantam godam raksasa. Kalimat dari ibu kandungnya sendiri itu menghancurkan seluruh sisa rasa percaya diri dan jiwanya.
Di saat yang sama, layar transparan Sistem di atas kepala Lilian mendadak menyala merah dan berbunyi nyaring!
PING!
[Peringatan! Rasa benci dan kekecewaan Eleanor Laurent terhadap Karakter Utama (Damian) meningkat drastis!]
[Poin Sistem Host terpotong 100 Poin sebagai penalti kegagalan menjaga kestabilan emosi karakter utama!]
Lilian membelalakkan mata menatap angka poinnya yang merosot tajam. Di sudut ruangan, Gavin menyunggingkan senyum kemenangan yang sangat tipis dan iblis—merasa rencananya menghancurkan Damian berhasil sempurna tanpa cela.
Damian berdiri dan berjalan gontai keluar dari area ruang rawat VIP. Langkah kakinya menyeret, tanpa arah.
Di sebuah bangku taman rumah sakit yang sepi, Damian terduduk kaku dengan pandangan kosong. Darah mengering di sudut bibirnya yang robek, tapi luka di hatinya jauh lebih berdarah. Kalimat Eleanor—“Aku menyesal telah melahirkan mu”—terus bergema di kepalanya bagaikan racun mematikan yang merusak sisa kesadarannya.
Lilian berlutut di tanah, tepat di depan Damian. Dengan penuh kelembutan, ia mengusap sudut bibir pria itu menggunakan tisu basah.
"Tuan Damian... tatap aku," bisik Lilian tegas namun lembut.
Damian perlahan mendongak. Matanya yang biasa tajam kini meredup, memerah menahan gejolak emosi yang membakar dadanya. "Lilian... Mommy benar. Kehadiranku cuma bikin semua orang menderita."
"Jangan bicara bodoh!" potong Lilian cepat. Ia memegang kedua pipi Damian dengan kedua tangannya, memaksa pria itu menatap matanya lurus-lurus. "Kamu enggak salah! Kamu tahu betul siapa yang barusan keluar dari kamar Kara sebelum kita masuk, kan? Ini semua jebakan Gavin!"
Damian mengepalkan tangannya di atas pangkuan hingga buku-buku jarinya memutih. "Tapi Daddy sama Mommy enggak bakal percaya tanpa bukti, Lilian..."
"Kamu jangan khawatir, Tuan. Serahkan semuanya padaku," balas Lilian mantap. "Sekarang, ayo kita makan siang aja daripada sedih-sedih melulu."
Lilian menarik tangan Damian, membimbing pria tinggi itu menuju area parkiran. Namun saat berada di samping mobil, Damian malah kembali mematung menatap kosong ke arah kemudi.
Lilian menghela napas pelan. "Tuan, mau aku yang nyetir? Atau gimana?"
Damian melirik Lilian sebentar, lalu menyahut pelan, "Aku aja. Yang ada kalau kamu yang nyetir, kita malah nabrak."
Lilian tertawa lepas mendengar sahutan itu. "Nah, gitu dong! Masih bisa bercanda. Ayo, makan!"
Lilian meminta Damian mengarahkan mobil ke sebuah restoran khas Nusantara yang sengaja ia selipkan saat nulis dunia novel ini dulu. Begitu sampai, dengan semangat membara Lilian memesan dua porsi bakso urat, satu porsi nasi goreng, dan dua gelas es teh manis.
"Bakso? Makanan apa itu?" tanya Damian heran saat semangkuk kuah hangat berisi bulatan daging aromatik tersaji di depan matanya.
"Astaga, Tuan... ini tuh makanan wajib saat hati lagi buruk!" balas Lilian riang.
Dalam hati Lilian bersyukur setengah mati karena dulu sempat menuliskan keberadaan restoran Indonesia di luar negeri dalam ceritanya. Sambil menunggu Damian menyicipi, Lilian sibuk meracik racikan mautnya: dua sendok sambal, kecap, dan sedikit cuka.
Jujur saja, melihat mangkuk bakso itu membuat Lilian mendadak rindu rumah. Rindu Indonesia. Kalau boleh memilih, setelah tugas Sistem ini selesai dan alur novel ini membaik, ia hanya ingin kembali ke dunianya dan hidup tenang sebagai Lili.
Melihat Lilian mendadak melamun dengan pandangan redup, Damian mengetuk meja pelan. "Kamu kenapa?"
"Eh? Enggak apa-apa kok, Damian. Ayo makan!" ajak Lilian mengalihkan pembicaraan.
Lilian mulai menyantap baksonya dengan sangat lahap. Damian yang memperhatikan ekspresi menikmati dari Lilian akhirnya memberanikan diri mengambil sendok dan memotong bulatan bakso tersebut.
Begitu suapan pertama masuk ke dalam mulutnya, mata Damian sedikit membelalak. Rasanya sungguh di luar dugaannya!
Gurihnya kaldu sapi, pedas samar yang menggigit, serta tekstur daging yang kenyal menyatu sempurna di lidahnya. Meskipun lidah sultannya belum terlalu terbiasa dengan rasa pedas, aroma seledri dan bawang goreng yang harum membuat Damian tak bisa berhenti mengunyah.
Dada Damian yang tadinya sesak akibat cercaan orang tuanya, perlahan terasa hangat hanya karena semangkuk bakso dan senyuman Lilian di hadapannya.
"Uhuk!"
Damian mendadak terbatuk pelan, wajahnya memerah sampai ke telinga. Lidah sultannya yang tidak biasa menyentuh cabai lokal mulai terbakar oleh kuah bakso racikan Lilian.
Lilian yang melihat itu langsung tertawa geli seraya menggeser gelas es teh manis ke dekat tangan Damian. "Kan! Udah kubilang jangan banyak-banyak ambil kuah yang ada sambalnya. Nih, minum dulu Tuan Muda."
Damian cepat-cepat meminum es teh manis itu hingga tersisa separuh. Setelah rasa terbakar di lidahnya mereda, ia menatap Lilian dengan raut wajah yang jauh lebih tenang dibanding saat di rumah sakit tadi.
"Tapi... rasanya memang enak," aku Damian pelan, mengusap setetes keringat di dahinya. "Aku belum pernah makan yang seperti ini sebelumnya."
"Jelas enak, ini tuh penyembuh stres paling ampuh!" senyum Lilian mengembang manis. Ia lalu memajukan tubuhnya, menatap Damian dengan tatapan serius. "Nah, karena perut sudah kenyang dan pikiran sudah segar, sekarang waktunya kita susun rencana."
Damian menaikkan sebelah alisnya. "Rencana apa?"
Lilian tersenyum miring, dia menatap keluar jendela dengan pandangan liciknya memikirkan balas dendam untuk Gavin. Damian, pun hanya menatap Lilian penasaran dan menunggu rencananya.
Bersambung ...
buat apa bertahan demi laki² yang tidak mau menikahi'mu
balik wwooii... balikk...
wow....
kejutan....
ada apa ini Li...
Emak Bapak'mu gak nyariin Kamu Li
tarik nafas lewat mulut...
buang lwt bawah...
bbrrooootttt🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
tapi Kamu jadi kaya raya Li
mengganggu aja
dia kau Gagav