NovelToon NovelToon
Dia Pemegang Kendali Hidupku

Dia Pemegang Kendali Hidupku

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Crazy Rich/Konglomerat / Sistem
Popularitas:602
Nilai: 5
Nama Author: MegaHerdian

Cerita ini menceritakan seorang gadis yang mengalami peristiwa yang sangat tragis, karena kecelakaan yang dialami nya, dia harus duduk di kursi roda sebagai penyangga hidupnya, entah lelaki mana yang masih mau menerima nya sekarang, dokter mengatakan semuanya sementara, namun ini sudah hampir lima tahun da dirinya masih duduk di kursi roda. Entahlah, hidupnya mungkin akan berakhir seperti itu selamanya, namun di saat detik detik terakhir dalam hal terpuruk nya. Dia datang, seolah membawa harapan yang selama ini dia inginkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MegaHerdian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9

“LAYLA!” Teriak seseorang dari arah pintu masuk membuat seisi ruangan terkejut.

“LAYLA!.. LAYLA..LAYLA..!!!” Di lihatnya Teo datang bersama beberapa temannya, Dia berteriak tapi tidak ada nada kemarahan atau apapun, hanya memanggil namanya berkali-kali dengan nada suara tinggi yang membuat Layla membeku.

Teo tersenyum manis berjalan ke arahnya, di iringi beberapa temannya yang mengikutinya dari belakangnya.

Keramaian itu pecah menjadi kesunyian yang mencekam saat Teo yang tiba-tiba datang dan menarik tengkuk leher Layla dan mencium bibirnya.

Layla masih terpaku, napasnya tertahan di tenggorokan, sementara dadanya naik turun dengan cepat.

Di sekeliling mereka, rekan rekan kantor Layla saling berpandangan kikuk, tidak tahu harus berbuat apa. Sorot mata yang tadinya penuh kegembiraan merayakan kemenangan tim nya, kini berubah menjadi campuran antara syok dan rasa tidak nyaman.

“T-Teo.. apa apaan ini..” suara Layla terbata, suaranya bergetar hebat. Bukan hanya karena terkejut, tapi ada letupan amarah yang mulai membakar dari dalam dirinya . Rasa malu bercampur baur dengan kedatangan Teo yang tiba-tiba.

Teo justru terkekeh, matanya yang menyala menatap Layla dengan intensitas yang pekat.

“Aku merindukanmu, Layla! Aku bahkan tidak peduli dengan orang-orang ini?!” Ujarnya tanpa dosa sambil menunjuk ke arah rekan kerjanya menggunakan matanya yang malas.

Teo menarik bangku dan duduk di depan Layla menarik kursi roda yang Layla gunakan untuk menghadap ke arahnya. Jarak di antara mereka terkikis habis, aroma parfum Teo yang kuat berbaur dengan hawa panas ruangan, mengintimidasi kesadaran Layla.

“Keluar dari sini, Teo! Sekarang!” Desis Layla tak tahan lagi.

Suara nya merendah namun penuh penekanan. Tangannya yang mengepal mulai berkeringat, dia bisa merasakan tatapan tajam dari bos dan rekan rekan divisinya yang menuntut penjelasan.

Namun, bukannya mundur, Teo justru mencengkeram pergelangan tangan Layla dengan erat, sentuhan itu panas dan menjalar ke otaknya yang meradang. Mengirimkan sengatan emosi yang rumit ke seluruh tubuh Layla. Teman-teman gerombolan Teo di belakang mulai bersiul, memanasi suasana yang sudah kepalang kacau.

“Kau mengusir ku setelah berbulan-bulan kita tidak bertemu?” Teo berbisik tepat di telinga Layla, suaranya berat dan sarat akan tuntutan. Napasnya yang hangat menerpa leher Layla, membuat bulu kuduk wanita itu meremang.

“Aku tau kau juga menginginkan ini Layla.. Jangan berlagak asing di depan mereka!”

Kemarahan Layla telah mencapai pada puncak nya , dengan satu sentakan kuat, dia melepaskan cengkeraman Teo.

PLAK!

Suara tamparan keras menggema di ruangan itu, membuat semua orang seketika terdiam. Mata Layla berkaca-kaca menatap Teo yang kini menoleh dengan rahang mengeras, cukup terkejut namun sudah Teo prediksikan.

“Maaf.. saya benar-benar minta maaf kepada semuanya..” suara Layla bergetar, nyaris pecah menjadi tangisan. Layla membungkuk kepalanya berulang kali ke arah manajer dan rekan rekan setimnya.

Layla tidak berani menatap mata siapapun, wajahnya terasa panas membara karena rasa malu yang teramat sangat, momen kemenangan yang seharusnya mereka rayakan dengan penuh tawa, hancur berantakan dalam sekejap.

Rekan-rekan kantor nya hanya bisa terdiam, berkali-kali siti dan Bimo yang berada di dekatnya mencoba memberikan ketenangan. Mereka memberikan tatapan iba yang justru semakin membuat dada Layla semakin sesak.

Beberapa dari mereka mengangguk pelan, mencoba memberikan pengertian meski atmosfer canggung di ruangan itu tidak bisa di sembunyikan.

“Layla..tunggu, kau baik-baik saja kan” panggil salah satu teman dekat kantor nya, mencoba menahan Layla.

Namun Layla sudah tidak sanggup lagi berada di sana. Tanpa memedulikan Teo yang masih duduk santai seperti yang tidak terjadi apapun.

Layla pergi dengan amarah yang membakar tubuhnya dan rasa terhina yang begitu pekat. Bagaimana Layla harus menghadapi semua orang di kantor setelah kejadian ini..

Rasa putus asa kini datang kembali, hal yang telah lama menghilang kembali melanda dirinya.

Teo sebenarnya tau di mana posisi Layla, hanya saja dia menunggu waktu yang pas untuk menemui, namun siapa sangka takdir itu terasa begitu nyata.

Saat Teo dan teman-teman nya selesai makan di restoran seberang, matanya tak sengaja menangkap sosok siluet yang begitu dia kenali duduk manis di kursi rodanya.

Tentu saja rasa senang dan gembira tidak bisa Teo sembunyikan lagi.

Teo masih duduk di kursi walaupun tatapan tajam terarah kepadanya, Teo menyambar name tag Bimo yang menjuntai di lehernya.

“Neravana” Eja Teo, membaca nama perusahaannya, Teo berdiri sembari menepuk pundak Bimo yang langsung di tepis.

Tatapan tajam bak pisau yang siap menghunusnya, hanya Teo acuhkan dan melenggang pergi.

“Jangan-jangan Layla memiliki kehidupan yang sulit di balik keceriaan nya..” Gumam Siti yang langsung di tenangkan oleh Rian dengan menepuk pundaknya.

“Kita bisa membantunya dengan menemani dan menyemangati nya”

Siti setuju begitu pun dengan beberapa orang lainnya, mereka menatap benci ke arah kepergian Teo dan gerombolan nya.

Saat sampai di apartemen nya, Layla mendapat pesan dari siti, bahwa kata manajer nya Layla besok boleh cuti atau meliburkan diri untuk menenangkan pikirannya.

Namun kepedulian rekan nya membuat Layla semakin tidak nyaman, dia merasa tidak enak mengacaukan perayaan kemenangan tim nya.

—-

Suara desing halus dari kursi roda nya memecah keheningan koridor kantor pagi itu. Wajahnya pucat, matanya sembab karena kurang tidur dan energi nya terkuras habis. Kejadian traumatis semalam mengonfrontasi penuh emosinya.

Layla mencengkeram tuas kendali kursi rodanya dengan ragu saat mendekati pintu kaca ruang divisinya, bersiap menghadapi hal terburuk, mungkin tatapan tajam atau bisik-bisik miring mengenai dirinya.

Namun begitu pintu terbuka, asumsinya meleset jauh.

“Pagi, Layla” sapaan hangat dari Nita tekan kerjanya, mereka semua tau Layla pasti akan datang.

Tidak ada tatapan sinis atau apapun, sebaliknya atmosfer ruangan justru terasa sangat protektif.

Rian datang membawa secangkir kopi hangat yang masih mengepul, lalu meletakkannya di atas meja Layla “ Ini untukmu, kamu sudah bekerja keras membawa tim kita menang kemarin, jangan biarkan gangguan semalam merusak pencapaian mu” ucapnya lembut namun tegas, memberikan dukungan profesional yang sangat berarti.

Satu per satu rekan kantor nya mendekat, memberikan ruang yang nyaman tanpa bersikap berlebihan. Mereka tau betapa gigihnya Layla mempertahankan profesionalisme nya di tengah keterbatasan fisiknya, dan mereka tidak akan membiarkan tindakan impulsif seorang pria menghancurkan reputasi Layla.

“Lupakan saja kejadian semalam, anggap saja itu hanya angin lalu, dan jangan senggang untuk memberi tau kita jika kamu memiliki masalah” bisik Nita sambil menepuk pundak Layla pelan.

“Kami semua tau kamu seperti apa, pria itu yang tidak tau aturan, bukan kamu. Tetap kuat dan tegar, kami semua ada di belakang mu”

Mendengar kata-kata penyemangat dan sambutan yang begitu tulus, pertahanan Layla runtuh. Rasa sesak dan ketakutan yang menghimpit dadanya sejak semalam perlahan mencair, digantikan oleh rasa haru yang mendalam. Dia mengepalkan tangannya di atas paha, menarik nafas panjang dan memaksakan sebuah senyuman.

Di tempat ini, di antara orang-orang yang menghargai karyanya, Layla menemukan kembali kekuatan nya untuk berdiri tegak meski lewat kursi roda yang di topangnya.

1
Paw_chan🐾
keren nih
writternim: Aww maaacih… jangan lupa selalu komen ya karena ceritanya luar biasa bikin pusing😂😂
total 1 replies
Wulansari MU
keren banget cerita nya.. lanjutkan
Wulansari MU
ini tanggung banget lagi marah malah salah nulis jadi akua
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!