NovelToon NovelToon
Sang Pewaris Dan Gadis Biasa

Sang Pewaris Dan Gadis Biasa

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO
Popularitas:964
Nilai: 5
Nama Author: Andi diana Nana anggrini

Lia hanyalah gadis biasa. Hidup sederhana, bekerja keras membantu orang tuanya, tidak punya harta, tidak punya nama besar. Ia hanya ingin menjalani hari dengan tenang dan jujur.

Namun takdir membawa ia melangkah masuk ke dunia yang sama sekali asing — dunia mewah, dingin, dan penuh aturan milik Arga, pewaris tunggal kekayaan keluarga paling berpengaruh di kota itu.

Pertemuan mereka bukan karena kebetulan. Sebuah perjanjian lama mengikat kedua keluarga, memaksa mereka menikah. Bagi Arga, pernikahan ini hanyalah kewajiban yang harus ia penuhi. Bagi Lia, ini adalah awal dari perjalanan yang menguji ketabahan, kesetiaan, dan hatinya.

Di antara dua dunia yang tak pernah bertemu, bisakah cinta tumbuh? Apakah gadis biasa seperti Lia mampu menembus dinding dingin yang dibangun Arga? Atau pada akhirnya, ia hanya akan menjadi kisah singkat yang terlupakan di istana megah itu?

"Aku mungkin tidak lahir dengan harta, tapi aku lahir dengan hati yang mampu mencintaimu seutuhnya."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andi diana Nana anggrini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dua Dunia yang Tak Pernah Bertemu

Jalan yang kami lalui semakin lebar, semakin halus, dan pemandangan di luar jendela berubah perlahan. Rumah-rumah kecil yang rapat, kebun sayur, dan jalan setapak yang kugenal sejak bayi perlahan hilang, digantikan oleh deretan pohon tinggi yang tertata rapi, pagar tembok setinggi orang dewasa, dan bangunan-bangunan yang semakin megah, semakin jauh satu sama lain. Mobil bergerak tenang, meluncur di atas aspal yang halus tanpa sedikit pun berguncang. Di dalamnya terasa sejuk, hening, dan berbau harum samar — aroma bunga yang tidak kutahu namanya, sesuatu yang terasa mahal dan jauh dari kehidupan yang kujalani.

Aku duduk tegak di pinggir kursi, kedua tanganku saling meremas di pangkuan. Gaun sederhana yang kugenakan terasa tiba-tiba terlalu tipis, terlalu biasa, seakan semua yang kupakai mengingatkan pada tempat yang baru saja kutinggalkan. Di sebelahku duduk wanita yang kemarin datang bersama Dirgantara — namanya Rina, ia berbicara sopan namun tetap menjaga jarak, sesekali menatapku lewat sudut mata seakan sedang memperhatikan sesuatu yang asing.

“Kita akan tiba sekitar tiga puluh menit lagi,” ucapnya pelan, memecah keheningan. “Apakah ada yang ingin kau ketahui sebelum sampai?”

Aku menelan ludah, menatap ke luar jendela di mana pepohonan melesat cepat. “Bagaimana tempat itu?” tanyaku lirih. “Apakah… sangat berbeda?”

Rina terdiam sejenak sebelum menjawab. “Kediaman keluarga Arganata bukan sekadar rumah, Lia. Ia berdiri di atas lahan yang sangat luas, memiliki bangunan utama dan beberapa bangunan lain di sekelilingnya. Ada kebun yang dijaga setiap hari, kolam yang jernih, lorong-lorong yang panjang. Semuanya tertata rapi, teratur. Namun… tempat itu tenang. Sangat tenang.”

Kata-katanya membuat hatiku sedikit mendingin. “Apakah karena semua orang sibuk?”

“Bukan begitu,” jawabnya pelan. “Suasananya memang begitu. Sejak Ibu Arga meninggal, tuan muda tidak pernah lagi tertawa lepas. Dan setelah Tuan Arganata tiada… tempat itu terasa semakin sepi.”

Aku mengangguk pelan, meski bayangan tempat itu belum cukup jelas di kepalaku. Rina menyerahkan sebuah tas kecil berisi pakaian dan barang keperluanku — yang kubawa dari rumah, sederhana, tidak banyak. “Di sana sudah disiapkan kamar untukmu. Ada pakaian lain juga, tapi kami membiarkanmu membawa milikmu sendiri agar tidak merasa terlalu asing.”

“Terima kasih,” jawabku sungguh-sungguh. Kebaikan sekecil itu terasa seperti pelukan hangat di tengah ketidakpastian yang mengelilingiku.

Perjalanan berlanjut dalam keheningan yang lembut. Aku memandang ke kejauhan, memikirkan Ibu — apakah ia sedang duduk di kursi kayu kami sekarang, apakah ia menatap pintu yang baru saja kututup, apakah ia menangis sendirian. Dadaku terasa sesak setiap kali membayangkannya. Aku ingin berbalik, ingin kembali, ingin memeluknya dan berkata bahwa aku tidak jadi pergi. Namun kata-kata itu tertahan di tenggorokan, tertimbang oleh surat yang kubaca, oleh janji yang telah kuucapkan.

Lama kemudian, mobil melambat. Aku mengangkat wajah. Di depan kami berdiri gerbang yang sangat besar — terbuat dari logam hitam yang kokoh, dihiasi ukiran bunga yang halus, dan di tengahnya terukir lambang huruf A yang sama seperti pada segel surat itu. Gerbang itu terbuka perlahan saat kami mendekat, seakan menyambut kedatangan sesuatu yang penting.

Mobil melaju masuk. Pemandangan di dalamnya sungguh membuat napasku tertahan. Jalan beraspal luas dikelilingi rumput hijau yang rapi, bunga-bunga bermekaran berwarna-warni yang tertata rapi di sisi jalan, dan pohon-pohon tinggi yang menaungi sebagian jalur. Di kejauhan tampak bangunan utama — megah, berwarna krem lembut dengan atap cokelat tua, jendela-jendelanya besar dan berkilau diterpa cahaya matahari sore yang mulai turun. Tidak ada satu pun sudut yang terlihat tidak terurus. Semuanya begitu sempurna, begitu indah, dan begitu dingin.

Mobil berhenti di depan tangga lebar yang menuju ke pintu utama. Rina turun lebih dulu, lalu membukakan pintuku. “Silakan, Lia.”

Kakiku terasa berat saat melangkah turun. Sepatu sederhanaku menyentuh halaman batu yang halus. Di sekelilingku berdiri beberapa orang — sebagian mengenakan pakaian seragam rapi, sebagian pakaian yang tampak mahal — semuanya menatapku. Tatapan mereka beragam: ramah, sopan, penasaran, dan ada juga yang tampak menilai, seakan sedang melihat seberapa layak gadis sederhana sepertiku berdiri di tempat ini.

Dirgantara muncul dari arah samping, berjalan tenang ke arahku. “Selamat datang, Lia,” ucapnya lembut. “Ini adalah rumahmu mulai sekarang.”

Kata itu terasa asing di telingaku. Rumahku? Bagaimana bisa tempat yang begitu besar, begitu megah, begitu asing menjadi rumahku?

“Terima kasih,” jawabku pelan, suaraku hampir tak terdengar.

Ia mengangguk, lalu memberi isyarat agar aku mengikutinya. Kami melangkah naik tangga lebar itu, melewati pintu besar yang terbuka lebar. Begitu masuk, aku terpaku. Ruangan di dalamnya jauh lebih luas daripada rumahku — bahkan jika digabungkan dengan rumah tetangga, belum tentu sebesar satu ruangan ini. Lantainya terbuat dari batu berkilap yang memantulkan bayanganku. Langit-langitnya tinggi, dengan lampu gantung besar yang menyinari ruangan dengan cahaya keemasan yang lembut. Di sekelilingnya terdapat lukisan-lukisan besar dalam bingkai indah, lemari-lemari kayu rapi berisi benda-benda yang tampak berharga. Tidak ada sudut yang sederhana. Tidak ada jejak kebiasaan sehari-hari yang terlihat. Semuanya tampak seperti tempat yang disiapkan untuk dilihat, bukan untuk ditinggali.

“Ini ruang utama,” jelas Dirgantara sambil berjalan pelan di depanku. “Di sebelah kanan ruang makan, di kiri ruang keluarga. Kamar-kamar berada di lantai atas. Kamar Arga juga di sana.”

Aku mengikuti langkahnya, berusaha tidak menatap terlalu lama, berusaha tidak terlihat kagum sekaligus takut. Setiap langkahku terasa kecil di sini, seakan aku adalah debu yang tidak sengaja terbawa masuk.

“Arga ada di perpustakaan,” kata Dirgantara berhenti di depan sebuah pintu kayu besar di lorong lantai dasar. “Sebelum kau bertemu dengannya, ada hal yang perlu kukatakan.” Ia berbalik menatapku dengan serius namun lembut. “Arga tidak menolak pernikahan ini, tapi ia juga tidak menyambutnya dengan gembira. Ia menerima sebagai kewajiban. Jangan tersinggung jika ia bersikap dingin atau pendiam. Ia bukan orang yang mudah membuka diri.”

Aku menelan ludah, jantungku berdegup kencang. “Apakah dia akan marah?”

“Tidak marah,” jawab Dirgantara pelan. “Tapi ia mungkin menjaga jarak. Berikan waktu, Lia. Seperti kata surat Tuan Arganata — hatimu adalah kuncinya.”

Ia mengetuk pintu itu pelan, lalu membukanya sedikit. “Maaf mengganggu, Tuan Arga. Ada seseorang yang ingin kau temui.”

Dari dalam terdengar suara — rendah, tenang, namun ada nada ketidaksukaan yang samar. “Masuk.”

Dirgantara memberi isyarat agar aku masuk duluan. Aku menarik napas sedalam-dalamnya, meremas ujung gaunku, lalu melangkah masuk.

Ruangan itu luas, dipenuhi rak buku yang menjulang tinggi hingga ke langit-langit. Aroma kertas tua dan kayu harum memenuhi udara. Di dekat jendela besar yang menghadap ke taman, berdiri seorang pria. Punggungnya tegap, bahunya lebar, mengenakan kemeja putih rapi dengan lengan yang digulung sebatas siku. Ia sedang memandang ke luar jendela, tidak menoleh segera.

“Ini Lia,” kata Dirgantara pelan dari belakangku. “Gadis yang akan menikah denganmu.”

Pria itu berbalik perlahan.

Dan saat matanya bertemu dengan mataku, napasku seakan tertahan. Wajahnya tampan, sangat tampan — hidungnya tegak, rahangnya tegas, alisnya rapi. Namun yang paling mencolok adalah matanya — gelap, tajam, dan dingin, seakan tidak ada sedikit pun kehangatan di sana. Ia menatapku dari ujung kaki hingga kepala, tanpa menyembunyikan penilaiannya, tanpa sedikit pun tersenyum. Tidak ada keheranan, tidak ada rasa ingin tahu. Hanya ketidaktertarikan yang murni.

Jadi inilah Arga. Sang Pewaris. Pria yang akan menjadi suamiku.

Ia menatapku lama, begitu lama hingga aku merasa ingin menunduk, ingin lari, ingin menghilang. Lalu akhirnya ia berbicara, suaranya dalam dan tenang, namun setiap kata terasa tajam.

“Jadi kau dia,” ucapnya. Tidak ada sapaan, tidak ada selamat datang. Hanya itu.

Aku menelan ludah, berusaha mengumpulkan keberanian. “Saya Lia,” jawabku pelan, berusaha menatap matanya meski rasanya berat.

Arga mengangguk samar, lalu kembali menoleh ke arah jendela, seakan aku tidak lagi menarik perhatiannya. “Kau sudah melihat tempat ini?”

“Belum… hanya sebagian,” jawabku.

“Rina akan menunjuk kamarmu,” ucapnya tanpa menoleh. “Kau boleh berjalan-jalan di bagian yang diperbolehkan. Tapi ingat — ada ruangan yang tertutup, ada hal yang tidak perlu kau tanyakan. Hidup di sini punya aturannya sendiri.”

Kata-katanya terasa seperti peringatan. Aku berdiri di sana, tidak tahu harus pergi atau tinggal. Aku ingin berkata sesuatu — ingin mengatakan bahwa aku juga tidak meminta ini, bahwa aku datang bukan karena menginginkan hartanya, bahwa aku takut sama seperti dirinya. Namun kata-kata itu tertahan di tenggorokan. Di hadapan sosok yang begitu tertutup, begitu jauh, suaraku terasa terlalu kecil.

“Baik,” jawabku akhirnya, pelan. “Saya mengerti.”

Aku berbalik perlahan, melangkah keluar dari ruangan itu. Pintu tertutup pelan di belakangku, dan seketika itu juga udara terasa lebih ringan, meski dadaku masih sesak. Rina menungguku di luar, menatapku dengan tatapan simpati.

“Ikut aku,” ucapnya lembut. “Aku akan menunjuk kamarmu.”

Kami berjalan naik tangga lebar itu, melewati lorong panjang yang dindingnya dipenuhi lukisan keluarga — wajah-wajah yang tampak bangga, dingin, terpelihara. Tidak ada tawa di wajah mereka. Tidak ada kehangatan. Kamar yang ditunjukkan Rina berada di sisi sayap timur, tidak jauh dari kamar Arga, namun terasa terpisah. Ruangannya luas, dengan tempat tidur besar yang tertutup kain berwarna krem lembut, jendela besar yang menghadap ke kebun belakang, lemari kayu rapi, dan meja kecil di sudut. Semuanya siap, semuanya indah. Namun tidak ada satu pun benda yang milikku sendiri selain tas kecil di tanganku.

“Kau bisa menata sesukamu,” kata Rina, meletakkan tasku di atas meja. “Jika ada yang kau butuhkan, panggil saja. Aku akan berada di lantai bawah.” Ia menyentuh lenganku sebentar, lalu pergi, meninggalkanku sendirian.

Aku berjalan perlahan ke tengah ruangan, menyentuh permukaan meja yang halus, lalu duduk di tepi tempat tidur yang empuk. Di luar, matahari hampir terbenam, menyisakan cahaya keemasan yang masuk lewat jendela. Tempat ini indah, jauh lebih indah daripada apa pun yang pernah kulihat. Namun di sini, di tengah semua kemewahan itu, aku merasa lebih kesepian daripada di rumah kecilku yang sederhana.

Aku memikirkan dua dunia ini — satu tempatku lahir dan tumbuh, penuh tawa, sederhana, hangat; satu lagi tempatku berada sekarang, megah, tenang, namun dingin seperti musim dingin. Dua dunia yang tak pernah bertemu, yang seharusnya tetap berjalan terpisah. Dan kini akulah yang berdiri di persimpangannya, harus menyatukan keduanya di dalam diriku sendiri.

Aku berjalan ke jendela, memandang ke luar — ke arah kebun yang luas, ke arah jalan yang baru saja kulewati, ke arah tempat yang jauh di mana Ibu sedang berada. “Aku di sini, Bu,” bisikku pelan pada angin yang berhembus masuk lewat celah jendela. “Aku akan berusaha.”

Namun di kejauhan, di balik jendela ruangannya, aku melihat bayangan Arga berdiri diam, memandang ke tempat yang tidak kulihat. Dan aku tahu — perjalanan ini tidak akan mudah. Dua dunia ini tidak hanya berbeda tempat. Mereka berbeda perasaan, berbeda cara hidup, berbeda cara mencintai. Dan di antara keduanya, berdiri dua orang yang sama-sama tidak menginginkan pertemuan ini.

Malam mulai turun, menyelimuti kediaman besar itu dengan kegelapan yang tenang. Aku merebahkan diri di atas tempat tidur yang empuk namun terasa asing, memeluk diriku sendiri, berharap esok pagi aku akan lebih kuat dari hari ini. Sebab pertemuan kami baru saja dimulai. Dan wajah dingin sang pewaris itu hanyalah awal dari segala yang harus kuhadapi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!